Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 63 - Penculikan [2]


__ADS_3

Syuuuttt!


Hiro menginjak rem secara tiba-tiba, karena hampir saja menabrak bus yang ada di depan. Tubuhnya dan Shima sontak terhentak ke depan. Mobil dalam keadaan berhenti sekarang.


Bip! Bip! Bip!


Bunyi klakson mobil yang nyaring dan bersahut-sahutan, menandakan betapa marahnya orang-orang terhadap cara mengemudi Hiro. Bagaimana tidak? mobilnya berhenti di tengah jalanan. Di antara kendaraan yang berlalu searah.


"Woy! apa kau sudah gila?!"


"Mengemudilah dengan baik, sialan!"


Berbagai kritikan menimpali telinga Hiro. Namun dia sama sekali tak hirau, dan malah kembali melajukan mobilnya. Sebab posisinya sudah ketinggalan jauh dengan mobil yang sedang membawa Izumi.


Mobil Hiro kembali berjalan. Meliak-liuk di jalanan tak tentu arah. Mobil milik Izumi yang dikendarainya sudah dipenuhi lecet bahkan penyok.


"Hiro, lebih baik kita hentikan sekarang. Masalah Izumi, biar polisi saja yang menanganinya!" saran Shima masih berpegangan kaku di pegangan yang ada di atas kepalanya.


"Tidak!" tolak Hiro tegas. Masih sibuk memainkan setir mobil dengan asal. Hingga lama-kelamaan posisinya sudah memasuki jalanan di jembatan layang.


"Bersiaplah Shima..." kata Hiro sambil menginjak pedal sekencang mungkin. Mobil yang dikendarainya lantas meluncur maju.


Tanpa disangka suara sirine mobil polisi terdengar dari arah belakang. Sepertinya cara berkendara Hiro yang ugal-ugalan sudah diadukan oleh seseorang.


Kini pengejaran dilakukan secara beruntun. Hiro mengejar mobil lusuh di depan. Sedangkan mobil polisi yang ada di belakang sibuk mengejarnya.


"Hiro, kita hentikan saja! kumohon!" pekik Shima sembari meringis ketakutan. Dia merasakan mobil yang dinaikinya bergerak seperti roller coaster.


"Mobil dengan plat nomor 3xx! harap berhenti sekarang juga!" polisi di belakang menegur. Dia menggunakan alat pengeras suara Toa, agar peringatannya dapat terdengar jelas.

__ADS_1


Hiro tidak peduli. Dia mengerutkan dahi penuh tekad. Karena sedikit lagi dia berhasil mendekati mobil yang membawa Izumi.


Dor!!


Akibat peringatan yang tidak didengar, polisi terpaksa menembakkan peluru ke udara. Dan tentu saja membuat Hiro kaget bukan kepalang. Apalagi dia agak jera berurusan dengan senjata yang berbunyi seperti ledakan tersebut.


Hiro mulai gemetaran. Dia menghembuskan nafas dari mulut, lalu memantapkan diri untuk melanjutkan tekadnya. Perlahan posisi mobilnya berhasil menyamai laju mobil lusuh yang membawa Izumi. Kendaraannya kini berada tepat di samping mobil lusuh itu. Akan tetapi, dia malah mendapat serangan tidak terduga. Yaitu hantaman yang seketika membuat mobilnya ditubruk ke pinggir.


Hiro membanting setir. Mobilnya berputar satu kali dan berhenti di bagian depan. Beruntungnya, posisi kendaraannya menghalangi jalan mobil lusuh dimana Izumi berada. Alhasil mobil lusuh tersebut reflek berhenti. Hal yang sama juga dilakukan oleh mobil polisi, namun sayangnya mereka terlambat mengijak rem. Sehingga tanpa sengaja mobilnya melaju ke arah kendaraan Hiro dan Shima naiki.


Adegan tak terduga itu tentu membuat mata Hiro dan Shima membulat sempurna.


"Keluar sekarang!" titah Hiro sembari bergegas keluar dari mobil.


"Apa?!" akibat terlalu panik. Shima tidak menangkap perintah dari sahabatnya. Alhasil kendaraan polisi menghantam mobil yang ditempatinya. Menyebabkan posisi mobilnya bergeser ke kanan, kemudian menghancurkan pagar yang ada dipinggiran jembatan.


Mobil yang dinaiki Shima tersendat. Berada diposisi setengah di udara dan sebagian lagi ada di jembatan. Perlahan mobilnya bergerak mengikuti gravitasi. Semakin di dominasi oleh udara, yang artinya sebentar lagi Shima beserta mobil akan terjatuh ke air. Jika dia bergerak sedikit saja, maka tamatlah sudah.


"Keluarlah dari mobil pelan-pelan, anak muda!" ujar polisi memberi saran kepada Shima. Dia menjaga jarak dari mobil yang hampir terjatuh itu.


