Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 80 - Alarm Penyelamat


__ADS_3

Mata Hiro tertuju ke arah sebuah benda berwarna merah. Benda itu berbentuk tombol dan menempel di dinding.


"Benda apa itu?" tanya Hiro. Jari telunjuknya menunjuk kepada benda yang dimaksud.


Hana lantas mengalihkan pandangannya mengikuti kemana tangan Hiro. Kelopak matanya langsung melebar. Sebab sekali lagi, Hana terkagum pada ide brilian Hiro. Padahal sebenarnya Hiro sama sekali tidak mengetahui benda berbentuk tombol tersebut.


"Hiro, ide yang bagus!" puji Hana. Kemudian berderap mendekati benda yang tidak lain adalah tombol alarm kebakaran. Sebelum menekannya, Hana menghela nafas lebih dahulu. Berharap dia dan Hiro dapat menghilangkan jejak dengan mulus.


Kriiiiing...


Bunyi alarm berdering menggema di seluruh hotel. Beberapa saat kemudian, semua orang yang ada di dalam kamar keluar satu per satu. Mereka terlihat panik dan berlarian menuju tangga darurat.


"Hana, mereka kenapa--" Hiro tidak dapat melanjutkan kalimatnya lagi, ketika Hana menariknya untuk pergi berbaur ke tangga darurat.


Keadaan di hotel Nakagawa Starlive benar-benar runyam. Para staffnya pun ikut saling berdahuluan untuk keluar dari hotel. Insting yang mereka miliki seakan menghipnotis. Hanya demi mendahulukan keselamatan diri sendiri. Ada juga yang bingung dengan kejadian itu, karena tidak terlihat adanya api atau keadaan darurat. Kini semua orang menyadarinya saat sudah keluar hotel. Alarm yang berbunyi hanyalah keisengan belaka. Para tamu hotel banyak melakukan aksi protes akibat gangguan tersebut. Menyebabkan orang-orang Nakagawa melupakan pencariannya untuk sementara.


Hiro dan Hana berhasil lolos. Keduanya sekarang sudah berada di dalam taksi. Mengatur nafas yang ngos-ngosan, karena lelah berlari melewati tangga dari lantai lima belas.


"Apa tombol yang kau tekan itu tombol ajaib? hebat sekali!" ungkap Hiro. Menatap Hana, penasaran.


Hana terkekeh geli. Dia mengaitkan beberapa helai rambut ke daun telinga. Lalu menjelaskan semuanya kepada Hiro.


"Aaah... benda itu sangat berguna," komentar Hiro sembari menyandarkan punggung ke sandaran kursi. Matanya menatap ke arah jendela mobil. Dia merasa lebih tenang.


Sesampainya di kota Kyoto, Hiro lebih dahulu pulang ke rumah. Dia hendak memastikan keadaan Akira, sebelum dirinya benar-benar sibuk untuk menyusun rencana penyelamatan Kogoro.


Akira terlihat baik-baik saja. Wanita tersebut menikmati harinya dengan mengerjakan pekerjaan rumah. Dia mendapatkan pekerjaan baru di penatu. Mencuci dan menyetrika pakaian milik orang lain.


"Kau kemana saja?!" Akira menyambut kedatangan sang putra dengan pose berkacak pinggang.

__ADS_1


"Aku bermalam di rumah temanku," jawab Hiro seraya tersenyum tipis. Kemudian menyerahkan sebuah bingkisan ditangannya. Hiro sengaja membelikan makanan kesukaan Akira, yaitu sushi dengan isi daging ikan tuna berkualitas.


"Bukankah ini mahal? dimana kau mendapatkan uang?" timpal Akira. Dia baru saja memeriksa isi bingkisan yang diberikan putranya.


Hiro yang sudah menjalankan kakinya terpaksa berhenti. Matanya terpejam rapat dan segera memberikan alasan yang tepat.


"Aku bekerja paruh waktu bersama Shima," kata Hiro, berbohong.


"Benarkah? tetapi--"


"Sudahlah Bu, aku tidak mau membiarkanmu bekerja sendirian. Bukankah lebih bagus jika aku membantu? lagi pula, aku janji tidak akan melupakan sekolahku," tutur Hiro. Sengaja memotong ucapan Akira. Dia sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh ibunya tersebut.


Akira mengejar sang putra ke dalam rumah. Memberitahu Hiro agar tidak terlalu memikirkan apa yang dikatakannya tempo hari. Yaitu mengenai masalahnya dengan keluarga Nakagawa. Akira bilang, bahwa alasan dirinya bercerita hanya untuk melegakan perasaan saja. Dia tidak bermaksud membuat putranya ikut membenci.


"Kenapa begitu? bukankah Ibu memarahi Itsuki dan Izumi saat aku masuk rumah sakit dulu? itu berarti kau membenci mereka." Hiro menyimpulkan. Dia yang tadinya berjalan membelakangi, memutar balik tubuhnya.


Hiro menganggukkan kepala. Sengaja mengalah, agar Akira tidak tersulut emosinya. Dia lalu menoleh ke arah rumah Shima, yang dapat dilihatnya dari jendela. Kediaman sahabatnya itu nampak sepi. Pertanda Shima tidak pulang ke rumah. Melainkan berada di apartemen Guree. Hiro lantas masuk ke dalam kamar. Dia beristirahat lebih dahulu, sebelum pergi berkunjung ke apartemen Guree.



