Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bonus Chapter - Truth Or Dare?


__ADS_3

Satu tahun berlalu. Hiro dan Shima telah mendapatkan ijazah kelulusan sekolah. Hiro berhasil dalam percobaan yang ketiga. Sedangkan Shima lebih dahulu lulus di percobaan keduanya.


Hiro perlahan sudah mampu memahami dunia bisnis. Meskipun begitu, dia belum siap untuk menggantikan Kogoro. Hiro lebih sering menghabiskan waktunya di akademi ninja bersama Shima dan Hayate.


Izumi baru saja kembali ke Jepang. Dia memilih melanjutkan pendidikannya di tanah airnya sendiri. Gadis itu mengambil jurusan fashion designer di sebuah universitas ternama.


Sementara Hana, tinggal bersama ayahnya di apartemen baru pemberian Hiro. Dia memulai kehidupan barunya dengan lebih bahagia. Meskipun begitu, dia harus tetap bolak-balik menjenguk ibunya yang masih koma di rumah sakit. Berbeda dengan Izumi, Hana lebih memilih bekerja. Dia membuka bisnis cafe kecil-kecilan di kota Tokyo.


Sekarang Izumi dan Hana bertemu di klub malam. Dalam sebuah ruangan VIP. Hubungan keduanya lebih damai dari sebelumnya. Walaupun rasa canggung di antara mereka sangatlah mendominasi.


"Kalian mengerti permainannya bukan?" Hana menatap Hiro, Izumi dan Shima secara bergantian. Dia baru selesai menjelaskan permainan truth or dare (kejujuran atau tantangan). Kemudian menyiapkan botol kaca kosong di atas meja. Gadis itu akan memutar botol. Jika bagian depan botol berhenti ke arah seseorang. Maka orang tersebut harus bersedia memilih di antara kejujuran atau tantangan.


Orang yang memutar botol sendiri akan bergantian sesuai posisi duduk. Dan dialah yang akan memilihkan pertanyaan dan tantangannya.


Hiro dan yang lain duduk membentuk lingkaran. Di samping kanan Hiro ada Izumi, di bagian kirinya terdapat Shima. Sedangkan di hadapannya, Hana duduk bersila di atas sofa.


Hana telah memutar botol. Lama-kelamaan botol itu berhenti, dan mengarah tepat ke arah Shima. Semua orang lantas tertawa kecil. Termasuk Hiro sendiri. Sementara Shima, harus menghela nafas berat kala menerima nasibnya.


"Baiklah. Kau pilih jujur atau tantangan, Shima?" tanya Hana. Menatap serius. Hal yang sama juga dilakukan Hiro dan Izumi.


"Mungkin tantangan," jawab Shima ragu. Salah satu alisnya terangkat.


"Baiklah..." respon Hana sambil melirik pelan ke arah Hiro. Dia sedang mencari-cari tantangan yang tepat dikepalanya. Itu tidak berselang terlalu lama. "Kalau begitu, ciumlah Hiro!" ucapnya. Jari telunjuknya menunjuk ke arah Hiro.


Izumi yang mendengar tertawa geli. Untuk yang pertama kalinya dia sepemikiran dengan Hana.


"Apa?! jangan gila, Hana!" Shima terperangah dengan tantangan yang diberikan Hana. Dia agak kaget. Mencium perempuan saja canggung, apalagi sesama lelaki.


"Ini tantangan. Kita sudah sepakat untuk melakukan apa saja sebelum bermain!" ungkap Izumi, mendesak.


"Ayo Shima, lakukan saja!" Hiro mendekatkan wajahnya ke arah Shima. Menunjuk ke arah pipinya. Shima merasa lega, karena dia sempat mengira dirinya akan disuruh mencium dibibir. Tetapi ternyata dia baru sadar, kalau tantangan Hana tidak spesifik.


"Hei bukan--" Hana tidak menyelesaikan kalimatnya, saat Shima sudah mencium pipi Hiro.


"Hana, kau harusnya memberikan tantangan yang spesifik!" pungkas Hiro, tergelak bersama Shima.

__ADS_1


"Ah benar..." Izumi tidak bisa membantah pernyataan Hiro. Sedangkan Hana yang terpojok, hanya memutar bola mata jengah. Dia sekarang memberikan botol kepada Izumi. Orang yang selanjutnya bertugas memutar botol.


Izumi segera memutar botolnya. Hingga bagian depan botol perlahan berhenti di hadapan Hana. Menyebabkan mata Izumi sedikit terbelalak. Botolnya berhenti tepat di depan orang yang tidak diharapkannya. Pemandangan tersebut reflek membuat Hiro dan Shima berbicara lewat tatapan mereka.


Izumi berusaha tenang dan bertanya, "Jujur atau tantangan?"


"Jujur!" jawab Hana santai.


"Kalau begitu... aku akan bertanya, apa kau benar-benar sudah... memaafkanku?" tanya Izumi sedikit meragu dalam ucapannya.


Hana mendengus kasar dan menyahut, "Iya. Tetapi aku masih butuh waktu untuk bisa akrab denganmu. Maksudku seperti hubungan kita saat masih kecil."


Izumi mengangguk dan tersenyum tipis. Dia lalu menyerahkan botol kepada Hiro.


