Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 15 - Katana & Kostum Ninja


__ADS_3

Hiro menceritakan semua masalahnya kepada Shima. Termasuk mengenai masalahnya di kantor polisi.


Berbeda dengan Akira, yang merasa enggan untuk meminta bantuan. Hal itu karena dia tahu Shima mempunyai kehidupan ekonomi yang sama sulitnya seperti dirinya.


"Hiro, sudahlah. Lebih baik kita mencari rumah sewaan sendiri saja. Ibu tidak mau merepotkan Shima..." Akira berbisik pelan ke telinga Hiro.


"Psssst..." Hiro meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya. Dia berhasil membuat Akira terdiam. Intinya dia sama sekali tidak peduli dengan ucapan sang ibu. Hiro malah melanjutkan percakapan seriusnya dengan Shima. Hingga sahabatnya tersebut akhirnya mengerti.


Bukannya merasa sedih, Shima malah tampak tersenyum lebar. Terutama ketika Hiro menceritakan kalau dirinya tengah mencari rumah untuk ditinggali.


"Pas sekali. Rumah kakekku sudah kosong selama beberapa bulan. Tempatnya memang tidak begitu besar, tetapi aku yakin pasti akan pas ditinggali kalian berdua!" Shima mengangkat alisnya penuh semangat. Dia bergegas mengambil pulpen dan secarik kertas, kemudian menuliskan alamat rumahnya.


"Tempatnya berada tepat di sebelah rumahku. Kalian ke sana saja dahulu. Aku harus mengantarkan semua pesanan terlebih dahulu," ujar Shima sembari menyodorkan secarik kertas berisi alamat kepada Hiro.


"Terima kasih, Shima-Kun!" balas Hiro dengan senyuman simpulnya. Dia segera mengajak Akira untuk pergi ke alamat yang dituliskan Shima kepadanya.


Setelah menaiki bus sekitar sepuluh menit, Hiro dan Akira pun tiba di lokasi tujuan. Mereka segera menekan bel yang tersedia di pintu pagar.


Tidak lama kemudian muncullah seorang anak lelaki berlari untuk membukakan pagar. Wajah anak itu sangatlah mirip dengan Shima. Kemungkinan besar dia adalah adik kandungnya.


"Halo, namaku Shiro Kobayoshi." Anak lelaki berusia sekitar delapan tahun tersebut membungkukkan badannya. Dia menyambut kedatangan Hiro dan Akira dengan sangat ramah. Shiro sudah tahu tentang kedatangan Hiro karena diberitahu oleh kakaknya melalui telepon. Selanjutnya Shiro mengajak Hiro beserta Akira untuk mengikutinya. Tepatnya menuju rumah kakeknya yang telah lama kosong.



Kriet...


Pintu dibuka dengan pelan. Tampaklah keadaan rumah yang akan ditinggali Hiro dan Akira. Terlihat sangat tua, karena memang penghuni terakhirnya sendiri adalah kakeknya Shima. Akira beberapa kali mengibaskan tangan di depan hidungnya. Sebab rumah itu sangatlah berdebu. Terdapat dua kamar kecil di dalamnya. Keadaan rumah tersebut sangatlah kosong, akibat saking sedikitnya barang-barang furniture. Hanya ada benda-benda tua kesayangan kakeknya Shima yang masih bertahan.


Hiro baru melangkahkan kakinya masuk. Tas besar yang ada dalam genggaman tangannya seketika terlepas. Mulutnya melengkung membentuk sebuah senyuman. Dia terpesona dengan benda-benda tua yang ada di rumah kakeknya Shima.

__ADS_1


Sebuah katana yang tergantung di dinding paling menarik perhatian Hiro. Dia mencoba mengambil benda tajam tersebut.


"Jangan!" pekik Shiro, berusaha menghentikan tindakan Hiro. "Itu adalah barang paling berharga peninggalan kakekku!" Shiro menjelaskan dengan nada tegas. Anak lelaki tersebut terlihat benar-benar serius dengan perkataannya.


"Maaf..." Hiro berbalik dan tersenyum tipis. "Apakah kakekmu ahli menggunakannya?" tanya-nya dengan keadaan alis yang terangkat. Hiro sedikit membungkukkan badan agar bisa menyamakan tingginya dengan Shiro. Dia tahu cara bersikap baik kepada anak-anak.


"Kakekku adalah pelatih bela diri yang hebat. Bagiku dia adalah seorang samurai, dia juga sangat ahli memainkan katana. Tetapi karena suatu masalah dia akhirnya berhenti di umur empat puluhan," terang Shiro seraya menatap figura yang berisi foto mendiang kakeknya. Matanya menunjukkan binar kekaguman sekaligus kerinduan.


"Wah... dia pasti adalah sosok yang hebat!" Hiro ikut-ikutan mengalihkan pandangannya ke arah foto.


