Reincarnation : A Quite Revenge

Reincarnation : A Quite Revenge
Bab 78 - Kembali Ke Hotel


__ADS_3

Tanpa pikir panjang, Hana langsung menginjak pedal gas sekuat tenaga. Melajukan mobil dalam kecepatan tinggi, tepat menuju pintu gerbang. Tindakannya sontak membuat semua orang-orang Nakagawa kalang kabut. Mereka terpaksa menghindar dari mobil yang dibawa oleh Hana.


"Kejar mereka! CEPAT!" teriak salah satu orang Nakagawa kepada kawanannya. Beberapa dari mereka segera mencari mobil yang dapat digunakan untuk melakukan pengejaran.


Hana telah berhasil keluar dari area parkiran VIP. Sekarang gadis itu menjalankan mobil keluar dari lingkungan hotel. Masih dengan kelajuan yang hampir tak terkendali.


"Hentikan Hana! kita harus keluar dari mobil ini sebelum mereka berhasil mengejar!" perintah Hiro sambil sesekali menengok ke arah belakang.


"Hiro benar! lagi pula kejar-kejaran dengan mobil sangatlah mengerikan." Shima berkomentar.


Mendengar perkataan kedua temannya, Hana lantas memelankan dan menghentikan mobil ke pinggir jalan. Selanjutnya dia, Hiro dan Shima bergegas keluar dari mobil. Berlari sejauh mungkin tanpa arah yang jelas. Sebab bagi mereka menghilangkan jejak adalah yang terpenting.


"Eh tunggu, black box!" gumam Hana. Dia kembali memasuki mobil, demi mengambil benda kecil, yang mungkin saja akan digunakan komplotan Nakagawa untuk mencarinya.


Hiro dan Shima berhenti untuk menunggu. Setelah Hana melanjutkan larinya, keduanya lantas kembali melajukan pergerakan kaki. Pergi ke pusat kota agar bisa berbaur dengan keramaian. Meskipun sudah dini hari, kota Tokyo selalu terlihat sibuk oleh banyaknya manusia.



Ketiganya sekarang berada di pusat kota Tokyo. Sudah mengganti pakaian dengan model biasa. Duduk di sebuah bar yang kebetulan buka dua puluh empat jam. Mereka saling terdiam dan menatap minuman yang ada di meja.


"Mereka tidak akan mengejar kita lagi kan?" tanya Hana. Menatap Hiro dengan sudut matanya.


"Tidak akan. Kita bahkan bisa kembali ke hotel. Aku yakin mereka tidak akan mengenali kita," sahut Hiro. Kemudian meraih segelas minumannya. Yaitu sebuah alkohol yang sengaja diberikan oleh pemilik bar.


"Aku harap Paman baik-baik saja..." lirih Shima. Menunduk sendu sambil memikirkan Kogoro yang entah bagaimana kabarnya. Dia ikut menenggak alkohol bersama Hiro. Hal serupa juga dilakukan Hana.


"Anak muda! bilang saja kalau ingin lagi, oke?" ujar pemilil bar yang mendadak bicara. Menyebabkan dahi Hana mengerut heran.


"Tuan, kau tahu kalau kami--"

__ADS_1


"Aku tahu. Minum saja yang aku berikan!" sang pemilik bar sengaja memotong ucapan Hana. Seolah mengerti terhadap apa yang akan diberitahukan gadis tersebut.


"Sudahlah Hana! mungkin dia menyuruh kita menghangatkan badan dengan alkohol." Hiro memasang raut wajah datar, lalu kembali menenggak minumannya.


"Hiro, apa kau punya rencana untuk menyelamatkan pamanku? aku tidak bisa berhenti memikirkannya." Shima bertanya sembari memegangi bagian kepala dengan kedua tangan.


"Sekarang bukan waktu yang tepat! kau lihat sendiri kan banyaknya orang yang berjaga di sekitaran ruang bawah tanah. Aku yakin itu bukan tempat biasa!" terang Hiro panjang lebar. "Kita butuh orang yang banyak dan rencana matang untuk menyelinap ke sana. Semoga Kogoro baik-baik saja," sambungnya penuh harap. Nafasnya menghembus melewati mulut.


Hana yang sedari tadi membisu, akhirnya buka suara, "Aku pikir kita harus kembali ke hotel. Agar mereka tidak curiga!"


"Aku juga berpikir begitu. Aku yakin mereka pasti akan memeriksa tamu hotel satu per satu. Kita harus kembali, setidaknya untuk mengambil barang-barang yang tertinggal!" Hiro sependapat dengan Hana. Sementara Shima, masih terlihat frustasi dan sendu. Pikirannya sedang tidak karuan.


