Restart: Mafia Second Chance

Restart: Mafia Second Chance
Di Serang Mendadak


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, kini Erwin sedang duduk di luar rumah, tepat-nya di pondok kecil yang ada di pinggiran jalan di depan rumah kakek-nya.


saat ini Erwin tampak sedang memikirkan tentang jalanan yang saat ini sudah di bangun.


"jika di pikir-pikir lagi, satu-satunya orang yang bisa menggerak-kan garis waktu hanya-lah aku.... dengan kata lain hanya tindakan-ku saja yang berbeda di garis waktu ini." ucap Erwin dalam hati sambil mengelus dagu-nya. lanjut-nya, "berdasarkan informasi dari kakek sebelum-nya, kata-nya ada orang yang menghalangi pembangunan jalan di sini, namun sekarang orang itu telah mati.... dari cerita itu, hanya ada satu kemungkinan yang paling masuk akal.... kemungkinan itu adalah, orang yang menghalangi pembangunan itu adalah anggota Elang Hitam, dan orang itu sudah mati saat melakukan penyerangan terhadap diri-ku." ucap-nya dalam hati.


Setelah itu Erwin langsung menghela nafas dengan ekspresi yang tampak malas.


"apa sebenar-nya tujuan Elang Hitam?" ucap Erwin dalam hati dengan ekspresi bertanya-tanya.


setelah itu ia langsung membaringkan tubuh-nya di tempat itu.


Beberapa saat kemudian, Airin keluar dari rumah dan mendatangi Erwin yang sedang membaringkan tubuh-nya di pondok kecil itu.


lalu Airin pun kemudian duduk di samping Erwin yang masih membaringkan tubuh-nya.


"sedang apa kau di sini?" tanya Airin.


"aku hanya ingin mencari ketenangan." jawab Erwin tanpa memandang pada Airin. kemudian ia menimpali perkataan-nya. "kau sendiri sedang apa ke mari?" tanya Erwin.


Airin yang mendengar pertanyaan itu hanya diam dan kemudian menjatuhkan tubuh-nya di samping Erwin.


"aku hanya ingin keluar saja sambil melihat-lihat situasi saat malam hari." ucap Airin.


"begitu ya." balas Erwin tanpa menoleh.


Setelah beberapa saat, kedua-nya mulai diam dan tidak berkata apa-apa. mereka hanya fokus menatap langit-langit pondok itu.


setelah beberapa saat kemudian, Airin mulai membuka percakapan.


"apa kau tahu batu apa ini? tadi kakek-mu memberikan-nya pada-ku." tanya Airin sambil mengangkat sebuah kalung yang terbuat dari batu transparan berwarna biru.


Setelah Erwin pun menoleh dan melihat ke arah kalung batu yang di pegang oleh Airin itu.


"oh, itu kalung penangkal mahluk halus. aku juga memakai kalung yang sama seperti itu, makan-nya kau selalu tenang saat bersama-ku." jelas Erwin.


"hehh?... kau juga memakai kalung yang sama ya?" ucap Airin sambil menoleh pada Erwin.


"ya, kau bisa lihat ini." ucap Erwin sambil memegang kalung yang saat ini ia pakai.


"wah.... benar-benar sama.... tapi kok rasa-nya malah jadi seperti kalung pasangan ya...?" ucap Airin sambil menatap Erwin.

__ADS_1


"tidak perlu pikirkan tentang itu." ucap Erwin yang kemudian langsung bangun dan duduk. kemudian ia menimpali perkataan-nya. "yang terpenting itu bukan bentuk-nya, tapi kegunaan-nya!" jelas Erwin sambil menatap Airin yang saat ini masih berbaring di samping-nya.


"kalau begitu bisa kau pakai-kan kalung ini ke leher-ku?" ucap Airin yang terdengar memohon sambil bangun dari rebahan-nya.


"boleh." jawab Erwin sambil tersenyum. kemudian Erwin memegang bahu Airin dan menyuruh-nya untuk berbalik.


"sekarang menghadap-lah ke belakang, aku akan memasangkan-nya untuk-mu." ucap Erwin.


Airin pun memutar tubuh-nya dan langsung duduk membelakangi Erwin.


setelah itu Erwin pun segera memasang-kan kalung itu ke leher Airin.


"sudah selesai." ucap Erwin saat ia selesai memasang kalung itu.


di saat itu juga, Airin langsung menjatuhkan tubuh-nya ke belakang dan langsung mendarat di dada Erwin.


