
Bel pertanda masuk kelas berbunyi. Hiro dan Shima sudah berada di dalam kelas. Namun tidak untuk Izumi. Gadis itu menghilang setelah berlari menuju toilet. Entah apa yang dilakukannya.
Sebelum guru yang mengajar masuk, Hiro berinisiatif mencari Izumi. Dia juga agak penasaran dengan keadaan gadis tersebut.
"Shima, kau ikut?" tanya Hiro yang menjeda langkah kakinya sebentar.
Shima menggeleng pelan. "Aku akan melindungimu dan Izumi agar tidak dimarahi oleh guru," sahutnya. Lagi pula, akibat insiden Kogoro, Shima agak malas berinteraksi dengan Izumi.
Hiro bergegas melakukan pergerakan. Tujuan utamanya adalah toilet. Tempat dimana dirinya terakhir kali menyaksikan kepergian Izumi. Seperti biasa, Hiro langsung membuka pintu tanpa pikir panjang. Untung saja tidak ada gadis selain Izumi di dalam toilet, jadi dia tidak mendapatkan omelan dari siapapun.
Izumi tampak kaget dengan kedatangan Hiro yang tiba-tiba. Wajah gadis itu terlihat baru saja selesai menangis. Dia lekas-lekas menghapus cairan bening disudut matanya. Lalu memasang raut wajah tegas. Kembali menekankan reputasinya.
"Ada apa ini? seorang Izumi ternyata bisa menangis?" seru Hiro, yang seketika berhasil membuat mimik wajah Izumi berubah menjadi masam.
"Kenapa kau mencariku?!" timpal Izumi dengan dahi yang berkerut dalam.
Hiro mengangkat bahunya sekali. Memajukan bibir bawahnya sedikit. "Karena khawatir, mungkin..." ujarnya. Ungkapannya menyebabkan Izumi reflek menoleh.
"Apa yang terjadi? apa Itsuki memukulimu?" tanya Hiro. Dia penasaran dengan sesuatu hal yang telah mampu membuat Izumi menangis. Namun pertanyaannya itu tidak bisa dijawab oleh Izumi, karena suara celotehan dari para gadis dari arah luar, terdengar kian mendekat. Izumi yakin mereka akan masuk ke dalam toilet sebentar lagi. Alhasil tangannya dengan cekatan mengajak Hiro masuk ke dalam salah satu bilik toilet. Bersembunyi berdua di sana. Izumi menyuruh Hiro berdiri di atas closet, agar kakinya tidak kelihatan dari bawah pintu.
"Kenapa kau membawaku bersembunyi?" tanya Hiro dengan nada berbisik.
"Apa kau bodoh?! sudah jelas dirimu sedang berada di toilet wanita!" geram Izumi. Berbicara tidak kalah pelan.
"Memangnya kenapa? itu tidak masalah bagiku," balas Hiro yang langsung mendapat pelototan dari Izumi.
Rombongan siswi memang terdengar sudah memasuki toilet. Mereka membawa baju olahraga ditangan masing-masing. Berniat mengganti baju di toilet.
"Mereka sedang apa?" bisik Hiro kepada Izumi. Dia berada tepat di samping gadis itu, dan sudah menjejakkan kaki ke lantai.
"Hiro! kau!... nanti mereka--" Izumi harus menutup mulutnya, karena tangan Hiro mendadak menyentuh bagian perutnya. Darah disekujur badannya seketika berdesir hebat. Sebenarnya sedari tadi seragam pendek Izumi terus menarik perhatian Hiro.
__ADS_1
"Aku rasa hari ini kau memakai baju yang salah. Sangat pendek!" komentar Hiro sembari mengamati seragam atasan yang dikenakan Izumi.
"Hari ini aku pergi ke sekolah dengan tergesak-gesak. Mungkin itulah yang menyebabkanku memakai baju yang salah. Aku rasa ini adalah seragamku saat kelas satu..." Izumi semakin memelankan suaranya ketika wajah Hiro terus mendekat. Dia langsung menerima ciuman dari lelaki itu.
Di sisi lain, tepatnya di dalam kelas. Shima terus saja mengarahkan bola matanya ke arah pintu. Berharap Hiro segera kembali. Apalagi Sota selaku guru yang mengajar telah masuk.
"Apa dua orang itu membolos?" Sota menunjukkan penggaris yang dipegangnya ke arah bangku Hiro dan Izumi.
Shima memejamkan matanya rapat-rapat, karena separuh dari temannya menoleh ke arahnya. Semua orang tahu, Hiro dan Izumi adalah teman dekatnya.
Parahnya tas Hiro dan Izumi sama-sama tergeletak di atas meja. Pertanda kalau keduanya sudah datang ke sekolah dari tadi pagi.
"Mereka sepertinya ada urusan mendesak!" Shima menjawab dengan asal. Dia reflek berdiri dari tempat duduknya. Akan tetapi Sota tidak begitu memperhatikan penjelasannya, karena harus mengangkat telepon yang kebetulan berbunyi.
