Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 86 - Rencana Penyelamatan [1]


__ADS_3

Hiro berlari meninggalkan lingkungan sekolah. Dia memisahkan diri dari semua orang. Termasuk Shima dan Izumi. Dirinya berpikir mungkin apa yang dikatakan Shima ada benarnya. Kogoro bisa saja celaka, jika tidak secepatnya diselamatkan.


Hiro mendatangi kuil di gunung Kurama. Berharap bisa mendapat jawaban di sana. Akan tetapi dirinya hanya bisa menemui Eiji, yang sedang sibuk membakar dedaunan kering.


"Hiro, senang bisa melihatmu kembali," sapa Eiji sembari menumpuk dedaunan kering ke dalam api.


Hiro duduk diam dan menselonjorkan kakinya. Dia istirahat sejenak, karena baru selesai mendaki.


"Aku sedang bingung sekarang..." lirih Hiro, yang dilanjutkan dengan dengusan nafasnya. Sorot matanya tertuju ke arah api yang berkobar. Memakan habis setiap dedaunan yang kering. Dia terpaku pada hal itu.


Eiji menoleh ke arah Hiro sembari mengembangkan senyuman tipis. Dia tidak menjawab satu patah kata pun ucapan Hiro. Eiji malah pergi meninggalkan Hiro seorang diri.


Hiro terpaku dengan kobaran api yang dilihatnya. Pikirannya sedikit lebih tenang. Pupil matanya perlahan membesar, karena dalam pikirannya terbersit sesuatu hal. Yaitu mengenai alarm kebakaran.


'Benar juga yang dikatakan kakek di dalam mimpiku. Aku harus menggunakan cara lain. Yaitu dengan cara membuat alarm kebakaran berbunyi, tetapi bukan karena tanpa alasan seperti sebelumnya. Melainkan akibat adanya api itu sendiri!' batin Hiro. Dia langsung bangkit dari tempat duduknya.


"Aku harus mengalihkan perhatian semua orang di hotel. agar aku bisa menyusup dengan mudah ke ruang bawah tanah!" gumam Hiro. Dia lekas-lekas berlari. Berniat ingin pergi ke apartemen Guree secepat mungkin. Sebelum itu Hiro tidak lupa mengucapkan salam pamit dan terima kasih kepada Eiji.


Sesampainya di apartemen Guree. Hiro mengumpulkan semua orang, lalu mengatakan ide yang ada dalam kepalanya. Shima sangat senang mendengar kabar baik tersebut. Dia merasa bersalah dan juga berterima kasih kepada Hiro.


Strategi Hiro yang pertama adalah, mengirim satu atau dua orang untuk menginap ke hotel Nakagawa Starlive. Yang mana nanti mereka ditugaskan untuk menyulut api di salah satu lantai. Hingga apinya nanti membesar dan membuat alarm kebakaran otomatis dinyalakan. Dengan begitu, orang-orang di bangunan hotel pasti akan berlarian untuk menyelamatkan diri. Hal yang sama tentu juga akan dilakukan oleh orang-orang dari ruang bawah tanah.


Ketika semua orang keluar. Hiro dan yang lainnya harus menyusup ke basement. Mencari informasi secepat mungkin. Mereka harus bisa, sebelum api membakar bangunan atau berhasil dipadamkan oleh pemadam kebakaran.


"Untuk yang bertugas menyamar menjadi tamu hotel, kalian harus berpakaian mahal untuk berbaur. Sedangkan aku dan yang bertugas menyelinap ke ruang bawah tanah, akan mengenakan penutup wajah!" jelas Hiro. Terdengar sangat bertekad.

__ADS_1


Semua orang menganggukkan kepala, karena mereka sudah memahami rencana Hiro. Kini hanya tinggal mempersiapkan alat transportasi, senjata, dan barang-barang kebutuhan lainnya.


Hiro, Shima beserta ke tujuh belas orang lainnya, memilih berkendara dengan mobil. Mereka sengaja memakai sekitar tiga buah mobil. Membutuhkan lima jam lamanya perjalanan. Jarak antara kota Kyoto ke Tokyo memang lumayan jauh. Alasan Hiro memilih mengendarai mobil, karena dia perlu memasuki area parkiran VIP. Serta untuk berjaga-jaga kalau sesuatu hal tak terduga terjadi.


"Kita sudah sampai, beberapa meter lagi adalah hotel Nakagawa Starlive!" ujar Jun, memberitahu. Dia adalah orang yang bertugas menyetir. Mencoba membangunkan teman-temannya yang masih tertidur. Termasuk Hiro.


Mereka sengaja berhenti di pinggir jalan. Jaraknya sendiri lumayan jauh dari lokasi tujuan.


