
Sesosok lelaki bersama seorang pengawalnya, baru saja masuk ke kantor polisi. Dialah Itsuki yang tampak menunjukkan raut wajah panik. Dia bergegas menghampiri sang adik dan menanyakan keadaannya.
"Kau tidak terluka kan? apa penjahat itu melakukan sesuatu yang buruk?!" tanya Itsuki gelagapan seraya mengernyitkan kening.
"Aku tidak apa-apa. Semuanya, karena Hiro... Lagi!" sahut Izumi sambil menunjuk Hiro dengan dagunya.
Perlahan Itsuki memindahkan penglihatannya kepada Hiro dan berkata, "Aku tidak tahu harus bagaimana untuk membalas kebaikanmu." Dia menampakkan binar penuh kekaguman disorot matanya.
Hiro hanya tersenyum tipis. Dia benar-benar terpaksa melakukannya. Sebenarnya dirinya sangat ingin melayangkan satu tinju atau tendangan ke wajah Ituski.
Selanjutnya, Itsuki kembali menoleh ke arah Izumi. Dia menarik adiknya itu untuk berdiri, kemudian memarahinya.
"Sudah kubilangkan, jangan keluar rumah sendirian. Setidaknya bawalah satu pengawal untuk menjagamu. Kau lihat kan jadinya?! pokoknya mulai hari ini aku tidak akan membiarkanmu keluar dari rumah sendirian!!" geram Itsuki dengan nada penuh penekanan. Membuat kepala Izumi menunduk malu. Gadis tersebut terlihat ciut menghadapi kemarahan kakaknya.
Perlahan Shima mendekatkan mulut ke telinga Hiro. "Sepertinya orang yang bisa membuat Izumi ketakutan adalah Itsuki," bisiknya pelan.
Hiro lekas-lekas menyenggol Shima, agar kawannya itu segera menjauh. Sebab bola mata Izumi tiba-tiba di alihkan ke arahnya. Gadis tersebut menatap Hiro dengan sudut matanya. Mengerjap beberapa kali. Seakan memikirkan sesuatu.
Setelah menghabiskan waktu hampir tiga jam di kantor polisi, Hiro dan yang lain akhirnya diperbolehkan pergi. Kecuali pria berambut gondrong, dia mendapatkan kemarahan dan hukuman dari Itsuki. Ditambah Izumi selaku korban penculikan, juga sepemikiran dengan sang kakak. Dia bahkan sempat memanas-manasi Itsuki, agar memarahi habis-habisan si pria berambut gondrong.
Polisi yang baru mengetahui kalau Izumi adalah bagian keluarga Nakagawa, langsung tunduk. Mereka bahkan bersikap seperti penjilat. Memperlakukan Itsuki dan Izumi seperti raja dan ratu. Hiro dan Shima yang kebetulan ada di sana, juga kena imbas kebaikan mereka.
Hiro dan Shima memutuskan untuk langsung pulang. Toh Itsuki terlihat sibuk meneruskan omelannya kepada Izumi. Namun belum sempat melangkah jauh, Itsuki mendadak memanggil. Dia menyuruh Hiro dan Shima untuk kembali.
"Kami akan mengantar kalian pulang," tawar Itsuki. Salah satu pengawalnya lantas membukakan pintu mobil. Seolah memaksa Hiro dan Shima untuk segera masuk.
__ADS_1
"Ayolah!" Izumi menarik Hiro dan Shima, lalu membawa mereka masuk ke dalam mobil.
Kini semua orang ada di dalam mobil. Hiro, Shima dan Izumi duduk di belakang. Sedangkan Itsuki duduk di samping sopir yang tidak lain adalah pengawalnya. Keheningan terjadi ketika mobil sudah dijalankan ke jalanan beraspal.
Hiro duduk di tengah, di sebelah kanannya ada Izumi, dan dibagian kirinya terdapat Shima.
Dari kanan, sudut mata Hiro mampu menyadari seseorang yang terus menatapnya. Dia sontak memastikannya dengan cara menoleh. Izumi tertangkap basah, dia reflek membulatkan mata. Gadis tersebut terkesiap.
"Hiro, apa benar kau ahli melakukan bela diri? Izumi baru saja memberitahuku tadi." Itsuki mendadak berbicara, dan mengharuskan Hiro mengalihkan pandangan ke arah depan.
Izumi segera membuang muka dengan gelagapan. Tangannya secara alami mengaitkan helaian rambut ke daun telinga. Memperlihatkan wajah tirusnya kepada Hiro. Menurut tafsiran Psikologi tindakannya tersebut menunjukkan ketertarikan. Namun Hiro sama sekali tidak peduli akan hal itu.
"Begitulah... memangnya kenapa?" sahut Hiro, memasang mimik wajah serius. Dia fokus menatap wajah Itsuki dari cermin cembung yang ada di depan. "Apa kau mau bertanding denganku?" lanjutnya, yang tidak bisa lagi menahan diri. Membuat Shima bergegas menyenggol Hiro dengan sikunya.
