
"ka-kau menebak-nya hanya dengan informasi seperti itu? apa kau tidak berpikir kalau pendapat-mu itu bisa saja salah!" ucap Lepi dengan lantang.
Erwin yang mendengar hal itu langsung tersenyum licik.
"itulah guna-nya aku melakukan hal tadi, dengan begitu aku bisa memastikan kebenaran dari pendapat-ku." jelas Erwin dengan tenang.
"hah...." Lepi menghela nafas-nya sambil melemaskan tubuh-nya. lanjut-nya. "kau ini benar-benar anak yang nekat! kau memang masih sangat muda, tapi tindakan-mu justru tidak menunjuk-kan usia-mu." ucap Lepi lalu menimpali perkataan-nya. "baiklah, aku terima permintaan-mu! mulai hari ini kita bekerjasama!" ucap Lepi dengan lantang sambil menyodorkan tangan-nya.
lalu Erwin pun menyambut tangan Lepi dan langsung berjabat tangan dengan Lepi.
"mohon kerjasama-nya mulai saat ini dan ke depan-nya." balas Erwin sambil tersenyum puas.
Setelah itu mereka berdua mulai berbincang dan berbasa-basi sambil membicarakan masalah ke depan-nya.
tak lama kemudian Erwin dan Lepi mendengar suara sirene mobil polisi yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi.
"hahaha untung saja kita cepat melarikan diri dari tempat kejadian, jika terlambat mungkin kita akan di kejar-kejar oleh pihak kepolisian." ucap Lepi sambil tertawa kecil dan berjalan ke jendela dan menatap rombongan mobil polisi dari ruang kerja-nya di lantai dua itu.
"kalau keadaan-nya seperti ini terus, maka ke depan-nya kita tidak akan bisa bebas menggunakan senjata api agar kepolisian tidak mengganggu." ucap Erwin yang juga menoleh ke arah luar jendela.
******
Hari kini sudah siang, di sebuah kamar yang tampak sedikit berantakan berbaring seorang pemuda tampan di atas ranjang.
pemuda itu kini menggerak-kan jari tangan-nya, dan beberapa saat kemudian ia perlahan membuka mata-nya.
setelah itu Erwin kini langsung bangun dan duduk di atas ranjang-nya dengan tatapan yang masih sayu dan dengan tubuh yang masih tampak lemas.
hari ini Erwin memang sengaja bangun kesiangan karena sebelum-nya dia memang sudah di skorsing dari sekolah selama satu Minggu penuh.
setelah itu Erwin perlahan menatap handphone-nya dan segera meraih handphone itu dan langsung menghubungi Nirmala.
__ADS_1
"halo...." ucap Erwin saat panggilan-nya terhubung.
[ya Rinso....] ucap Nirmala dengan nada mengejek.
"panggil aku Son. aku bisa malu jika kau memanggil-ku seperti itu di depan umum." balas Erwin dengan suara yang masih terdengar tidak bersemangat.
[hahaha..... baiklah. jadi apa yang kau inginkan kali ini?] tanya Nirmala.
"kau ada waktu luang sekarang?" Erwin balik bertanya.
[iya, sekarang aku sedang luang, memang-nya kenapa?] jawab Nirmala lalu kembali bertanya.
"bisa kita bertemu sekarang?" tanya Erwin lagi sambil berdiri dan berjalan ke arah jendela dan membuka gorden jendela-nya.
******
Saat ini, di sebuah kantor kepolisian tampak seorang komandan polisi yang sedang duduk di meja kerja-nya.
selain itu, tampak seorang anggota polisi yang berdiri di depan meja-nya sedang menjelaskan laporan mengenai aksi tembak-tembakan dan ledakan bom yang terjadi tadi malam.
komandan polisi itu langsung memegang kepala-nya sambil sedikit mengusap-nya karena sudah cukup pusing memikirkan tentang masalah yang menewaskan banyak korban ini.
"hah...." komandan polisi itu menghela nafas panjang dengan ekspresi lesu. lanjut-nya, "jika terus seperti ini maka akan semakin banyak korban jiwa yang akan berjatuhan."
"oh iya, sebelum-nya aku juga dengar kalau pihak tentara juga akan turun tangan untuk menjaga keamanan dalam kota, berdasarkan laporan yang mereka berikan mereka akan membuat beberapa pos di beberapa tempat agar mempermudah mereka dalam menangani jika ada laporan aksi tembak-tembakan seperti ini lagi." jelas anggota polisi itu.
"hm.... mereka itu cukup cepat juga untuk menindaki hal ini." gumam komandan polisi itu lalu menimpali-nya. "baiklah, mulai malam ini kita akan mulai berpatroli dan memperketat penjagaan di malam hari." ucap komandan itu dengan nada memerintah.
note: Thor tidak tau jelas bagaiman sistem di kepolisian, jadi kalo ada yang salah mohon di maklumi dan di beri masukan.
******
__ADS_1
Saat ini, Erwin tiba di depan restoran yang cukup besar dan mewah. lalu Erwin yang sedang mengendarai motor-nya langsung mampir di restoran itu dan memarkir motor-nya di tempat parkiran.
setelah itu, Erwin langsung berjalan memasuki restoran itu dan mulai mengedarkan pandangan-nya saat ia sudah berada di dalam restoran.
Tak butuh waktu lama bagi Erwin untuk mengedarkan pandangan-nya, dan kini ia langsung bisa melihat Nirmala yang sedang duduk di salah satu meja makan sambil menopang dagu dan memainkan sedotan jus jeruk yang ada di gelas-nya.
setelah itu Erwin langsung berjalan dan menghampiri Nirmala.
"apa kau sudah lama menunggu?" tanya Erwin saat sudah berada di depan Nirmala.
"yah, lumayan lama." balas Nirmala tanpa menoleh pada Erwin sambil pasang ekspresi cemberut.
Erwin yang melihat tingkah Nirmala itu hanya tertawa kecil dan tidak membalas perkataan Nirmala.
lalu Erwin langsung menarik kursi di depan-nya dan langsung duduk di depan Nirmala.
"maaf sudah membuat-mu menunggu." ucap Erwin yang berusaha membuat Nirmala kembali memperhatikan diri-nya.
"ya, ku maaf-kan." ucap Nirmala yang masih tidak menoleh pada Erwin.
"hah...." Erwin menghela nafas cukup panjang. "tolong jangan cemberut seperti itu terus, aku punya hal penting yang harus ku minta dari-mu." ucap Erwin yang kemudian mengambil buku menu di atas meja.
"hal penting? apa itu?" tanya Nirmala sambil menoleh pada Erwin dengan tatapan yang tampak merasa sedikit tertarik.
"hal penting itu menyangkut kelangsungan hidup-ku." jawab Erwin dengan ekspresi yang sangat serius.
"kalau begitu segera katakan!" ucap Nirmala yang langsung tampak perhatian.
"sebenar-nya saat ini aku lapar! jika tidak makan aku akan mati!" jawab Erwin dengan antusias.
Mendengar perkataan Erwin itu langsung membuat Nirmala membuang pandangan-nya ke samping dengan ekspresi malas.
__ADS_1
"pesan saja sesuka-mu." ucap Nirmala dengan nada yang datar.
"hahaha, kalau begitu aku tidak akan sungkan!" ucap Erwin dengan tawa kemenangan.