Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 26 - Menyelinap (Tak Semudah Biasanya)


__ADS_3

Hiro dan Shima memutuskan untuk tidak pulang. Keduanya akan menunggu sampai malam. Hiro sekarang berada di bangunan yang ada di seberang rumah keluarga Nakagawa. Tepatnya di atap sebuah bangunan tidak berpenghuni. Dia mengamati keadaan dari jauh. Jujur saja, tidak ada satu pun penjaga yang beranjak pergi dari tempatnya.


Shima baru saja tiba. Dia membelikan pakaian serba hitam untuk Hiro. Semuanya agar Hiro dapat menyelinap dengan lancar saat malam nanti. Dengan uang yang masih tersisa, Shima membelikan jaket, masker dan topi yang berwarna hitam.


"Aku akan bertanya sekali lagi, apa kau yakin Senpai?" tanya Shima memastikan. Dia merasa dibuat begitu cemas.


"Tenanglah. Jika terjadi sesuatu kepadaku, kau sebaiknya lari!" ujar Hiro berucap dengan santainya. Shima hanya mendengus kasar dan mencoba memaklumi betapa keras kepala kawannya.


Malam telah tiba, kegelapan menjadi sinyal bagi Hiro untuk bersiap. Dia sudah mengenakan topi di puncak kepala. Tidak lupa juga sebuah masker yang dipakainya untuk menutupi hidung dan mulut. Sekarang hanya tinggal menunggu malam semakin larut.


Sedangkan Shima tengah menikmati roti yang kebetulan dia beli dari toko terdekat. Mulutnya terlihat sibuk mengunyah makanan. Bola matanya terus mengamati ke arah rumah keluarga Nakagawa.


Dua polisi yang berjaga tampak pergi meninggalkan posnya. Hanya ada dua penjaga yang mengambil alih untuk berjaga di depan.


Malam bertambah larut. Satu dari dua lelaki yang berjaga sudah terlelap di atas sebuah bangku panjang. Sedangkan yang satunya lagi tengah asyik memainkan ponselnya.


"Aku akan pergi sekarang," kata Hiro pelan. Lalu beranjak pergi untuk menjalankan rencananya.



Hiro memilih jalan dari samping kanan rumah. Tepatnya dimana pohon yang paling tinggi berada. Pohon itu sangat membantu Hiro mencapai dinding pembatas yang memang berfungsi melindungi sekeliling rumah.


Kamera pengawas yang terpasang diperhatikan Hiro dengan baik. Dia menghindari cakupan kamera sebisa mungkin. Hiro sudah berhasil melewati dinding pembatas. Lelaki berpakaian serba hitam tersebut tidak bisa masuk melalui jendela bawah, karena semuanya sudah dikunci. Apalagi lewat pintu depan yang jelas dijaga oleh dua orang lelaki berbadan atletis.

__ADS_1


Pandangan Hiro mengedar ke segala arah. Termasuk ke lantai atas. Atensinya pun langsung tertuju pada sebuah jendela yang sedang terbuka lebar. Jaraknya pun tidak begitu jauh untuk digapai. Hiro mengira kalau jendela itu berada di lantai dua.


Tanpa pikir panjang, Hiro segera memanjat dengan hati-hati. Dari kejauhan telinganya dapat menangkap bunyi derap langkah semakin mendekat. Hiro yang masih berada di tengah-tengah proses pemanjatan sontak mematung sejenak. Dia berusaha menopang badan dengan cengkeraman erat ke ukiran dinding yang menonjol.


Terlihat seorang lelaki yang ternyata salah satu penjaga di depan pintu tadi. Dia sedang menyalakan sebatang rokok. Tatapan tajam Hiro terus tertuju kepada lelaki itu. Penjaga berkepala botak tersebut tampak lama merokok di tempatnya. Tubuh Hiro mulai gemetar, dia sudah tidak sabar untuk memanjat lagi. Namun dirinya berusaha sebisa mungkin agar keberadaannya sama sekali tidak diketahui oleh siapapun.


Setelah hampir dua menit, penjaga itu akhirnya pergi mejauh. Hiro pun bergegas bergerak menuju jendela yang terbuka. Sebelum masuk, dia mengamati keadaan di dalam ruangan terlebih dahulu.


Jendela yang dimasuki Hiro mengantarkannya ke sebuah kamar. Jika dilihat, kamar tersebut didominasi dengan warna merah. Dari mulai dinding hingga furniture-nya. Hiro juga tidak mendapati kamera pengawas di sana. Alhasil Hiro akhirnya berani melangkah memasuki kamar.


