Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 62 - Penculikan [1]


__ADS_3

Hiro duduk sendirian di ruang tunggu. Sesekali dia akan menyesap kopi hangat yang baru dibelinya. Dirinya tengah memecahkan beberapa kebenaran yang sudah berhasil ditemukan.


Pertama adalah mengenai fakta siapa Akira yang sebenarnya. Selain itu mengenai pernyataan ibunya sebelumnya, yang mengatakan bahwa ayahnya mati karena dibunuh.


Hiro berpikir kalau informasi yang ditemukan Hana adalah kuncinya. Yaitu perihal bahwa Keichi Yamada adalah teman dekat Katashi Nakagawa. Dia yakin kalau keluarga Nakagawa pasti terlibat terhadap pembunuhan Keichi. Apalagi ayah dari Hiro tersebut telah dinyatakan menghilang enam belas tahun yang lalu.


"Ini sudah jelas, kalau orang- orang Nakagawa-lah yang telah membuat Akira menderita!" gumam Hiro penuh amarah. Tangannya menggengam erat gelas karton berisi kopi. Hingga wadah itu berhasil penyok dan tak berbentuk. Air panas yang keluar dari gelas bahkan sama sekali tidak membuat Hiro kesakitan.


"Hiro!" Shima memanggil dari kejauhan. Dia terlihat berlari kian mendekat. Setibanya di hadapan Hiro, lelaki berambut cepak itu tentu langsung menanyakan kabar Akira.


Hiro mengatakan yang sebenarnya. Termasuk mengenai pembunuhan ayahnya. Shima segera memasang ekspresi sedih, dia tidak tahu harus berkata apa. Tetapi setidaknya keberadaan dirinya di sisi Hiro sekarang, adalah hal terbaik untuk mendukung jalinan persahabatan.


"Shima, kau mau membantuku kan?" tanya Hiro seraya melirik ke arah Shima yang duduk di sampingnya.


"Tentu saja!" sebagai sahabat yang baik, Shima langsung setuju. Bahkan sebelum mendengarkan keinginan Hiro terlebih dahulu.


"Bantu aku membalaskan dendam!" ujar Hiro, melayangkan sorot mata serius. Dia menatap Shima, namun sahabatnya itu terlihat tertunduk.


"Tetapi aku tidak yakin kalau orang lemah sepertiku bisa membantu..." lirih Shima merasa tidak mampu.


"Jangan berkata begitu!" tegas Hiro sembari menepuk keras bahu Shima.


"Maaf, aku hanya tidak percaya diri dengan keahlianku!"


"Kita akan terus berlatih bersama!" Hiro menjeda ucapannya sejenak. Dia berpikir dan teringat dengan penjahat kelas teri di apartemen Guree. "Aku pikir, kita harus bergabung dengan orang-orang di apartemen Guree," imbuhnya yang segera direspon Shima dengan belalak matanya.


"Hiro, kamu yakin? apa kau tidak takut ketahuan polisi? bukan kah kita juga harus mempertimbangkan resikonya?" Shima menuturkan segala macam kekhawatirannya.

__ADS_1


Hiro menggeleng tegas. Dia berusaha meyakinkan Shima kalau tidak ada yang perlu dicemaskan. Lagi pula menurut Hiro, aparat kepolisian sering buta dalam bekerja. Buktinya hingga sekarang kejahatan yang Hiro lakukan belum juga ketahuan. Padahal sudah jelas dirinya pernah melakukan pembunuhan kepada komplotan rentenir.


Hiro dan Shima saling membisu. Membiarkan bumi berputar hingga malam bertukar dengan siang.



Di pagi hari, Hiro dan Shima menemui Izumi. Keduanya benar-benar berhenti sekolah dan menuruti kehendak gadis itu. Mereka berjanji akan bertemu di halte bus.


Selagi menunggu, perhatian Hiro tertuju pada sebuah mobil yang berhenti di hadapannya. Muncullah Izumi, yang merupakan pemilik kendaraan tersebut. Dia segera menyuruh Hiro dan Shima untuk masuk ke dalam mobil.


"Apa kita akan mendaftar ke sekolah baru?" tanya Hiro yang sudah memposisikan diri duduk di sebelah Izumi.


"Itu masih dalam proses. Sekarang, kau lebih baik membantuku untuk melakukan sesuatu," ujar Izumi sembari menyibukkan diri mengendalikan setir mobilnya. Dia ternyata berniat ingin memberi Eri pelajaran. Hiro terus memperhatikan gerak-gerik Izumi saat menyetir. Dia tertarik dengan kendaraan yang sedang dikendalikan gadis itu.


Izumi mengatakan kalau orang yang sudah mengerjainya habis-habisan di toilet adalah Eri. Jadi, dia kini mengajak Hiro dan Shima untuk membantunya melakukan balas dendam.


