
Hiro mendengarkan baik-baik cerita Akira. Ibunya itu memberitahu bahwa dia dulu bersahabat dekat dengan Katashi. Selanjutnya Akira tampak terdiam beberapa saat. Menatap kosong ke arah jendela.
"Persahabatan kami renggang karena Katashi lebih sibuk dengan pekerjaannya. Dia bertingkah seperti orang kaya pada umumnya, yaitu bersikap seolah tidak mengenalku dan ayahmu... be-begitulah..." terang Akira, lalu menyibukkan diri untuk menyiapkan makanan. Dia menghentikan ceritanya begitu saja.
Hiro melakukan tatapan menyelidik. Dia merasa ada yang ganjil dengan penjelasan Akira. Menurutnya masih ada hal yang ditutupi oleh ibunya. Kedatangan Shima dari balik pintu, lantas membuatnya semakin urung bertanya.
Suara musik Gagaku kembali terdengar. "Musik itu berasal dari mana?" tanya Hiro penasaran.
"Di sebelah, rumah sakit ini memang menggunakannya sebagai alat untuk menenangkan pasien," terang Shima sembari mengambil buah persik dari parcel pemberian Izumi.
Hiro memanggut-manggutkan kepala. Dia tidak bisa membantah informasi yang dikatakan Shima. Sebab alunan musik tradisional itu memang telah berjasa membangunkannya tadi.
Setelah seminggu barulah Hiro diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Dia juga telah mendengar kabar mengenai Junko. Gadis berkacamata itu sudah di penjara. Keluarga Nakagawa tentu akan membuat kehidupannya menderita. Apalagi Junko nekat hendak melakukan pembunuhan kepada Izumi.
Hiro bisa kembali lagi ke sekolah. Kini dia dan Shima melangkahkan kaki memasuki lingkungan sekolah. Kehadiran Hiro langsung mendapatkan sambutan ramah dari sebagian besar penghuni sekolah.
Tidak seperti biasanya. Hiro diperlakukan bak seorang pahlawan. Namanya pun semakin populer. Jika dia sekarang mendapatkan simpati semua orang, itu berarti Junko malah harus menerima banyak kebencian.
"Shima, semua orang sangat berlebihan!" bisik Hiro ke telinga Shima.
"Tidak. Mereka memang bersikap normal. Bukankah bagus untukmu?" balas Shima seraya merangkul pundak Hiro. Keduanya segera memasuki kelas.
Kebetulan pelajaran pertama adalah olahraga. Semua murid diharuskan pergi ke lapangan tertutup yang terletak berdampingan dengan aula sekolah.
Seorang guru bernama Ryo sudah bersiap dengan memakai pakaian Judo bersabuk cokelat. Sedangkan seluruh murid disuruh berbaris di hadapannya.
"Hari ini, kita akan melakukan olahraga bela diri yang sebenarnya. Karena aku yakin, di minggu-minggu sebelumnya kalian telah banyak belajar!" ucap Ryo sambil mengamati wajah-wajah muridnya yang tengah asyik saling bicara.
__ADS_1
Sama halnya dengan Hiro dan Shima. Mereka yang terlalu lama tidak bersekolah tentu tidak tahu. Bahkan bela diri Judo terdengar asing di telinga Hiro. Apalagi untuk seorang Shima.
"Andai kau tidak terkait insiden dengan Izumi, mungkin aku sudah diajarkan ilmu bela diri darimu," keluh Shima dengan wajah masam.
"Kau membicarakanku?" Izumi yang ternyata sedari tadi berdiri di belakang, mendengar semua ucapan Shima.
"Kau dari tadi disitu?" tukas Hiro yang sontak menoleh ke belakang untuk melihat Izumi. Gadis tersebut tentu saja tidak terpisahkan dengan dua sahabat dekatnya. Eri dan Ashami.
Izumi tersenyum dan menganggukkan kepala. Sikapnya sangat ramah kepada Hiro, namun begitu ketus terhadap Shima.
Prok! Prok! Prok!
Ryo melakukan tepuk tangan agar semua muridnya bisa segera diam.
"Kenapa kalian sangat berisik? ayo cepat! lebih baik ganti pakaian, dan ingat pakai sabuk berwarna putih jika kalian adalah pemula. Kecuali untuk Seika dan Haori, yang memang sudah mahir berlatih!" ujar Ryo membanggakan kedua siswanya yang ahli bela diri.
"Sepertinya Judo adalah ilmu bela diri yang terbilang baru," imbuh Hiro. Bola matanya bergerak ke berbagai arah untuk mengamati gelagat semua orang. Terutama Ryo.
"Ya, bisa dibilang begitu. Namanya Kano Jigoro. Dia mengembangkan teknik kuno jujitsu pada tahun 1882. Itulah awal mula dia menamakan bela diri ini dengan sebutan Judo. Sehingga bela diri ini juga semakin populer di kancah dunia." Izumi mendadak berdiri di sebelah Hiro, dan memberikan penjelasan yang sedari tadi membuat Hiro penasaran.
