
Hiro yang sudah kesakitan akhirnya memilih bersembunyi. Tepatnya di balik tembok sebuah gang. Dia berusaha menenangkan deru nafasnya yang tersengal-sengal. Lelaki itu terus menekan rongga dadanya agar bunyi nafasnya dapat segera menghening seperti biasa.
Suara derap langkah mulai terdengar mendekat. Membuat Hiro menegakkan badannya. Sedangkan sebelah tangannya berusaha menutupi lengan yang terluka. Jujur saja, luka tembakan itu terasa semakin menusuk. Menyebabkan energi Hiro semakin terkuras habis.
Langkah kaki yang berlari tambah mendekat. Hiro segera mengangkat sebelah kakinya, karena sudah siap menyerang. Tidak lama kemudian, sosok pemilik derap kaki tersebut muncul. Hiro lantas mencoba melakukan serangan, namun langsung di urungkannya. Sebab lelaki yang ada di hadapannya sendiri ternyata adalah Shima.
"Senpai!" Shima reflek menghentikan tindakan Hiro, yang hampir saja melayangkan tendangan. Dia menutupi wajah dengan kedua tangannya sebagai senjata perlindungan diri.
"Kau ternyata..." lirih Hiro sembari meringis kesakitan. Tangannya masih menempel pada lengannya yang terluka.
"Kau terluka!" Shima membulatkan mata. Dia sontak dirundung perasaan khawatir. "Senpai, kita harus pergi ke rumah sakit sekarang!" ujarnya sambil mencoba membopong badan Hiro. Akan tetapi, Hiro malah mencoba menghentikan Shima, karena dia cemas dengan orang-orang Nakagawa yang sedang mengejar.
Shima mengusap tengkuknya akibat kebingungan. Matanya terus menatap lengan Hiro yang terlihat terus mengeluarkan cairan berwarna merah. Dia juga tidak lupa untuk menengok ke belakang. Berharap tidak ada orang Nakagawa yang mengejar. Namun pupus sudah harapannya ketika menyaksikan ada dua orang lelaki tampak berlari dari kejauhan. Salah satu dari mereka jelas adalah penjaga yang tadi ada di rumah Nakagawa.
Shima sontak kembali menyembunyikan diri. Dia bergegas membawa Hiro ke tempat persembunyian yang lebih aman. Yaitu di sebuah sauna yang kebetulan sedang buka.
Shima menyeret Hiro masuk ke dalam sauna. Di sana dia tidak peduli dengan beberapa lelaki yang menatap heran ke arahnya. Shima hanya berlari menuju toilet, dan bersembunyi di salah satu bilik bersama Hiro.
Hiro mulai semakin lemah. Wajahnya pun sudah tampak pucat. Dia berusaha menahan rasa sakitnya dengan cara menggertakkan gigi.
"Senpai, bertahanlah..." ujar Shima yang hampir merengek karena merasa saking paniknya.
Tok... Tok...
Seseorang mendadak mengetuk pintu bilik tempat Hiro dan Shima berada.
Ketukan tersebut membuat Hiro dan Shima tegang. Keduanya menutup mulut rapat-rapat, dan berusaha menghening sebisa mungkin.
__ADS_1
Tok! Tok!
"Shima, ini aku, Kogoro!" orang yang mengetuk pintu bersuara. Ternyata dia adalah Kogoro, yang ternyata tadi merupakan salah satu bagian kumpulan lelaki penikmat sauna.
Shima lantas membuka pintu. Sebelum dirinya sempat memberitahu tentang keadaan Hiro, Kogoro menyadarinya lebih dahulu. Kogoro kemudian menyuruh Shima untuk menekan luka Hiro dengan handuk yang diberikannya. Dia mengorbankan handuk yang sedang bertengger dipinggulnya. Sehingga tampilan Kogoro sekarang dalam keadaan telanjang bulat.
"Sial!" geram Hiro sambil mengalihkan pandangannya ke samping. Penglihatannya benar-benar ternodai dengan penampakan Kogoro yang terlihat percaya diri.
Shima yang merasa kalau Hiro tengah risih, segera melepaskan kaos bajunya, lalu memberikannya kepada Kogoro.
Kogoro hanya merengut, dan menyimpan komentar tidak bergunanya lebih dahulu. Sebab keadaan Hiro sekarang sedang mendesak dan perlu pengobatan secepat mungkin.
"Bodoh! kenapa kalian malah ke sini? dan bukannya ke rumah sakit?!" timpal Kogoro kesal seraya mengikat kaos baju Shima ke bagian pinggangnya.