"Hahahaha...." untung saja Itsuki menganggap tawaran Hiro sebagai candaan. Dia bahkan tertawa sampai menepuk-nepuk pahanya sendiri.
Tanpa diduga, Izumi mencubit lengan Hiro. Dia nampaknya juga menantang keputusan Hiro yang terkesan nekat. Memang, berbuat nekat sudah menjadi kebiasaan Hiro.
"Kenapa kau--" Hiro melotot tajam ke arah Izumi. Cubitan Izumi menimbulkan rasa nyeri yang lumayan.
"Jangan gila! kakakku banyak menguasai bela diri. Kamu pasti akan babak belur!" Izumi menjelaskan dengan nada berbisik. Dahinya berkerut dalam. Hiro yang sempat melotot perlahan menghentikan ekspresi tersebut. Dia tidak ingin menunjukkan kebenciannya kepada Izumi sebelum waktunya. Alhasil kini Hiro berusaha menahan diri.
Itsuki perlahan menghentikan tawanya dan menjawab, "Kamu sepertinya memang tidak kenal takut ya?"
"Mungkin," jawab Hiro. Meskipun dua orang sudah mencoba menghentikan keinginannya, dia tak acuh.
Shima dan Izumi hanya bisa geleng kepala. Mereka sekarang membisu, dan membiarkan Hiro berbuat sesuka hati. Sebab resikonya pasti akan ditanggung oleh Hiro sendiri.
__ADS_1
"Kebetulan beberapa hari lagi kami akan mengadakan sebuah acara di rumah. Mungkin kita bisa membicarakan pertandingannya saat itu. Sekalian juga makan malam bersama. Anggap saja itu ucapan terima kasihku dan Izumi," tutur Itsuki sembari berseringai. Dia tentu berpikir Hiro adalah lawan yang mudah.
"Ah benar. Kau harus datang!" ujar Izumi seraya menoleh ke arah Hiro. Matanya tidak sengaja terfokus kepada Shima yang duduk di sebelah Hiro. Dia lantas memperbaiki kalimatnya, "Maksudku, kalian berdua!"
"Kami pasti datang!" sahut Hiro dengan senyuman lebar. Rencananya akhirnya berjalan sempurna. Dia berhasil diundang ke rumah Nakagawa. Ditambah Shima juga bisa ikut menemaninya. Benar-benar jackpot yang tak terduga.
Mobil berhenti secara perlahan, karena sudah sampai di depan rumah Hiro dan Shima. Untung saja Akira masih di rumah sakit, jadi tidak akan ada kekacauan yang terjadi.
Hiro dan Shima sedikit membungkukkan badan untuk mengucapkan terima kasih. Itsuki terlihat tersenyum lebar dari balik jendela mobil yang terbuka. Hal yang sama juga dilakukan Izumi, tetapi bedanya dia hanya menatap ke arah Hiro seorang.
Perlahan mobil mereka dijalankan kembali, dan menjauh ditelan oleh jarak.
"Apa kau melihat Izumi? dia tadi terus menatapmu," ujar Shima sambil terkekeh untuk mengejek. Dia dan Hiro berjalan beriringan setelah memastikan Itsuki serta Izumi telah pergi. "Dia pasti sudah jatuh cinta kepadamu, karena kau sudah beberapa kali menyelamatkannya. Bukankah tindakanmu agak berlebihan?" lanjutnya yang seketika membuat langkah Hiro terhenti.
"Kau tahu kan kejadian tidak terduga tersebut bukanlah rencanaku, tetapi aku percaya kalau itu adalah bantuan dari Dewa," balas Hiro seraya memasukkan kedua tangan ke saku celananya. Mengangkat kedua bahunya sekali.
"Maksudmu, ketika kau tidak sengaja menemui Izumi dalam bahaya?" imbuh Shima, seraya melangkah menuju rumahnya. Hiro pun mengiyakan dengan anggukan kepala.
"Semoga saja kau tidak jatuh cinta kepadanya," ucap Shima seraya melirik Hiro melalui ekor matanya. Memastikan ekspresi sahabatnya.
"Itu tidak akan terjadi. Aku bahkan sama sekali tidak berminat melihat wajahnya!" ucap Hiro, berderap membarengi Shima. "Tadi bahkan aku sempat mempelototi Izumi, dan hampir memarahinya. Untung saja tidak kelepasan!" tambahnya.
Shima hanya tergelak kecil, kala mendengar gerutuan Hiro mengenai betapa sakitnya cubitan Izumi.
"Izumi padahal cantik bukan?" ungkap Shima, berpendapat. Dia memang tidak bisa menampik paras rupawan dari Izumi.
Hiro mengangguk untuk mengiyakan. "Tetapi sayang, sikap kejamnya-lah yang membuat wajah cantiknya menjadi lusuh!" ejek Hiro, lalu tertawa bersama Shima.
__ADS_1
Setelah meminum beberapa teguk air putih, Hiro langsung mengganti baju. Kemudian beranjak pergi ke rumah sakit. Dirinya tidak akan lupa untuk memastikan keadaan Akira. Selanjutnya dia berniat akan berlatih bersama Shima di apartemen Guree.