Sasaran botol yang diputar Hiro tertuju ke arah Izumi. Dia segera menanyakan Izumi pilihan truth or dare.


"Tantangan!" Izumi terdengar yakin.


"Baiklah..." Hiro mengangguk-anggukkan kepala beberapa kali. Bola matanya tertuju kepada tas mahal milik Izumi. "Berikan tas itu kepada seorang pelayan klub ini!" tantangnya, yang sontak membuat mata Izumi membuncah. Sementara Hana dan Shima berusaha menahan tawa setengah mati.


Izumi akhirnya terpaksa menurut. Toh dia juga sudah berjanji akan mengikuti aturan permainan dengan baik. Kini tas mahalnya benar-benar berpindah tangan kepada seorang pelayan wanita.


Selanjutnya botol diputar oleh Shima. Kali ini Hiro yang mendapat giliran. Dan Hiro lebih memilih tantangan dibanding jujur.


"Sayang sekali. Padahal aku ingin mendengar kejujuranmu," keluh Izumi sambil menopang dagu dengan satu tangannya.


"Tenanglah Hiro, aku akan memberi tantangan mudah. Lepaskan seluruh pakaian atasanmu!" perintah Shima datar.


"Apa?! tetapi aku--"


"Sudah lakukan saja!" Shima sengaja memotong perkataan Hiro. Dia segera membantu kawannya itu melepaskan baju atasannya.


"Ugh, mulai saat ini pandanganku akan ternodai," gumam Hana seraya mengalihkan pandangan dari Hiro yang sudah telanjang dada.


"Awas saja kau, Shima!" Hiro mendorong Shima dengan perasaan jengkel.

__ADS_1


Permainan terus berlanjut dan semakin seru. Minuman beralkohol bahkan menjadi salah satu tantangan yang harus dilakukan oleh mereka. Hiro, Shima dan Izumi sangat mabuk. Kecuali Hana, dia masih sepenuhnya sadar.


Botol yang diputar Hana berhenti tepat ke arah Hiro. Momen yang sangat ditunggu-tunggu gadis itu. Seperti harapannya Hiro memilih jujur dibanding tantangan.


"Hiro, kau mencintai Izumi atau aku?" tanya Hana serius.


"Hah?" respon Hiro yang setengah sadar. "Kau atau Izumi?" tanya-nya memastikan. Hiro tersenyum, kemudian menoleh ke arah Izumi. Melihat hal itu, Hana telah tahu jawaban Hiro.


"Izumi..." ucap Hiro. Dia mengguncang badan Izumi yang telentang tak berdaya karena mabuk. "Izumi, aku merindukanmu setahun ini. Anehnya karena itu, aku tidak berminat dengan gadis lain. Apa kau tahu itu?" ujarnya diluar dari kesadaran.


"Ughh..." Izumi bergumam sambil memegangi jidatnya. Perkataan Hiro hanya terdengar samar ditelinganya.


Tanpa sadar Hiro telentang sambil memeluk Izumi. Menjadikannya seperti sebuah bantal guling.


Hana sontak merasa sakit hati. Dia langsung meminum alkohol dari botolnya. Gadis tersebut meminumnya sampai lupa diri. Hingga akhirnya dia juga berakhir mabuk seperti yang lain. Sejak saat itu Hana berusaha membuang jauh-jauh perasaannya terhadap Hiro.


...***...


Kebersamaan pertemanan Hiro, Shima, Izumi dan Hana terus berlanjut. Di lain waktu mereka menghabiskan waktu di tempat karoke. Shima dan Hana yang paling bersemangat bernyanyi.


Hiro dan Izumi memilih duduk menonton. Mungkin itulah yang mereka ucapkan pada Shima dan Hana. Padahal keduanya asyik berciuman di belakang.


"Hiro, kau mau pergi ke tempat yang lebih nyaman?" Izumi melepaskan tautan bibirnya. Hiro mengangguk dan segera menarik Izumi untuk ikut bersamanya. Sebelum keluar dari ruangan, mereka memberitahu Shima dan Hana terlebih dahulu.


"Shima, Hana. Kami pergi lebih dahulu. Ada sesuatu yang ingin kami beli," ujar Hiro memberi alasan.


Setelah kepergian Hiro dan Izumi, Hana langsung menghentikan nyanyiannya. Dia segera duduk di sofa. Menutup wajahnya dengan kedua tangan. Shima yang melihat tentu merasa khawatir.


"Hana, kau tidak apa-apa?" tanya Shima.


Hana hanya menggeleng dan mulai terisak. "Aku tidak apa-apa. Hatiku saja yang terasa sesak..." lirihnya. Tanpa sadar Hana memeluk Shima. Menyebabkan Jantung Shima berdebar tidak karuan. Diperlakukan begitu saja dia sudah salah tingkah.


Sebenarnya Shima telah lama jatuh hati kepada Hana. Semenjak gadis tersebut selalu bersamanya ketika Kogoro ditawan oleh orang-orang Nakagawa. Shima berupaya menutupinya karena mengira Hiro menyukai Hana. Namun sekarang sepertinya dia punya kesempatan untuk maju.


..._____________...

__ADS_1


__ADS_2