"Kami sedang dikejar, dan tidak punya waktu untuk ke rumah sakit. Kumohon tolonglah Hiro terlebih dahulu Paman, nanti aku akan jelaskan semuanya!" sahut Shima, memohon histeris.
Kogoro mendengus kasar, lalu menyuruh Hiro dan Shima menunggu sebentar. Sementara dirinya beranjak pergi untuk mencari pertolongan.
Beberapa saat kemudian, Kogoro kembali dengan berpakaian lengkap. Dia membawa seorang lelaki tua yang membawa tas berisi peralatan medis ditangannya. Namanya adalah Hayate, sepertinya dia merupakan orang yang berpengalaman dalam pengobatan.
"Ini pakailah!" Kogoro mengembalikan kaos baju kepada Shima.
"Biar aku lihat," ujar Hayate sembari menyuruh Shima melepaskan handuk dari lengan Hiro. Pupil mata Hayate membesar ketika mengetahui kalau Hiro terluka karena sebuah tembakan. Dia memeriksa baik-baik luka yang sedang diderita Hiro.
"Tenang saja, pelurunya tidak terlalu dalam. Aku bisa mengeluarkannya," kata Hayate yakin. Dia mengambil sebuah pisau bedah dan alat pencapit dari tasnya, lalu bersiap melakukan prosedur operasi.
Selagi menunggu Hiro diobati, Kogoro menuntut keponakannya untuk memberikan penjelasan. Sesuai janji Shima tadi, dia harus mengatakan alasan dibalik luka tembak yang menimpa Hiro.
__ADS_1
Shima bercerita dengan singkat. Dia terpaksa melakukannya, karena tidak punya pilihan lain. Shima juga memperlihatkan foto yang tadi sempat diberikan Hiro. Foto tersebut masih tersimpan rapi di saku celananya.
Sekarang Kogoro dapat melihat foto masa lalu Akira bersama Katashi Nakagawa. Sama halnya dengan Hiro, Kogoro pun merasa penasaran terhadap hubungan Akira dan keluarga Nakagawa.
Kogoro menyandarkan badannya ke pintu bilik. Dia memandangi foto ditangannya sambil berpikir.
"Apakah Akira adalah bagian dari keluarga Katashi?" Kogoro menebak. Pandangannya masih tertuju ke benda yang sama. Perlahan dia menyunggingkan mulutnya ke kanan. Berseringai, seolah tengah memikirkan rencana yang akan membuatnya senang.
"Paman kenapa tersenyum begitu?" tegur Shima, yang sedari tadi memperhatikan gelagat pamannya.
"Aku rasa, Hiro dan Akira memiliki hubungan penting dengan keluarga Nakagawa. Itu berarti..." Kogoro malah tersenyum sambil menggelengkan kepala. Dia tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Berarti apa?" tukas Shima penasaran.
"Temanmu adalah orang kaya!" Kogoro mencengkeram salah satu bahu Shima. Matanya berbinar penuh semangat.
Hiro yang mendengar sama sekali tidak mampu bersuara. Karena dirinya sekarang sedang menahan rasa sakit yang teramat sangat. Menurutnya Kogoro sedikit berlebihan dan agak mencurigakan. Seharusnya Shima tidak menceritakan semuanya kepada Kogoro.
Setelah memakan waktu setengah jam lebih, akhirnya Hayate berhasil mengeluarkan peluru yang bersarang dilengan Hiro. Dengan beberapa tetes alkohol dan jahitan kecil, lengan Hiro sekarang bisa diperban.
Tanpa diduga, terdengar suara keributan dari arah luar. Kogoro yang cekatan, segera melihat keadaan di luar toilet. Akan tetapi dirinya langsung berbalik, ketika mengetahui kalau ada dua orang Nakagawa tengah melakukan pencarian.
Untung saja Hiro sudah selesai diobati. Jadi dia sekarang dapat bersembunyi dengan baik. Hayate yang ternyata merupakan pemilik bisnis sauna, tahu tempat aman untuk bersembunyi. Lelaki tua tersebut mempunyai ruang rahasia yang tersembunyi.
Hayate membawa Hiro dan Shima keluar dari toilet dengan hati-hati. Mumpung dua orang Nakagawa masih mencari di ruang penyimpanan barang, tempat lemari loker tersusun rapi. Sedangkan Kogoro bertugas membersihkan darah Hiro yang berceceran di lantai. Lelaki itu hanya perlu mengelap dan menyiramnya dengan air. Selanjutnya Kogoro kembali menikmati sauna untuk menghangatkan diri.
__ADS_1
Catatan kaki :
Sauna : Pemandian umum yang ada di Jepang.