
Beberapa hari terlewati. Sekarang Hiro dan Shima semakin terbiasa dengan sekolah baru. Bahkan mungkin lebih merasa nyaman. Sebab di sana mereka menjadi bagian murid populer bersama Izumi. Apalagi kini gadis tersebut sudah tidak bersikap bebal lagi. Alias tobat menjadi seorang pembully. Entah sampai kapan itu akan berlaku padanya.
Sekarang Hiro dan Shima berdiri di dekat pintu gerbang. Menunggu Izumi yang sedang pergi ke toilet.
Dari kejauhan ada seorang murid perempuan yang berjalan kian mendekat. Dia terlihat malu-malu. Membawa sebotol minuman energi di tangannya. Gadis tersebut ternyata adalah murid yang hampir mendapatkan tonjokan Izumi saat di kantin. Dia menyerahkan botol minuman yang dibawanya kepada Hiro.
"Terima ka--" ucapan Hiro terhenti ketika murid perempuan itu melingus pergi setelah memberikan minuman.
Shima menyenggol Hiro dengan pundaknya. Terkekeh geli kala menyaksikan ekspresi sahabatnya. "Aku tadi juga mendapatkan cokelat!" ujarnya sembari mengeluarkan sebatang cokelat dari saku celana. Memperlihatkannya kepada Hiro.
"Apa budaya anak remaja zaman sekarang memang begini?" tanya Hiro seraya membuka tutup botol pemberian murid perempuan tadi.
"Begitulah... tetapi hanya menyenangkan untuk murid-murid yang populer saja. Dan aku tidak menyangka kini bisa menjadi salah satu murid itu," sahut Shima. Dia kembali memasukkan cokelatnya ke dalam kantong.
"Ternyata mendekati Izumi ada dampak positifnya juga." Setelah berucap, Hiro meneguk minumannya. Langsung menghabiskan satu botol hanya dalam beberapa menit.
Izumi terlihat sudah muncul. Dia berlari kecil agar bisa bergegas bergabung dengan Hiro dan Shima. Mereka lantas masuk ke dalam mobil.
Kali ini sopir sekaligus pengawal Izumi selalu hadir. Sepertinya Itsuki memang tidak akan membiarkan adiknya keluar sendirian lagi. Meskipun itu saat di sekolah.
"Kalian akan datang malam ini kan?" tanya Izumi, menatap Hiro yang tengah duduk di sebelahnya.
"Tentu saja." Hiro menganggukkan kepala. Tidak lupa senyuman terpatri disemburat wajahnya.
"Kalian punya setelan jas?" selidik Izumi. Bola matanya menilik tajam ekspresi Hiro.
Sebelum Hiro menjawab, Shima bersuara lebih dahulu, "Iya, kami punya. Kau tidak perlu membawa kami ke mall lagi!"
"Ah benar!" Hiro setuju terhadap pernyataan Shima. Dia dan sahabatnya tersebut tentu berusaha sekeras mungkin menghindari tempat yang namanya mall. Menunggu perempuan belanja adalah hal menyebalkan bagi mereka. Apalagi jika gadis tersebut adalah pengatur layaknya Izumi.
__ADS_1
Sebelum berangkat ke rumah Nakagawa, Hiro dan Shima pergi ke apartemen Guree terlebih dahulu. Di sana mereka tidak hanya memastikan tugas apa yang akan dilakukan untuk membantu Kogoro, tetapi juga meminjam setelan pakaian yang cocok untuk pergi ke acara penting.
Kebetulan Hana yang mengurus tampilan Hiro dan Shima. Cara gadis itu setidaknya lebih sederhana, dan tidak memaksa seperti Izumi. Kini tangannya tengah sibuk memasangkan dasi untuk Shima.
"Rambutmu sudah tidak perlu dirapikan lagi. Kau hanya butuh cologne yang banyak!" pungkas Hana yang baru selesai mengurus dasi dan setelan jas Shima.
"Cologne? apa kamu memilikinya?" tanya Shima seraya memperbaiki rambut dengan jari-jemarinya. Menghadap cermin untuk menyaksikan pantulan dirinya sendiri.
"Ada, tetapi cologne untuk perempuan. Lebih baik kau minta saja pada pamanmu!" balas Hana, mengamati gelagat Shima yang tengah bersolek.
Hiro baru saja muncul. Dia sudah mengganti pakaian dengan setelan seperti Shima. Keduanya sama-sama mengenakan jas, toxedo hitam dan berkemeja putih polos. Perbedaannya hanya pada warna dasi. Hiro memakai dasi hitam sedangkan Shima mengenakan dasi merah.
Atensi Shima dan Hana segera teralih ke arah Hiro. Sebab kawan mereka tersebut tampak lebih rapi dan tentu saja makin tampan.
"Wow! Izumi pasti tidak akan melepaskanmu malam ini!" ungkap Shima. Memperhatikan Hiro dari ujung kaki hingga kepala.