"ehehe, makasih." ucap Airin sambil tersenyum dan bertingkah seperti anak kecil.


Erwin yang melihat tingkah Airin hanya tersenyum, dan saat Erwin menatap ke bawah dan memperhatikan Airin, tiba-tiba mata Erwin langsung 'auto aim'. mata-nya langsung tertuju pada belahan d@da Airin yang tampak dari atas kerah baju-nya.


Wajah Erwin mendadak memerah dan ia dengan segera memalingkan pandangan-nya dari Airin.


Erwin yang menyadari hal itu langsung menatap ke arah semak-semak itu dengan tatapan tajam dan waspada.


"aku merasakan firasat buruk sekarang." ucap Erwin dalang hati dan langsung merangkul tubuh Airin di depan dada-nya.


Airin yang tiba-tiba di rangkul tentu jadi sedikit bingung meskipun diri-nya merasa sedikit senang dengan hal itu.


Sementara itu, Erwin terus menatap ke arah semak-semak dengan tatapan yang penuh waspada.


hingga beberapa lama kemudian, tiba-tiba sebuah pisau melayang ke arah-nya.


Erwin yang menyadari hal itu dengan cepat langsung menjatuhkan tubuh-nya ke tanah sambil melindungi Airin agar tak menghantam tanah karena saat ini ia sedang memeluk Airin.


Kedua-nya pun terjatuh. saat itu Airin berada di atas tubuh Erwin, sementara Erwin saat ini merasa sedikit kesakitan saat tubuh-nya menghantam tanah.


namun Erwin mengabaikan hal itu karena ia melihat ada sosok manusia berpakaian hitam berlari dari semak itu ke arah hutan.


Erwin pun dengan segera bangkit dan langsung berlari mengejar sosok itu.


sementara itu Airin tampak bingung dengan apa yang terjadi, ia sebelum-nya tidak menyadari bahwa mereka sedang di serang.

__ADS_1


"hei! kau mau ke mana?" tanya Airin dengan suara yang sedikit keras saat melihat Erwin berlari ke hutan.


namun Erwin mengabaikan-nya dan terus berlari mengejar sosok itu.


Setelah beberapa lama berlari, kini Erwin sudah berada jauh di dalam hutan.


di dalam kegelapan malam itu, Erwin hanya bisa mengandalkan sinar bulan untuk melihat ke sekitar-nya.


ia mengedarkan pandangan-nya ke segala arah.


hingga akhir-nya muncul seorang pria berpakaian hitam di belakang Erwin.


"ternyata kau keras kepala juga ya." ucap pria itu sambil tersenyum.


Erwin yang mendengar suara itu langsung memutar badan-nya ke arah belakang dan langsung berhadap-hadapan dengan pria itu.


Kemudian Erwin langsung menatap pria itu dengan tatapan tajam.


"apa kau yang menyerang-ku tadi?" tanya Erwin dengan nada yang dingin.


"apa aku harus menjawab pertanyaan-mu itu?" ucap pria itu balik bertanya sambil berseringai licik.


"begitu ya.... seperti-nya pembicaraan kita cukup sampai di sini." ucap Erwin yang kemudian menarik nafas-nya dalam-dalam melalui hidung. lalu setelah itu ia mengeluarkan-nya secara perlahan melalui mulut.


"satu!" ucap Erwin yang langsung maju menyerang dengan gerakan yang sangat cepat.


Sebuah tendangan yang sangat kuat kini menghantam perut pria yang berbaju hitam itu hingga pria itu mengeluarkan air dari mulut-nya.


"cepat sekali!" ucap pria itu dalam hati.


"dua!" ucap Erwin lagi sambil melakukan tendangan berputar yang tepat menghantam wajah pria itu hingga pandangan pria itu menjadi kabur dan berputar-putar layak-nya orang yang mabuk alkohol.


"tenaga-nya kuat sekali!" batin pria itu.


"tiga!" ucap Erwin sambil melakukan tendangan salto yang tepat menghantam punggung leher pria itu dan membuat pria itu langsung terjatuh ke tanah.


"tidak mungkin!" batin pria itu sambil perlahan menutup mata-nya dan hingga akhir-nya ia kehilangan kesadaran-nya.


jangan lupa


Like, Vote, komen, dan faforit

__ADS_1


__ADS_2