"Sudah sampai?" tanya Hiro memastikan. Dia langsung melihat ke arah jendela. Jun pun juga ikut mengiyakan.


"Kalau begitu, ayo kita bersiap!" ujar Hiro. Dia dan yang lain segera mengenakan pakaian serba hitam. Lalu bersembunyi ke bagian bagasi atau di bawah kursi mobil. Kecuali Nozomi dan Jun, keduanya akan menyamar menjadi seorang nona muda yang pergi bersama sopirnya.


Nozomi harus mengenakan setelan bermerek serta make up wajah meyakinkan. Dia butuh waktu lama untuk melakukannya dengan baik. Susah sekali mendandani gadis itu, karena terbiasa tampil maskulin dari pada feminin.


"Sebentar lagi. Kau lebih baik diam, kalau tidak mengerti seni. Jika penampilannya tidak meyakinkan, maka aku akan meyalahkanmu!" sahut Hana, sinis. Dia bertugas memperbaiki penampilan Nozomi.


"Aku tidak mau memakai sepatu tinggi. Titik!" tegas Nozomi. Itu merupakan satu-satunya hal yang tidak mau dia lakukan.


"Baiklah." Hana akhirnya meletakkan cerminnya. Pertanda bahwa dirinya sudah selesai.


"Apa Shotsuki sudah siap?" Hiro menelepon orang-orang yang ada di bagian mobil kedua.


"Kami sudah siap setengah jam yang lalu. Justru kalian-lah yang lama!" sahut Shotsuki yang ada di seberang telepon. Dia adalah lelaki yang harus menyamar bersama Nozomi. Selain itu dirinya juga mendapat tugas memunculkan api di salah satu lantai hotel.


Setelah memastikan semuanya sudah siap, mobil lantas dijalankan memasuki area hotel.

__ADS_1


Nozomi terlihat menelan saliva-nya sebelum melakukan aksinya. Sesuai prosesur VIP, dia dan Shotsuki sudah memesan kamar jauh-jauh hari.


Jun menghentikan mobil secara perlahan. Di ikuti oleh dua mobil di belakangnya. Perlahan Nozomi keluar dari mobil. Hal serupa juga dilakukan oleh Shotsuki. Keduanya harus bersikap layaknya sepasang kekasih nan kaya raya.


Semua staff hotel menyambut mereka dengan ramah. Atensi mereka tertuju ke arah sepatu kets Nozomi yang tidak sesuai dengan pakaiannya.


"Hai sayang..." ujar Shotsuki memaksakkan diri. Dia melingkarkan tangannya ke pinggul Nozomi dengan mulus.


"Kakiku sedang sakit, makanya tidak bisa mengenakan high heels yang indah. Maaf ya, sa-sayang," ungkap Nozomi memberi alasan. Membuang segala dugaan miring yang mungkin saja dipikirkan oleh para staff hotel.


"Itu mobil kami yang ketiga, berisi banyak barang-barang penting. Jadi juga harus ikut dibawa," ucap Shotsuki sambil menunjuk ke arah mobil ketiga. Di sana terlihat Chen Fu, yang sedang menyamar menjadi sopir. Tersenyum dan melambai ke arah manajer staff hotel.


Para sopir pun dipersilahkan memarkirkan mobilnya ke parkiran khusus VIP. Untuk sekarang, rencana Hiro berjalan dengan lancar.


Ketiga mobil ditempatkan berjejer di sisi barat parkiran VIP. Hiro dan yang lain telah mengenakan topengnya masing-masing. Seperti biasa, entah kenapa Hiro selalu tertarik memilih topeng rubah inari. Hanya Jun, Chen Fu dan Chang Feng, yang belum memakai topeng. Dikarenakan ketiganya masih harus menyamar menjadi sopir. Menunggu, sampai ada kabar dari Jun dan Nozomi.


Seorang bellboy yang hendak mengambil barang, tampak siap melakukan tugasnya. Dia berderap ke arah mobil Hiro berada.


"Ada seorang bellboy berjalan ke sini. Apa yang harus kita lakukan dengannya?" tanya Jun seraya menoleh ke belakang.


"Kau harus pastikan kamera pengawas yang ada di luar, habisi dia di tempat yang tidak tersorot. Kau bisa kan?" Hiro memberikan usul. Jun pun keluar dari mobil. Toh si bellboy itu sudah berdiri tepat di depan mobilnya. Chen Fu dan Chang Feng juga harus melakukan hal yang sama seperti Jun. Ketiganya mencoba berkomunikasi dengan bellboy tersebut.


Catatan Kaki :


Bellboy : bertugas menangani barang-barang bawaan tamu dan memberikan pelayanan pada saat tamu melakukan check-in, check-out atau room change.

__ADS_1


__ADS_2