
Ketika sedang asyik bicara, pintu yang tadi sudah ditutup Hiro mendadak terbuka.
Ceklek!
Muncullah sosok Itsuki yang langsung melangkahkan kakinya masuk.
Mata Hiro dan Shima sontak membelalak secara bersamaan. Mereka tidak menduga dengan kedatangan Itsuki. Rasa cemas mulai dirasakan oleh keduanya, karena takut Itsuki mendengar pembicaraan mereka. Padahal baik Hiro dan Shima, sudah bersuara dengan nada yang sangat pelan. Dan dipastikan hanya dapat didengar dari jarak dekat.
"Izumi baru saja memberitahu, kalau kalian juga ada di sini." Itsuki melepas handuk kimononya dan segera bercebur ke kolam. Badannya terlihat bugar dan berotot. Tidak heran dia sangat percaya diri memperlihatkannya.
Shima otomatis memberinya ruang, dengan cara sedikit mundur ke belakang. Sedangkan Hiro masih membeku di tempat, menatap tajam ke arah Itsuki.
"Hiro, apa kau sudah selesai berendam?" tanya Itsuki. Bermaksud mengajak Hiro untuk ikut menceburkan diri ke kolam.
Seolah mengerti, Hiro langsung melemparkan handuknya dan ikut bergabung masuk ke kolam.
"Aneh sekali, orang ternama sepertimu mau bergabung dengan kami ke sini. Bukankah seharusnya, kau menikmati kolam sendirian layaknya adik perempuanmu?" ujar Hiro, berusaha menahan diri sebisa mungkin. Sebab ketika menyaksikan rupa Itsuki, yang di ingatnya hanya rasa sakit dan pengkhianatan.
Itsuki tertawa kecil dan menjawab, "Anggap saja ini sebagai terima kasihku, karena kau sudah berjasa menolong adikku." Bola matanya bergerak tepat ke arah Shima. "Hmm? lelaki ini selalu bersamamu. Apa dia semacam saudara kembar atau pelayanmu?" tanya-nya lagi. Menatap remeh Shima.
"Dia temanku, namanya Shima. Dia sudah seperti saudara sedarah bagiku. Jadi, jangan coba-coba untuk meledeknya." Hiro sedikit kelepasan. Dia mengeratkan rahang dan mengepalkan tinju di dalam air.
Shima yang tahu dirinya diremehkan, hanya terdiam. Dia masih tidak memiliki keberanian untuk melakukan pembelaan. Namun dirinya mencoba menegur Hiro dengan tatapannya, agar kawannya itu tidak bersikap berlebihan.
"Hahaha!" Itsuki malah tergelak. "Aku tidak meledeknya. Lagi pula aku hanya bertanya," tambahnya, berusaha memperbaiki sudut pandang Hiro.
Setelah puas tertawa, Ituski perlahan merubah raut wajahnya menjadi serius. "Sejak jam berapa kalian berendam di sini?" tangannya terlihat direntangkan ke bagian sisi atas kolam.
"Sejak jam setengah tujuh, mungkin..." sahut Shima, mengira-ngira.
__ADS_1
Mendengarnya, sorot tatapan Itsuki semakin tajam. Seakan telah mengetahui sesuatu hal yang akan mengancam dirinya. "Apa kalian tadi mendengar pembicaraanku ditelepon? sebab saat kalian sedang bicara pada Izumi tadi, aku dapat mendengar suara dari sini dengan jelas.
"Tida--"
"Memangnya kenapa kalau kami mendengarnya?" Hiro sengaja memotong ucapan Shima yang hampir menyebutkan kata tidak.
Itsuki mengusap tengkuknya tanpa alasan. "Aku hanya memastikan..." ucapnya asal.
"Apa karena tadi kau membicarakan perihal pembunuhan?" tukas Hiro, yang seketika membuat mata Itsuki maupun Shima sama-sama membuncah hebat. Seakan hendak keluar dari tempatnya.
Suasana hening dan menegang terjadi selang beberapa saat. Itsuki yang tadi sempat menyandarkan diri ke pinggir kolam, segera menegakkan badannya. Dia tampak sangat terkejut. Itsuki lantas berjalan mendekati Hiro.
"Mu-mungkin Hiro salah dengar, karena aku yang sedang bersamanya sama sekali tidak mendengar apapun." Shima berusaha menyelamatkan Hiro. Akan tetapi usahanya tidak berhasil menghentikan pergerakan Itsuki untuk menghampiri Hiro.
Itsuki sekarang berdiri di hadapan Hiro. Masih berada di kolam air panas, yang mengeluarkan banyak kepulan uap.
