
Hiro cukup lama menunggu. Dia sekarang duduk di aspal. Sesekali dedaunan yang sudah menguning menghantam kepalanya dengan lembut. Bola matanya terus tertuju ke arah gerbang sekolah. Berharap waktu dapat berjalan lebih cepat. Karena menunggu adalah sesuatu hal yang sangat meresahkan.
Satu jam berlalu, akhirnya puluhan siswa-siswi berseragam keluar dari pintu gerbang. Hiro lantas berdiri dan memperhatikan setiap wajah para siswi baik-baik.
"Senpai!" suara lantang dari seorang Shima langsung membuat mata Hiro membulat. Shima terlihat berlari mendatangi. Senyumannya tampak begitu lebar, menunjukkan betapa bahagianya dirinya ketika melihat kemunculan sahabat satu-satunya.
"Shima, sudah kubilang jangan memanggilku dengan sebutan Senpai lagi. Lihat orang-orang! mereka menatap heran kepadaku." Hiro memberitahu Shima dengan nada berbisik.
"Maaf, Sen-- eh... maksudku..." Shima menggaruk tengkuknya tanpa alasan. Dia masih merasa kesulitan memanggil nama Hiro dengan cara informal.
"Aku yakin kau akan segera terbiasa," ucap Hiro sembari menepuk pelan pundak Shima. Saat itulah matanya tidak sengaja menangkap kehadiran Izumi. Gadis tersebut terlihat sedang berbincang dengan kedua temannya.
Tanpa pikir panjang, Hiro menderapkan kakinya. Izumi tampak sudah berjalan menuju mobil jemputannya. Ekspresi yang ditunjukkan gadis tersebut agak masam. Namun tidak membuat tekad Hiro luntur.
Shima yang belum mengerti, hanya bisa mengernyitkan kening. Dia hanya menurut dengan perintah Hiro yang menyuruhnya untuk menunggu.
"Izumi-chan!" panggil Hiro, yang perlahan melengkungkan mulutnya membentuk sebuah senyuman.
Izumi sontak mengerutkan dahi heran, kala menyaksikan kemunculan Hiro. Dia tidak jadi masuk ke dalam mobil, kemudian menghadapi Hiro yang dikiranya akan melakukan perlawanan.
"Apa sekarang kau mau balas dendam?!" timpal Izumi sembari melakukan pose berkacak pinggang. "Jika kau menyerang, maka aku akan pastikan kau akan menyesal! dan juga--"
"Gomen'nasai, Izumi-chan!" Hiro mengulurkan salah satu tangannya. Berpura-pura sedang meminta maaf kepada Izumi.
Jujur saja, Izumi terkesiap untuk sesaat. Sepertinya Hiro yang dulu telah kembali. Tatapan jahilnya kembali terpancar dari manik hitamnya. Bukannya menerima uluran tangan Hiro, dia malah memutar bola mata jengah. Kemudian memukul tangan Hiro yang masih terbuka lebar untuknya.
__ADS_1
"Kau pikir aku akan memaafkanmu semudah itu?!" ucap Izumi dengan gaya angkuhnya. Dia tentu tidak akan membuang kesempatan untuk memanfaatkan keadaan cemerlang yang sedang dialaminya.
Amarah Hiro mulai membara. Matanya mulai bergetar karena dirinya sedang berusaha sebisa mungkin untuk bersabar. Dia bahkan menahan tangannya, agar tidak mengepalkan tinju.
'Bertahanlah, kau tidak boleh marah!' batin Hiro, menenangkan dirinya sendiri. Dia memejamkan mata sejenak, kemudian mendengus kasar. Selanjutnya barulah Hiro kembali bicara.
"Lalu apa maumu?..." Hiro memaksakan dirinya tersenyum. Mencoba sebisa mungkin menunjukkan mimik wajah polosnya.
"Hana lebih dahulu membeli tas limited edition hermes keluaran musim gugur tahun ini. Aku menginginkan tas itu!" ujar Izumi sambil menyandarkan badan ke mobil.
Mata Hiro terbelalak. Limited edition? hermes? bagaimana dia bisa tahu dengan benda seperti itu? melihatnya saja tidak pernah, bagaimana dirinya bisa mendapatkan tas tersebut untuk Izumi?
"Bukankah kau punya banyak uang? kenapa kau tidak membelinya saja sendiri?" balas Hiro, masih tidak percaya dengan perintah Izumi yang terkesan aneh.
