Restart: Mafia Second Chance

Restart: Mafia Second Chance
Ajakan Aliansi


__ADS_3

Mendengar Rogo dan Lepi yang tampak terkejut membuat Erwin mau tak mau langsung menjelaskan kepada mereka.


"itu adalah bom yang ku ledak-kan." ucap Erwin tanpa menoleh ke arah Rogo dan Lepi yang berada di samping-nya.


Mendengar perkataan Erwin membuat mereka semua yang ada di mobil itu sekali lagi terkejut.


"sejak kapan kau memasang bom di dalam sana?!" tanya Muru dengan cepat karena merasa tidak percaya.


"saat aku menembaki anggota Elang Hitam di bawah tanah tadi, aku selalu berpindah-pindah tempat, dan memilih tempat yang paling mudah untuk meruntuhkan ruang bawah tanah itu." jelas Erwin sambil menoleh pada Muru. lalu ia menimpali-nya dengan cepat. "jadi, setiap tiang beton yang ku jadikan tempat berlindung dari tembakan itu telah ku pasang bom agar tiang itu hancur dan tak bisa lagi menopang beban dari atas, dan dengan begitu aku yakin mereka semua akan mati tertimbun di bawah sana."


Mereka semua yang mendengar penjelasan Erwin tentu langsung terbelalak dan tampak kagum pada Erwin. lalu Lepi yang selaku pimpinan kelompok itu langsung menepuk bahu Erwin berkali-kali.


"hahaha, tidak ku sangka kau bisa dengan cepat memikirkan cara kabur dan membunuh dalam waktu yang bersamaan." ucap Lepi memuji sambil tertawa girang.


"ya itu benar, apa lagi tadi itu keadaan-nya cukup kacau, aku saja hampir tak bisa berpikir dengan baik karena panik." ucap Dopi menimpali perkataan Lepi.


"sudah ku bilang, anak ini memang menarik bukan?" ucap Rogo sambil tersenyum ke arah Lepi.


*******


Saat ini, mobil yang membawa Erwin, Lepi, Rogo, dan yang lain-nya kini berhenti di sebuah gedung yang cukup besar. gedung itu tampak memiliki dua lantai, dan tampilan luar-nya cukup bagus.


Lalu Bosu memasuki sebuah garasi bawah tanah dan dan di garasi bawah tanah itu terdapat satu ruang khusus untuk mobil yang mereka gunakan saat ini.


setelah itu Bosu pun langsung memarkir-kan mobil ke dalam ruangan itu dan secara otomatis pintu ruangan itu tertutup dengan sendiri-nya.


Setelah mobil itu berhenti, Rogo dan Lepi langsung keluar dari mobil dan di ikuti oleh Erwin dan yang lain-nya.


"ayo keluarkan semua barang bawaan kita!" perintah Lepi sambil menoleh pada Rogo dan kedua pegawai-nya.

__ADS_1


"baik tuan!" ucap Lepi sambil mengangguk patuh dan langsung meminta Muru dan Bosu membantu-nya mengeluarkan barang-barang dari mobil.


Melihat Rogo dan dua pegawai-nya itu tengah sibuk mengeluarkan seluruh senjata yang mereka bawa di mobil, Erwin pun langsung mendekati Lepi dan mulai berbicara.


"apa aku perlu membantu mereka?" tanya Erwin yang kini berada di samping Lepi.


Lepi yang mendapatkan pertanyaan itu langsung menoleh pada Erwin sambil tersenyum.


"tidak perlu, biar mereka saja yang melakukan-nya." ujar Lepi dan langsung menimpali-nya dengan cepat. "lagi pula kau pasti sedang ingin mengetahui sesuatu tentangku bukan?" tanya Lepi sambil berbalik badan menghadap Erwin dan menepuk bahu Erwin dengan pelan.


"ya, sebenar-nya memang ada yang ingin ku tanyakan padamu." ucap Erwin sambil memasukan kedua tangan-nya ke saku celana.


"kalau begitu ikut aku ke ruangan-ku." ucap Lepi dan langsung berbalik badan.


setelah itu ia menoleh pada Dopi yang ada di sebelah-nya.


"Dopi, kau bantu saja mereka menurunkan semua bawaan itu!" ucap Lepi sambil menoleh ke arah Rogo dan dua pegawai-nya yang tengah sibuk mondar-mandir di dekat mobil sambil membawa barang.


lalu Dopi pun langsung beranjak pergi untuk membantu Rogo dan pegawai-nya.


