
Katashi berdiskusi tentang banyak hal dengan Izumi. Sebelum benar-benar mengakhiri hidupnya. Termasuk apa yang sudah dilakukannya terhadap Keichi Yamada. Ayah kandungnya Hiro.
"Keichi adalah sahabat dekatku. Tetapi aku sangat membencinya!" Katashi bercerita sambil mengepalkan tinju di salah satu tangannya. Lalu segera menyesap teh hijaunya.
Katashi sebenarnya iri dengan apa yang dimiliki oleh Keichi. Sebab Keichi mendapatkan harta warisan fantastis dari orang tuanya. Selain itu, bisnis Keichi juga sukses besar. Membuat kesibukannya semakin bertambah. Kesibukan itulah yang menyebabkan Keichi jarang menemui Katashi. Meskipun begitu, Keichi tidak pernah lupa dengan sahabatnya tersebut. Selalu mengirimkan uang dan makanan untuk Katashi yang saat itu mengalami kesulitan ekonomi.
Keichi bahkan menawarkan peluang bisnis untuk Katashi. Persahabatan mereka kian membaik. Bisnis Katashi ikut sukses besar. Namun bisnis yang dimiliki Katashi hanya salah satu bagian usaha kecil di bawah naungan perusahaan milik Keichi. Katashi merasa bisnisnya tidak akan berkembang. Alhasil dia segera membicarakannya dengan Keichi. Katashi ingin mempunyai wewenang lebih besar di perusahaan Keichi.
Usulan Katashi ditolak oleh Keichi, karena itu sangat berlebihan baginya. Keichi masih memikirkan nasib dirinya, serta pebisnis dan karyawan yang bekerjasama dengannya. Alhasil Katashi membangun bisnisnya sendiri. Memulai dari awal. Tetapi sayang, usahanya gagal total. Malah bisnis Keichi yang kian maju dan sukses di masa itu. Dari sanalah niat jahat Katashi muncul, dia ingin merebut segalanya dari Keichi. Dirinya semakin bertekad, saat melihat istri dan anaknya menderita akibat sulitnya masalah keuangan.
Karena tidak memiliki uang, Katashi hanya bisa mengandalkan kekuatan dan koneksi pertemanan yang dia miliki. Perlahan terciptalah kelompok Yakuza kecil yang dipimpinnya. Dia membuat strategi untuk merebut apa yang sudah dimiliki Keichi. Hingga di suatu malam nan kelam, Katashi nekat melakukan pembunuhan terhadap Keichi. Tepat di hadapan istrinya yang tidak lain adalah Manami (Akira).
Pada saat itu Akira sedang mengandung Hiro. Usia kandungannya mencapai delapan bulan. Parahnya dia sempat menjadi korban pemerkosaan bawahan Katashi. Untung saja Akira berhasil melarikan diri, sebelum dirinya harus diperkosa oleh lebih dari satu lelaki. Sebuah keajaiban Hiro bisa lahir dengan selamat dari rahimnya. Itulah alasan Akira merubah namanya.
"Ja-jadi, se-selama ini harta yang aku nikmati adalah milik Hiro?" Izumi bertanya dengan suara bergetar. Air matanya terus berjatuhan.
Bruk!
Katashi menghantamkan tangannya ke atas meja. "Tentu saja tidak! aku mendapatkannya dengan susah payah, agar kita bisa hidup bahagia!!" tegasnya, tidak terima dengan kesimpulan yang dipikirkan putrinya.
"Tapi kenapa kau dan Itsuki membunuh Ibu?!" Izumi meninggikan nadanya. Tangisnya sudah mencapai sesegukan. Dia menimpali ayahnya dengan insiden yang terjadi beberapa minggu sebelumnya.
"Ibumu... telah berselingkuh Izumi. Dia mendapat hukuman yang setimpal!" balas Katashi dengan mata yang menbuncah hebat. Seolah akan keluar dari tempatnya.
"Lalu apa hukuman yang pantas untuk seorang pembunuh sepertimu?!" timpal Izumi histeris.
"Aku memang pembunuh. Tetapi aku selalu punya alasan atas semua tindakanku itu. Sekarang tenangkanlah dirimu, agar kita bisa pergi dengan tenang!" Katashi tidak berniat memperpanjang perdebatannya. Dia mulai memegang pisau yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Ritual seppuku. Apa kau pernah mendengarnya?" ujar Katashi sambil memandangi baik-baik pisau yang dipegangnya. Seppuku (harakiri) sendiri adalah bentuk ritual bunuh diri yang dilakukan oleh samurai di Jepang, dengan cara merobek perut dan mengeluarkan usus untuk memulihkan nama baik.
Katashi sendiri memiliki pola pikir yang masih tradisional. Dia sangat menjunjung tinggi tanah kelahirannya. Makanya dia sangat mempercayai segala perkataan cenayang. Katashi juga sangat mengagumi samurai-samurai yang berjasa di masa lalu. Itulah alasan banyak sekali katana terpajang di dinding rumahnya.
"Seppuku? Jangan gila Ayah! Untuk apa kau melakukannya?! Kita bahkan bukan--"
"DIAM!!! Kau tidak berhak menasehatiku. Apa yang terjadi hari ini adalah kesalahan dirimu! begitu bukan?!! Dasar anak bodoh!" bentak Katashi menunjukkan jari telunjuknya ke depan wajah Izumi.
