
Izumi terkekeh. Dia terlihat membekap mulutnya sendiri agar tawanya tidak meledak. Selanjutnya gadis itu menatap remeh, dan mengabaikan sodoran tangan dari Hiro.
"Apa kepalamu baru saja membentur sesuatu? bukankah akhir-akhir ini kau selalu menentangku?" Izumi mengamati bagian kepala Hiro. Memastikan kalau-kalau kepala lelaki tersebut terdapat luka benturan.
"Apa salahnya berdamai? Lagi pula kata ibuku, tidak baik memiliki musuh berlama-lama. Apalagi memusuhi seorang gadis sepertimu," tutur Hiro seraya melayangkan tatapan meneduhkan. Namun gadis di hadapannya membalas dengan memutar bola mata jengah.
"Kau tahu kan, tidak mudah untuk menjadi temanku?" Izumi yang sempat membuang muka, kembali menoleh ke arah Hiro. "Aku bahkan tidak berminat sama sekali mempunyai teman lelaki. Apalagi setelah kau..." mata Izumi melanjutkan bicara. Menatap tepat ke area bawah pusar milik lelaki di hadapannya. Dalam ingatan Izumi masih tergambar jelas mengenai perlakuan Hiro, yang mengancamnya dengan cara hampir memperlihatkan alat pribadinya.
Hiro yang mengerti dengan tatapan itu tentu mengerti. "Aku minta maaf mengenai apa yang aku lakukan tempo hari," imbuhnya pelan.
'Berakting memang sangat menyebalkan. Padahal yang harusnya minta maaf gadis sialan ini. Arrghh!' keluh Hiro dalam hati.
"Tidak! bisnis kita sudah cukup sampai di sini. Pembalasan yang aku lakukan di klub malam itu sudah cukup bagiku. Jadi, jangan pernah membuat ulah lagi denganku, Hiro!" tegas Izumi, kemudian melingus pergi masuk ke dalam mobil pribadinya.
Usaha Hiro tidak berjalan lancar. Ternyata semuanya tidak semudah yang dia kira. Izumi bahkan tidak bersedia membalas salaman-nya. Dia kemungkinan akan mencari cara lain.
'Sudahlah, aku akan memikirkan cara lain untuk mendekatinya. Yang penting aku memenuhi keinginan Akira sekarang. Yaitu kembali ke sekolah...'
Beberapa hari telah berlalu. Hiro sudah kembali bersekolah. Namun dia hampir lupa, kalau belajar adalah sesuatu yang sangat menyulitkan. Para guru dibidang akademik hampir angkat tangan menghadapinya. Mereka menganggap Hiro tambah bodoh dibandingkan dahulu. Tepatnya sebelum Hiro mengalami amnesia. Parahnya, Shima ikut-ikutan mengalami masalah yang sama dengan Hiro. Atau begitulah pemikiran orang-orang terhadap mereka.
Sejak masuk sekolah, Hiro masih belum bisa mendekati Izumi. Dikarenakan gadis itu selalu sibuk merundung murid yang tidak disukainya. Sebagian besar sasaran bullyan Izumi adalah siswi pendiam dan lemah. Terutama Junko, Izumi bahkan tidak segan-segan melakukan tindakan kasar. Seperti menendang dan juga menampar pipi Junko.
__ADS_1
Kali ini Hiro tidak bisa membantu Junko, sebab dia sudah sepenuhnya tahu resiko apa yang didapatnya jika mengganggu Izumi. Secara alami, Hiro sudah mengikuti sikap orang-orang di sekolah. Yaitu bersikap biasa saja, kalau yang dilakukan Izumi adalah hal wajar.
'Aku akan pastikan, Izumi akan mendapat balasannya. Maafkan aku Junko, kali ini aku harus berbaur dengan baik,' Hiro membatin, jika menyaksikan Junko mendapat rundungan dari Izumi dan kedua temannya. Gadis berkacamata tersebut seringkali menatap ke arah Hiro, seakan dirinya berharap bisa mendapat bantuan.
Sekarang Hiro dan Shima tengah dihukum di luar kelas. Mereka disuruh menjewer kedua telinganya masing-masing, sampai bel istirahat berbunyi. Alasannya sederhana, yaitu karena mereka sama-sama tidak mengerjakan PR Matematika.
"Hiro, kapan aku akan berlatih ninjutsu?" tanya Shima sembari menatap Hiro dengan sudut matanya.
"Apa jarak gunung fuji jauh dari sini?" balas Hiro yang sontak membuat dahi Shima mengerut bingung.
"Lumayan. Kenapa kau tiba-tiba malah menanyakan gunung fuji?" timpal Shima. Benaknya bertanya-tanya.
"Hal pertama yang harus kau lakukan untuk latihan ninjutsu adalah--"
Bel pertanda istirahat berbunyi. Menyebabkan perkataan Hiro langsung terjeda. Beberapa saat kemudian semua murid keluar dari kelasnya. Saat itulah Toshiji selaku guru Matematika, menyuruh Hiro dan Shima juga ikut beristirahat, tetapi dengan satu janji. Yaitu tidak akan mengabaikan tugas sekolahnya lagi.
