Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 37 - Menyelamatkan Akira


__ADS_3

Hiro masih mematung di belakang pintu. Atensinya masih tidak teralihkan dari Akira. Sekali lagi dia harus dibuat kaget, karena lelaki asing bertelanjang dada mulai menyentuh pinggul ibunya. Ekspresi Akira terlihat masam saat itu, seolah dia terpaksa untuk diperlakukan begitu.


Karena raut wajah yang terkesan ketakutan, Akira kembali mendapatkan omelan. Pria berkumis yang tampak seperti pimpinan semua orang di sana, hampir melayangkan tamparan ke wajah Akira.


Hiro sontak merasa ibunya sudah diperlakukan tidak adil. Dia akhirnya keluar dari tempat persembunyian dan menampakkan diri.


"Jangan sentuh wanita itu!" pekik Hiro. Kedatangannya seketika menjadi pusat perhatian semua orang dalam ruangan.


Si pria berkumis mengamati Hiro dengan seksama. Tampilan Hiro yang sedang mengenakan sebuah topeng, membuatnya tidak kuasa menahan tawa. "Lihat, ada orang gila nyasar ke tempat syuting!" ujarnya. Tawanya langsung menular kepada kawannya yang lain. Kecuali Akira, yang sedang sibuk bergumul terhadap pikirannya. Sebab dia merasa tidak asing dengan pakaian dan suara lelaki bertopeng yang baru saja datang.


"Lepaskan dia!" tukas Hiro sembari menunjukkan jari telunjuknya ke arah Akira.


Sang pria berkumis malah berseringai. Dia berjalan beberapa langkah untuk mendekati Hiro, dan menyahut, "Tidak bisa, lagi pula wanita itu sudah mendatangani kontrak denganku. Jika kau ingin kami berhenti, maka kau harus membayar lima juta yen!"


"Kontrak?" dahi Hiro berkerut dari balik topengnya.


"Iya, benarkan Akira? kau sudah menyetujui kontrak yang diberikan oleh Takeshi." Pria berkumis itu menoleh ke arah Akira. Sebelah tangannya terlihat sudah meletakkan rokok dimulut. Setelahnya pria tersebut mengambil alat pemantik dari saku celana. Dinyalakannya pemantik itu. Sedangkan Akira hanya menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaannya.


'Takeshi? bukankah dia rentenir yang sudah berhasil aku habisi?' pikir Hiro. Matanya tertuju ke wajah menyebalkan yang sedang ditampakkan sosok pria berkumis di depannya.


Tanpa basa basi, tangan Hiro mengambil alat tripod kamera yang ada di sampingnya. Kemudian dipukulkannya tepat ke pemantik yang sedang dipegang oleh si pria berkumis. Pemantik yang masih menyala tersebut terlempar ke udara. Hingga terjatuh tepat ke kumpulan botol plastik yang berisi hand sanitazer di meja.


Dalam kecepatan kilat teplak meja langsung di sambar oleh api. Dua orang yang berada di dekat meja itu malah reflek menjauh.


"Hei! apa yang sudah kau--"


Belum sempat sang pria kumis bicara, Hiro sudah memukulkan bilah tripod yang tadi sempat di ambilnya. Hidung pria berkumis tersebut tentu langsung mengeluarkan darah. Dia jatuh tersungkur di lantai. Kejadian itu sontak menimbulkan ketakutan terhadap semua orang. Termasuk Akira sendiri. Teriakan yang dikeluarkan pita suaranya terjadi, saat menyaksikan betapa ganasnya Hiro melayangkan pukulan.

__ADS_1


Kobaran api di meja semakin membesar, terutama ketika sudah berhasil melahap hand sanitazer yang sejak tadi ada di atas meja. Bahan sejenis sabun pembersih itu memang merupakan cairan yang mudah terbakar.


"Kumohon, biarkan kami keluar. Kami hanya orang-orang yang ditugaskan untuk membantunya!" pekik seorang lelaki berkacamata yang sedang gemetar ketakutan. Salah satu tangannya menunjuk kepada pria berkumis yang masih tersungkur di lantai.


"Benar. Kami juga baru tahu, kalau dia mencari pemeran wanita secara paksa!"


"Lepaskan kami!"


Beberapa anak buah sang pria berkumis melakukan pembelaan diri. Dan sama sekali tidak ada yang peduli dengan pimpinannya.


"Kurang ajar kaliannn!!" geram pria berkumis yang mencoba hendak berdiri. Namun kaki Hiro dengan sigap menginjak kepalanya. Hingga keadaan wajah pria berkumis itu menempel ke lantai.


Lama-kelamaan hawa panas dari api mulai mengisi seluruh ruangan. Saat itulah fire sprinkler yang ada di langit pelafon menyala, lalu menyebarkan air ke segala arah.


