
Hiro bergegas mengambil panah yang ada di dinding. Tidak lupa juga untuk mengambil anak panahnya yang terletak tidak begitu jauh.
Hiro sekarang berdiri sambil mengarahkan panahnya ke arah lawan. Dia meluncurkan anak panah dengan begitu cepat.
Syut! Syut! Syut!
Gerakan Hiro sangat cekatan. Dia menembakkan panah secara bertubi-tubi. Parahnya, tidak ada satu pun dari serangannya tersebut yang sia-sia. Semuanya tepat mengenai musuh. Membuat orang-orang Nakagawa sontak menyadari keberadaan Hiro.
Mengira sudah ketahuan, Hiro dan Shima segera berlindung di balik lemari kecil. Sebab keduanya tahu, orang-orang Nakagawa pasti akan menembaki mereka dengan peluru. Saat itulah teman-teman ninja Shima mengambil kesempatan untuk melakukan perlawanan.
Semua orang Nakagawa satu per satu semakin berkurang. Apalagi ketika Hiro dan Shima juga ikut bergabung ke medan pertarungan. Hiro menyandang alat pemanah di punggungnya. Dia kembali mengambil katana sebagai tambahan senjata.
Hiro menghadapi tiga orang sekaligus. Namun itu perkara mudah baginya. Dia menendang dada ketiga musuhnya secara bergantian. Setelahnya, barulah Hiro memastikan kekalahan musuhnya dengan menghunuskan katana kepada mereka.
Dari kejauhan mata Hiro dapat menangkap beberapa orang yang berlari mendekat. Dia bisa mengetahui kalau orang-orang itu adalah para polisi. Ketahuan dari warna seragam yang mereka kenakan.
"Hentikan! angkat tangan kalian!" salah satu dari polisi muncul, dan langsung menodongkan senjatanya. Hiro dan yang lain segera menghentikan perkelahian. Namun tidak untuk orang-orang Nakagawa, mereka malah melakukan serangan nekat. Bagaimana tidak? semua polisi yang ada, ditembaki mereka tanpa ampun dengan menggunakan machine gun.
"Sial!" umpat Hiro. Dia dengan cekatan melayangkan katana ke leher lelaki yang memegang machine gun.
Jleb! Wush!
Mata semua orang terbelalak ketika serangan Hiro berhasil memenggal kepala si lelaki bawahan Nagakawa. Bahkan Hiro sendiri pun dibuat kaget. Matanya reflek terpejam saat darah mengucur deras dari badan tanpa kepala tersebut.
Shima dan teman-teman ninjanya segera membantu Hiro mengalahkan orang-orang Nakagawa yang lain. Bahkan satu-satunya polisi yang masih hidup ikut bergabung bersama mereka.
Dari puluhan lebih orang Nakagawa, hanya tiga orang yang sengaja dibiarkan hidup. Polisi yang bernama Isao memborgol ketiga orang Nakagawa itu.
"Bagaimana kalian bisa sangat berani menyerang orang-orang Nakagawa. Bertahun-tahun kami mencoba menangkap mereka, tidak pernah ada yang berhasil. Banyak yang terbunuh tanpa alasan." Isao memberitahu sambil mengatur deru nafasnya. Dia segera memanggil kawanan polisinya yang lain. Tidak lupa juga mobil ambulan, agar bisa mengobati orang-orang yang terluka.
__ADS_1
"Ibuku! aku harus menemukannya!" ucap Hiro. Dia melajukan langkahnya untuk melakukan pencarian. Semua orang tentu ikut membantunya. Bahkan para polisi yang mulai berdatangan. Mereka menelusuri seluruh bangunan. Berharap dapat menemukan Akira.
Ketika Hiro sibuk memeriksa salah satu ruangan, seseorang mendadak memanggilnya. Dia adalah Chen Fu. Salah satu orang apartemen Guree yang bersedia ikut menjadi komplotan ninja bersama Shima.
"Chen Fu, kau juga di sini ternyata!" Hiro menoleh ke arah Chen Fu yang kian mendekat.
"Hiro, kau harus melihat apa yang kutemukan!" ujar Chen Fu. Dia membuka penutup wajahnya. Menunjukkan raut wajah cemas.
"Ada apa? kau menemukan apa?" tanya Hiro penasaran. Dia berderap mengekori Chen Fu yang sudah berjalan lebih dahulu.
"Kami menemukan jasad seorang wanita di dalam sumur!" jawab Chen Fu. Membuat perasaan Hiro seketika dirundung perasaan khawatir. Dia sekarang berlari sekuat tenaga. Ingin lekas-lekas melihat jasad wanita di dalam sumur.
"Siapa wanita itu? dia bukan ibuku kan?!" tanya Hiro histeris. Dia mengguncang badan Shima yang kebetulan lebih dahulu tiba darinya.
"Polisi sedang memeriksanya. Hiro, tenanglah..." Shima berusaha menenangkan Hiro. Akan tetapi perlakuannya itu, malah dibalas kasar oleh kawannya.