"Kami berjanji, Toshiji-Sensei!" Hiro dan Shima menjawab secara bersamaan. Membungkukkan badannya sebagai tanda hormat.
"Kalian sepertinya harus melakukan pembelajaran secara khusus, sehingga tidak ketinggalan dengan teman-teman kalian yang lain. Belajarlah yang rajin mulai sekarang!" Toshiji memberikan nasehat bernada tegas.
"Baik, Toshiji-Sensei!" Hiro dan Shima membungkukkan badan untuk yang kedua kalinya. Toshiji lantas berlalu pergi.
Setelahnya Hiro dan Shima bergegas dengan kegiatan yang berbeda. Hiro pergi ke toilet, sedangkan Shima lebih dahulu beranjak ke kantin.
__ADS_1
Sebelum memasuki toilet, langkah Hiro terhenti saat melihat Izumi berjalan menaiki tangga. Anehnya gadis itu berjalan sendirian. Padahal biasanya dia selalu bersama kedua sahabat dekatnya.
Karena penasaran, Hiro akhirnya diam-diam mengekori Izumi. Perlahan tapi pasti, keberadaan Izumi menghilang ditelan pintu.
'Bukankah ini jalan menuju atap?' pikir Hiro. Satu tangannya sudah memegang erat gagang pintu. Lalu dibukanya pelan pintu tersebut. Benar dugaannya, ternyata tempat dirinya sekarang berada adalah di atap. Berupa balkon dengan pagar teralis yang mengelilinginya. Tempat Hiro terakhir kali menunjukkan kebenaran tentangnya kepada Shima.
Setelah keluar dari pintu, Hiro langsung bersembunyi. Kepalanya celingak-celingukan akibat berusaha mencari posisi Izumi. Perhatiannya segera tertuju kepada dua gadis yang sedang berdiri saling berhadapan. Ternyata mereka adalah Izumi dan Junko. Keduanya terdengar berdebat hebat. Akan tetapi Hiro sama sekali tidak mampu mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan.
Hiro berusaha mendekat sambil berjalan mengendap-endap. Memasang kupingnya baik-baik.
"Hiks... hiks... kau boleh merundungku sesuka hatimu. Tetapi, jangan melibatkan ibuku juga ikut masuk ke dalam masalah ini!" pekik Junko sembari menangis keras.
"Cih, apa-apaan kau Junko?! padahal semuanya salahmu sendiri! aku tidak akan melibatkan ibumu, andai kau mau menuruti perintahku!" sahut Izumi, selalu dengan gaya arogannya.
"Apa aku pantas menerimanya? hanya karena aku tidak mengalah kepadamu kali ini?!... hiks... hiks... maka dari itu, aku akan memberikan kau pelajaran!" amarah Junko meledak. Tangannya mengambil pisau lipat dari kantong yang ada di samping kanan roknya.
Mata Izumi membulat sempurna. Dia tidak menyangka Junko akan melakukan perlawanan yang terbilang nekat. Kakinya otomatis bergerak mundur. Apalagi Junko sekarang mengarahkan mata pisaunya ke arah Izumi. Gadis berkacamata itu semakin mendekat. Wajahnya menunjukkan semburat penuh kemarahan.
"Ju-junko-Chan, kau tidak perlu membalasku dengan cara sejauh ini..." ujar Izumi ciut. Tergagap-gagap seraya sesekali menoleh ke belakang. Sebab dia hampir terpojok ke ujung pagar teralis. Yang artinya, jika dia tidak mampu menyeimbangkan diri, Izumi akan terjatuh dengan mudah.
"Aku sudah melakukan berbagai cara untuk membalasmu! tetapi semuanya sia-sia. Sekarang tinggal ini cara yang tersisa. Monster sepertimu pantas mati. Keluarga Nakagawa pantas mati!!" pekik Junko dengan keadaan urat-urat leher yang sudah menegang. Pitamnya sudah mencapai ke ubun-ubun, hampir tidak dapat dikendalikan oleh dirinya sendiri. Jari-jemarinya mencengkeram erat pisau lipatnya.
Sementara itu, Hiro masih berada di tempat persembunyiannya. Dia sedang berpikir, sebab dirinya mengalami dilema pada dua pilihan. Pertama, Hiro sebenarnya ingin membiarkan Junko berbuat seenaknya terhadap Izumi. Sebab bagi Hiro, Izumi adalah gadis yang kejam dan sering merundung banyak orang. Jadi menrutnya, Izumi pantas mendapat pelajaran. Sedangkan pilihan keduanya adalah, Izumi satu-satunya bagian keluarga Nakagawa yang mudah didekati. Jika Hiro kehilangan Izumi, maka dia akan semakin kesulitan menguak informasi rahasia dari keluarga Nakagawa.
__ADS_1