"Mendesak, atau berpacaran? haha!"
"Sadarkah kau Shima, kalau posisimu hanya sebagai pengawal saja untuk Hiro dan Izumi? hahaha..."
Beberapa orang yang ada di kelas sahut-menyahut untuk mengejek. Semua kalimat ejekan tersebut tentu sangat menusuk perasaan Shima. Tangannya mengepalkan tinju. Hingga akhirnya tanpa sengaja dirinya membanting tas ke lantai sekuat tenaga. Shima sontak berjalan menghampiri salah satu orang yang sudah mengejeknya. Mencengkeram kerah baju siswa itu dengan erat.
"Kau mau mati?! sekarang suasana hatiku sedang sangat buruk!!" Shima naik pitam. Dia membanting siswa yang tadi sempat dicengkeramnya ke lantai. Untung saja dirinya mengerahkan tenaga yang tidak begitu kuat. Jadi siswa tersebut sama sekali tidak terluka.
Semua orang sontak membisu saat menyaksikan amukan Shima. Masalah yang di hadapinya sekarang sangat berdampak besar terhadap sikapnya.
Tidak lama kemudian, Sota kembali memasuki kelas. Dia sudah selesai berbicara dari telepon genggamnya.
"Ada apa ini? kenapa kelas kalian mendadak berantakan?" tanya Sota, terheran.
Semua murid hanya membisu dan menundukkan kepala. Sepertinya apa yang dilakukan Shima barusan memiliki dampak kuat.
Meskipun telah meluapkan semua amarahnya, jujur saja perasaan Shima masihlah terasa kesal. Dia lantas mengangkat salah satu tangannya dan meminta izin ke toilet. Dirinya tidak ingin berlama-lama berada di kelas. Menyaksikan wajah-wajah orang yang tadi sempat mengejeknya.
__ADS_1
"Kembalilah secepatnya. Kalau tidak, kau akan bernasib sama seperti dua temanmu itu. Aku sudah menandai merah nama mereka berdua!" Sota memperingatkan sebelum Shima benar-benar beranjak pergi.
Shima hanya merespon dengan bungkukkan badan. Setelahnya dia segera melangkah menuju toilet. Shima mencoba mencari Hiro di sana. Nihil, dia tidak menemukan kawannya tersebut. Bahkan disemua bilik toilet yang ada. Dia kini berdiri di depan pintu toilet wanita. Tetapi meragu untuk masuk ke dalam. Saat itulah Hana muncul dari belakang.
"Kau kenapa berdiri di depan toilet wanita? mesum?" pungkas Hana. Menatap jijik Shima.
"Tentu tidak!" bantas Shima tegas. "Aku mencari Hiro!" sambungnya.
"Lalu kau pikir Hiro ada di dalam?" balas Hana seraya membuka pintu toilet. Shima yang melihat sontak berusaha ikut, akan tetapi langsung dicegat oleh Hana.
"Tidak boleh!" pekik Hana. Lalu membanting pintu tepat di hadapan Shima.
Hana berjalan sambil meringiskan wajah. Dia menghampiri keran dan membasuh tangannya. Pupil matanya membesar saat melihat Hiro baru keluar dari salah satu bilik toilet. Dia tidak perlu menoleh, karena cermin di depannya memperlihatkan penampakan Hiro dengan jelas.
Hiro ikut membulatkan mata kala menyaksikan kehadiran Hana.
"Hiro, bukankah tadi ada orang yang baru masuk?" tanya Izumi. Dia masih berada di dalam bilik toilet. Sibuk memasang pakaiannya.
"Hana, cepat pergi!" titah Hiro dengan nada pelan. Namun gadis yang disuruhnya sama sekali tak hirau, dan malah memperlambat pergerakannya.
Hiro mencoba membawa Hana keluar, akan tetapi dia tidak berhasil. Sebab Izumi keburu keluar dari bilik toilet. Hiro lekas-lekas melepaskan pegangannya dari Hana.
"Aku tahu kalian saling mengenal," ungkap Izumi sembari berderap ke depan keran. Tepat di samping kanan Hana.
Hiro dan Hana hanya membisu. Membiarkan Izumi terus bicara.
"Apa yang dilakukan Hiro untuk mengambil tas itu, Hana? sampai-sampai kau dibodohinya dengan mudah?!" ucap Izumi lagi. Dia menyinggung perihal tas limited edition yang di ambil Hiro dari Hana tempo hari. Izumi menoleh ke arah Hana. Namun yang didapatnya adalah cipratan air dari tangan Hana yang baru di cuci.
Izumi sontak kaget dan menyalangkan mata. "Apa-apaan kau!!" geramnya sambil menggertakkan gigi.
"Yang bodoh itu kau!! kau hanya belum mengetahui semuanya sekarang!" balas Hana. Tidak mampu menahan amarahnya lagi. Hiro yang berada di sebelah kirinya berusaha menenangkan, tetapi langsung mendapatkan tepisan.
__ADS_1