
Akibat adanya kesepakatan, hubungan Kogoro dan Shima menjadi lebih baik. Kogoro bilang, dia akan menyiapkan rencananya, dan memberikan kabar secepat mungkin.
Ketika di perjalanan pulang, tepatnya saat menaiki bus. Shima berniat menanyakan sesuatu kepada Hiro. Mengenai rencana pembalasan dendam kawannya itu.
"Hiro, kamu tidak akan melakukan kejahatan kan untuk mewujudkan balas dendammu?" tanya Shima serius.
"Bukankah kamu tahu apa yang sudah kulakukan kepada komplotan rentenir itu?" balas Hiro. Ingin sahabatnya mengerti akan maksudnya.
"Kamu... akan membunuhnya?" terka Shima, menunjukkan mimik wajah masam.
"Yang paling utama adalah menemukan informasi terlebih dahulu. Barulah aku akan memikirkan apa yang harus kulakukan..." jawab Hiro.
Shima memanggut-manggutkan kepala. Dia berharap fakta yang ditemukan di keluarga Nakagawa bukanlah hal besar. Jadi Hiro tidak akan nekat melakukan pembunuhan.
Keesokan harinya, Hiro dan Shima tengah bersiap datang ke sekolah baru. Mereka pergi bersama Izumi.
Setibanya di lokasi sekolah baru. Hiro merasa ada yang tidak asing. Dirinya merasa sering melihat seragam sekolah yang dipakai oleh murid di sana. Dia dan Shima keluar lebih dahulu dari mobil.
"Aku merasa seragam itu tidak asing," ungkap Hiro sembari mencoba mengingat-ngingat, perihal dimana dirinya melihat seragam tersebut.
"Kamu benar, aku juga sering melihatnya..." Shima merasakan hal yang sama.
Hiro menepuk jidatnya sendiri. Matanya sedikit terbelalak. Dia tahu betul kalau seragam murid di sekolah itu persis seperti yang dipakai Hana.
"Apa Izumi sengaja melakukan ini? satu sekolah dengan Hana?" imbuh Shima dengan nada berbisik.
"Entahlah..." sahut Hiro, menggelengkan kepala.
Tidak lama kemudian, Izumi keluar dari mobil. Dia beserta Hiro dan Shima bergegas memasuki sekolah barunya. Mendapatkan seragam sekaligus reputasi baru. Mereka bahkan juga bertemu Hana. Tetapi Hiro dan Shima memilih untuk berlagak tidak saling kenal. Sebab hal yang sama juga dilakukan oleh Izumi.
Sementara nasib sekolah lama mereka, benar-benar berubah drastis. Berita mengenai kepala sekolahnya yang korup telah mencoreng nama kehormatan. Selain itu, keluarga Nakagawa juga telah berhenti melakukan sumbangan rutin terhadap sekolah tersebut. Sehingga menyebabkan penyumbang lainnya juga ikut-ikutan berhenti. Para guru dan murid di sana dipastikan tengah mengalami kesulitan.
Apa yang dikatakan Izumi telah menjadi kenyataan. Semua orang yang sudah berani mengganggunya selalu berakhir menderita. Kini orang-orang mulai kembali takut berbuat buruk kepadanya.
__ADS_1
Hiro baru saja keluar dari toilet. Dia kebetulan sendirian saat itu. Namun sebuah tangan mendadak menyeretnya ke suatu tempat. Ternyata dia Hana, yang tampak menunjukkan ekspresi marahnya.
"Apa-apaan?! kenapa kalian memilih sekolah ini?!" timpal Hana, memojokkan Hiro ke dinding. Matanya membuncah kesal. Gadis itu bahkan memukulkan tangannya ke tembok akibat merasa saking sebalnya.
"Ini bukan keputusanku, tetapi Izumi. Kami hanya menuruti keinginannya!" sahut Hiro sambil mendorong Hana agak menjauh. "Kau tenang saja, ini tidak akan bertahan lama. Setelah aku berhasil mendapatkan informasi darinya, maka berakhir sudah," sambungnya. Lalu beranjak pergi ke kelas.