"Lihat saja nanti!" balas Izumi, tersenyum singkat.


Berbeda dengan Shima, Hiro lebih tertarik menanyakan rencana Izumi terhadap sekolah lamanya. Gadis tersebut memberitahu, kalau keluarganya akan berhenti memberikan sumbangan terhadap sekolah lamanya.


"Selain itu, sebentar lagi skandal buruk di sekolah lama kita akan terkuak. Pokoknya aku pastikan akan tersebar di semua media!" Izumi berseringai puas. Dia perlahan menghentikan mobilnya di depan sebuah toko mainan. Tempat tersebut berada di pinggiran kota, dan agak jauh dari keramaian.


Izumi menyuruh Hiro dan Shima menunggu di mobil. Sedangkan dirinya melangkah masuk memasuki toko sendirian.


"Sebenarnya rencana gila apa lagi yang akan dilakukannya?" tanya Shima. Atensinya difokuskan ke arah toko mainan dimana Izumi berada.


"Entahlah, tidak ada orang yang bisa memahami pola pikirnya," sahut Hiro, membicarakan perihal Izumi.

__ADS_1


Shima menggelengkan kepala tak percaya. "Sampai kapan kita akan menjadi temannya?" keluhnya, dia merasa tidak tahan lagi bergaul dengan gadis seperti Izumi.


"Bersabarlah Shima, baru juga beberapa hari kita berteman dengannya." Hiro menoleh ke belakang. Menampakkan garis-garis tajam yang terukir di dahinya.


Beberapa saat kemudian, Izumi terlihat sudah keluar dari toko. Anehnya dia tidak sendirian, dan berjalan mengiringi seorang lelaki berambut gondrong. Lelaki tersebut menguncir rambutnya ke belakang. Mengenakan sweeter berwarna hitam yang dibalut mantel panjang abu-abu.


Izumi sempat menoleh ke arah mobilnya. Dia hanya menggerakkan mulutnya dan mengucapkan kata 'Tunggu' kepada Hiro.


Saat lengah, si lelaki berambut gondrong tiba-tiba menarik tangan Izumi dengan paksa. Dia juga membekap mulut dan hidung Izumi dengan seutas kain putih. Lalu menyeretnya masuk ke dalam mobil lusuh yang mendadak berhenti di dekatnya.


"Sial! bukankah itu hal yang buruk!" ucap Shima dengan pupil mata yang membesar. Dia dan Hiro sontak keluar dari mobil. Akan tetapi sebelum mereka tiba, mobil yang membawa Izumi sudah menjauh sangat laju. Sehingga keduanya tidak mampu melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Izumi. Hiro bahkan tidak sempat menggapai kendaraan itu seperti tempo hari.


"Kita harus mengejarnya!" pekik Hiro yang bergegas masuk ke dalam mobil Izumi.


"Apa?! tetapi kita berdua sama-sama tidak bisa mengemudi!" balas Shima dengan nada penuh penekanan.


"Cepat! kita tidak punya waktu!" desak Hiro. Dia sudah memposisikan diri duduk di depan setir.


Dengan lidah yang berdecak kesal, akhirnya Shima tidak punya pilihan selain masuk ke mobil. Dia duduk di sebelah Hiro, dan tentu saja meragukan tindakan yang akan dilakukan sahabatnya tersebut.


"Hiro, lebih baik kita---huaaaaaaaaa..." kalimat Shima terputus, kala Hiro tiba-tiba menginjak pedal gas. Dia menekannya sekuat tenaga, hingga mobil melaju sangat cepat. Tangannya dengan sigap memutar setir. Berusaha menghindari mobil-mobil yang ada di jalanan.


"Hiro!!! kali ini kau benar-benar gilaaaaaaa!!" Shima bersuara lantang. Dia masih saja meneruskan teriakan akibat sangat ketakutan dengan cara mengemudi Hiro.


"Tenang saja, Shima! jika kau mati, aku akan menyerahkan wasiat reinkarnasi kepadamu!!" balas Hiro yang tidak kalah nyaring. Dia terus menginjak pedal gas. Mengemudi dengan ugal-ugalan dan terkesan mengerikan. Jujur saja, dia sudah beberapa kali hampir tertabrak sesuatu.


Meskipun begitu, mata tajamnya masih mampu mengenali mobil yang membawa Izumi dari kejauhan. Membuatnya semakin bersemangat untuk melakukan pengejaran.

__ADS_1


Sementara Shima hanya sibuk membuncahkan matanya. Manik hitamnya tersebut seolah akan keluar dari tempatnya. Dia nampaknya sudah lelah berteriak, dan hanya menekan badannya ke sandaran kursi. Badannya terasa kaku untuk digerakkan.


__ADS_2