Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 44 - Melatih Shima [2]


__ADS_3

Sebelum melakukan pelatihan, Hiro terlebih dahulu menemui seorang penjaga kuil. Tempat tinggalnya sendiri berada tidak jauh. Dia bermaksud meminta izin, agar apa yang dilakukannya dapat berjalan lancar dan direstui oleh para leluhur.


Penjaga kuil yang bernaman Eiji tersebut, tentu mengizinkan dengan senang hati niat Hiro. Dia bahkan mengatakan gunung Kurama adalah tempat terbaik untuk bermeditasi. Eiji juga memberitahu mengenai cerita Minamoto. Seorang samurai yang pernah berlatih di gunung Kurama.


"Maafkan aku harus mengatakan ini. Bukannya aku menakut-nakutimu. Tetapi, kata orang-orang yang pernah melakukan latihan tertentu di sini, mereka pasti pernah melihat sesuatu hal ganjil." Eiji menjelaskan dengan nada pelan. Matanya menatap ke sebuah pohon berdaun menguning kecokelatan.


"Maksudmu, seolah leluhur juga membantu proses pelatihannya?" Hiro menebak. Membuat Eiji seketika menatap kagum kepadanya.


"Kau tahu? bagaimana? sangat jarang anak muda zaman sekarang mengetahui hal itu," pungkas Eiji.


Hiro hanya tersenyum tipis. Sengaja tidak menjawab pertanyaan Eiji. Sebenarnya Gunung Kurama juga merupakan tempat latihannya dahulu. Tepatnya di kehidupan Hiro yang sebelumnya. Saat berlatih, Hiro sangat sering ditemui oleh seekor rubah. Dia sangat paham kalau rubah tersebut adalah perwujudan dari leluhur, yang akan membantu proses pelatihan ke arah lebih matang.


Langkah kaki Hiro kini beranjak meninggalkan Eiji. Namun penjaga kuil berkepala botak itu mendadak memanggilnya. Hingga mengharuskan Hiro reflek menoleh ke belakang.


"Ngomong-ngomong siapa gurumu? aku tidak melihat orang yang lebih tua datang bersama kalian?" tanya Eiji, melakukan tatapan menyelidik.


"Aku dan temanku akan belajar bersama-sama!" sahut Hiro santai. Kemudian melanjutkan pergerakannya lagi. Menimbulkan sejuta pertanyaan dikepala Eiji.



Hiro menemui Shima yang tengah duduk bersebelahan dengan Shiro. Dia hendak mengajak kawannya tersebut masuk ke kuil untuk melakukan pelatihan pertama.


"Ayo, ikuti aku!" ajak Hiro. Namun tangan Shima dengan sigap memegangi lengannya.


"Ada apa? jangan bilang kau memutuskan untuk membatalkan latihan?" timpal Hiro sambil menunjukkan raut wajah sebalnya.


"Bukan begitu, lihat!" Shima mengarahkan jari telunjuknya ke arah tujuh orang yang sedang berjalan semakin dekat.


Hiro menyipitkan mata, agar dapat memperjelas siapa dua orang yang berjalan paling depan bak raja dan ratu. Matanya sontak membulat sempurna. Ternyata mereka adalah Izumi dan kakaknya Itsuki. Lelaki yang Hiro yakini wajahnya terlihat serupa dengan Goku. Ada lima pengawal yang mengiringi langkah dua kakak beradik itu.

__ADS_1


"Hiro... apa kau bisa menghadapinya? kumohon tahanlah dulu emosimu. Mereka bukanlah orang biasa di negeri ini..." Shima memberitahu sembari memegangi pundak Hiro lembut. Dia dapat melihat tatapan penuh amarah yang dipancarkan dari mata Hiro. Shima benar-benar takut, temannya akan bertindak gegabah lagi. Seperti usaha yang pernah dilakukan Hiro, ketika menyelinap masuk ke rumah Nakagawa.


Izumi dan Istuki semakin mendekat. Dari jarak tujuh meter, barulah Izumi menyadari kehadiran Hiro dan Shima. Gadis tersebut segera memberitahukan sang kakak yang sedang berdiri di sampingnya.


Itsuki lantas menatap ke arah Hiro, lalu mengembangkan senyuman tipis. Selanjutnya dia dan Izumi tampak bergegas untuk berjalan mendekati Hiro.


"Ayo kita pergi! aku bisa gila jika melihat wajahnya lebih dekat!" ujar Hiro seraya lebih dahulu menderapkan kakinya. Shima pun tidak punya pilihan selain mengikuti.


"Hiro!!" suara panggilan nyaring Itsuki otomatis menghentikan pergerakan kaki Hiro. Akan tetapi dia bertekad tidak menoleh. Hanya membuka telinganya lebar-lebar untuk mendengarkan.


"Izumi bilang kau adalah anak yang bernama Hiro. Maaf aku belum sempat menemuimu untuk mengucapkan terima kasih..." ungkap Itsuki. Menatap Hiro dari belakang. "Padahal aku hendak bertemu denganmu saat di rumah sakit, tapi ibumu memarahiku dan Izumi habis-habisan!" dia meneruskan penjelasannya.