Hana hanya membeku di tempat, dan mencoba menerima kenyataan. Dia sebenarnya kesal ketika menyaksikan wajah Izumi setiap hari, karena itu mengingatkannya dengan penderitaan yang pernah dialami oleh keluarganya. Untung saja Izumi tidak ditempatkan di kelas yang sama dengannya.
Ketika pulang sekolah, Izumi menyuruh Hiro membawakan tasnya. Kemudian menyuruh Shima untuk membelikannya minuman. Dengan terpaksa Shima beranjak pergi ke kantin. Dia sempat bertukar pandang kesal kepada Hiro. Keduanya lagi-lagi berkomunikasi menggunakan mata mereka.
Saat itulah Hiro sadar, kalau dia harus melakukan sesuatu kepada Izumi. Agar gadis tersebut berhenti berbuat semena-mena kepadanya, Shima, dan juga orang lain.
"Kita harus melakukan sesuatu kepada Izumi!" ujar Hiro. Dia dan Shima sekarang sedang berada di rumah sakit. Duduk di ruang tunggu. Dimana ada televisi umum yang terputar nyaring. Hiro masih belum diperbolehkan bertemu dengan Akira.
"Bagaimana? bukankah dia akan marah jika kita melawan?" respon Shima dengan dahi yang berkerut.
"Aku punya cara agar dia tidak berkutik." Hiro tersenyum miring. Dikepalanya sudah ada ide cemerlang untuk menaklukkan sikap angkuh Izumi.
Rencana itu dimulai. Aksi pertama Hiro, dilakukan saat Izumi mendatangi murid peringkat satu di sekolah. Gadis itu ingin membuat kesepakatan, agar murid perempuan tersebut mengalah kepadanya. Benar, Izumi ingin mengambil alih posisinya. Sebenarnya hal yang sama juga dilakukannya saat di sekolah lama. Saat itu Junko adalah korbannya. Nampaknya insiden ancaman pembunuhan yang sempat dilakukan Junko, tidak memberi efek jera pada Izumi.
"Bagaimana kalau kalian berkompetisi secara sehat saja. Bukankah itu lebih menyenangkan? siapa pun yang kalah dia harus menerima dengan lapang dada." Hiro menjelaskan dengan pelan. Akan tetapi ucapannya malah membuat wajah Izumi tambah cemberut.
"Hiro, kenapa kau--"
"Izumi, apa kamu takut?" Hiro sengaja memotong kalimat Izumi. Perlahan dia mendekatkan mulut ke telinga Izumi dan berbisik, "Aku melakukannya, karena aku tahu kau lebih pintar darinya. Dan..." Hiro menjeda sejenak, untuk memperhatikan si murid peringkat satu, dari ujung kaki hingga kepala. "Kau lebih cantik!" lanjut Hiro. Izumi lantas tidak kuasa menahan senyumannya. Pujian Hiro memberikan pengaruh.
"Baiklah, kalau begitu." ucap Izumi. Persetujuannya tentu membuat si murid pintar tersenyum senang. Saat beranjak beberapa langkah, dia kembali lagi menghampiri sang murid peringkat satu. "Ingat ya, aku bukan lawan yang mudah!" tegasnya berusaha mengintimidasi. Kemudian benar-benar berlalu pergi.
Untuk aksi kedua, kali ini Hiro menyuruh Shima yang melakukannya. Insidennya terjadi di lapangan sekolah. Ketika siswa berperawakan berisi tidak sengaja menendang bola ke kepala Izumi.
"Aaaa!" Izumi mengerang sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit.
Melihat keadaan Izumi, siswa berperawakan berisi itu bergegas menghampiri. Dia langsung meminta maaf, takut kalau dirinya akan menjadi korban kekesalan Izumi yang berikutnya.
"Enak saja! aku tidak akan memaafkanmu begitu saja! dasar ba*bi busuk!" geram Izumi, mengumpatkan kata yang tidak pantas, dan tentu saja menyakitkan hati. Gadis tersebut mengambil sebuah tongkat bisbol yang kebetulan sedang dipegang oleh seorang siswa. Izumi berniat memukulkannya kepada siswa berperawakan berisi. Namun Shima lekas-lekas mencegah, lalu menyeretnya menjauh dari keramaian sebentar. Hiro yang penasaran dengan perkataan Shima bergegas ikut bergabung.