Mata Hiro membulat sempurna. "Aaah... Jujitsu, sudah kuduga, tidak mungkin orang-orang zaman sekarang menciptakan gerakan bela diri sendiri tanpa bertumpu dengan warisan leluhurnya!" komentar Hiro yang sekarang mengulum senyum. Kepercayaan dirinya seketika naik drastis. Sebagai seorang ninja, dia tentu banyak menggeluti ilmu bela diri, dan termasuk Jujitsu sendiri.
Dari sepengetahuan Hiro, Jujitsu adalah bela diri yang fleksibel. Tidak mengutamakan kekuatan, melainkan lebih mengutamakan tipuan dalam gerakannya. Termasuk dari serangan, tangkisan, dan kuncian.
Ryo menyuruh murid-muridnya berkumpul. Dia menyarankan murid yang mau mengajukan diri untuk tampil sebagai pembuka. Dua siswa yang sudah ahli seperti Seiko dan Haori tentu langsung mengangkat tangan. Akan tetapi tidak hanya mereka kali ini, sebab ada satu lelaki yang percaya diri ikut mengangkat tangan.
Dialah Hiro, siswa yang selama ini selalu dianggap lemah dalam bidang olahraga. Semua orang sontak tertawa pecah akibat menyaksikan keberaniannya.
__ADS_1
"Woy, Kenichi-San seharusnya kau lihat dulu dua lawanmu sekarang. Kau hanya memakai sabuk putih, dan Seiko sudah mengenakan sabuk warna jingga, sedangkan Haori sabuk warna hijau... hahaa!"
"Bersiap-siaplah babak belur Hiro... Ck ck ck!"
"Apa kepercayaan dirimu naik, karena kau sudah dikenal sebagai pahlawan sekarang?"
Hiro mendapatkan beragam ejekan dari teman-teman sekelasnya. Kecuali Shima, yang tentu telah mengetahui keahlian Hiro sebenarnya.
"Sudah cukup!!" pekik Ryo, yang otomatis membuat semua orang membisu. Raut wajah lelaki berkumis tipis itu juga terlihat berusaha menahan tawa. Seolah ikut-ikutan meremehkan Hiro. Sebagai guru olahraga dia telah melalui banyak duka dalam hal mengajarkan dan memberi nilai untuk siswa bernama Hiro Kenichi. Dan kini anak itu dengan beraninya mengajukan diri untuk bertarung? sejak kapan kepercayaan dirinya begitu tinggi?
"Biar aku tanya lebih dahulu." Ryo melanjutkan ucapannya lalu menatap serius ke arah Hiro. "Apa kau yakin, Hiro? ini pertandingan sebenarnya! tidak seperti latihan pada minggu-minggu sebelumnya. Jadi aku akan membiarkan prakteknya persis seperti olahraga di olimpiade," ucapnya, meragukan.
"Sangat yakin!" sahut Hiro sembari menggerakkan kakinya maju ke depan. Membelah kerumunan teman-teman sekelas yang ada di sekelilingnya.
"Seharusnya yang takut itu adalah Seiko dan Haori!" teriak Shima, tiba-tiba. Tidak peduli dengan tatapan heran semua orang terhadapnya.
"Padahal kau baru saja kembali bersekolah dan sama sekali tidak ikut berlatih di minggu-minggu sebelumnya!" kritik Ryo, menunjukkan ekspresi merengut. Karena kesal dengan tingkah Hiro yang menurutnya tak tahu malu, akhirnya dia setuju membawa Hiro untuk bertarung di bagian pembukaan. Setidaknya dengan begitu, dirinya dapat memberikan sedikit pelajaran kepada Hiro.
Ryo bahkan memilih Haori untuk menjadi lawan yang berhadapan dengan Hiro. Hal itu dikarenakan Haori keahliannya lebih jago dari Seiko, yang masih menggunakan sabuk jingga.
Izumi yang menonton, memposisikan dirinya berdiri di depan. Dia semakin tertarik dengan sosok Hiro. Karena lelaki tersebut semakin berani dan lebih gagah. Meskipun sempat berulah terhadapnya, namun akibat penyelamatan dari Hiro tempo hari, telah merubah kebenciannya menjadi sedikit kekaguman.
"Sejak kapan temanmu menjadi orang yang nekat begitu?" tanya Izumi. Dia kebetulan berdiri di sebelah Shima.
Shima terkaget, sebab lagi-lagi Izumi muncul bak sesosok makhluk gaib. Akan tetapi, dia tetaplah tidak suka dengan gadis itu. "Entahlah, mungkin karena semua kejahilanmu!" sarkasnya, yang langsung mendapatkan pelototan dari Izumi.
__ADS_1