'Ibu? bukankah maksudnya Akira?' batin Hiro. Dia akhirnya membalikkan badan, akibat merasa penasaran dengan apa yang sudah dilakukan Akira.


"Ibuku?" tanya Hiro memastikan.


Sekarang wajah Itsuki terpampang jelas di depan mata Hiro. Dia berusaha sebisa mungkin untuk menenangkan diri. Semuanya demi Akira dan juga kehidupan pemilik tubuh asli yang sekarang ditempatinya.


"Tetapi kau tenang saja, anak buahku bekerja sangat baik. Hingga berhasil membayar semua biaya rumah sakitmu." Itsuki kembali berucap. Sebelah tangannya reflek mengusap tengkuknya sendiri. Dia menjadi salah tingkah karena Hiro menatapnya dengan tatapan seolah hendak memakannya hidup-hidup.


"Hiro!" Shima sekali lagi berusaha menyadarkan kawannya. Hingga usahanya membuahkan hasil, dan menyadarkan Hiro dari amarahnya.


"Eh, te..." Hiro berusaha memaksakan diri untuk bicara. Dia menghela nafasnya terlebih dahulu. "terimakasih..." imbuhnya sambil membuang muka ke samping kanan.


"Kenalkan aku Itsuki." Itsuki mengulurkan satu tangannya. Bermaksud menawarkan persalaman. Sebuah senyuman juga menghiasi wajahnya. "Itsuki Nakagawa," sambungnya.


Hiro seketika membisu. Terpaku dengan senyuman yang ditampakkan Istuki. Dia kembali mengingat senyuman sama yang pernah dilihatnya di kehidupan sebelumnya. Sebuah senyuman yang pernah dikiranya tulus. Tetapi ternyata malah membawanya ke kematian.


Perlahan Hiro menyambut tangan Itsuki. Keduanya saling bersalaman dalam durasi satu detik.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Izumi. Menatap Hiro dan Shima secara bergantian.


Shima yang tidak tahu harus menjawab apa, hanya mengalihkan pandangannya kepada Hiro. Berharap sahabatnya itu segera memberikan keterangan.


"Kami hanya menuruti keinginan Shiro. Adiknya Shima, dia sangat ingin pergi ke sini!" jelas Hiro asal.


"Aaah... sepertinya kalian juga suka menghabiskan waktu akhir pekan ke tempat yang tenang begini." Itsuki merespon dengan nada bersemangat. Dia juga mengatakan kalau dirinya dan Izumi sering menghabiskan waktu akhir pekan ke gunung Kurama.


"Tempat ini membuat pikiranku tenang..." tutur Itsuki seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Kak! ayo!" Izumi terlihat menarik lengan baju Itsuki. Seakan mendesak untuk pergi. Kedua kakak beradik tersebut sempat saling bicara. Terlihat jelas Itsuki terus melakukan ejekan terhadap adik perempuannya. Sesekali matanya melirik ke arah Hiro, lalu kembali meledek Izumi.


"Apa kalian mau ikut kami ke pemandian air panas?" tawar Itsuki, yang direspon dengan ekspresi cemberut oleh Izumi. Sangat jelas dari sikap keduanya, kalau Itsuki lebih berkuasa untuk mengambil keputusan.


Hiro langsung menggeleng tegas. "Tidak perlu, kami juga baru saja tiba di sini," jawabnya. Memaksakan sebuah senyuman. Lalu saling berpamitan dengan Itsuki dan Izumi.


"Kau tahu, aku senang ada seorang penjaga yang pantas untuk Izumi di sekolah..." Itsuki mengucapkan kalimat terakhirnya sebelum benar-benar beranjak pergi. Sambil berjalan, dia tampak kena pukulan bertubi dari Izumi.


"Penjagamu terlihat tampan. Jika kau merubah sedikit tampilannya yang lusuh, pasti dia akan sangat tampan!" ujar Itsuki. Dia tidak memikirkan, kalau ucapannya masih dapat terdengar jelas ditelinga Hiro.


"Apa-apaan kau!" geram Izumi. Mengancam sang kakak dengan kepalan tinju yang terangkat. Rahangnya mengerat kesal.


"Aku merestuinya!" balas Itsuki, yang segera mendapatkan pukulan dan tendangan dari Izumi. Keduanya bersikap seperti dua kakak beradik pada umumnya. Sering bertengkar tetapi sebenarnya saling menyayangi.


Mematungnya Hiro dan Shima membuat Shiro mendengus kasar. "Jadi, kita akan ke kuil atau tidak?" sindirnya yang sontak menyadarkan Hiro beserta Shima secara bersamaan. Mereka lantas segera berjalan menuju kuil.


Dalam perjalanan Hiro terus menggerutu. "Dia bilang aku penjaga adiknya? sialan!"


"Dia juga menyebutmu lusuh!" tukas Shima, ikut memanas-manasi.

__ADS_1


__ADS_2