Berbeda dengan Hiro. Dia segera berderap mendekati mobil dan mencoba menyelamatkan Shima. Hiro membuka pintu mobil, kemudian langsung menarik Shima keluar.


Kretak... Wush!


Akibat adanya pergerakan yang intens, mobil seketika terjatuh. Bersamaan dengan keluarnya Shima yang terjadi tepat waktu. Badannya kini melayang di udara sambil menggenggam erat tangan Hiro.


Shima bergelantungan dipinggir jembatan. Berharap agat dirinya lekas-lekas dibawa naik ke atas.


Melihat Hiro kesulitan, polisi dan yang lainnya bergegas membantu. Sehingga Shima dapat memijakkan kakinya kembali ke tanah. Lelaki berambut cepak tersebut berusaha mengatur deru nafasnya. Jujur saja, jantungnya masih berdetak kencang karena ketakutan dan kengerian yang sempat dirasakan.

__ADS_1


"Kau tidak apa-apa?" tanya Hiro, mencemaskan. Shima langsung menjawab dengan anggukan kepala. Sebelah tangannya terlihat memegangi area dadanya sendiri.


Setelah semua orang dipastikan selamat, polisi segera membawa Hiro dan yang lainnya ke kantor. Mereka akan menyelesaikan masalah di sana. Sedangkan Izumi ditemukan masih tidak sadarkan diri di bagian kursi belakang mobil. Dia terkena efek obat bius yang telah diberikan oleh si pria berambut gondrong.


Hiro dan Shima diberikan wejangan habis-habisan oleh polisi. Meskipun telah berjasa mencegah aksi pencukikan, keduanya tetap dilarang mengemudi lagi, serta harus mendapatkan denda berupa uang.


"Uang lagi... uang lagi..." keluh Shima sambil menggeleng tak percaya. Dia menyandarkan lesu badannya ke sandaran kursi.


"Kamu tidak perlu khawatir, biar aku saja yang membayar dendanya. Lagi pula akulah yang sudah membuatmu terlibat ke masalah ini," ucap Hiro, meyakinkan Shima. Namun perkataannya malah direspon dengan kerutan dahi oleh sahabatnya itu.


"Enak saja. Kamu pikir aku tidak tahu bagaimana kondisi keuanganmu? apalagi ibumu sekarang masih berada di rumah sakit. Pasti akan memerlukan biaya lagi kan?" balas Shima tidak terima.


Hiro tertohok dan tidak kuasa membantah, karena pernyataan kawannnya tersebut memang ada benarnya.


Seorang polisi tiba-tiba datang menghampiri. Dia memberitahukan kalau Izumi telah siuman. Sebelum melangkahkan kaki ke tempat Izumi, gadis itu telah muncul lebih dahulu di hadapan Hiro dan Shima. Dia berjalan dengan lambat, lalu berhenti tepat di depan Hiro.


"Polisi sudah memberitahukan semuanya. Kalau kau yang menyelamatkanku..." Izumi menjeda ucapannya sejenak dan meneruskan, "masalah dendanya, kau tidak perlu memikirkannya." Dia berbicara dengan nada rendah. Sebenarnya Izumi telah sepenuhnya luluh terhadap apa yang dilakukan Hiro. Sebab sudah yang ketiga kalinya lelaki tersebut menyelamatkannya dari maut.


Perlahan Izumi mengalihkan pandangan ke arah Shima dan bertanya, "Kau baik-baik saja kan? aku mendengar kabar kalau kau tadi hampir terjatuh ke sungai."


"Lihatlah, aku masih di sini. Bukankah itu menjelaskan bahwa aku memang baik-baik saja?" terang Shima, memaksakan diri untuk tersenyum.


Izumi bercerita kalau pria berambut grondong awalnya mengaku memiliki mainan yang sedang dicarinya. Makanya Izumi mengikutinya untuk melihat mainan yang dimiliki si pria berambut gondrong. Akan tetapi pria tersebut ternyata punya maksud lain. Dia sebenarnya adalah kakak lelaki Junko, yang tengah berusaha memberikan pelajaran kepada Izumi.


"Sebenarnya kau mencari mainan apa?" tanya Shima, terheran.


"Mainan kecil yang berbentuk persis seperti kecoak, atau serangga menjijikan lainnya. Itulah yang aku cari," jawab Izumi sambil mendengus kasar. Lalu duduk di bangku dengan kaki yang menyilang.


"Untuk apa?" Shima semakin dibuat bingung.

__ADS_1


"Untuk membalas Eri. Dia dan keluarganya mempunyai bisnis restoran kecil. Jadi aku akan menggunakan mainan itu untuk aku masukkan ke dalam makanan. Begitulah... kalian paham maksudku kan?" jelas Izumi yang kini melipat kedua tangan di depan dada.


Hiro dan Shima segera saling bertukar pandang. Mereka bicara lewat tatapan. Menunjukkan kalau keduanya benar-benar miris dengan kelakuan gila Izumi.


__ADS_2