Restart: Mafia Second Chance

Restart: Mafia Second Chance
Menyelamatkan Santi (3)


__ADS_3

Setelah cukup lama menunggu, kini pelayan Petra sudah tiba menjemput-nya.


setelah itu Petra mengarahkan pelayan-nya untuk membawa-nya ke lokasi di mana Santi berada sekarang.


"penanda Santi sudah berhenti sejak tadi, itu berarti mereka sudah tiba di tempat tujuan Rimo!" batin Petra.


Setelah beberapa saat di perjalanan, kini Petra tiba di depan rumah mewah yang merupakan kediaman Rimo.


"tidak salah lagi!... ini tempat-nya!" batin Petra sambil melihat penanda Santi di map ponsel-nya.


Setelah itu Petra langsung turun dari mobil-nya.


"kau pergi saja dulu, aku masih ada urusan di sini!" perintah Petra pada pelayan-nya.


"baik tuan." jawab pelayan itu dengan patuh dan kemudian mengendarai mobil itu menjauh dari Petra.


Setelah itu Petra mengintip ke halaman rumah itu melalui pintu gerbang, dan tampak di dekat pintu gerbang ada seorang penjaga yang berjaga di sebuah pos yang ada di tempat itu.


tak lama setelah itu, Petra melihat ada mobil yang hendak keluar dari rumah itu.


Melihat hal itu, Petra pun dengan segera menggunakan kaca hitam yang menutupi bagian mata hingga dahi-nya, dan setelah itu ia pun langsung bisa melihat siapa yang ada di dalam mobil itu.


"Rimo dan Sedi rupa-nya! seperti-nya rencana-ku berjalan lancar!" batin Petra yang kemudian berjalan santai ke arah titik buta si penjaga pintu gerbang.


ketika penjaga pintu gerbang itu membuka-kan pintu gerbang untuk di lalui Rimo, Petra pun dengan segera melompati dinding yang ada di titik buta penjaga.


Setelah Petra sudah berada di halaman rumah, Petra dengan segera bersembunyi di balik tanaman yang di tata seperti sebuah pagar.


"kalau ada yang melihat-ku melompati dinding ini, orang itu pasti tidak akan percaya kalau aku ini manusia." batin Petra sambil cengar-cengir. lanjut-nya, "baiklah, untuk sekarang sebaik-nya aku meminta tim-ku untuk mengirim alat pengintai agar aku bisa melihat keadaan Santi di dalam rumah sana!" batin Petra yang kemudian langsung mengirim pesan pada tim-nya untuk mendatangkan alat pengintai itu.


note: alat pengintai berbentuk mobil mainan yang membawa sebuah kamera.


Saat ini Petra tidak mau langsung masuk menyelamatkan Santi, hal itu di karenakan Petra ingin menunggu kedatangan Rimo dan Sedi agar ia bisa menghajar Rimo dan Sedi serta membuat mereka menyesali perbuatan mereka.


"setidak-nya aku tahu keadaan Santi, selama tak ada yang menyentuh-nya, aku akan tetap menunggu di sini!" batin Petra.

__ADS_1


~flashback off~


"orang ini berbahaya! itulah yang ku pikirkan saat ini!!" batin Rimo yang melihat Petra yang saat ini berada di depan-nya.


Sementara itu, Petra tampak santai-santai saja, bahkan tangan-nya sama sekali tidak keluar dari saku celana-nya.


"kenapa kau hanya diam? apa cuma segini kemampuan-mu?" tanya Petra dengan nada meremehkan.


"sial@n kau!! hanya karena sedikit lebih kuat jangan besar kepala dulu!!" bentak Rimo.


Kemudian Rimo langsung maju dengan kecepatan maksimal-nya, dan saat berhadapan dekat dengan Petra, ia langsung mengayun satu bingkai kayu yang di tangan kanan-nya dari arah bawah ke atas.


Petra yang melihat itu langsung menghindar dengan mudah. lalu Rimo melakukan hal yang sama sekali lagi tapi kali ini menggunakan tangan kiri-nya. namun serangan itu juga berhasil di hindari Petar.


sesudah itu Rimo dengan cepat menebaskan kedua bingkai kayu ke arah Petra.


melihat serangan itu, Petra pun langsung memutar tubuh-nya membelakangi Rimo dan kemudian melakukan tendangan ke belakang yang tepat mengenai ulu hati Rimo.


