Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 36 - Mengikuti Akira


__ADS_3

Setibanya di rumah, Hiro langsung memeriksa keadaan Shiro. Adiknya Shima itu ternyata sudah tertidur pulas di kamarnya. Kini Hiro merebahkan tubuhnya ke sofa. Menatap langit-langit pelafon rumah dalam sesaat.


Tidak lama kemudian, bunyi pintu pagar yang terbuka terdengar. Hiro segera merubah posisi menjadi duduk, kedua bola matanya ditujukan ke arah sumber suara. Terlihatlah Akira sedang berjalan dengan mengenakan dress yang sama persis seperti tadi.


Hiro terdiam sejenak. Selang beberapa menit, dia segera menyusul Akira. Hiro membuka pintu dengan tiba-tiba, dan berhasil memergoki Akira sedang duduk termenung sambil mengusap sudut matanya.


"Hiro!" Akira terkejut dengan kedatangan sang putra. Dia sontak berdiri. "Kau dari mana?" tanya-nya, terheran dengan putranya yang pulang larut malam.


"Bukankah aku yang harusnya bertanya begitu?" balas Hiro seraya menilik Akira dari ujung kaki hingga kepala.


Akira hanya mendengus kasar. Dia malah mengambil tasnya, karena berniat hendak masuk ke kamar. "Kau harusnya memikirkan sekolahmu, Hiro. Jangan pedulikan apa yang Ibu lakukan sekarang!" jelasnya ambigu. Lalu melingus begitu saja.


Meskipun memiliki perangai sebagai ibu yang baik, Akira selalu bersikap tertutup kepada putranya. Dia terus berusaha merahasiakan sesuatu yang menurutnya tidak pantas diketahui Hiro. Apalagi tentang hal yang mungkin akan mengganggu ketenangan sang putra. Seperti masa lalu suaminya dan juga masalah yang sedang di alaminya sekarang.


...***...


Matahari menyapa dengan sinarnya. Memancarkan cahaya kemilau yang menembus pepohonan tanpa dedaunan. Sebab sebagian besar daun-daun tersebut telah berguguran ke tanah. Hawa dingin bahkan mulai terasa, menandakan musim dingin sebentar lagi akan tiba.


Hiro mengerjapkan mata, bau masakan Akira menusuk indera penciumannya. Dia langsung bangkit dari tempat tidur dan menghampiri ibunya.


"Ibu tidak berangkat kerja?" Hiro berbasa-basi. Dia bermaksud memancing perihal pekerjaan yang Akira geluti sekarang.


"Iya, sebentar lagi aku akan berangkat. Lalu kau? bagaimana urusan mengenai sekolahmu?" sahut Akira, berbalik tanya.


"Ibu tenang saja, sebentar lagi aku pasti akan sekolah!" ucap Hiro seraya menduduki kursi yang ada di dekat meja makan. Dia menatap Akira yang tengah berdiri membelakanginya.

__ADS_1


'Dia masuk kerja pagi? berarti dia bukan wanita malam. Tetapi kenapa Akira mengenakan pakaian yang agak berlebihan? lalu kenapa kemarin dia terlihat berada di klub malam?' Hiro berpikir dengan mata sedikit menyipit. Dia merasakan penasaran yang bukan kepalang.


Hiro perlahan mengalihkan pandangan ke jendela. Penglihatannya tidak sengaja menangkap Shiro yang baru saja keluar dari rumah. Hiro sontak bergegas menghampiri anak lelaki itu.


"Shiro, kau akan berangkat sekolah?" tanya Hiro, yang berhasil menghentikan langkah kaki Shiro tepat di depan pintu pagar.


"Mmm!" Shiro mengangguk tegas.


"Apa kau--"


"Tidak perlu mencemaskanku. Paman tadi pagi sudah menelepon, dia nanti akan menjemputku pulang sekolah. Paman juga mengatakan kalau kakakku sedang bersamanya." Shiro menjelaskan lebih dahulu sebelum Hiro sempat bertanya.


"Syukurlah..." respon Hiro. Salah satu tangannya mengusap puncak kepala Shiro pelan. Kemudian membiarkan anak tersebut beranjak pergi.


Setelah sarapan dan membereskan rumah, Akira bersiap untuk berangkat. Sedangkan Hiro berpura-pura sibuk dengan perkakas-perkakas, yang dia bilang akan dipersiapkan untuk sekolah.


Ketika waktunya dirasa tepat, Hiro bergegas mengenakan jaket hitam. Tidak lupa juga dia memakai topi yang memiliki warna senada dengan jaketnya.


Langkah kaki Hiro dilajukan agar tidak ketinggalan Akira. Dia sesekali bersembunyi jika Akira berhenti atau menoleh ke belakang tanpa alasan.


