Restart: Mafia Second Chance

Restart: Mafia Second Chance
First Blood


__ADS_3

"tidak salah lagi! dia itu orang-nya!" ucap salah satu pria itu dengan suara keras.


"hahaha, ini makin mendebarkan saja! rasa-nya malam ini aku benar-benar akan menggila!" ucap Erwin dalam hati sambil berseringai menatap lima pria yang berjalan mendekati diri-nya. "pertama-tama yang harus kulakukan untuk mengalahkan mereka adalah...."


~WHUSS~


"kabur!" ucap Erwin dengan wajah sedikit panik sambil berlari dari tempat itu.


melihat Erwin yang langsung kabur dengan cepat, kelima pria itu langsung mengejar Erwin dengan tergesa-gesa.


"jangan biarkan dia lolos!"


"dia harus menanggung akibat-nya karena sudah mengusik tim kita!"


"kalau ketemu langsung bunuh saja!"


"tidak! lebih baik kita siksa dulu baru bunuh!"


"potong tit*t-nya biar makin greget!"


kelima pria itu terus berlari mengejar Erwin. hingga akhirnya mereka mulai kehilangan jejak Erwin di sebuah persimpangan lorong perumahan tua yang sudah lusuh dan tak terpakai akibat bekas bencana alam.


"sebaik-nya kita berpencar untuk mencari-nya!" ucap salah satu pria yang paling kuat di antara mereka.


"ya kau benar! tapi harus ada salah satu dari kita yang berjalan sendiri, dan ku harap kau mau berjalan sendiri." timpal salah satu-nya lagi sambil tersenyum aneh.


"kalian semua para pecundang lebih baik jalan berdua! cukup aku saja yang jalan sendiri!" balas pria itu dengan tegas dan langsung berjalan lurus ke salah satu lorong.


kemudian salah satu pria yang menyarankan si kuat itu jalan sendiri kini memerintahkan dua teman-nya untuk mencari di lorong yang satu-nya, dan kemudian ia bersama teman satu-nya lagi berjalan ke lorong yang cukup jauh dari tempat mereka berdiri.


saat ini kelima pria itu mulai berjalan maju di jalan yang mereka pilih.


note: kita sebut saja si kuat itu dengan nama A.


saat ini, si A sedang berjalan seorang diri. ia tampak sangat waspada karena tempat yang ia lalui ini sangat-lah gelap.

__ADS_1


sejak memasuki lorong yang gelap itu, si A sudah mengambil sebuah pistol yang ia sembunyikan di balik baju-nya.


si A terus berjalan dengan waspada, ia tak henti-hentinya mengedarkan pandangan-nya ke kiri dan kanan. namun tiba-tiba sosok bayangan hitam menjatuhkan diri dari atas pohon yang ada di lorong itu.


~WHUSS~


~KRAKK!!~


kepala si A saat ini sudah berputar hingga kepala-nya menghadap ke belakang tubuh-nya.


ya, kepala si A patah! dan si A langsung mati seketika.


tubuh-nya langsung terjatuh begitu saja tanpa perlawanan.


note: saat ini Erwin sudah menggunakan kaus tangan-nya untuk menghindari deteksi sidik jari.


"kalau jalan jangan hanya lihat kiri kanan! tapi lihat juga ke atas!" ucap Erwin dengan tatapan sinis pada si A.


sesaat kemudian Erwin langsung mengambil pistol dari tangan si A, dan ia pun tertawa kecil. "hahaha, aku merasa seperti orang gila karena bicara dengan mayat." ucap Erwin yang kemudian berlalu dari tempat itu.


tujuan Erwin mengalahkan si A, karena si A satu-satunya yang menggunakan senjata api.


"selama ketua tim mereka sudah mati, maka aku tidak akan kesulitan menghadapi sisa-nya." batin Erwin sambil bergerak ke tempat-tempat yang mungkin akan di lewati oleh anggota tim si A.


setelah sampai di sebuah lorong yang gelap, Erwin menunggu di sana, dan tak lama kemudian si B dan si C berjalan di lorong itu.