"Kau harusnya lihat dirimu. Itu luar biasa, Shima!" Hiro membalas memuji. Dia berkata jujur dan benar-benar suka dengan penampilan Shima yang terlihat lebih gagah dari biasanya. Keduanya saling terkekah. Mengabaikan Hana yang sedari tadi terdiam saat melihat kedatangan Hiro.
Sekarang yang tertinggal hanya Hana dan Hiro. Hana langsung memasangkan dasi dengan pelan. Sambil melakukannya, Hana memberitahu apa yang harus Hiro lakukan saat sudah berada di rumah Nakagawa.
Hana menyarankan Hiro untuk mencari ruang kerja Katashi. Sebab dia yakin di sana pasti banyak informasi yang tersimpan.
"Aku akan berusaha," Hiro memalingkan wajahnya ke arah cermin. Menatap sendu pantulannya sendiri. Jujur saja, dia sudah hampir lupa bagaimana wajah aslinya yang dulu.
"Kenapa kau terlihat tidak senang begitu? apa ada yang mengganggu?" tegur Hana, berhasil memergoki Hiro terpaku pada cermin.
"Tidak ada. Aku hanya merindukan sesuatu," jawab Hiro santai. Memaksakan dirinya tersenyum.
"Apa itu?" tanya Hana penasaran. Mengharuskan Hiro menatap ke depan tepat ke arahnya.
"Masa lalu..." lirih Hiro. Mimik wajahnya tampak serius. Semburat yang sangat berbeda dari biasanya. Ada penyesalan dan juga kesedihan yang terpancar. Membuat Hana tidak mampu berkata-kata lagi.
__ADS_1
Setelah dipakaikan dasi oleh Hana, Hiro langsung lekas-lekas pergi menyusul Shima.
Kogoro tidak berbohong saat dirinya mengatakan kalau Hiro dan Shima hanya akan memberikan bantuan kecil. Dia hanya perlu keduanya utuk mendekati Yutaro, lalu membawanya ke sebuah ruangan yang sepi di rumah keluarga Nakagawa nanti.
"Hiro, kau nanti harus menemuiku di dapur. Aku akan menyamar sebagai asisten koki!" terang Kogoro dengan tempo bicara yang terdengar tergesak-gesak.
"Koki? kenapa tidak pelayan saja, bukankah itu akan membuatmu lebih mudah untuk menyelinap?" seru Shima sembari mengerutkan dahi.
"Aku sudah mencoba mendaftarkan diri menjadi pelayan. Tetapi ditolak oleh pengawal-pengawal bodoh Nakagawa itu, katanya mereka hanya akan memperkerjakan pelayan rumah saja. Aku tidak punya pilihan lain!" Kogoro memberikan penjelasan.
"Baiklah, jadi hanya itu tugas kami?" Hiro memastikan.
"Benar! mudah bukan? ditambah Yutaro sangatlah menyukai lelaki-lelaki muda seperti kalian," balas Kogoro dengan senyuman simpulnya.
Hiro dan Shima sepenuhnya memahami tugas mereka masing-masing. Keduanya lantas bersiap-siap untuk pergi ke rumah Nakagawa. Ketika hampir sampai, Shima terlebih dahulu menghubungi Izumi, agar gadis tersebut mengetahui kedatangannya dan Hiro.
Setibanya di tempat tujuan. Hiro dan Shima menyaksikan rumah Nakagawa telah didatangi banyak tamu. Buket dan papan berbunga tersusun rapih di bagian depan rumah. Air mancur terlihat mewah dengan pancaran lampu berwarna-warni.
Hiro dan Shima melangkahkan kakinya bersamaan untuk masuk. Namun jalan mereka langsung disanggah oleh seorang pengawal. Keduanya ditagih agar menunjukkan kartu undangan.
"Apa? undangan?" Hiro reflek memegangi semua kantong yang ada dipakaiannya. Kemudian menoleh ke arah Shima dan bertanya, "Apa Izumi memberikan kita kartu undangan?"
Shima otomatis menggeleng. Wajahnya dan Hiro sontak berubah menjadi masam. Moodnya yang tadi terasa bersemangat jatuh begitu saja.
"Mereka berdua adalah tamuku!" suara Izumi mendadak terdengar. Dilanjutkan dengan suara derap langkahnya. Mendengungkan bunyi sepatu high heels bermereknya.
Hiro dan Shima langsung mengalihkan pandangan ke arah sumber suara. Keduanya terpaku kala melihat penampilan Izumi. Gadis tersebut mengenakan gaun hitam glitter di atas lutut. Serta memperlihatkan sedikit belahan dadanya. Rambutnya lurusnya tergerai, dihiasi dengan penjepit kecil permata tepat disisi kanan atas telinganya. lipstik yang dipakainya terlihat berwarna peach mengkilap. Izumi sangat cantik.
Catatan kaki :
Glitter : manik-manik yang berkilau.
__ADS_1
Peach : Perpaduan warna oranye dan cokelat.