Restart: Mafia Second Chance

Restart: Mafia Second Chance
Kepribadian Ganda


__ADS_3

Saat ini Erwin tampak terburu-buru. ia terus mempercepat laju motor yang ia kendarai.


"untung saja Petra mau meminjamkan motor-nya pada-ku." ucap Erwin dalam hati sambil terus bergerak cepat.


Setelah beberapa saat kemudian, Erwin pun tiba di rumah Airin.


lalu Airin membuka-kan gerbang rumah-nya.


"apa yang terjadi?" tanya Erwin saat melihat ekspresi Airin yang tampak tidak bersemangat.


"nanti ku jelaskan di dalam rumah." ucap Airin yang kemudian langsung masuk ke rumah.


Mendengar hal itu, Erwin pun langsung masuk dan kemudian menutup gerbang pagar itu dan kemudian memarkir motor-nya di garasi milik Airin.


Setelah itu, Erwin pun langsung masuk ke dalam rumah.


saat Erwin berada di ruang tamu, ia terkejut saat melihat bekas sayatan yang sangat banyak di salah satu sofa yang ada di ruangan itu.


"apa yang terjadi di sini? sebelum-nya sofa itu masih baik-baik saja." ucap Erwin dalam hati sambil melebarkan bola mata-nya.


Tak lama setelah itu Airin datang dan langsung menggandeng tangan Erwin dengan ekspresi yang terlihat seperti masih sedikit ragu.


"bisa kau jelaskan apa yang terjadi di sini?" tanya Erwin sambil menatap Airin yang saat ini berdiri di samping-nya dan sedang menggandeng tangan-nya.


"se-sebenar-nya aku membutuhkan bantuan-mu...." ucap Airin sambil mengalihkan pandangan-nya ke samping.


"bantuan?" tanya Erwin sambil memiringkan kepala-nya dengan ekspresi yang tampak bingung.


Airin yang mendengarkan pertanyaan itu hanya diam dan tidak menoleh pada Erwin.


lalu sesaat kemudian Airin langsung menarik Erwin dan membawa pergi dari ruang tamu.


Saat ini Erwin dan Airin sudah berada di depan kamar Airin.


dalam hati Erwin bertanya-tanya apa yang sebenar-nya ingin di lakukan oleh Airin.


ia merasa ada yang mencurigakan dari gerak-gerik Airin saat ini.


Tak lama setelah itu Airin tampak sedang menelan ludah-nya dengan kasar seolah ia baru saja membulatkan tekad-nya.


lalu ia pun langsung membuka kamar-nya dan langsung membawa Erwin masuk ke kamar-nya.

__ADS_1


Setelah tiba di depan ranjang Airin langsung melepaskan tangan Erwin yang di gandeng-nya. lali ia langsung maju ke depan Erwin dan langsung menghadap ke arah Erwin, sehingga mereka pun saling berhadapan dengan jarak yang kurang dari satu meter.


"aku punya permintaan untuk-mu." ucap Airin dengan wajah yang tampak memerah namun dengan suara yang cukup tegas.


Hanya dengan perkataan itu, Erwin langsung tersentak, dan dalam waktu yang kurang dari lima detik ia sudah memikirkan banyak hal mulai dari hal yang positif sampai negatif.


"bisa jelaskan secara rinci?" ucap Erwin yang balik bertanya.


"sebenar-nya aku punya masalah saat aku tertidur, jadi aku ingin kau menjaga-ku." ucap Airin dengan nada yang lirih sambil memalingkan wajah-nya dari Erwin.


Saat mendengarkan perkataan itu, Erwin pun mulai mengolah semua perkataan itu di otak-nya.


sesaat setelah itu ia langsung menatap Airin dengan tatapan yang serius.


ia melihat mata Airin tampak bengkak seperti baru selesai menangis.


"apa tadi kau menangis?" tanya Erwin dengan suara yang lembut.


"uhm...." gumam Airin sambil mengangguk pelan.


"seperti-nya dia mengalami masalah yang cukup berat." ucap Erwin dalam hati sambil menatap Airin dengan tatapan bersimpati.


"begitu ya.... lalu, kenapa kau tidak mengajak Lisa saja untuk menemani-mu?" timpal Erwin bertanya dan kemudian melipat tangan-nya di depan dada. "kau tahu aku ini laki-laki, jadi rasa-nya agak aneh kalau harus aku yang melakukan-nya."


"tapi?..." tanya Erwin lagi dengan ekspresi bingung.


hal itu pun membuat Airin mau tak mau harus menjelaskan keadaan-nya saat ini.