Izumi terdiam seribu bahasa. Dia hanya bisa menangis histeris.
"Ramalan cenayang itu benar. Harusnya aku membunuh Hiro sejak awal menangkapnya. Tetapi karena ulahmu, aku terlambat melakukannya!" ungkap Katashi. Rahangnya mengerat kesal.
Izumi memang sengaja mengalihkan perhatian Katashi ketika Hiro disekap. Dia langsung melakukannya setelah mencari tahu semua fakta tentang ayah dan kakaknya. Izumi merasa dikhianati bertahun-tahun. Belum lagi banyaknya tindakan kriminal yang dilakukan oleh Katashi dan Itsuki.
"Sekarang kita sudah kehilangan segalanya karena anak itu. Aku tidak mau hidup menanggung malu!" Katashi menegaskan. "Peganglah pisaumu itu!" titahnya, memaksa.
"Hiro, apa kau ingat gadis yang kumarahi saat di rumah sakit?" Akira mendadak bersuara.
"Maksudmu Izumi?" respon Hiro.
"Benar, dia. Gadis itu diam-diam membantuku saat masih ditawan. Kasihan sekali dia, jika Katashi--"
"Ibu, aku akan kembali!" potong Hiro sembari beranjak pergi dengan tergesak-gesak. Dia menghampiri Shima dan yang lain. Menanyakan tentang Izumi, kalau-kalau mereka kebetulan tahu.
"Izumi? aku sama sekali tidak melihat kehadirannya..." jawab Shima ragu.
__ADS_1
"Aku tidak pernah bertemu dengan Izumi, yang kutahu, aku menyaksikan seorang gadis pergi bersama Katashi menggunakan mobil," imbuh Chen Fu, yang seketika membuat mata Hiro membulat.
Hiro segera mengajak Shima dan yang lain untuk mencari Izumi. Dia merasakan firasat buruk yang kuat. Hiro menggunakan daftar bangunan milik Katashi yang sempat dia temukan sebelumnya.
"Kita harus memeriksa bangunan yang ada disekitaran gunung Fuji terlebih dahulu. Ada tiga bangunan selain di tempat ini. Salah satunya adalah villa yang pernah aku datangi. Aku ingin kita berpencar!" terang Hiro. Dia dan yang lain langsung bergerak untuk melakukan pencarian.
Hiro pergi bersama Chen Fu, sedangkan Hana dengan Shima. Kali ini Hiro dan Shima harus memisah, karena keduanya sama-sama belum lihai mengendarai mobil. Apalagi kini mereka sedang dikejar-kejar oleh waktu. Jadi mereka harus mengemudi dengan kecepatan maksimal.
Shima dan Hana memeriksa villa terlebih dahulu Sedangkan Hiro dan Chen Fu pergi ke tempat lain, yaitu sebuah rumah tersembunyi dipinggiran hutan Aokigahara.
"Ugh, hutan ini..." gumam Chen Fu tiba-tiba. Dia merasa bergidik ngeri ketika menyaksikan hutan yang nampak di pinggiran jalan.
"Kenapa?" tanya Hiro, yang tak tahu.
"Hutan ini merupakan tempat populer untuk bunuh diri," terang Chen Fu sambil fokus dengan kemudinya.
"Kalau begitu cepatlah! mungkin saja Katashi berniat melakukan bunuh diri bersama Izumi!" desak Hiro. Dia menyimpulkan dengan asal.
Di sisi lain, Izumi telah memegang pisau pemberian ayahnya sendiri. Dia akan melakukannya bersama-sama dengan Katashi.
"Kita akan bertemu di alam baka, putriku..." Katashi memegang lembut lengan Izumi. Kemudian segera menusukkan pisau ke bagian perut kirinya.
"Arrghhh..." Katashi berusaha menahan teriakannya. Perlahan dia menarik pisaunya yang masih tertancap ke sisi perut kanan. Bagian perutnya sekarang robek. Mengeluarkan darah yang sangat banyak. Organ dalamnya mulai menjulur keluar.
Izumi yang melihat gemetar ketakutan. Dia merasa tidak tega menyaksikan sang ayah. Izumi sebenarnya bisa kabur. Tetapi dia merasa apa yang dikatakan Katashi benar. Dirinya hanya akan menanggung malu jika terus bertahan hidup. Izumi sedari tadi sudah memikirkannya baik-baik. Alhasil kini gadis itu menancapkan pisau ke perutnya.
"Aaakhh...." Izumi mengerang kesakitan. Dia mengatur deru nafasnya. Matanya terpejam rapat. Saat itulah indera penglihatannya menangkap sinar dari luar rumah. Sebuah cahaya yang berasal dari lampu mobil.
__ADS_1
Dari balik pintu muncullah Hiro. Dia langsung berlari menghampiri Izumi.
"IZUMI!!" pekik Hiro histeris. Dia tidak peduli dengan keadaan Katashi, dan hanya bergegas menyelamatkan Izumi. Gadis tersebut tampak lemah, karena sudah sempat mensukkan pisau ke perutnya. Hiro lekas-lekas menarik pisau itu dari perut Izumi, lalu menggendongnya dengan kedua tangannya. Membawanya masuk ke dalam mobil, kemudian beranjak menuju rumah sakit.