Itsuki seketika merubah ekspresinya menjadi datar. Dia berpikir kalau ucapan Hiro ada benarnya. Itsuki lupa poin mengenai bahwa dirinya sekarang, tengah berhadapan dengan dua remaja seumuran adiknya.
"Baiklah, aku akan mempercayai kalian. Terutama kau Hiro!" Itsuki mengarahkan jari telunjuknya kepada Hiro.
"Tentu saja kau bisa mempercayai kami. Apalagi Shima adalah penggemar berat keluarga Nakagawa," celetuk Hiro asal, yang sontak menyebabkan Shima kaget bukan kepalang. "Karena dia-lah, aku terus mencoba untuk menjadi teman yang baik bagi Izumi. Dia banyak menceritakan hal baik tentang keluarga Nakagawa," tambahnya seraya tersenyum tipis.
Itsuki ikut mengukir senyuman, tangan kanannya mengusap lembut puncak kepala Shima. Dia kemudian segera keluar dari kolam.
"Ah benar, bagaimana kalau setelah ini kalian ikut makan malam bersamaku dan Izumi? kami makan di penginapan mewah dekat sini," tawar Itsuki sambil mengikat erat tali handuk kimononya.
"Tidak. Kami sudah berjanji akan makan bersama penjaga kuil beserta adikku!" balas Shima, menolak mentah-mentah. Dia tidak ingin terlalu lama berhadapan dengan Itsuki. Akan menimbulkan dampak yang buruk untuk Hiro.
Itsuki mengangkat kedua alisnya. "Oh, anak kecil itu adalah adikmu?" dia memanggut-manggutkan kepala. Kemudian berlalu pergi di iringi oleh dua bodyguardnya.
__ADS_1
Kini Hiro dan Shima sudah mengenakan pakaian kembali, dan keluar dari area pemandian air panas. Mereka tidak perlu membayar biaya pemandian, karena Itsuki diam-diam sudah menanggungnya.
"Kau tahu, sebenarnya ini adalah peluang besar untuk membunuhnya!" kata Hiro sambil menyamakan langkahnya dengan Shima. Keduanya sedang dalam perjalanan menuju kuil.
"Jangan gila Hiro, orang-orang akan heboh jika tahu Itsuki dibunuh di sini. Lagi pula, ini adalah tempat suci. Kau tahu kan?" respon Shima dengan dahi yang berkerut.
"Aku tahu. Hanya saja, aku sudah tidak tahan lagi melihat wajahnya!" Hiro menghela nafas panjang sembari menghentikan pergerakan kakinya. Dia mendongakkan kepala ke atas.
"Bersabarlah..." Shima menepuk pelan pundak Hiro, dengan lirikan getirnya. Dia sebenarnya tidak ingin melihat Hiro melakukan pembunuhan lagi. Shima tidak mau sahabatnya tersebut terlalu tenggelam dalam dendamnya. Dirinya bertekad akan berusaha mencegah tindakan melenceng Hiro.
Keesokan harinya, tepat dipagi buta. Hiro dan Shima hendak latihan lagi. Kali ini Shima terlihat bersemangat dari sebelumnya. Kemungkinan rasa segar nan dingin pagi hari-lah yang membuatnya begitu.
"Apa kau melihat Shiro, saat bangun aku tidak menemukan dia di tempat tidur?" tanya Hiro, serius.
"Dia mungkin ke kamar mandi," sahut Shima, santai. Hiro berusaha mengerti, dan segera menyuruh Shima untuk memulai latihannya.
Percobaan pertama Shima gagal. Namun itu tidak melunturkan tekadnya dan langsung mencoba lagi. Untuk yang sekian kalinya Hiro membalikkan jam pasir dan menunggu.
Tiba-tiba dari kejauhan Hiro dapat menyaksikan Eiji tengah berlari mendekat. Lelaki berkepala botak itu tampak tergesak-gesak. Gelagatnya terlihat panik.
"Ada apa, Tuan Eiji? apa ada sesuatu hal yang mendesak?" tanya Hiro penasaran.
Eiji mengatur deru nafasnya terlebih dahulu. Kemudian segera memberitahu, "Shiro, apa dia masih tertidur?"
"Maksudmu?" merasa kaget dan tidak mengerti, Hiro bertanya balik.
"Saat kalian tertidur pulas tadi malam, Shiro sempat meminta izin pergi ke kamar mandi. Aku bangkit dan memperhatikannya dari kejauhan. Tetapi akibat rasa kantuk, aku perlahan merebahkan diri dan tertidur. Setelah itu, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi kepadanya. Dia baik-baik saja kan?" Eiji menjelaskan panjang lebar.
__ADS_1