Ceklek.


Suara pintu terbuka berhasil mengagetkan Hiro. Dia sontak lekas-lekas bersembunyi ke kolong tempat tidur. Hiro bisa saja menyerang orang tersebut, tetapi tidak dilakukannya, sebab misi utamanya sekarang adalah menemukan informasi. Lagi pula menyelinap masuk ke rumah keluarga Nakagawa sudah merupakan langkah besar baginya. Apalagi Hiro melakukannya seorang diri.


Hiro menenggak salivanya, saat perempuan itu menjatuhkan handuk ke lantai. Membuat pikirannya sebagai lelaki berlarian kemana-mana. Jelas sudah kalau perempuan tersebut baru selesai mandi. Bau harum dari sabun yang dipakainya juga menguar hebat hingga memasuki indera penciuman Hiro.


"Mmm... hmmm... hmmm..." sang perempuan terdengar bergumam. Membentuk nada yang beraturan seolah melantunkan lagu tertentu.


Hiro terus memperhatikan sepasang kaki perempuan itu. Dan sekarang dia bisa melihat sepasang kaki tersebut sedang memasang ce*lana dalamnya.


'Sial! kenapa aku harus masuk ke kamar ini,' batin Hiro kesal sembari memejamkan mata sejenak. Nalurinya sebagai lelaki perlahan terangsang. Apalagi hasratnya sempat gagal dilampiaskan saat berada di klub malam tempo hari. Meskipun begitu, Hiro bukanlah tipe lelaki kurang ajar yan akan menyerang seorang perempuan demi memuaskan hawa nafsunya. Menurutnya, adanya persetujuan dari pihak wanita adalah yang terbaik. Tidak heran, Hiro sempat minta bantuan Shima untuk dicarikan wanita malam. Namun sayangnya sahabatnya itu gagal memahami kemauannya.


Sepasang kaki perempuan tersebut sekarang sangat dekat. Dia malah duduk di atas kasur. Persis di tempat tidur dimana Hiro sekarang bersembunyi. Sepertinya perempuan itu telah mengenakan pakaian lengkap.

__ADS_1


Tidak lama kemudian terdengar bunyi mengeong dari arah pintu kamar, sang perempuan lantas berdiri dan membuka pintu. Muncullah seekor kucing yang berhasil menyebabkan mata Hiro terbelalak. Persembunyian Hiro terancam, karena binatang adalah makhluk paling sensitif, dan memiliki insting yang tinggi dengan hal asing di sekitarnya.


Sekarang kucing berbulu kehitaman terus menatap ke kolong tempat tidur. Dia juga mulai menggeram seakan sengaja memarahi Hiro dengan bahasanya sendiri.


Hiro terus meletakkan jari telunjuknya ke depan bibir. Berharap kucing tersebut bisa diam secepatnya.


"Chubi-chan ada apa? kau menemukan tikus di bawah sana?" tanya perempuan sang pemilik kucing. Dia perlahan meletakkan lutut ke lantai. Lalu berjongkok untuk memeriksa.


Hiro yang merasa akan tertangkap basah, bergegas keluar dari tempat persembunyiannya. Betapa terkejutnya dirinya ketika melihat perempuan yang sedari tadi membuatnya terangsang adalah Izumi.


Tanpa basa basi lagi Hiro berlari keluar dari jendela. Dia langsung melompat begitu saja ke tanah. Sedangkan Izumi terdengar sudah berteriak memanggil para penjaganya.


"Ada penyusup! cepat tangkap dia!!" pekik Izumi dengan begitu lantang. Ia terlihat sangat marah karena merasa terganggu dengan privasinya.


Dengan gerakannya yang cepat dan gesit. Hiro dapat dengan mudah menaiki tembok pembatas. Dia menggunakan tiang lampu yang ada sebaik mungkin.


"Berhenti!" pekik salah satu penjaga berkepala pelontos. Karena Hiro sudah hampir kabur, lelaki itu pun bergegas mengambil pistol dari saku celana. Dia segera menembakkan peluru tepat ke arah Hiro.


Dor!!


Satu tembakan berhasil meluncur menuju sasaran. Selanjutnya, para penjaga memanggil semua kawanannya agar bisa secepatnya mengejar Hiro.


Sementara itu, Hiro yang berhasil lolos terus berlari. Dia meringis kesakitan, karena sebutir peluru berhasil menghantam lengannya. Serangan timah panas tersebut membuat sekujur badannya berkeringat dingin.

__ADS_1


__ADS_2