Kring...


Bunyi alarm darurat berdering.


Lelaki bertelanjang dada segera berlari keluar ruangan lebih dahulu. Karena Hiro membiarkannya pergi, semua orang lantas mengikuti jejak lelaki itu. Bahkan Akira pun juga ikut andil.


Kini tinggal Hiro dan sang pria berkumis yang ada di dalam ruangan.


"Ku-kumohon... ampuni aku..." lirih si pria berkumis terbata-bata, akibat kuatnya tekanan kaki Hiro diwajahnya.


"Berjanjilah, kau tidak akan mengganggu Akira lagi!" tegas Hiro sembari menggertakkan gigi kesal.


"A-a-aku berjanji... uhuk! uhuk!... ce-cepat lepaskan aku... apinya sudah sangat besar!" mohon pria berkumis, seluruh badannya sudah dibanjiri keringat. Hawa panas dan kepulan asap semakin menyiksa.

__ADS_1


Hiro yang juga mulai tidak kuat lagi berada di dekat kobaran api, akhirnya melepaskan si pria berkumis. Dia bergegas membuka jendela yang sudah dihalangi api. Namun hal itu tidak membuat Hiro terancam. Dia dengan mudahnya melompat menembus api. Tidak peduli dengan apa yang akan diderita oleh pria berkumis bejat tersebut.


Hup!


Setelah berhasil lolos dari ganasnya jago merah. Hiro lekas-lekas mematikan api-api kecil yang membakar beberapa titik pakaiannya. Dia bahkan mengambil topi, yang tadi tidak sengaja terjatuh akibat lompatannya sendiri. Topi itu sedikit terbakar, tetapi masih layak untuk dipakai.


Hiro melajukan larinya agar dapat menjauh dari bangunan yang sudah dibakarnya. Suara mobil pemadam kebakaran mulai terdengar dari kejauhan. Hiro sekarang hanya ingin menemui Akira, tetapi di tempat dan waktu yang tepat.



Akira berjalan menyusuri gang sendirian. Dia sudah mengenakan mantel cokelatnya kembali. Dibagian lengannya terdapat luka bakar yang masih baru. Sebenarnya tadi dirinya nekat kembali masuk ke bangunan, karena memiliki firasat kalau lelaki bertopeng inari adalah putranya. Akira bahkan menunggu lama, hingga hari tak terasa sudah menjelang malam. Akibat tidak kunjung menemui sosok yang dicarinya, akhirnya dia menepis pikiran bahwa orang bertopeng inari tadi adalah Hiro.


Langkah kaki Akira mendadak berhenti ketika menyaksikan sosok misterius muncul dari atas. Jujur saja wanita tersebut hampir jantungan dibuatnya. Sebelah tangannya reflek memegang bagian dada kirinya, tepat dimana jantungnya berada. Akira memperhatikan wajah orang yang berdiri di depannya.


Seorang lelaki bertopeng inari dengan topi yang sedikit terbakar. Jelas dia adalah Hiro. Perlahan dia membuka topengnya di hadapan sang ibu.


"Hiro?! ternyata benar itu kau..." mata Akira terbelalak. Posisi tangannya sudah berpindah untuk membekap mulutnya sendiri.


Hiro mendadak duduk bersimpuh. Dengan kepala yang menunduk, dia lantas berucap, "Kumohon jangan terikat dengan pekerjaan seperti itu lagi. Jika kau melakukannya karena aku, maka aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri..."


"Hiro..." Akira tidak kuasa menahan tangisnya. Sebagai seorang ibu, dia merasa terharu terhadap apa yang telah dilakukan putranya. Terutama dengan pengorbanan Hiro yang sudah nekat membantunya keluar dari pekerjaan kotor.


Perlahan Akira memegangi pundak Hiro, dan membawanya kembali berdiri. "Maafkan aku Hiro... itulah yang aku lakukan agar kau tidak dipenjara," tuturnya dengan keadaan air mata yang bercucuran.


Hiro yang mendengar segera mendongakkan kepala. Menatap mimik wajah sesal sang ibu. "Jadi, itulah perjanjian yang kau lakukan saat berada di kantor polisi?" tanya-nya memastikan. Akira pun menjawab dengan anggukan kepala.


"Kenapa kau tidak katakan padaku?" ujar Hiro lagi. "Harusnya kau beritahu aku, agar aku juga bisa membantu," tambahnya, menatap getir.

__ADS_1


Akira menggeleng pelan. "Ibu hanya takut, kau akan membuat masalah lagi, dan lihat apa yang sudah kau lakukan tadi?" balasnya seraya menghapus cairan bening dipipi.


"Ibu tidak perlu khawatir. Kau hanya perlu percaya kepadaku, kumohon..." Hiro menatap penuh harap.


__ADS_2