Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 32 - Apartemen Misterius


__ADS_3

Hiro langsung dibuat panik. Dia kini tidak memiliki uang sepeser pun. Senyuman girangnya seketika berubah menjadi semburat kekecewaan.


"Kenapa? apa kau kehilangan sesuatu?" tanya Shima dengan dahi yang berkerut.


"Dompetku!" keluh Hiro. Masih terus menyentuh setiap jengkal bagian pakaiannya.


"Sepertinya gadis yang bernama Sakura itu sudah mengambil dompetmu," imbuh Izumi sembari menyilangkan tangan di depan dada. "Apa benar wajahnya sama persis dengan Hana?" tanya-nya, kembali menunjukkan foto Hana diponselnya. Memastikan pendapat dua lelaki yang sedang duduk di hadapannya. Pertanyaannya langsung dijawab dengan anggukan kepala dari Hiro dan Shima.


"Oh, sekarang aku tahu alasan dia bisa mendapatkan banyak barang berharga..." gumam Izumi, berbicara kepada dirinya sendiri. Sedikit memiringkan kepala ke kanan.


"Sial!" geram Hiro, mengusap wajahnya kasar. Frustasi, dan juga merasa telah ditipu. Parahnya dia dibodohi oleh orang yang katanya bodoh.


"Aku pikir sekarang kau punya motivasi untuk menemui Hana. Kau bisa mengambil kembali uangmu, Hiro. Mungkin bahkan lebih dari itu," tutur Izumi pelan. Dia lantas memberikan nomor teleponnya, dan juga alamat apartemen Hana yang sebenarnya.


"Tunggu!" cegat Shima kepada Izumi yang hampir pergi. "Kami butuh uang untuk menjalankan rencana," jelasnya singkat.


Izumi memutar bola mata jengah. Kemudian mengambil sebuah kartu kredit dari dalam dompetnya. Dia menyerahkannya kepada Shima. "Belilah apa yang kalian mau. Tetap jika rencananya gagal, kalian harus mengganti semua uangku!" ketusnya, yang dilanjutkan dengan melangkahkan kaki keluar dari cafe.


Hiro dan Shima memutuskan untuk langsung mencari alamat Hana. Hiro berniat ingin memantau keadaan lebih dahulu. Agar dirinya dan Shima dapat menyusun strategi yang tepat.



Mereka mengunjungi gedung apertemen dimana Hana tinggal. Hiro dan Shima terheran, karena apartemen yang ditemukannya terlihat tua dan agak sepi. Letaknya sendiri berada dipinggiran kota Kyoto bagian tenggara. Lebih sepi dibandingkan suasana pada rumah susun yang pernah ditinggali Hiro.


"Apakah benar ini tempatnya?" Hiro melirik tajam ke arah Shima.


"Seratus persen. Aku sudah mengeceknya beberapakali!" sahut Shima yakin. Akibat keraguan yang melanda, dia akhirnya menghubungi Izumi untuk memastikan. Tangannya bergegas melakukan panggilan telepon dengan smartphone-nya.

__ADS_1


Suara gelak tawa Izumi langsung mendengung dikupingnya. "Itulah salah satu alasan aku tidak mau ke sana. Tempatnya lebih kumuh dari pada rumah susunnya Hiro," terangnya dari seberang telepon.


Hiro yang merasa geram, merebut ponsel dari genggaman Shima. "Apa kau membohongi kami? bagaimana bisa orang seperti Hana mampu membeli barang-barang limited edition yang kau sebutkan itu?" timpal Hiro dengan dahi yang mengerut dalam.


"Nah, itu juga salah satu alasan aku menyuruhmu pergi ke sana. Tolong cari tahu, dan jangan lupa bawakan tas yang aku mau!" sahut Izumi, kemudian segera mematikan panggilan telepon lebih dahulu. Tangan Hiro otomatis menyerahkan kembali ponsel ke pemiliknya.


"Dia memang gadis gila. Aku benar-benar tidak paham!" komentar Shima seraya memasukkan ponselnya ke saku celana.


Hiro terdiam sejenak. Kepalanya perlahan mendongak ke atas untuk melihat ketinggian gedung di hadapannya. Mustahil baginya untuk memanjat gedung tersebut. Sehingga dia tidak punya pilihan lain selain berjalan lewat pintu utama.


Hiro dan Shima berderap bersamaan memasuki gedung apartemen. Keduanya langsung disambut dengan keadaan hening. Lampu yang ada pun tampak sekarat, kadang mati, lalu menyala. Layaknya penerang yang sering ada di film-film horor.


"Shima, aku ingin tahu. Penjahat seperti apa yang paling mengerikan di zaman ini?" tanya Hiro tiba-tiba.


"Emmmm..." Shima berpikir. Mencari-cari jawaban dikepalanya. Selang beberapa detik dia pun menjawab. "Yakuza mungkin..."


