
Hiro terpaksa meraih microphone, lalu bangkit dari tempat duduk. Dia memilah-milih lagu dengan asal. Bernyanyi terbata-bata tanpa mengikuti nada. Lagu yang dinyanyikannya benar-benar terdengar berantakan akibat hal tersebut.
Izumi sontak tidak kuasa menahan tawa. Dia tergelak puas bersama Shima. Hingga tak terasa air mata tawanya keluar begitu saja. Gadis tersebut kini bisa tertawa puas. Membuktikan kalau dirinya telah menemukan kesenangan.
Hiro menghentikan nyanyiannya, terutama ketika mendengar dua insan yang asyik mentertawakannya. "Apa kalian puas?!" geramnya, yang menampakkan rona merah malu diwajahnya. Hiro sadar betapa buruk dirinya saat bernyanyi. Apalagi tanpa mengetahui ketukan nada lagu yang dinyanyikannya.
Hiro berjanji, itu adalah nyanyian pertama dan terakhirnya. Dia tidak berminat lagi melakukannya di lain waktu. Jika harus, mungkin lebih baik mati saja dari pada harus mempermalukan diri sendiri.
Shima menjadi orang yang selanjutnya bernyanyi. Setelah menyelesaikan satu lagu pilihannya, saat itulah Hiro mengajak pulang semua orang.
"Kamu aneh sekali, Hiro. Padahal tadi kau yang mengajakku ke sini, tetapi kau juga yang mendesak mau pulang!" ujar Izumi, menopang dagu dengan sebelah tangannya.
"Aku hanya ingin membuatmu bersenang-senang. Berhasilkan?" balas Hiro, tersenyum miring.
Izumi lekas-lekas membuang muka. Gadis itu berusaha menutupi rekahan senyum yang tak tertahankan. Selanjutnya dia lantas berdiri dan mengantarkan Hiro beserta Shima pulang ke rumah.
Kebetulan Hiro meminta turun lebih dulu dari mobil, karena berniat mencari Akira ke tempat kerja. Dia menyuruh Shima pulang bersama Izumi. Akan tetapi sayangnya, Izumi menolak mentah-mentah. Dia tidak mau berduaan di mobil bersama Shima.
"Kau pikir aku bersedia? cih!" respon Shima, ketika mendengar penolakan dari Izumi. Kemudian bergegas keluar dari mobil.
Izumi tak hirau dan segera menjalankan mobil. Shima tidak punya pilihan lain selain menaiki bus. Dia juga hendak lekas-lekas pulang menemui Shiro, jadi dirinya sudah memisah dari Hiro.
Cuaca hari itu terasa sangat dingin. Langit pun menghitam dengan kilat yang sesekali menyala-nyala. Beberapa kali Hiro menggidikkan bahunya. Menatap lurus ke arah sebuah gedung di depannya. Di sana dirinya dapat menyaksikan Akira yang sudah bersiap untuk pulang.
Semenjak berhenti dari pekerjaan paksa dari Takeshi, Akira bekerja sebagai cleaning cervis di sebuah hotel bintang lima. Butuh sekitar tiga hari dia berjuang demi mendapatkan pekerjaan bagus itu. Senyuman terpancar diwajahnya saat melihat kehadiran Hiro yang telah menunggu.
__ADS_1
"Ada apa ini? tumben sekali kau menjemput Ibumu bekerja," seru Akira, berjalan kian mendekat.
"Ini bukan yang pertama kalinya kan?" sahut Hiro, tersenyum. Kemudian berjalan berbarengan bersama sang ibu.
"Hmmh... kau terlalu banyak menimbulkan kekacauan akhir-akhir ini. Tetapi, aku bisa melihatmu lebih ceria," ucap Akira. Menilik paras yang ditunjukkan oleh putranya. Langkahnya digerakkan untuk menaiki bus. Sedangkan Hiro mengiringi dari belakang. Dua ibu dan anak tersebut sudah berada di dalam bus.
Akira dan Hiro sama-sama menatap ke arah jendela. Melihat pemandangan malam kota Kyoto. Lama-kelamaan pemandangan itu mengingatkan Hiro pada momen pertama kali dirinya terbangun di abad-21, kota Tokyo.
"Ibu..." lirih Hiro, yang sontak membuat Akira menoleh. "Bolehkah aku tahu alasan dibalik terlukanya kepalaku saat di Tokyo? sebenarnya apa yang terjadi?"
Akira mengerjapkan matanya beberapa kali. Kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke kaca jendela. Dari situlah dia bercerita, kalau dirinya dan Hiro sengaja menemui seseorang saat di Tokyo. Akira mengatakan sosok yang ditemuinya adalah orang dari masa lalu. Salah satu orang yang telah menyebabkan Hiro melukai kepalanya.
"Siapa dia? apa aku berkelahi dengannya?" tanya Hiro penasaran. Kelopak matanya melebar akibat saking penasarannya.
