
Mendengar perkataan Airin itu membuat Erwin langsung terdiam karena sejak tadi ia sudah menduga hal itu.
setelah itu Airin mulai menjelaskan lagi apa yang terjadi saat ia membunuh orang i
tua-nya.
"hari di mana aku membunuh kedua orang tua-ku. saat itu aku terbangun di tengah malam. tangan-ku sedang memegang sebilah pisau, dan tangan-ku berlumuran darah." jelas Airin sambil mengelap air mata-nya. lanjut-nya, "setelah itu aku mendengar suara ibu-ku.... lalu aku pun langsung menoleh ke arah suara itu dan melihat perut ibu-ku yang bocor dan mengeluarkan banyak darah.... saat itu, sebelum ibu-ku menghembuskan nafas terakhir-nya, ia berkata pada-ku, 'dasar anak durhaka! terkutuk-lah kau!'..... sementara itu, ayah-ku juga sempat mengutuk-ku sebelum ia menghembuskan nafas terakhir-nya. kata-nya, 'aku menyesal membesarkan anak biadab seperti-mu!'...... setelah mengatakan itu, ibu dan ayah-ku...." ucapan Airin terhenti karena diri-nya merasa berat untuk mengingat kembali hal itu.
"ibu dan ayah-ku...." ucap Airin lagi sambil terisak.
Melihat hal itu, Erwin pun langsung memegang bahu Airin dan menatap Airin dengan tatapan yang terlihat bersimpati.
"tak perlu di lanjutkan, itu hanya akan membuat luka lama-mu semakin terbuka." ucap Erwin dengan suara yang lirih.
Lalu Airin pun berusaha menenangkan diri. ia kemudian memegang tangan Erwin yang saat ini masih memegang bahu-nya.
"uhm...." gumam Airin sambil mengangguk pelan dan menatap Erwin.
Setelah itu Erwin pun mengangkat kedua tangan-nya dan langsung mendaratkan-nya di pipi Airin sambil menyeka air mata Airin menggunakan ibu jari-nya.
"itu pasti sangat berat bagi-mu.... kau sudah berusaha keras selama ini, ku harap kedua orang tua-mu tenang di sana." ucap Erwin sambil menatap mata Airin dalam-dalam.
Airin hanya bisa diam dan membalas tatapan Erwin. entah mengapa ia selalu merasa tenang saat berbicara dan bersentuhan dengan Erwin.
setelah itu Airin pun berusaha untuk tersenyum meski air mata-nya masih mengalir.
Melihat senyuman Airin itu membuat Erwin jadi terpesona, dan tanpa ia sadari ia langsung membalas senyuman Airin. sesudah itu ia langsung mendekatkan wajah-nya pada Airin dan kemudian menempelkan dahi-nya ke dahi Airin.
"kau tak perlu menangis lagi, aku akan selalu ada untuk-mu." ucap Erwin dengan suara yang halus sambil memejamkan mata-nya.
"uhm." gumam Airin sambil sedikit mengangguk dan memejamkan mata-nya seraya menggenggam tangan Erwin yang masih melekat di pipi-nya.
"uhuk! uhuk!"
Suara batuk seorang gadis terdengar di pintu masuk.
hal itu pun membuat Erwin dan Airin tersentak dan dengan refleks saling melepaskan genggaman-nya masing-masing dan langsung menoleh ke arah sumber suara itu.
"maaf mengganggu kemesraan kalian..... tapi bisakah kalian lakukan itu di tempat lain saja?" ucap Jasie yang baru saja masuk ke rumah bersama nenek-nya sambil berkacak pinggang.
__ADS_1
note: Jasie adalah anak dari kakak Erwin, dengan kata lain dia adalah keponakan Erwin.
Tak lama setelah Jasie masuk ke rumah, nenek Erwin juga ikut masuk ke rumah.
saat nenek Erwin melihat Erwin, ia langsung tersenyum. lalu ia kemudian menoleh ke arah Airin yang saat ini hanya diam memandangi nenek dan Jasie.
"apa kau pacar-nya Erwin?" tanya nenek tanpa basa-basi.
Mendengar pertanyaan itu Erwin langsung tepuk jidat seraya menyandarkan tubuh-nya di sofa itu.
"kakek dan nenek sama saja, pertanyaan pertama-nya benar-benar sama." ucap Erwin.
Sementara Airin yang melihat tingkah Erwin itu hanya tertawa kecil sambil memandangi Erwin yang saat ini berada di samping-nya.
setelah itu Airin kembali menoleh pada nenek dan Jasie yang saat ini sudah duduk si sofa.