"Sangat! aku dan Shima ingin memiliki keahlian bela diri sepertinya. Tetapi, kami tidak punya cukup uang untuk masuk ke akademi manapun." Shiro perlahan menundukkan wajahnya. Ekspresinya terlihat kecewa, mengingat tentang kesulitan ekonomi yang menimpa dirinya sekarang.


Hiro hanya membisu. Sekarang dia tahu alasan Shima begitu ingin dilatih olehnya. Namun Hiro tetaplah merasa enggan untuk menjadi seorang guru.


"Maaf kalau rumahnya masih berantakan. Aku harap kalian bisa tidur dengan nyenyak malam ini." Shiro berpamitan, dia hendak pergi tidur, karena waktu sudah larut malam.


"Baiklah, tetapi kau juga harus tidur. Besok kau harus sekolah!" ujar Akira membalas. Dia kemudian berjalan memasuki kamar.


Hiro menganggukkan kepala seraya tersenyum puas. Lalu berderap memasuki kamar di sebelah bilik Akira. Dia berniat memasukkan tasnya ke dalam lemari.


Mata Hiro membulat sempurna, saat menyaksikan ada banyak pakaian kuno di lemari. Dan yang paling menarik perhatian Hiro adalah kostum ninja berwarna hitam.


Hiro meraih kostum ninja hitam. Dia menatap pakaian itu dengan mata yang berbinar-binar.


"Kau kemana saja? aku sangat merindukanmu! kau tidak tahu betapa sulitnya aku mencarimu!" gumam Hiro histeris sembari membawa kostum ninja ke dalam pelukannya. Dia seakan merasa kembali hidup menjadi dirinya sendiri.


Setelah puas bernostalgia, Hiro lantas berdiri. Kemudian segera mengenakan kostum ninja yang telah ditemukannya. Dia nampaknya tidak kuasa menahan diri, apalagi ketika mengingat banyaknya masalah yang menimpanya seharian penuh. Wajah Takeshi beserta bawahannya terus terlintas dalam bayangannya. Membuat prasangka dan amarah Hiro semakin menggebu.


Hiro menyimpulkan kalau Takeshi-lah yang telah membuat dirinya dan Akira di usir dari rumah susun. Semuanya sangatlah jelas dimata Hiro. Dia sudah mencurigainya sejak berada di kantor polisi.

__ADS_1


"Seperti janjiku, sekali lagi mereka mengganggu. Maka aku akan menghabisi mereka dalam diam," ucap Hiro dengan seringainya. Lalu menutupi wajahnya dengan kain hitam, hingga hanya menyisakan bagian matanya.


Bagi Hiro, Takeshi dan bawahannya pantas dibunuh. Dia telah menimbang-nimbang pilihannya saat berada dalam perjalanan.


Sebelum pergi dari rumah, Hiro tidak lupa untuk mengambil katana yang tergantung di dinding. Dia berjanji akan mengembalikannya dalam keadaan utuh dan bersih.


Hiro diam-diam pergi dari rumah. Seperti biasa, dia dapat melakukan semuanya dengan mulus. Meskipun begitu, Hiro sadar kalau dirinya tidak akan mampu berjalan melewati gedung-gedung yang sangat tinggi. Alhasil Hiro pun terpaksa melangkah dengan santainya menyusuri jalanan. Dia tidak peduli dengan orang-orang yang menatap aneh. Baginya yang terpenting adalah memberi Takeshi pelajaran.


"Lihat! ada manusia dari masa lalu tersesat!" haha..."


"Jaga mulutmu! dia seorang ninja, nanti kau akan ditebas dengan katana-nya... pfffft!"


"Pecundang! haha..."


Dua orang lelaki kebetulan mengejek Hiro. Mereka terus mentertawakan, meski Hiro sudah berjalan melewati.


Ketika berada di dalam bus, Hiro kembali mendapatkan respon yang sama. Dia lagi-lagi mendapatkan ejekan dari orang-orang yang tidak dikenalnya. Tidak jarang ada beberapa orang yang mengabadikan Hiro dengan mengambil foto melalui ponsel.


Hiro sepenuhnya paham, kalau kostum biasanya di zaman dulu akan menarik perhatian jika di pakai pada masa sekarang. Dia tidak malu sedikit pun, toh semua orang tidak bisa melihat wajahnya meski dari jarak dekat.


Hiro hanya mematung dan membisu. Membiarkan semua orang mengejeknya. Dia lekas-lekas pergi, kala bus sudah berhenti. Kemudian melangkah menuju gang yang tadi sempat didatanginya bersama Shima. Bangunan di gang itu tidak begitu tinggi, dan sangat mempermudah Hiro untuk melakukan aksinya.


Catatan Kaki :


Katana : Pedang.


Samurai : Adalah bangsawan militer abad pertengahan dan awal-modern Jepang.


Furniture : Perlengkapan rumah.

__ADS_1


__ADS_2