Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 82 - Berlatih Lebih Keras


__ADS_3

Hiro dan Shima bicara empat mata. Shima terus mendesak dan memohon agar Hiro bisa lekas-lekas menyelamatkan Kogoro.


"Bersabarlah... kau tahu, aku tidak akan melanggar janji kepadamu. Tetapi kita tidak bisa mengambil resiko, tanpa adanya rencana yang matang. Apakah semua orang di apartemen Guree sudah tahu mengenai kabar pamanmu?" Hiro mencoba menenangkan.


"Sudah... tetapi kebanyakan dari mereka ragu untuk membantu. Hanya Hana, Chen Fu dan saudara kembarnya yang bersedia," ujar Shima. Perlahan menunduk sendu. "Mereka takut berurusan dengan keluarga Nakagawa. Apalagi setelah apa yang terjadi kepada Pamanku. Itulah alasanku berlatih lebih keras hari ini," tambahnya.


Hiro sudah merasa cukup dengan semua penjelasan Shima. Dia lalu beranjak pergi keluar ruangan. Berniat menemui orang-orang di apartemen Guree. Hiro tahu sebagian besar dari mereka pasti sedang berkumpul di basement. Mulutnya tersenyum miring, karena dia punya cara untuk membuat para penghuni apartemen Guree mau membantu.


Kini Hiro ikut bergabung dengan empat lelaki yang sibuk bermain judi. Dia hanya duduk dan mengamati. Sebab Hiro belum pernah memainkan kartu poker.


"Kau kenapa ke sini? bukankah karenamu Kogoro diculik?" seorang lelaki berkepala botak mendadak menimpali Hiro.


"Apa kalian tidak berkaca? justru karena kalian semua-lah Kogoro celaka!" Hiro meninggikan nada suaranya. Hingga sebagian besar orang yang ada di ruangan mampu mendengar.


"Apa kau bilang?! ka-kami?!" balas si lelaki berkepala botak.


Hiro mengedarkan penglihatannya ke sekitar. Memastikan kalau dirinya telah menjadi pusat perhatian. Setelah yakin, dia lantas bangkit dari tempat duduk.


"Aku tidak tahu alasan Kogoro ditangkap oleh orang Nakagawa. Tetapi kalian pasti tahu satu hal, kalau orang yang berjasa memberi kalian makan adalah dia! bukankah begitu?" Hiro menatap tajam satu per satu orang di sekelilingnya. "Aku tahu, Kogoro yang sering melakuan transaksi narkoba, dan kalian membiarkannya pergi sendirian!" sambungnya.


Jujur saja, pernyataan Hiro membuat semua orang terdiam seribu bahasa. Mereka tidak dapat menampik, karena apa yang dikatakan Hiro memanglah kebenaran. Satu-satunya orang yang selalu bekerja dengan baik dan pintar hanyalah Kogoro. Makanya tidak heran dia juga terkadang dianggap sebagai pemimpin. Namun sepertinya nasib buruk yang menimpa Kogoro membuktikan, bahwa kesetiaan para penghuni apartemen Guree hanyalah kebohongan belaka.


"Dan sekarang ketika Kogoro dalam kesulitan, kalian bahkan tidak peduli!... Kogoro benar, kalian hanya orang-orang bodoh dan pengecut!" Hiro mengeratkan rahang kesal dan kembali meneruskan, "Ternyata nyaliku sebagai anak remaja lebih besar dibanding kalian. Benar-benar orang dewasa yang menyedihkan!"


Hiro berlalu pergi begitu saja. Dia yakin dengan kalimatnya yang tajam tersebut, mampu membuat orang-orang apartemen Guree berubah pikiran.


"Tunggu!" seorang gadis tomboy dengan banyak tato dilengan kirinya, menghentikan langkah Hiro.

__ADS_1


"Aku akan membantumu!" ucapan gadis tomboy itu membuat Hiro membalikkan badan. Sekarang dia kembali berhadapan dengan orang-orang apartemen Guree. Pupil mata Hiro langsung membesar, karena dia tidak hanya menyaksikan sang gadis tomboy yang ikut. Ada beberapa orang lainnya yang juga memutuskan untuk membantu.


"Apa kau sudah punya rencana?" gadis tomboy yang memiliki nama Nozomi itu bertanya.


"Tentu saja." Hiro memaksakan diri tersenyum. Sebab dia berbohong. Hiro sepenuhnya belum punya strategi apapun untuk menyelamatkan Kogoro. Dia butuh waktu. Sebuah ide yang matang, terkadang tidak bisa muncul secara tiba-tiba.


"Apa itu?" tanya lelaki berkepala botak, yang nampaknya sedikit tertarik untuk ikut andil.


"Yang pertama adalah mengasah kemampuan. Apapun itu, aku ingin kalian berlatih lebih keras. Terutama untuk yang sudah mahir bela diri. Setelah aku yakin kalian siap, maka aku akan beritahu rencana utamanya," terang Hiro. Semua orang lantas memanggut-manggutkan kepala. Pertanda mereka mempercayai ucapan Hiro.