"kami tidak pacaran, tapi kami justru terikat oleh sebuah perjanjian." ucap Airin sambil menoleh pada Erwin dan langsung tersenyum manis pada Erwin.
"apa?!" ucap Jasie yang tampak terkejut dengan ekspresi yang tampak tidak percaya. kemudian ia menimpali perkataan-nya. "se-serius itu kah hubungan kalian." ucap Jasie.
"bu-bukan begitu! kau sudah salah paham!" ucap Erwin yang langsung meluruskan tubuh-nya dan menatap Jasie dengan ekspresi yang mulai panik.
setelah itu Erwin langsung menoleh pada Airin dan menyuruh Airin untuk memberi penjelasan yang benar.
"ohoh.... kenapa kau se-panik itu?" tanya Jasie sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada dan kemudian memainkan alis-nya.
"bukan apa-apa." ucap Erwin yang langsung tenang secara mendadak.
Melihat reaksi Erwin itu tentu-nya membuat mereka semua terkejut dan ikut terdiam.
"eh? cepat sekali dia tenang." ucap Jasie sambil mengedutkan mata-nya.
Sesaat mereka terdiam, kakek Erwin datang dan membawa kopi. setelah itu kakek-nya meletak-kan kopi itu di atas meja.
"seperti-nya aku sedikit lama menyiapkan-nya." ucap kakek Erwin sambil tertawa hambar.
Sementara itu, saat ini tampak Jasie langsung berpindah tempat duduk dan langsung duduk di tengah-tengah Erwin dan Airin.
kemudian Jasie langsung mencoba mengakrabkan diri dengan Airin dengan cara berbincang-bincang dengan-nya.
__ADS_1
Di sisi lain, saat ini kakek Erwin duduk di samping nenek Erwin.
lalu nenek Erwin yang melihat Jasie sedang mengobrol dengan Airin hanya tersenyum.
setelah itu nenek Erwin bertanya pada Erwin.
"bisa kau jelaskan tentang gadis itu?" ucap nenek Erwin sambil tersenyum.
Setelah itu, Erwin pun langsung menjelaskan semua yang sudah ia jelaskan pada kakek-nya sebelum nenek-nya datang.
Sementara Erwin menjelaskan, tampak Jasie sedang berdiri dan menarik tangan Airin untuk berdiri.
"untuk makan malam ini bagaimana kalau kita memasak bersama?" tanya Jasie pada Airin.
Mendengar ajakan itu Airin hanya mengangguk sambil tersenyum. lalu ia pun mengikuti Jasie ke dapur untuk membantu-nya memasak.
******
Saat ini, di rumah kepala desa, tampak salah seorang pria sedang membicarakan tentang pembuatan jalan yang sudah mereka laksanakan selama dua hari.
"bagaimana dengan persembunyian narkoba-nya?" tanya seorang pria pada kepala desa itu.
"tenang saja. tempat ini sangat aman untuk persembunyian-nya." jawab kepala desa itu.
"aku dengar salah satu cabang Elang Hitam di pulau Kalimantan sedikit kacau karena narkoba yang kita kirim untuk mereka." ucap pria dua yang juga ada di ruangan itu.
"kau benar.... tapi ini benar-benar tidak terduga, kita yang merupakan musuh elang hitam malah dapat perlindungan Elang Hitam meskipun perlindungan-nya tidak begitu besar." jelas pria satu.
"kalian benar! di tambah lagi pria yang mengetahui tempat persembunyian narkoba kita ini sudah mati.... dia adalah satu-satunya orang yang menentang pembangunan jalan agar kita kesulitan menjangkau daerah ini.... tapi pada akhir-nya rencana orang itu sia-sia dan dia malah mati secara mengenaskan di sebuah kafe." ucap kepala desa itu panjang lebar.
Dalam pembicaraan mereka itu, tiba-tiba ada satu pria masuk ke ruangan itu.
"tuan Lero, apa anda sudah tahu ada orang luar yang masuk ke desa ini?" tanya pria tiga yang masuk ke ruangan itu.
"orang luar?" ucap Lero memastikan.
"ya benar tuan." jawab pria yang baru masuk itu. lanjut-nya, "apa kita perlu mewaspadai-nya?" tanya-nya lagi.
"tentu saja! selidiki orang itu tanpa membuat-nya menyadari keberadaan-mu!" ucap Lero memerintah.
__ADS_1
jangan lupa
Like, Vote, komen, dan faforit