
Setelah puas berlatih menembak sendirian, Hiro menyuruh Shima untuk menjadi orang selanjutnya. Sahabatnya itu sontak menolak. Memegang pistol saja dia tidak berminat.
"Shima, tidak ada salahnya. Aku juga awalnya sempat ragu. Tetapi aku merubah pikiranku karena aku tahu suatu hari pasti akan berhadapan dengan orang yang memegang senjata ini. Kamu tahu kan yang terjadi saat aku datang ke rumah Nakagawa?" Hiro berusaha meyakinkan Shima. Dia benar-benar ingin merubah sikap kawannya yang cenderung penakut dan polos.
Shima terdiam seribu bahasa. Perlahan tangannya meraih pistol yang disodorkan Hiro. Senjata itu sudah di isi peluru oleh Hana. Tepat sebelum Hiro berbicara kepada Shima.
"Berat sekali!" Shima membulatkan mata, ketika pistol sudah berada ditangannya. Dia tidak menyangka pistolnya akan terasa berat.
"Kamu harus mencoba mengangkat katana sekali. Itu lebih berat dari pistol!" balas Hiro, memberi penjelasan. Itulah alasan kenapa dirinya sama sekali tidak mengeluh saat pertama kali memegang pistol.
Keringat bercucuran di pelipis Shima. Tangannya lebih gemetaran dibandingkan Hiro. Entah sudah berapa kali dia menelan salivanya sendiri.
"Kamu harus mencoba menembakkannya sekali. Setelahnya, barulah kau bisa lega," ujar Hiro memberikan arahan.
Hana dan Chen Fu sudah keluar ruangan lebih dahulu. Keduanya harus mengurus sesuatu yang berkaitan dengan bisnis apartemen Guree.
Dor!!!
Shima akhirnya berani menarik pelatuk pistol, dan menembakkan peluru. Benar yang dikatakan Hiro, setelah melepas tembakan pertama, rasanya memang lebih lega. Alhasil Shima dan Hiro kini saling bergantian untuk berlatih. Mereka semakin menikmatinya, saat peluru akhirnya berhasil mengenai titik tengah yang ada di papan sasaran.
Hiro dan Shima melakukan selebrasi bersama. Tersenyum lebar, hingga menampakkan gigi-gigi mereka yang rapih.
"Kalian semakin nakal saja!" Kogoro mendadak muncul. Dia terlihat bersandar di depan pintu masuk. Melipat tangannya di depan dada.
Shima mengalihkan pandangannya ke arah sang paman. "Aku begini karenamu!" ucapnya, yang perlahan menyebabkan Kogoro mengukir senyuman tipis.
"Benar, aku tahu diri. Karena itulah aku sama sekali tidak melakukan apapun untuk mencegah kalian. Tidak apa-apa jika kalian hanya berlatih. Asal jangan melakukan hal yang berbahaya," tutur Kogoro.
"Kami hanya mempersiapkan diri saja. Sebab rencanaku untuk mendekati Izumi berjalan sangat baik!" sahut Hiro sambil kembali fokus pada papan sasaran. Dia nampaknya sudah ketagihan menggunakan pistol.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Kogoro tak percaya.
"Kami bahkan di undang ke acara penting mereka minggu depan!" Shima ikut masuk ke dalam pembicaraan. Melangkah lebih dekat ke arah Kogoro.
"Maksudmu acara pembukaan produk baru Nakagawa itu?" Kogoro kembali terperangah.
"Entahlah, kami tidak tahu itu acara apa," jawab Hiro, lalu meluncurkan peluru dari pistolnya. Dia menghentikan latihannya karena peluru kebetulan sudah habis. Perlahan Hiro berbalik dan menangkap tatapan Kogoro.
Kogoro terkesiap sambil melihat ke arah Hiro. Dia sepertinya masih berusaha mempercayai perkataan dua lelaki di hadapannya.
"Bagaimana bisa sangat kebetulan?" Kogoro menggelengkan kepala. Mulutnya menyengir senang. Selanjutnya dia mengajak Hiro dan Shima untuk ikut dengannya.
Hiro dan Shima disuruh bergabung masuk ke gerombolan orang yang berdiskusi. Semua pasang mata langsung tertuju ke arah mereka. Akan tetapi Kogoro segera memberikan penjelasan, kalau Hiro dan Shima bisa membantu misi penipuan mereka. Itupun kalau Hiro dan Shima bersedia melakukannya.
"Apa kau bilang?!" Hiro agak kaget mendengar penjelasan Kogoro.
"Apa Paman sekarang nekat mau menipu keluarga Nakagawa? bukankah kamu pernah bilang kalau orang-orang itu berbahaya?!" timpal Shima, menyalangkan mata kepada sang paman.