__ADS_1
"Apa-apaan kau Shima! kau mau tongkat ini melayang ke kepalamu!" Izumi yang merasa kesal dengan gelagat Shima langsung meledakkan amarah.
"Silahkan saja," balas Shima seraya menunjukkan ekspresi datar dan meneruskan ucapannya, "tetapi jika kau melakukannya, berarti reputasimu dimata orang-orang akan semakin jelek. Apa kamu tidak menyadarinya?!"
Izumi terperangah. "A-apa? maksudmu?" tanya-nya. Mengerjapkan mata beberapa kali.
"Ada orang yang mengatakan kalau kau sangat jelek, karena sikap kasarmu itu. Aku sering mendengarnya akhir-akhir ini," terang Shima. Bola matanya perlahan melirik ke arah Hiro. Sebab orang yang sebenarnya berkata begitu adalah Hiro. Dia mengatakan kalimat tersebut tempo hari.
"Yang benar saja, jangan mengada-ada!" bantah Izumi tidak mau percaya. Tangannya mendadak memegangi area wajahnya. Khawatir kalau wajahnya benar-benar akan dianggap jelek.
"Untuk apa aku berbohong, tanya saja Hiro. Dia juga mendengar perkataan orang-orang itu!" balas Shima. Tangannya menunjuk ke arah Hiro.
Izumi sontak menuntut jawaban dengan tatapannya. Mengharuskan Hiro tidak punya pilihan selain bicara.
"Shima benar. Aku juga--"
"Katakan siapa orang-orang yang sudah berani menghinaku itu!" ucapan Izumi menjeda kalimat yang hendak dilontarkan Hiro.
"Izumi... kenapa kamu terus berpikir kalau memberi pelajaran kepada orang lain adalah jalan keluarnya?" Hiro memberanikan diri membawa Izumi masuk ke dalam rangkulannya. "Aku harus akui, wajahmu memang sangat jelek saat sedang marah," tuturnya sambil menilik ekspresi yang sedang terpancar diparas Izumi.
"Apa?!" Izumi tentu marah dengan pernyataan Hiro.
"Lihat, lihat! wajah itu. Kau mau aku ambilkan cermin agar bisa sadar?" Hiro segera menjaga jarak dari Izumi. "Bisakah kamu tersenyum dengan ramah?" tambahnya lagi, yang kini melangkah mundur dan berlagak seolah-olah ketakutan.
Shima yang menyaksikan adegan itu mengulum senyum. Hal serupa juga dilakukan Izumi. Dia agak lucu dengan kelakuan Hiro. Secara alami amarah Izumi pun pudar dan berubah menjadi tawa kecil. Tongkat bisbol yang ada dalam genggamannya terlepas begitu saja.
Usaha terakhir Hiro dalam misi mendominasi Izumi, terjadi di kantin. Kala itu semua orang saling bergantian mengambil jatah makanan.
Ketika Izumi hendak meraih minuman soda yang terlihat tertinggal satu kaleng, seorang siswi tiba-tiba mengambilnya lebih dahulu. Izumi yang merasa tidak terima sontak mencengkeram kerah baju siswi tersebut. Kemudian mencoba mengarahkan kepalan tinjunya. Akan tetapi usahanya segera dihentikan Hiro.
"Apa yang kau lakukan? dia sudah mengambil minuman..." Izumi tidak menyelesaikan perkataannya saat Hiro menyodorkan sekaleng soda kepadanya.
Hiro merelakan soda miliknya, dan membiarkan siswi yang tadi sempat dimarahi Izumi tetap mengambil minumannya. Kebetulan adegan tersebut menarik perhatian semua orang di kantin. Perlakuan Hiro tidak hanya membuat Izumi terkagum, tetapi juga para murid lainnya.
"Ayo kita makan!" ajak Hiro, beranjak lebih dahulu untuk mencari tempat duduk.
__ADS_1
Sementara Izumi masih mematung diposisinya. Wajahnya tiba-tiba memerah malu. Pengorbanan kecil Hiro membuatnya salah tingkah.