Erwin melihat kalau si B dan si C tidak memiliki senjata api, mereka berdua tampak hanya memegang sebilah pisau di tangan mereka masing-masing.


Erwin yang melihat hal itu langsung berseringai licik.


"rasa-nya kurang greget kalau langsung membunuh mereka menggunakan pistol."


setelah berkata seperti itu, Erwin langsung menyergap si B dan si C.


Erwin berlari dengan sangat cepat lalu melompat ke arah si B dan membuat lutut-nya menghantam wajah si B sehingga si B langsung terpental cukup jauh dengan keadaan hidung yang mengeluarkan darah.

__ADS_1


si C yang melihat hal itu terkejut sesaat. namun diri-nya langsung berusaha menyadarkan diri ketika sebuah tendangan mengarah ke wajah-nya.


si C yang melihat tendangan itu tentu-nya langsung memblokir serangan itu dengan kedua tangan-nya. namun, meskipun begitu si C tetap terlempar hingga tubuh-nya menghantam dinding lorong dengan sangat kuat.


"kalau aku jadi kau, aku akan menahan tendangan dengan satu tangan sekaligus menusuk kaki yang menendang-ku!" ucap Erwin dengan tatapan meremehkan si C yang saat ini berusaha berdiri.


sementara itu, si B yang kini sudah berdiri langsung berlari ke arah Erwin sambil berteriak dengan penuh ambisi untuk membunuh Erwin.


"mati kau!!" teriak si B sambil mengayunkan pisau-nya ke arah Erwin.


Erwin yang menyadari hal itu tentu-nya langsung refleks.


bahkan sebelum pisau si B menjangkau diri-nya, Erwin langsung merendahkan tubuh-nya sambil melakukan tendangan ke belakang yang tepat mengenai ulu hati si B.


tendangan Erwin yang sangat kuat itu membuat si B terhempas hingga berguling berkali-kali di jalan.


"jangan pernah berteriak jika memang ingin menyerang dari belakang!" ucap Erwin dengan sedikit angkuh.


sementara itu, si C kini maju menyerang Erwin. namun hal itu di sadari oleh Erwin karena meskipun Erwin sedikit angkuh, namun ia sangat jarang mengendorkan kewaspadaan-nya terhadap musuh.


si C terus mengayunkan pisau-nya secara membabi buta. namun semua serangan-nya bisa di hindari oleh Erwin. saat ini Erwin berusaha menghindar sambil mencari celah untuk menangkap pisau dari tangan si C.


pada akhir-nya, saat si C menusuk-kan pisau-nya ke arah Erwin, Erwin pun melihat celah dan langsung menangkis serangan mencengkram tangan si C yang memegangi pisau. lalu Erwin dengan cepat langsung mengayun-kan tinju-nya ke tenggorokan si C sehingga si C menunduk karena refleks.


tanpa membuang kesempatan, Erwin langsung menarik kepala si C ke bawah dan langsung menghantam-kan wajah si C ke lutut-nya.


kini hidung si C mengeluarkan banyak darah, begitu pula dengan mulut-nya.


lalu Erwin langsung menarik si C dan melempar-nya ke arah si B.


saat si C menabrak si B yang sedang berusaha menyeimbangkan tubuh-nya untuk berdiri, Erwin pun langsung menendang mereka berdua sehingga mereka berdua terlempar bersama-sama.


kemudian Erwin berjalan mendekati si B dan si C yang sedang sekarat dan kesulitan untuk berdiri.


"aku yakin kalian pasti sudah sering melakukan kekejaman seperti ini pada orang lain. jadi anggap saja ini sebagai karma bagi kalian!" ucap Erwin dengan tatapan tajam yang penuh intimidasi.

__ADS_1


kemudian Erwin mengambil salah satu pisau mereka, dan tanpa ragu-ragu Erwin langsung mengger*k leher si B dan si C saat mereka masih dalam keadaan bernyawa.


hal itu pun membuat darah dari leher si B dan si C merembes keluar bagaikan air mancur yang membasahi jalanan.


__ADS_2