Hingga sampailah Akira di depan sebuah bangunan dengan dua tingkat. Perempuan itu sempat mematung sesaat, sambil menatap bangunan yang ada di hadapannya. Akira seolah meragu untuk masuk ke sana. Namun di akhir, dia tetap berjalan ke dalam bangunan.


Sebelum tertinggal, Hiro nekat masuk lewat pintu depan. Namun pergerakannya kakinya terhenti, tatkala melihat Akira berdiri di dekat pintu masuk. Perempuan itu tampak berbincang dengan seseorang. Hiro akhirnya memutuskan untuk mencari jalan masuk lain.


Hiro mengamati bangunan yang dimasuki Akira. Bangunan tersebut tidak bernama dan memiliki tampilan sederhana. Selain itu, cukup mudah untuk dimasuki, terutama dari atap. Lagi pula dia tidak ingin Akira tahu, kalau dirinya sedang mengikuti. Hiro lantas memilih jalan lewat mini market yang ada di sebelah bangunan.

__ADS_1


Mini marketnya begitu sepi, bahkan mempunyai barang lawas yang kadaluarsa. Penjaga tokonya juga tampak mengantuk. Akan tetapi itu kesempatan untuk Hiro. Tangannya dengan cekatan mengambil salah satu topeng inari yang kebetulan berjejer di rak. Untuk kali ini, dia terpaksa mencuri karena tadi malam, Hiro lupa mengambil dompetnya. Padahal Hana sudah meletakkan dompet tersebut di atas meja dekat tempat tidur Shima. Kemungkinan besar uangnya sudah dibasmi oleh Kogoro atau orang lain. Terlebih penghuni-penghuni di apartemen Guree sebagian besar panjang tangan.



Hiro naik ke lantai dua mini market. Dia dapat melakukannya dengan mudah, karena tangganya berada di luar. Topeng inari sudah terpasang menutupi wajahnya. Tudung jaket juga tidak terlupa digunakannya untuk menutupi area kepala. Sekarang hanya tinggal pergi ke bangunan sebelah, tempat dimana Akira berada.


Dengan melangkah mundur terlebih dahulu, Hiro dapat menjangkau bangunan di seberang dengan lompatan. Jaraknya yang tidak begitu jauh, membuat lompatannya sukses besar. Tanpa pikir panjang, dia menderapkan kakinya masuk ke dalam bangunan.


Penampakan sebuah lorong langsung menyambut pandangan Hiro. Di sisi kanan dan kiri lorong terdapat beberapa pintu, yang menandakan kalau tempat tersebut mempunyai cukup banyak ruangan. Lampu di sana pun juga agak redup, tetapi tidak sekarat seperti lampu di apartemen Guree.


Perlahan telinga Hiro dapat mendengar suara keributan dari arah lantai bawah. Dia otomatis menjadikan bunyi keributan itu sebagai petunjuk.


Ketika baru saja menuruni tangga, Hiro bisa menyaksikan dari kejauhan sebuah ruangan dengan dua pintu. Di sana ada sekitar lima orang yang memegang peralatan rekam video. Salah satu di antara mereka ada lelaki yang tadi malam ikut mengomel kepada Akira.


Anehnya semua jendela dalam bangunan ditutup semua. Seakan mereka memang sengaja melakukannya. Penerangannya pun hanya menggunakan lampu putih yang ada di ruangan. Orang-orang yang ada di ruangan itu juga terlihat sibuk. Makanya sejak tadi, masih belum ada yang menyadari kehadiran Hiro.


'Tempat apa ini? dan dimana Akira?' benak Hiro bertanya-tanya. Dia bersembunyi dibalik tanaman hias bonsai berukuran sedang.


Mata Hiro sebenarnya masih belum bisa menyaksikan semua orang yang ada di ruangan. Sebab penglihatannya terhalang, akibat salah satu pintu yang perlahan menutup sendiri. Alhasil dia mencoba berderap semakin dekat, agar dapat melihat lebih jelas.


Kini Hiro berada di belakang pintu. Mengamati sisi yang belum dilihatnya sedari tadi. Dia mengintip lewat sela-sela yang ada di engsel pintu.


Pupil mata Hiro membesar. Dari balik topeng inari itu dia menunjukkan ekspresi kagetnya. Karena dirinya tengah menyaksikan Akira juga ada di ruangan tersebut. Di sebelahnya terdapat seorang lelaki asing yang bertelanjang dada. Keduanya terlihat sedang mendengarkan arahan dari seorang lelaki.


'Tunggu, kenapa ada banyak benda seperti kamera pengawas? mereka mau apa?' Hiro yang sama sekali tidak paham dengan dunia perfilm-an, tentu tidak mengerti.

__ADS_1


Catatan kaki :


Panjang tangan (idiom) : Pencuri.


__ADS_2