"Ini limited edition, Hiro! apa kau tidak mengerti? barangnya hanya akan dijual terbatas. Dan yang dibeli Hana adalah yang terakhir!" sahut Izumi sambil menghentakkan sebelah kakinya.
Izumi mengangguk yakin dan memegangi pundak Hiro. "Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang kuinginkan!" manik hitam Izumi tampak memancarkan binar berapi-api penuh tekad. Membuktikan kesungguhan yang ada pada dirinya.
"Jika aku melakukannya, kau akan membantuku kembali bersekolah lagi kan?" Hiro mencoba mencari keseriusan dari ekspresi yang ditampakkan oleh Izumi.
"Tentu saja!" Izumi kembali mengangguk yakin. Sekarang dia yang memperhatikan detil yang muncul dari raut wajah Hiro. Lelaki itu terlihat membisu untuk sesaat, mencoba memilih keputusan yang tepat. Akan tetapi, Izumi yakin kalau Hiro akan secepatnya menerima tawarannya. Tidak sia-sia usahanya selama ini untuk membuat Hiro tenggelam dalam derita. Dari mulai membuat Hiro di usir dari apartemen, dikeluarkan dari sekolah, hingga mempermalukannya saat di klub malam. Bukan sesuatu hal mudah sebenarnya, jika dilakukan oleh orang awam.
"Baiklah, aku setuju. Kita mulai dari mana?" Hiro menentukan keputusan akhir. Persetujuan Hiro membuat Izumi tersenyum senang. Dia menyuruh Hiro menemuinya lagi saat jam tujuh malam nanti.
__ADS_1
Hiro memberitahukan segalanya kepada Shima. Dia melakukannya agar sahabatnya itu juga mau ikut andil membantu.
"Apa? kenapa permintaannya sangat aneh?" respon Shima. Dia tentu ragu untuk ikut. Sebagai seorang lelaki dia tidak begitu paham dengan dunia mode. Namun setidaknya dia tahu makna limited edition. Shima berusaha menjelaskan yang dia tahu kepada Hiro.
Hiro memanggut-manggutkan kepala, karena mengerti dengan penjelasan yang dilakukan Shima. Mereka sekarang berada di sebuah mini market. Menyeduh ramen instan sebagai hidangan makan siang.
Sambil menunggu jam tujuh malam, Shima mengajak Hiro bersenang-senang di sebuah tempat karoke. Shima berlari menghampiri meja kasir untuk menanyakan bilik yang masih kosong. Sedangkan Hiro hanya pasrah mengekori dari belakang.
Kebetulan di sebelah Shima dan Hiro ada dua siswi berseragam sekolah. Mereka baru saja selesai memesan bilik karoke.
"Maaf, semua bilik sudah penuh," ujar kasir yang berjaga pelan. Membuat Shima perlahan menundukkan wajah kecewa. Akan tetapi dua sisiwi yang tadi sempat bertemu mereka kembali lagi, dan menawarkan Hiro dan Shima untuk ikut bergabung. Shima langsung setuju, lagi pula dua siswi yang mengajaknya lumayan cantik. Tidak mungkin dia akan menolaknya begitu saja.
Hal yang sama juga dirasakan Hiro. Dia merasa senang Shima sudah memilih keputusan yang tepat.
Nama dua siswi itu adalah Sakura dan Hima. Mereka berasal dari sekolah yang berbeda dari Shima dan Hiro. Sakura memiliki rambut panjang nan lurus, berwajah tirus dengan keadaan mata yang cenderung sipit. Sedangkan Hima, menggelung rambutnya dengan asal, memiliki pipi yang tembam alami.
Shima terlihat bernyanyi bersama Hima. Keduanya melantunkan lirik dengan penuh penghayatan.
Sementara Hiro yang tidak mengerti apapun, hanya duduk diam dan mendengarkan. Sama halnya dengan Sakura, dia duduk di sebelah Hiro. Sesekali menenggak minuman soda yang ada dalam genggamannya.
"Hiro?" celetuk Sakura dengan nada tinggi. Dia melakukannya karena nyanyian Shima dan Hima sangatlah bising. Hiro hanya mendekatkan wajahnya ke arah Sakura, agar dapat mendengar dengan jelas.
"Apa kau sudah punya pacar?" tanya Sakura, melebarkan kedua telapak tangannya.
"Tidak!" Hiro menggeleng tegas. Dia tersenyum tipis karena merasa Sakura tertarik kepadanya.
__ADS_1
"Benarkah?" Sakura ikut tersenyum. Dia saling bertukar pandang dengan Hiro.