Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 89 - Rencana Penyelamatan [4]


__ADS_3

Hiro mendengus kasar ketika menyaksikan lelaki berbadan besar. Sebab berkelahi hanya akan memperlambat waktu. Jadi sebelum lelaki berbadan besar itu menyerang, Hiro lebih dahulu menembakinya dengan pistol.


Dor! Dor!


Dua peluru diluncurkan Hiro. Lelaki berbadan besar tersebut bergeming dan berjalan kian mendekat. Membuat kaki Hiro otomatis bergerak mundur.


Suara teriakan ketakutan sahut menyahut dari arah pintu kanan dan kiri. Keributan yang ditimbulkan oleh alarm peringatan juga masih menggema. Keadaan terasa mengerikan seolah seperti di neraka.


'Sial! apa kulitnya terbuat dari baja?' batin Hiro. Dia bingung lelaki berbadan besar di depannya tak kunjung mati.


Meskipun terlihat santai saja. Bagian tubuh si lelaki berbadan besar tetaplah mengeluarkan darah.


Hiro kini terpojok. Dia terus menembaki lelaki berbadan besar tanpa henti. Hingga berhasil membuat musuhnya itu semakin marah. Lelaki berbadan besar tersebut mampu menghampiri, dan langsung berupaya membanting badan Hiro. Akan tetapi Hiro mengunci erat lawannya. Dia melakukannya agar si lelaki berbadan besar kesulitan membantingnya. Saat itulah Hiro menggunakan pisaunya, kemudian menusukkannya ke punggung musuh beberapa kali.


"Aaakkhhh!!" si pria berbadan besar akhirnya mengerang kesakitan. Dia sontak membanting Hiro dengan asal.


Hiro terhempas ke lantai, namun rasa sakit yang diterimanya tidak seberapa. Dia hampir mendapat serangan dari si lelaki berbadan besar. Namun Kyohei yang nampaknya telah pulih dari sakitnya, segera menembakkan peluru tepat ke kepala lelaki berbadan besar tersebut. Lawannya seketika tumbang dan tampak terjatuh ke arah Hiro. Hiro yang menyadarinya, lekas-lekas menyingkir sebelum musuh berbadan besar itu menindih badannya.


BRUK!


Lelaki berbadan besar itu telah tak bernyawa. Seluruh tubuhnya dilinangi oleh darah, akibat ulah Hiro dan Kyohei.


"Hiro, apa yang terjadi?" Shima bertanya melalui earpiece. Dia dan yang lain bisa mndengar keributan yang terjadi.


"Untuk sekarang aku bisa menanganinya. Jangan khawatir! fokuslah pada tugasmu!" balas Hiro. Dia segera mendekati Kyohei dan menanyakan keadaannya.

__ADS_1


"Yang pasti aku masih bisa berjalan," jawab Kyohei yang telah berdiri. Dia telihat memegangi bagian rongga dadanya.


"Tolong! selamatkan kami!!" orang-orang yang ada di balik pintu kanan dan kiri mendesak meminta pertolongan. Bahkan sudah ada yang sampai merengek histeris.


Hiro bergegas mendekati salah satu pintu yang ada, dan melihat semua pintu masih terkunci. Hanya bisa dibuka dengan kunci berjenis kartu. Tanpa basa-basi, Hiro langsung memeriksa pakaian yang dikenakan oleh lelaki berbadan besar. Benar dugaannya, dia langsung mendapatkan kunci berjenis kartu. Sekarang Hiro lekas-lekas membuka salah satu pintu.


Bip!


Warna garis hijau yang menyala, menandakan pintu berhasil terbuka. Lima orang wanita yang ada di dalam ruangan menyambut Hiro. Beberapa dari mereka bahkan ada yang langsung memeluknya.


"Terima kasih!... terima kasih!" ujar seorang wanita, yang masih asyik mendekap. Hiro hanya mematung, karena dia tak menyangka dengan sentuhan itu. Di belakang, Kyohei juga menerima perlakuan yang sama. Dia bahkan mendapat ciuman dipipi. Perlakuan para wanita itu membuat waktu seolah berhenti. Apalagi semua wanita yang ada memiliki paras cantik-cantik, dan hanya mengenakan dress di atas lutut.


Hiro yang sempat terpaku, segera menggeleng tegas. Dia tak boleh lupa diri saat di waktu yang genting. Hiro perlahan melepaskan wanita yang kebetulan mendapat giliran memeluknya.


"Apa kalian tahu jalan keluarnya?" tanya Hiro kepada para wanita. Dia menoleh, dan langsung mendapat jawaban dengan gelengan kepala.