"Shima, aku berjanji akan menyelamatkan pamanmu. Tetapi kita butuh waktu untuk mempersiapkan segalanya. Menyelinap ke sana bukanlah perkara yang mudah. Apalagi tanpa adanya strategi yang matang!" Hiro mencoba menenangkan Shima yang nampak gelisah.


"Aku tahu. Bolehkah aku tidak ikut pergi ke hotel? sekarang yang aku inginkan hanyalah menemui Shiro," tutur Shima. Menatap Hiro dan Hana secara bergantian.


"Dan Shima... beritahu saja orang-orang di apartemen Guree, mengenai apa yang telah terjadi kepada Kogoro. Aku yakin mereka bisa membantu kita!" ujar Hana. Menyebabkan kepala Shima otomatis mengangguk.


Shima benar-benar memisah. Dia berjalan dengan kepala tertunduk. Hanya melambaikan tangan ke belakang tanpa menoleh ke arah Hiro dan Hana.


"Bagaimana jika mereka menangkap semua tamu hotel yang baru saja kembali?" tukas Hana sembari memposisikan diri berjalan di sebelah Hiro.


"Aku yakin tidak. Percayalah! jika mereka curiga, aku punya rencana agar mereka tidak mengganggu kita!" balas Hiro. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana. Melangkah lurus bersama Hana untuk kembali mendatangi hotel Nakagawa Starlive.


Setelah memakan waktu beberapa menit, Hiro dan Hana tiba di hotel. Mereka menyaksikan keadaan hotel terlihat sepi dari luar. Hanya ada sekitar tiga pihak keamanan yang berkumpul di lobi. Mereka melayangkan tatapan curiga terhadap Hiro dan Hana yang baru masuk. Hal serupa juga dilakukan oleh resepsionis yang berjaga.


Akibat merasa dicurigai, Hiro memaksa Hana untuk masuk ke dalam rangkulannya. Kemudian lekas-lekas berderap memasuki lift.


"Jika salah satu dari mereka ikut masuk, maka aku akan menciummu!" ucap Hiro yang sontak membuat mata Hana terbelalak.

__ADS_1


"Itukah rencanamu dari awal?" respon Hana. Matanya tertuju ke arah pintu lift. Berharap pintunya bisa menutup secepat mungkin. Hingga tidak ada orang yang mencegat masuk.


"Apa kau punya cara lain, agar mereka tidak berusaha mengganggu?" Hiro menoleh ke arah Hana. Dia juga berharap liftnya segera cepat-cepat tertutup.


Ketika pintu lift benar-benar hampir menutup, sebuah tangan mendadak menghambatnya. Hiro lantas dengan sigap menarik Hana untuk mendekat. Lalu mengulum bibir gadis itu. Keduanya saling memeluk dan langsung memadu dengan intens.


Benar saja, apa yang dilakukan Hiro dan Hana, berhasil membuat pihak keamanan ragu untuk memasuki lift. Dia yang sempat berseringai, langsung memasang raut wajah canggung.


"A-aku rasa bukan mereka!" ungkap lelaki bersetelan keamanan khusus hotel Nakagawa Starlive itu.


"Benar, lagi pula mereka hanya berdua. Sedangkan yang kita cari ada tiga orang," rekan dari lelaki sesama pihak keamanan membalas dengan nada berbisik. "Dasar anak muda tidak tahu malu!" gerutunya. Dia dan temannya tidak jadi masuk ke dalam lift.


Pintu lift kini sudah tertutup rapat. Hiro segera melepaskan tautan bibirnya dari Hana dan berupaya menjauh. Namun Hana menahannya. Berniat hendak mencium Hiro kembali.


"Hana, aku pikir tidak baik jika kita melakukannya sekarang," ungkap Hiro, menolak. Dia merasa tidak enak bersenang-senang sendiri, sementara Kogoro dan Shima berada dalam kesulitan.


Hana tersenyum kecut. Lalu menjauhkan diri dari Hiro. Dia merasa sangat malu bukan kepalang.


"Aku menolak bukan karena tidak tertarik. Hanya saja aku merasa ikut sedikit gelisah dengan apa yang telah terjadi kepada Shima dan--"


"Diamlah, Hiro. Aku tidak ingin membahasnya!" potong Hana sambil membuang muka.


Hiro menghela nafas panjang. Dia lebih dahulu melangkah keluar dan masuk ke dalam kamar.


"Kita lebih baik pergi saat pagi saja, agar mereka tidak curiga lagi," kata Hiro sembari menghempaskan badannya ke sofa. Sedangkan Hana terlihat sudah masuk ke dalam kamar mandi.


Catatan kaki :


Black box : Alat perekam data perjalanan.

__ADS_1


__ADS_2