Shima yang sedari tadi berdiri di depan pintu, berderap mendekat. Dia berkata, "Hiro, menurutmu berapa lama mereka akan siap?"


"Secepatnya Shima. Jangan khawatir!" Hiro membawa masuk Shima masuk ke dalam rangkuannya. Kemudian mengajaknya untuk makan malam. Kebetulan keduanya hanya menikmati ramen instan yang dibeli di toko terdekat. Mereka memilih makan di balkon yang ada di lantai tujuh belas. Duduk agak berjauhan di atas tumpukan papan tak terpakai.


"Bagaimana kabar Shiro? apa kau sudah memberitahunya?" tanya Hiro menatap Shima dengan sudut matanya.


"Belum. Aku hanya memberitahukan kepada Shiro, kalau Kogoro sedang pergi ke luar kota," balas Shima. Dia terus memainkan ramennya, karena merasa tidak niat untuk makan. Keheningan menemani suasana makan malam mereka sejenak.


"Ini, aku membelikannya untukmu. Kata Shiro, kau sangat menyukainya. Tadi aku mengajaknya ikut bersamaku." Hana menyodorkan sebungkus roti yang masih hangat kepada Shima.


"Kau tidak membelikan aku?" Hiro mencoba memeriksa kantong plastik yang dibawa oleh Hana.


"Tentu saja, Hiro. Aku membawakan roti spesial untukmu," ucap Hana sembari mengambilkan roti untuk Hiro. Mulutnya mengukir seringai.


"Wah, terima kasih. Kalau malam, perutku memang selalu protes. Jadi butuh makanan yang banyak!" ungkap Hiro. Dia meraih roti pemberian Hana.


"Hiro, itu--" cubitan Hana berhasil membungkam mulut Shima. Sebab Shima tahu kalau roti yang diberikan Hana kepada Hiro mengandung wasabi didalamnya.

__ADS_1


Hiro langsung menggigit roti pemberian Hana tanpa pikir panjang. Sepertinya dia memang sangat lapar. Porsi makannya tadi siang bersama Izumi sangatlah sedikit.


Saat dikunyahan kedua, mata Hiro reflek membelalak. Sensasi pedas dari wasabi yang dirasakannya mulai menyiksa. Dia sontak memuntahkan semua yang ada dimulutnya.


"Sialan, kau memberiku roti wasabi?" geram Hiro gelagapan. Mimik wajahnya mengerucut masam, akibat berupaya menahan pedas. Ekspresinya membuat Hana dan Shima tidak kuasa menahan tawa.


Hiro menatap Hana dengan dahi yang berkerut. Gadis itu sedikit terancam dan bersembunyi dibalik pundak Shima. Dia masih terdengar tertawa bersamaan dengan Shima.


"Lupakan Hiro, ini minumlah!" Shima mencoba mengalihkan perhatian Hiro dari Hana, dengan cara memberikan air mineral.


Hiro pun segera menenggak air mineral sebanyak mungkin. Sampai rasa pedas wasabi berkurang. Selanjutnya dia memandangi Shima. Sahabatnya itu masih tertawa bersama Hana. Membahas betapa lucunya raut wajah Hiro saat kepedasan. Perlahan Hiro tersenyum tipis sambil menoleh ke arah bawah balkon.


"Hiro, maafkan aku... tetapi usahaku berhasil membuat dia tertawa!" ujar Hana. Jari telunjuknya mengarah kepada Shima.


"Aku memaafkanmu karena alasan itu," balas Hiro, yang dilanjutkan dengan dengusan kasar. Hidungnya masih terasa ber-air. Sedangkan matanya masih sedikit memerah.


"Aku sudah mendengar mengenai rencanamu. Kata Chen Fu, kau menyarankan semua orang untuk berlatih keras." Hana melanjutkan pembicaraan.


"Itu benar. Ngomong-ngomong bagaimana cara semua orang-orang di sini berlatih?" pungkas Hiro. Dia meneguk kembali air mineral.


"Dengan sesuka hati mungkin... mereka kebanyakan mempelajari gerakan bela diri dari internet," jawab Hana.


Byur!


Hiro menyemburkan air yang tadi sempat hendak diminumnya. "A-apa? internet?!" dia kini mengusap kasar wajahnya sendiri. "Pantas saja mereka mudah dikalahkan. Ternyata berlatih dengan asal-asalan. Mereka butuh seorang pelatih!" komentarnya seraya menggeleng tak percaya.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kau saja yang melatih mereka?" usul Shima, menatap penuh harap.

__ADS_1


Catatan kaki :


Wasabi : Lobak pedas asal Jepang. Memiliki rasa pedas yang berbeda dari cabai. Jika pedasnya cabai lebih terasa di lidah, maka pedasnya lebih terasa di rongga hidung dan sinus.


__ADS_2