
Hiro menyuruh Shima duduk bersila di sebuah gazebo besar. Dia membiarkan sahabatnya itu untuk menjernihkan pikirannya dengan cara bermeditasi.
Sambil menunggu, Hiro merebahkan diri dan memejamkan mata sejenak. Dia telentang dipinggiran gazebo, sementara Shima berada tepat di titik tengahnya.
Ketika Hiro membuka mata, dirinya begitu dibuat kaget dengan keadaan yang ada di sekitar. Bagaimana tidak? Hiro kembali ke kamar miliknya yang ada di akademi ninja Yamada. Nuansa perumahan klasik Jepang abad-14 dapat dilihat dari gaya pintu, dinding dan juga jendela.
Hiro langsung bangkit dari tempat tidur dan menggeser pintu. Kepalanya mengedar ke segala arah. Suasananya masih seperti dahulu, terdengar ramai dengan suara anak-anak yang sedang berlatih ninjutsu.
"Sensei!" seorang anak kecil mendadak memeluk Hiro. Di ikuti oleh anak-anak lainnya yang tampak memiliki umur berbeda-beda. Tujuan mereka, ternyata hanya menanyakan jurus-jurus bela diri tertentu.
Hiro lantas meladeni semua anak-anak tersebut. Dia memang bukan seorang guru, tetapi hanya gemar membantu para juniornya yang kesulitan saja. Sebab posisi guru di akademi ninja Yamada, di isi oleh para tetua yang profesional.
"Hiro!" suara bariton seorang lelaki memanggilnya dari belakang. Dia adalah Keisuke, tetua yang sangat berjasa mengajarkan Hiro tentang beragam ilmu bela diri. Melihatnya, semua anak-anak segera bergegas pergi untuk melarikan diri.
Keisuke hanya terkekeh, saat melihat para ninja junior berlari ketakutan akibat kehadirannya.
"Senpai!" Hiro langsung berbalik dan membungkukkan badannya sekitar seratus delapan puluh derajat. Menunjukkan penghormatannya sebisa mungkin.
Keisuke tersenyum dan menyuruh Hiro menghentikan pose hormatnya. Kemudian mengajaknya untuk ikut ke ruang tengah dan berkumpul bersama yang lain.
Di ruangan terlihat banyak ninja senior yang ikut berkumpul. Di sana juga terdapat Goku dan Akio. Keduanya segera menyapa kedatangan Hiro dengan candaan.
"Perhatian!" pekik Keisuke, yang sontak membuat semua orang seketika terdiam. "Seperti yang telah dijanjikan sebelumnya. Kalau hari ini kita akan memilih ketua dari misi penting yang sebentar lagi harus dilaksanakan. Pertama-tama, aku ingin tahu apa ada yang mengajukan dirinya untuk menjadi ketua?" lanjutnya, sembari menatap satu per satu para ninja yang ada di hadapannya. Termasuk Hiro sendiri.
Goku mengangkat tangannya dengan percaya diri. Keisuke mengangguk dan menyuruh Goku untuk maju dan berdiri ke depan.
"Apa ada lagi? kalau tidak ada, maka aku aka--" ucapan Keisuke terhenti ketika seorang ninja bernama Wataru mengangkat tangan.
"Aku pikir Hiro lebih cocok untuk menjadi ketua!" ujar Wataru, yang otomatis merubah kepercayaan diri Goku menjadi ciut.
__ADS_1
"Maafkan aku Goku. Tetapi aku juga sependapat dengan Wataru!" Akio ikut berbicara. Setelahnya, kelima ninja lainnya juga menyahut, dan mengatakan bahwa mereka lebih memilih Hiro untuk dijadikan ketua.
Hiro terdiam seribu bahasa. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Atensinya di alihkan kepada Goku. Sebab dirinya paham dengan perasaan rekannya itu. Goku pasti merasa malu bukan kepalang. Bahkan mungkin merasa terhina. Terlihat dari tatapannya yang terus melotot tepat ke arah Hiro.
Perlahan Goku mengambil sesuatu dari dalam baju berbentuk kimononya. Sebuah pistol sudah tergenggam erat ditangannya.
Dor!
Goku tiba-tiba membakkan peluru tepat ke kepala Keisuke. Dalam sekejap kepala lelaki tua tersebut menyemburkan darah yang banyak.
Dor! Dor! Dor!
Selanjutnya Goku menembak satu per satu semua rekan ninjanya. Hingga hanya menyisakan Hiro seorang. Sekarang pistol yang dipegang Goku sudah di arahkan tepat ke kepala Hiro.
Mata Hiro membulat sempurna. Entah kenapa seberapa keras dirinya berteriak, pita suaranya seolah tidak berfungsi. Kaki dan tangannya pun serasa ikut tidak mampu digerakkan.
Dor!
"Haaahh!" Hiro membuka matanya lebar-lebar, lalu merubah posisinya menjadi duduk. Tangannya segera memegangi jidatnya yang dirasa terluka. Peluhnya bahkan bercucuran dari kedua pelipisnya.