"Penjahat macam apa itu?" Hiro menatap heran sambil berjalan memasuki lift. Di iringi Shima dari belakang.


"Di luar negeri orang-orang menyebutnya Mafia. Sedangkan di negara ini, kita menyebutnya Yakuza!" Shima menghentikan penjelasannya ketika pintu lift sudah terbuka. "Ngomong-ngomong kenapa kau bertanya?"


"Tidak ada." Hiro menjawab tak acuh. Beberapa saat kemudian pintu lift pun terbuka. Mereka sekarang tiba di lantai dimana kediaman Hana berada.


"Tunggu Hiro, kau yakin ingin menemui Hana dalam keadaan begini?" Shima memegangi pergelangan tangan Hiro. Raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran. Sebab dia dan Hiro masih mengenakan pakaian yang sama ketika bertemu Hana. Atau lebih tepatnya dengan gadis yang mengaku kalau namanya adalah Sakura.


"Tentu saja tidak!" Hiro segera menyeret Shima ke balik sebuah tembok yang berada dekat tangga darurat. Sebab suara pintu terbuka membuatnya reflek melakukan hal tersebut.


Ternyata tidak hanya satu pintu yang terbuka, melainkan semua pintu pada lantai itu. Termasuk apartemen nomor 92 milik Hana.

__ADS_1


Hiro dan Shima semakin menghimpitkan badan ke dinding. Berusaha menyembunyikan dirinya agar tidak terlihat oleh orang-orang.


Semuanya terasa baik-baik saja, sampai seorang anak lelaki mendadak muncul dari pintu tangga darurat. Kemunculannya tentu berhasil memergoki Hiro dan Shima. Anak kecil tersebut begitu kurus, terlihat seolah sedang sakit namun dari jalannya yang laju, menunjukkan kalau dirinya sangatlah sehat.


Hiro reflek meletakkan jari telunjuk di depan bibir. "Psssst!" hatinya berharap anak lelaki itu mengerti dengan bahasa tubuh yang dilakukannya.


Sang anak lelaki malah tersenyum. Dia kemudian berlalu pergi. Hiro dan Shima lantas mendengus lega.


"Oi! mereka di sini!" anak lelaki tersebut mendadak memekik lantang, sambil melingkarkan kedua tangan dibagian mulutnya.


Deg!


Jantung Hiro dan Shima serasa disambar petir. Akan tetapi Hiro berusaha sebisa mungkin menenangkan dirinya dan juga Shima. Perlahan dia keluar dari balik dinding seraya mengukir senyuman tidak bersalah. Dia tahu kalau masalah tidak selalu mampu diselesaikan dengan cara kekerasan. Jika masih bisa bernegoisasi, untuk apa buang-buang energi?


Shima yang sebenarnya merasa sangat ketakutan, terpaksa mengikuti tindakan kawannya. Dengan pelan digerakkan kedua kakinya mengiringi Hiro. Puluhan manusia yang menatap tajam segera menyambut penglihatan mereka.


Semua orang yang ada di sana memiliki tampilan yang terbilang sangar dan mengancam. Di dominasi lebih banyak pria dibanding wanita. Apartemen tersebut terkesan seperti tempat tinggal kumpulan para gangster. Meskipun mereka memakai baju lusuh, tetapi auranya memancarkan ancaman yang berhasil membuat siapapun ciut.


Salah satu di antara mereka adalah Hana. Penampilan gadis itu tampak sangat berbeda. Menggunakan kaos baju lusuh dan celana pendek. Dia tentu menjadi satu-satunya orang yang mengenali Hiro dan Shima.


"Tangkap mereka!" titah salah satu lelaki berbadan berisi, yang terlihat seperti ketua dari komplotan.


"Tunggu! kami hanya ingin bertemu dengan Hana!" ungkap Hiro. Tangannya relfek terangkat ke atas, sebab beberapa orang yang ada terus mencoba mendekatinya.


Mendengar penuturan Hiro, semua orang lantas berhenti dan segera menoleh ke arah Hana. Tatapan mereka kepada Hana seakan sedang menuntut jawaban.


Hana menghembuskan nafas dari mulut. Dia memandang jengah Hiro dan Shima. "Aku memang mengenal mereka. Tetapi aku sarankan tangkap saja, karena mereka datang di waktu yang salah!" ucapnya, yang sontak membuat semua orang bergegas membekuk Hiro dan Shima.

__ADS_1


"Apa?!" Hiro menyalangkan mata ke arah Hana. Dia memutar bola mata kesal. Kedua tangan dan kakinya segera digerakkan secara bergantian, untuk menyerang beberapa orang yang mencoba membekuknya. Tiga orang tersebut seketika oleng dan jatuh ke lantai. Selanjutnya Hiro segera melakukan pose jurus pembukaan. Siap menghadapi puluhan orang yang ada.


"Shima, berdirilah di belakangku!" perintah Hiro dengan nada pelan, yang pastinya dapat terdengar oleh telinga Shima.


__ADS_2