"Tidak! aku tidak mau ikut. Ini salah!" tegas Shima, menolak mentah-mentah.
"Bagaimana denganmu, Hiro?" tanya Chen Fu dengan tatapan penuh keyakinan. Dia mengira kalau Hiro akan memiliki pendapat berbeda dari Shima. Hal yang serupa juga dilakukan Hana, sebab dirinya tahu Hiro sering menantang keinginan sahabatnya.
"Hiro..." lirih Shima memanggil. Berharap Hiro setuju dengan pendapatnya.
Hiro melirik ke arah Shima selintas. Kemudian tersenyum kepada semua orang yang menatapnya. Hingga akhirnya dia mengungkapkan kalau dirinya juga menolak untuk membantu.
"Shima benar. Aku tidak mau melakukan sesuatu yang akan membuat orang merugi. Terutama kepada orang yang tidak pernah melakukan kesalahan," imbuh Hiro. Memberikan keterangan panjang lebar.
"Tidak pernah membuat salah kau bilang? apa kamu tahu? kalau orang yang akan kami tipu ini sudah membuat puluhan orang di kota ini jatuh miskin?" Kogoro bersuara dengan nada tinggi. Menjeda ucapannya untuk sesaat lalu meneruskan, "dia diketahui pernah melakukan aksi penggusuran rumah. Menghancurkannya dan merubahnya menjadi bangunan yang menghasilkan pundi-pundi uang."
__ADS_1
Hiro dan Shima yang tadinya hendak pergi, seketika urung.
"Benarkah? maksudmu dia melakukannya secara paksa?" Hiro menoleh dan bertanya dengan garis-garis yang terukir di dahinya.
"Itulah yang aku tahu. Oh dan satu hal lagi!" Kogoro mengacungkan jari telunjuknya ke depan wajah. "Pengusaha tersebut juga selingkuh dari istrinya. Kami mengamatinya akhir-akhir ini." Kini kelopak mata Kogoro perlahan membesar dan menambahkan, "parahnya istri dan anak-anaknya belum mengetahui hal itu."
"Aku dengar Yutaro berencana membangun mall baru. Sepertinya dia berniat menggusur orang-orang pinggiran lagi," ucap Hana mencoba terus merubah keputusan Hiro. Dia berpikir penjelasan Kogoro mengenai masalah perselingkuhan, sama sekali tidak berguna.
"Paman aneh! kenapa malah terus bersikeras membawaku dan Hiro untuk ikut melakukan hal ilegal? apa Paman tidak takut jika salah satu dari kami tertimpa hal buruk?" tukas Shima sambil menunjukkan tangan pada Kogoro.
"Heh! siapa bilang aku ingin kalian ikut. Dari awal aku kan sudah bilang, kalau aku hanya butuh bantuan kalian. Hanya bantuan kecil dan keterlibatan kalian aku pastikan tidak akan ketahuan. Bahkan jika aku ketahuan sekali pun." Kogoro memegangi pundak keponakannya. Sedikit mengguncangnya.
"Sebenarnya ini adalah penipuan Kogoro dengan skala besar. Sebelumnya dia hanya sering melakukan penipuan kepada nasabah dan staff bank swasta. Kali ini Kogoro memberanikan diri karena ingin melunasi semua hutang ayahmu," ujar Hana.
Sorot mata Shima berubah menjadi nanar. Nampaknya dia mulai terpengaruh.
Hiro diam saja. Lagi pula masalah yang ada di hadapannya kini adalah wewenang Shima. Jadi, apapun pilihan sahabatnya, Hiro akan mengikuti.
"Bagaimana denganmu? apa kau berubah pikiran?" bisikan Hana terdengar pelan ditelinga Hiro. Ternyata diam-diam gadis tersebut berpindah posisi ke sebelahnya.
"Aku akan mengikuti pilihan Shima!" jawab Hiro, menatap Hana dengan sudut matanya.
Setelah menimbang-nimbang cukup lama, Shima akhirnya bersedia membantu Kogoro. Tetapi dengan satu syarat.
"Jika berhasil, maka kamu harus berhenti menipu orang!" ungkap Shima seraya mengerutkan dahi.
Mulut Kogoro mengembangkan senyuman. Dia mengangguk dan sepakat dengan syarat yang diajukan keponakannya. Jujur saja, kesepakatan tersebut menuai aksi protes dari kawanan penipunya.
"Kogoro, kau tidak serius kan?"
__ADS_1
"Jika kau berhenti, bagaimana dengan nasib kami?"
Beberapa teman Kogoro saling bergantian mengeluh. Namun Kogoro hanya melayangkan tatapan tajam ke arah teman-temannya.