Tembakan yang dilakukan Goku berhasil menyadarkan Hiro dari mimpi buruknya. Kini dia tengah mengatur deru nafasnya, sambil kembali merebahkan dirinya lagi.
Mimpi tadi benar-benar terasa nyata bagi Hiro. Dikarenakan cerita pemilihan ketua ninja yang ada di mimpinya, memang pernah terjadi. Kecuali dibagian Goku menembaki semua orang dengan pistol, itu hanya merupakan respon alam bawah sadar dari ketakutan yang Hiro rasakan. Tetapi bagi Hiro hal tersebut adalah petunjuk baginya.
'Apakah alasan Goku berkhianat karena dia iri kepadaku? atau karena dia merasa tidak dihargai oleh tetua di akademi ninja?' benak Hiro menerka-nerka. Dia kemudian menghela nafas panjang.
"Hiro..." Shima memanggil dengan suara berbisik. Fokus Hiro yang telah pulih dari serangan mimpi buruk, segera dialihkan. Matanya langsung terbelalak ketika menyaksikan Shima sedang didekati oleh seekor ular. Binatang melata tersebut sedang beringsut di atas paha Shima yang menyila. Ularnya berwarna putih dan bermata kuning dengan pupil hitam pekat. Jenis yang terbilang tidak biasa.
"Tenanglah..." bisik Hiro memberitahu Shima. Dia juga menyuruh sahabatnya untuk fokus dan kembali menenangkan diri. Sebab dalam meditasi, ujian yang terberat adalah adanya gangguan tak terduga.
__ADS_1
Shima sangat ketakutan. Keringat dingin telah membasahi beberapa titik ditubuhnya. Karena binatang yang kini ada di atas pahanya, adalah salah satu hewan berbahaya. Dapat membunuh dengan racun yang mematikan dalam satu gigitan saja.
"Shima, pejamkan matamu dan tenanglah... Pikirkan maksud tujuanmu untuk berlatih..." ujar Hiro dengan nada pelan. Dia tahu betul kalau ular yang mendatangi Shima adalah perwujudan dari seorang leluhur.
Shima lantas menganggukkan kepala. Dia sepenuhnya akan mempercayai Hiro. Lalu memejamkan mata rapat-rapat. Salivanya sendiri tertelan begitu saja melewati tenggorokannya. Shima berdalih pada pemikiran yang akan membawanya ke dalam ketenangan jiwa.
Setelah sekitar beberapa menit kemudian, ular putih yang ada di paha Shima perlahan pergi. Melewati Hiro dengan jalan yang meliuk-liuk. Sebelum turun dari gazebo, ular itu berhenti sebentar dan menolehkan kepala. Hewan tersebut seakan sedang memberikan tatapannya ke arah Hiro.
Hiro mematung di tempat. Bertindak seperti orang yang tertangkap basah. Selanjutnya ular putih tersebut perlahan pergi masuk ke dalam rerumputan dan tumpukan dedaunan. Bola mata Hiro kembali di arahkan kepada Shima. Lelaki berambut cepak itu terlihat sudah mampu menenangkan diri.
Satu jam berlalu. Hiro menghentikan kegiatan meditasi Shima.
"Sudah cukup dahulu. Kau bisa melanjutkannya lagi saat pikiranmu teralih lagi. Terutama ketika ada perasaan ingin menyerah dan rasa takut yang datang," ujar Hiro yang langsung mengharuskan Shima membuka lebar matanya.
"Sekarang, ayo kita latihan fisik!" Hiro berderap lebih dahulu keluar dari area gazebo. Dia berjalan memimpin Shima menuju gerbang kuil.
"Apa kita akan pulang?" tanya Shima, terheran. Dahinya mengukir kerutan dalam.
"Tidak. Siapa bilang?" balas Hiro seraya membalikkan badan. Perhatiannya tertuju pada Eiji yang berjalan kian mendekat. Lelaki berkepala pelontos tersebut membawa sebuah jam pasir ditangannya.
"Turunlah, dan kembali lagi ke sini lagi sebelum waktunya habis!" titah Hiro sambil meraih jam pasir yang disodorkan Eiji.
"Apa?!" Shima terperangah tak percaya.
"Aku akan mulai. Satu, dua..." tanpa persetujuan Shima, Hiro sudah menghitung lebih dahulu.
"Sial!" geram Shima sembari menggerakkan kakinya. Namun tidak disangka, Hiro tiba-tiba melayangkan tendangan ke punggungnya.
Bruk!
__ADS_1
Shima langsung jatuh tersungkur ke tanah.
"Jika aku mendengar keluhan sekali lagi. Maka sebuah tendangan akan menghantam tubuhmu. Di sini sudah tidak ada lagi hubungan teman. Selama latihan, aku bukanlah temanmu!" Hiro memberikan penegasan. Shima lantas kembali bangkit dan segera berlari.