"Tenanglah, kami sedang berupaya mengambil jasadnya. Menjauhlah! agar kami bisa segera cepat menyelesaikannya!" perintah sang polisi yang tengah mencoba menahan pergerakan Hiro.
"Kau yang menjauh!!!!" bentak Hiro sambil mengeratkan rahang kesal. Kini ada dua orang lebih yang menahan pergerakannya. Termasuk Shima dan juga Chen Fu.
"Hiro, itu belum pasti ibumu," tutur Shima. Dia memeluk erat Hiro yang matanya sudah berkaca-kaca.
"Aku tidak akan memaafkan Katashi!!" Hiro sekarang berhasil menjauhkan Shima dan Chen Fu darinya. Dia berbalik badan, lalu berjalan menjauh dari lokasi sumur. Entah apa yang akan dilakukan Hiro. Tetapi dia terlihat kembali memasuki area bangunan. Dia mencari ruangan penting Katashi dan Itsuki. Letaknya sendiri berada di lantai dua bangunan. Sebuah ruangan luas yang berisikan sofa dan juga perlengkapan meja serta kursi kerja.
Hiro mengobrak-abrik ruangan Katashi. Dia sebenarnya berusaha mencari petunjuk untuk menemukan keberadaan Katashi. Sebab lelaki paruh baya itu seakan menghilang ditelan bumi. Kemungkinan dia telah berhasil kabur setelah melihat adanya penyerangan.
Seberapa keras Hiro mencari, dia tidak menemukan satu pun petunjuk yang penting. Dia hanya berhasil menemukan daftar bangunan milik Katashi. Dan itu ada lumayan banyak. Katashi memiliki hunian pribadi lebih dari sepuluh bangunan. Termasuk tempat dimana Hiro berada sekarang.
"Hiro, di sini kau rupanya!" Hana menghampiri Hiro dengan nafas yang tersengal-sengal. Wajah dan pakaiannya nampak dipenuhi noda darah.
__ADS_1
"Hana! apa yang terjadi kepadamu?!" tanya Hiro, bergegas menghampiri.
"Aku baik-baik saja. Darah ini adalah milik ibumu. Dia sedang diobat--" Hana menghentikan kalimatnya, kala Hiro melingus begitu saja melewatinya. Sebab Hiro ingin menemui Akira secepat mungkin. Dia hendak memastikan keadaan ibunya baik-baik saja.
Langkah Hiro terhenti, ketika menyaksikan Akira duduk di mobil ambulan. Ibunya itu tengah mengobati luka yang ada di lengan dan kepalanya. Perlahan pandangannya bertemu dengan Hiro. Keduanya saling bertukar tatapan penuh haru. Sama-sama membeku di tempat.
Ada perasaan lega dan sedih, saat Hiro melihat wajah Akira. Rekahan senyum yang ditemani oleh beberapa tetes air mata membuktikan perasaan itu. Hiro lantas melangkah mendekati sang ibu. Kemudian memeluk Akira dengan erat. Menumpahkan cairan bening yang sedari tadi terus ditahan dimatanya. Hiro benar-benar merasa, lega, lega, lega sekali!
Shima dan Hana menyaksikan adegan menyentuh itu dari kejauhan. Sosok Hayate perlahan muncul dan memposisikan dirinya berada di samping Hana. Dia memegang dua briefcase ditangannya. Hana yang menyadari kehadirannya tentu dibuat penasaran.
"Apa itu?" tanya Hana.
"Ambillah, ini adalah informasi yang kalian cari-cari selama ini!" jawab Hayate sembari menyerahkan dua briefcase ditangannya kepada Hana. "Dan sampaikan salamku untuk Hiro, aku dan yang lain harus pergi. Jika butuh bantuanku lagi, kalian pasti tahu aku berada dimana," lanjutnya lagi. Lalu beranjak pergi lebih dahulu.
Hayate dan orang-orangnya, pergi diam-diam tanpa sepengetahuan polisi. Sebab para polisi terlalu sibuk mengurus mayat, dan bukti-bukti yang ada dalam bangunan.
Di sisi lain, tepatnya di sebuah rumah berukuran sedang, yang letaknya masih berada di sekitaran gunung Fuji. Tepatnya di dekat hutan Aokigahara. Di sana Katashi dan Izumi duduk saling berhadapan. Sama-sama mengenakan pakaian tradisional Jepang.
Katashi memegang dua pisau ditangannya. Dia menyerahkan salah satunya kepada putrinya. Meletakkannya di atas meja tepat di depan mata Izumi.
Sedangkan Izumi tampak terus menangis. Air matanya berlinang. Dia duduk bersimpuh menghadap Katashi. Kedua tangannya mencengkeram erat pakaiannya sendiri.
"Izumi, aku tidak bisa membiarkanmu hidup sendirian. Aku tidak mau kita menjalani kehidupan dengan menanggung rasa malu. Maafkan aku..." ungkap Katashi dengan nada pelan. Dia menuangkan teh hijau untuk Izumi dan juga dirinya sendiri.
Catatan Kaki :
Hutan Aokigahara : Dikenal sebagai tempat orang sering melakukan bunuh diri di Jepang.
__ADS_1