Di ruangan lain, Hiro menemukan puluhan anak kecil. Beberapa di antaranya ada yang sudah mati dan terbaring lemah. Bau pesing dan busuk seketika menguar jelas, saat Hiro membuka pintu ruangan itu. Tidak seperti para wanita yang langsung mengucapkan terima kasih, anak-anak tersebut malah ketakutan dengan kedatangan Hiro. Trauma yang ditunjukkan dari ekspresi mereka terlihat jelas.


"Bisakah kalian membantu anak-anak yang lemah di sini?" tanya Hiro kepada para wanita. Perintahnya langsung disetujui. Beberapa dari wanita tersebut mencoba membantu sebisa mungkin.


Kyohei yang sudah menerima kunci dari Hiro yang selanjutnya, langsung membuka semua pintu dengan cepat. Sehingga semua tawanan yang ada berhamburan keluar. Ada yang berkelompok bahkan sendirian. Anehnya di ruangan paling ujung, tidak ada satu pun orang yang keluar.


"Kyohei, kau lebih baik menunjukkan mereka jalan keluar dari sini! biar aku yang mengurus orang di ruang terakhir itu!" titah Hiro. Dia melangkah cepat ke ruang terakhir. Matanya membulat sempurna saat melihat siapa yang ada di dalam ruangan. Yaitu Kogoro.


Paman dari Shima tersebut lemah tak berdaya. Kedinginan, pucat pasi, dan hanya mengenakan celana pendek.

__ADS_1


"Kogoro, kau tidak apa-apa? bisakah kau berjalan?" tanya Hiro sambil mengamati keadaan Kogoro. Dia akhirnya bisa menyimpulkan, kalau Kogoro benar-benar sedang tidak berdaya. Hiro kini mencoba sekuat tenaga membopong Kogoro. Keluar dari ruangan dan melangkah menuju jalan keluar.


"Kalian tidak apa-apa? aku mendengar keributan dari tadi?" suara Hana terdengar dari earpiece Hiro.


"Aku menemukan Kogoro! sekarang aku sedang membawanya ke pintu keluar!" sahut Hiro. Wajahnya meringis karena berusaha sekuat tenaga membopong Kogoro yang melemah.


"Benarkah?! syukurlah! ce--... kau--..." suara Hana mendadak terputus. Setelahnya dia tidak terdengar lagi berbicara.


"Hana! kau tidak apa--"


"Hiro!! aku baru saja mendapatkan earpiece yang terjatuh! kami dalam keadaan genting sekarang!" Chen Fu memekik. Dia berbicara dalam tempo cepat dan seakan sedang mengatur deru nafasnya.


"Cepat tolong--... aaaarrkhhh!!!" pemberitahuan Chen Fu berakhir dengan suara teriakan. Membuat Hiro dirundung perasaan tidak karuan.


"Shima? Chang Feng? yang lain? kalian masih tersambung?" tanya Hiro. Keringat yang ada dipelipisnya membuktikan rasa cemasnya.


"Sepertinya hanya kita yang masih tersambung di earpiece. Salah satu dari empat kawanan kita di ruang utama sudah bersimbah darah. Dia sudah mati, aku tidak tahu dengan keadaan tiga orang lainnya!" Kyohei merespon panggilan Hiro.


"Kalau begitu, suruhlah semua tawanannya keluar dari sini!" balas Hiro. Dia segera menendang pintu yang ada di depannya. Pintu tersebut membawanya ke ruang utama. Hiro sontak bertemu dengan Kyohei. Dia menyuruh Kyohei membawa Kogoro keluar dari ruang bawah tanah. Sedangkan dirinya sendiri pergi menemui Shima, Chen Fu dan yang lain.


Hawa di ruang bawah tanah mulai terasa panas. Hiro menduga kalau pemadam kebakaran tidak berhasil melakukan tugasnya dengan lancar. Dia tahu, kalau dirinya tidak punya waktu yang banyak.


Hiro berlari sekuat tenaga. Akan tetapi bukannya menemui Shima, Chen Fu dan yang lain, Hiro malah bertemu dengan dua lelaki berbadan besar. Keduanya tampak membawa briefcase di tangan mereka masing-masing.


"Aarrghhh!!" Hiro menggeram kesal. Dia lekas-lekas mengambil pistolnya, namun sayang pelurunya sudah habis. Sepertinya dia telah menghabiskannya saat melawan satu lelaki besar sebelumnya.

__ADS_1


Catatan Kaki :


Briefcase : Adalah salah satu jenis tas yang memiliki bentuk persegi panjang dan dilengkapi tali pendek pada bagian atas (Tas kantor yang biasa dipakai lelaki)


__ADS_2