Akira langsung menggeleng. "Tidak, kau membawaku berlari dan tidak sengaja tertabrak mobil!" jelasnya sambil membekap mulutnya dengan telapak tangan. Sejenak memberikan kehangatan terhadap wajahnya.
"Orang yang seharusnya tidak pernah aku beri kepercayaan. Orang yang hingga saat ini tidak ingin kutemui lagi. Aku hanya perlu mengambil satu hal milikku darinya!" Akira mengepalkan tinju disalah satu tangannya.
"Maksudmu?" Hiro mengernyitkan kening.
Tanpa diduga, dari luar jendela tampak butir-butir putih berjatuhan. Lama-kelamaan semakin banyak layaknya air hujan. Benar, salju pertama telah turun. Pertanda musim dingin sudah membuka gerbangnya. Hal itu membuat atensi Akira teralih. Namun pertanyaan sang putra tetap didengarkannya.
"Aku akan menjelaskan semuanya nanti." Akira berpaling menatap Hiro dan melanjutkan, "sekarang bukan waktu yang tepat."
Hiro menghela nafas berat. Lagi-lagi Akira menggantung ceritanya. Ibunya tersebut terlihat fokus menatap butir-butir salju yang berjatuhan kian lebat. Pembicaraan mereka benar-benar berakhir seperti kehendak Akira.
__ADS_1
Meskipun musim dingin, sekolah tetap dilaksanakan. Malah momen terakhir sebelum liburan, adalah yang terpenting. Sebab ujian akhir akan segera dilaksanakan.
Hiro dan Shima belajar sambil berlatih bela diri. Jujur saja, kegiatan mereka lebih banyak melakukan latihan fisik. Sedangkan buku yang keduanya pinjam dari perpustakaan, terbengkalai dan tidak tersentuh sama sekali.
Mereka memilih berlatih di sekitar pekarangan rumah. Memanfaatkan waktu, saat Akira dan Kogoro tidak ada di rumah. Hiro dan Shima sengaja berlatih diam-diam. Bukannya enggan memberitahu, tetapi semuanya demi konsentrasi yang lebih baik. Terutama untuk pemula seperti Shima.
Selama satu minggu lamanya, perlahan Shima mulai menguasai jurus yang diajarkan oleh Hiro. Dia juga seringkali melatih fisiknya dengan beradu lari bersama Hiro.
Di suatu waktu ketika Hiro terbangun dari tidur siangnya. Dia mendengar suara Shima yang tengah sibuk menghafal jurusnya. Shima melakukannya sambil menjemur beberapa pakaian.
Hari kebetulan cerah, meskipun salju dan hawa dingin masih menyelimuti lingkungan sekitar.
Hiro bergegas keluar dari rumah dan menyaksikan gerakan bela diri dari Shima. Menurutnya sahabatnya itu sudah semakin lihai. Dia lantas berjalan mendekat. "Bagaimana kalau hari ini kita bertanding?" tanya-nya yang seketika menyebabkan mata Shima terbelalak.
"Untuk apa? sudah pasti aku akan kalah. Beri aku waktu lagi," sahut Shima tidak terima.
"Ini juga bagian tahap latihan, Shima. Jika kamu berhasil mengalahkanku, maka kau akan aku anggap seorang ahli!" imbuh Hiro, seraya melepas pakaian atasannya. Sehingga hanya meninggalkan celana pendeknya. Dia melakukan hal tersebut meski berpijak di atas salju. Selanjutnya Hiro melakukan pose jurus pembukaan, pertanda dirinya telah siap untuk bertanding.
"Hiro, apa kau gila? sekarang musim dingin, setidaknya pakai--" belum sempat Shima menyelesaikan kalimatnya, Hiro mendadak menyerang. Yaitu dengan cara memutar badannya, kemudian menendang area pinggul Shima.
"Ugghh!" Shima reflek mengerang kesakitan. Dia tidak menduga, Hiro akan menyerangnya tanpa aba-aba yang jelas.
Hiro terus menggunakan jurusnya ke arah Shima. Hingga akhirnya Shima tidak punya pilihan selain melawan. Dia ikut membuka pakaian atasannya, lalu bertanding dengan Hiro.
__ADS_1
Aksi saling serang semakin menjadi-jadi. Hiro dan Shima kali ini bertarung dengan serius. Keringat bahkan sudah keluar di beberapa titik tubuh mereka. Seolah tidak peduli terhadap cuaca dingin yang ada.
Tanpa sepengetahuan mereka. Kogoro menontoni dari depan pintu pagar. Dia berseringai kala menyaksikan adegan perkelahian Shima dan Hiro. Kogoro tahu, kalau dua sahabat itu tengah melakukan latihan bela diri. Dia dapat mengetahuinya, karena sudah melihat sejak awal. Tepatnya ketika Hiro mengajak paksa Shima untuk bertarung.