Note: memutar tubuh dan menendang di lakukan dengan sangat cepat, terkesan seperti serangan kejutan.


Petra yang melihat hal itu tidak mau buang-buang waktu, ia dengan cepat langsung maju dan melompat ke arah Rimo sehingga ia pun langsung mendarat di samping Rimo. ia kemudian langsung menendang leher dan ulu hati Rimo dengan kuat dan membuat Rimo langsung sesak nafas.


Setelah itu Petra langsung menginjak kepala Rimo dengan kuat dan menekan-nya ke lantai.


"ke..... kenapa nasib ku selalu sial?!.... kenapa akhir-akhir ini aku selalu kalah?" batin Rimo yang pasang ekspresi kesal.


Setelah melihat Rimo yang tampak tak sanggup bergerak lagi, Petra pun langsung menendang kepala Rimo dan membuat Rimo langsung pingsan seketika.


"tchi!.... dasar lemah!" ucap Petra yang kemudian melangkah dari tempat-nya berdiri saat ini.


Saat ini di kamar tampak Santi yang sedang berusaha menenangkan diri dan pikiran-nya. meskipun demikian, dalam hati-nya masih terus merasa sedih karena tak ada jalan keluar bagi-nya. ia terus berharap akan datang-nya seseorang untuk menyelamatkan diri-nya, namun itu tetap mustahil mengingat keadaan-nya saat ini.


hal itu pun membuat Santi kembali meneteskan air mata-nya meratapi keadaan-nya saat ini.


Setelah beberapa saat menangis, tiba-tiba Santi mendengar suara ganggang pintu yang menunjuk-kan bahwa seseorang sedang membuka pintu.

__ADS_1


hal itu pun membuat Santi makin panik.


"kumohon ya tuhan! jangan biarkan hal ini terjadi pada ku" batin Santi sambil memejamkan mata-nya dan terus menetes-kan air mata-nya.


Tak lama setelah itu, tiba-tiba pintu kamar itu di dobrak dan hancur seketika.


hal itu membuat Santi terkejut bukan main dan membuat diri-nya panik karena kemunculan Petra yang sedang menggunakan perlengkapan penyamaran-nya.


Sejenak suasana berubah menjadi sunyi, tak satu pun dari mereka yang bersuara. kedua-nya hanya saling menatap. sementara itu Santi menatap Petra dengan ekspresi terkejut yang belum hilang dari wajah-nya.


Sesaat kemudian Santi langsung bertanya-tanya dalam hati-nya karena diri-nya merasa bahwa yang datang saat ini belum tentu orang baik.


"pria ini?.... dari tadi menatap-ku jangan-jangan dia sedang memikirkan hal mesum saat melihat keadaan ku sekarang!" batin Santi sambil menunjuk-kan ekspresi waspada.


"si..... siapa kau?" tanya Santi terbata-bata dengan nada yang sedikit pelan.


Petra yang mendapati pertanyaan itu hanya diam dan langsung berjalan mendekati Santi.


Santi yang melihat Petra mendekati-nya langsung panik dan ketakutan.


"ap.... apa yang kau lakukan?! jangan mendekati ku! kumohon!" ucap Santi dengan nada lirih memohon sambil menangis ketakutan.


Sementara itu Petra tak mau berhenti. saat tiba di samping Santi, Petra pun dengan segera mengeluarkan sebilah pisau kecil dari tas pinggang-nya dan langsung memotong tali yang mengikat kedua tangan Santi.


Santi yang sedang memejamkan mata sambil menangis dan memohon kini menyadari bahwa tali yang mengikat-nya telah lepas. hal itu pun membuat Santi diam dan sedikit terkejut. ia kemudian menatap Petra dengan pipi yang masih di basahi oleh air mata.


"tak perlu takut pada ku." ucap Petra dengan suara halus. lanjut-nya sambil berjalan ke arah lemari pakaian dan langsung membuka lemari pakaian itu. "sebaik-nya kau segera menggunakan pakaian, penampilan-mu itu memancing bir@hi!" ucap Petra dengan jujur sambil melemparkan baju dan celana ke atas kasur tempat Santi berada.


Jangan lupa


Like, Vote, komentar, Dan Faforit.


Kalau ada yang minat baca karya saya yang lainnya bisa cek di profil author ya...


__ADS_1


__ADS_2