"sebenar-nya aku memiliki kepribadian ganda." ucap Airin yang tampak ragu untuk menjelaskan. lanjut-nya, "terkadang saat aku tidur, aku berganti kepribadian, dan di saat bersamaan kepribadian-ku jadi aneh.... saat aku tersadar, aku sudah memegang pisau, dan di sekelilingku jadi berantakan, bahkan tidak jarang aku terluka sampai mengeluarkan banyak darah." jelas Airin dengan raut wajah yang tampak sedih.


Erwin yang mendengar hal itu tentu-nya langsung terkejut, di tambah lagi saat ia melihat ke arah tangan Airin yang saat ini di tempel menggunakan plester.


"seperti-nya apa yang ia katakan adalah hal yang sebenar-nya.... tapi saat ini aku penasaran akan satu hal.... apa aku perlu menginap malam ini untuk memastikan-nya?" ucap Erwin dalam hati sambil mengelus dagu-nya seperti sedang berpikir.


"aku tahu ini hal yang berbahaya.... ja-jadi.... jadi...." ucap Airin yang terbata-bata karena masih belum siap sepenuh-nya untuk mengatakan apa yang akan ia katakan.


"jadi?" tanya Erwin.


"ja-jadi.... aku akan memenuhi apa-pun yang kau mau." ucap Airin memberanikan diri untuk mengatakan-nya. "asalkan kau mau membantu-ku, aku akan melakukan apa-pun yang kau inginkan." ucap Airin sambil menunduk dan meneteskan air mata-nya.


"apa aku salah membuat keputusan ini? hanya karena ingin menghilangkan kepribadian ganda-ku aku sampai menjual tubuh-ku?" batin Airin yang kini terus menangis dengan suara yang tertahan agar tak di dengar oleh Erwin.

__ADS_1


"aku bisa mendengar suara tangisan-mu loh." ucap Erwin yang saat ini sedang berbisik di telinga Airin.


hal itu pun membuat Airin terkejut dan langsung menoleh ke arah Erwin, dan tanpa sengaja mereka berdua hampir berciuman.


Setelah itu kedua-nya pun tersentak dan langsung menarik wajah masing-masing agar tidak terlalu dekat.


wajah mereka berdua pun kini tampak memerah karena kejadian barusan.


"ah, maaf." ucap Erwin sambil memalingkan wajah-nya yang tersipu malu itu.


"uhm.... iya." gumam Airin sambil mengangguk-kan kepala-nya dan langsung memalingkan wajah-nya yang makin memerah itu.


Setelah itu kini pikiran Erwin sudah sedikit jernih. ia kemudian langsung duduk di atas kasur Airin.


"bisa kau duduk di sebelah-ku?" tanya Erwin sambil menepuk kasur di samping-nya.


"sebaik-nya ku pastikan dulu apakah dugaan-ku benar atau tidak?" timpal-nya membatin.


Setelah itu Airin pun berjalan pelan dan tampak ragu-ragu untuk melakukan apa yang Erwin minta.


Erwin yang menyadari ekspresi Airin yang tampak ragu dan terkesan gelisah tentu saja jadi terbayang apa yang membuat Airin seperti itu.


"duduk-lah, aku tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh pada-mu kok." ucap Erwin sambil tersenyum lembut pada Airin.


Airin yang mendengar perkataan itu sedikit tersentak dan langsung menatap Erwin yang kini tersenyum manis pada-nya.


setelah itu Airin pun berusaha untuk mempercayai perkataan Erwin barusan.


lalu ia pun langsung duduk di kasur, tepat-nya di samping Erwin.


Setelah Airin duduk, Erwin langsung menghadap-kan tubuh-nya pada Airin.


"bisa ulurkan tangan-mu?" ucap Erwin sambil melebarkan telapak tangan-nya untuk menyambut tangan Airin.


"uhm...." gumam Airin sambil mengangguk dan kemudian langsung mengulurkan tangan-nya.


Saat tangan Airin sudah bersentuhan dengan tangan Erwin, Erwin pun segera menggunakan tangan satu-nya lagi untuk menggenggam tangan Airin.


Saat ini Erwin menggenggam tangan Airin sambil menutup mata-nya seolah sedang menerawang sesuatu. hingga pada akhir-nya Erwin tampak terkejut dan langsung membuka mata-nya.


"ternyata dugaan-ku benar." ucap Erwin yang kemudian melepaskan genggaman-nya.

__ADS_1


jangan lupa


Like, Vote, komen, dan faforit


__ADS_2