Saat membuka mata, Hiro menemukan dirinya telentang di padang rumput. Langit jingga nan cerah berpelangi membuatnya terkesiap dalam selang beberapa detik. Matanya terbelalak saat menyaksikan ada seekor ular putih yang mendadak muncul. Hewan itu menegakkan kepalanya dan menghadap ke arah Hiro.


Ular putih tersebut berjalan saat melihat Hiro sudah berdiri. Dia seakan tengah berupaya menunjukkan sesuatu. Hiro yang mengerti, berderap mengikuti. Hingga kakinya terhenti, kala menyaksikan sosok lelaki muda. Sedangkan ular putih yang tadi menuntunnya, perlahan berubah menjadi seorang lelaki tua.


Hiro mengenali sosok lelaki muda. Sebab wajahnya terlihat persis seperti dirinya sekarang. Yaitu Hiro Kenichi.


"Hiro?" Hiro reflek memegangi wajahnya sendiri. Penasaran kalau-kalau dia kembali lagi menjadi Hiroshi Yamada. Namun setelah dipastikan, tidak ada yang berubah darinya. Dia tetap menjadi Hiro Kenichi.


"Terima kasih, Senpai... saya sangat menghargai apa yang telah anda lakukan terhadap hidup saya. Semoga Tuan berhasil menjalankan semua rencananya," ujar sosok lelaki, yang sepertinya adalah Hiro Kenichi yang asli.

__ADS_1


"Aku?" Hiro menunjukkan tangan ke arah dirinya sendiri.


"Iya!" sosok Hiro yang ada di depannya mengangguk dan tersenyum. Pancaran matanya berbinar-binar. Dia kemudian berbalik dan berjalan semakin jauh. Hiro mencoba mengejar namun tidak bisa, karena sosok lelaki tua langsung menghalangi jalannya.


Hiro sontak membisu. Sebab sosok Hiro asli yang tadi dilihatnya, telah menghilang entah kemana. Kini dia hanya menatap sosok lelaki tua di hadapannya.


"Saat kecelakaan terjadi, Dewa sebenarnya memberi Hiro kesempatan untuk kembali. Tetapi dia menolak, bahkan setelah mengetahui rahasia yang selama ini disembunyikan oleh ibunya." Sang lelaki tua bercerita. Tatapannya begitu teduh. Penuh kharisma serta ber-aura damai.


"Kenapa dia begitu? apa dia tidak memperdulikan betapa sedihnya Akira hidup tanpanya?" tanya Hiro, tak percaya.


"Mentalnya tidak akan sanggup, menghadapi segala kejadian buruk yang terjadi di masa lalu dan masa depannya. Di sisi lain, kami juga tidak bisa membiarkan Akira hidup sendirian. Para Dewa mempertimbangkan hal itu," tutur si lelaki tua sambil memegang pelan pundak Hiro. "Lagi pula, jika Dewa membiarkanmu mati dalam keadaan begitu, aku yakin kau pasti tidak akan terima. Bukankah begitu?" lanjutnya lagi. Sedikit mencondong, untuk menyelidiki ekspresi yang ditampakkan Hiro.


Terdiam seribu bahasa, itulah yang dilakukan Hiro ketika lelaki tua itu menimpalinya ungkapan menohok. Hiro memang tidak akan terima, jika dirinya mati sia-sia ditangan Goku.


"Bolehkah aku bertanya?" ucapan Hiro menyebabkan si lelaki tua otomatis menganggukkan kepala. "Apakah Takeda dan Goku, memiliki hubungan tertentu dengan orang-orang Nakagawa?" tanya-nya penasaran.


Lelaki tua tersebut hanya tersenyum tipis. Dia malah berkata, "Sedikit lagi, Hiroshi... tinggal sedikit lagi kamu akan menemukan jawabannya. Semua rahasia tersimpan di ruang bawah tanah hotel itu. Kau hanya perlu masuk lebih dalam."


"Aku tahu. Bisakah kau membantuku? aku benar-benar kesulitan menyelinap masuk ke sana!" imbuh Hiro yang merasa ragu.


"Aku selalu berusaha membantumu. Terutama saat kamu menemui jalan buntu. Tetapi, mengenai strategi menyelinap, aku tahu kamu lebih ahli dariku." Lelaki tua itu membalas tenang.


"Tidak! sekarang berbeda. Teknologi, orang-orang Nakagawa, serta cara mereka menyembunyikan segalanya, sangat berbeda dengan zamanku dahulu," terang Hiro, terus memohon.


"Kau pasti bisa. Gunakanlah tombol alarm itu dengan cara yang berbeda," kata sang lelaki tua, yang wujudnya perlahan mulai menghilang.


"Tunggu! maksudmu?!" Hiro berusaha mencegah kepergian lelaki tua tersebut. Namun tangannya tidak bisa meraih badan si lelaki tua, karena wujudnya sudah menyatu dengan udara. Tidak dapat tersentuh.


"Dengan cara lain, Hiroshi..." itulah kalimat terakhir sebelum penglihatan Hiro dipenuhi oleh kilauan cahaya. Hingga matanya reflek terpejam dan langsung terbangun dikasurnya. Benar, dia hanya bermimpi. Tetapi rasanya sangatlah nyata.

__ADS_1


__ADS_2