Setelah itu Lepi langsung berjalan menuju ruangan-nya dan langsung di ikuti oleh Erwin dari belakang.


"aku yakin kau sudah melihat berita setelah kejadian di malam itu, saat kau datang menghajar ketiga anggota Elang Hitam yang menjual narkoba." ucap Lepi menebak tanpa menoleh pada Erwin.


"ya kau benar, saat itu aku sudah melihat berita dan ketiga pria yang menjual narkoba itu langsung di buru oleh kepolisian karena kasus mengedarkan narkoba." jelas Erwin dengan tenang.


Setelah beberapa saat berjalan, kini mereka berdua tiba di depan pintu ruangan Lepi. lalu Lepi membuka pintu itu dan mempersilahkan Erwin untuk masuk, dan Erwin pun tanpa basa-basi langsung berjalan memasuki ruangan itu.


di dalam ruangan itu Erwin melihat sebuah meja kerja yang tampak penuh dengan tumpukan kertas dan beberapa jenis pistol buatan mereka yang merupakan senjata yang mereka rakit sendiri.

__ADS_1


"silahkan duduk." ucap Lepi sambil menunjuk kursi yang ada di depan meja kerja itu. lalu Lepi langsung berjalan ke kursi di meja kerja-nya dan duduk berhadapan dengan Erwin.


"bukankah ini terlalu formal?" ucap Erwin sambil mengedarkan pandangan-nya ke seluruh ruangan itu untuk melihat-lihat situasi dan keadaan.


"itu bukan masalah, lagi pula kau adalah tamu-ku di sini." ucap Lepi menanggapi sambil menopang dahi-nya menggunakan tangan kanan-nya.


"kalau begitu tak perlu basa-basi lagi! segera jelaskan siapa kalian sebenar-nya!" ucap Erwin dengan sedikit lantang sambil menatap Lepi dengan serius.


"baiklah, kita mulai dari bisnis kami." ucap Lepi sambil melipat kedua tangan-nya di depan dada lalu menimpali perkataan dengan cepat. "kami adalah kelompok penjual senjata api ilegal, saat ini, aku sudah memiliki cukup banyak anggota yang mengurus beberapa tempat penjualan senjata ilegal, dan Rogo hanyalah salah satu anggota-ku yang bertugas mengatur satu tempat penjualan." jelas Lepi.


"begitu ya, lalu apa hubungan kalian dengan kelompok Elang Hitam?" tanya Erwin dengan serius.


"kami saat ini berada dalam penjagaan kelompok Elang Hitam. tidak, lebih tepat-nya kami sedang di awasi oleh mereka dan mereka mengendalikan kelompok kami dari balik layar." jawab Lepi sambil menyilangkan jari di depan mulut-nya.


"oh, jadi kau merasa tidak puas dengan hasil yang kau dapatkan dari mereka ya." ucap Erwin menebak dengan ekspresi datar.


"hahaha, apa aku semudah itu untuk di tebak oleh-mu?" ucap Lepi bertanya sambil tertawa hambar.


Erwin yang melihat reaksi Lepi hanya diam dan menatap Lepi dengan serius sambil mengelus dagu-nya seperti orang yang berpikir.


"apa tebakan-ku barusan tidak benar?" ucap Erwin bertanya dalam hati.


Lepi yang melihat Erwin yang pasang muka serius sambil berpikir itu langsung tertawa kecil.


"tidak ku sangka semudah itu untuk membuatmu ragu dengan pendapat-mu sendiri." ucap Lepi sambil menunjuk-kan senyum kemenangan.


"aku tidak ragu, aku hanya mencoba memikirkan kemungkinan lain, namun jika tak ada kemungkinan lain, tentu aku tidak akan goyah dengan pendapat pertama-ku." ucap Erwin sambil mengangkat wajah-nya menatap Lepi.


"tchi.... apa kau ini tidak bisa mengalah sedikit dengan orang yang lebih tua dari-mu?" ucap Lepi sambil buang muka dengan tatapan malas.

__ADS_1


Erwin yang melihat tingkah Lepi itu langsung berdiri dan menatap Lepi dengan serius sambil memasuk-kan tangan ke saku celana-nya.


"dari tadi kau terus bertindak tidak jelas, meskipun begitu aku tetap yakin bahwa tujuan-mu membawa-ku kemari karena kau ingin bekerjasama dengan-ku." ucap Erwin santai dan langsung menimpali-nya. "tapi jika kau ingin aku bergabung dengan-mu, maka aku akan menolak!" ucap Erwin dengan tegas.


__ADS_2