
saat ini Erwin sudah tiba di sebuah hotel. seperti sebelum-nya, saat ini Erwin memarkir motor-nya cukup jauh dari lokasi tujuan-nya.
setelah Erwin memasuki hotel itu, ia langsung pergi menuju ke kamar Nirmala.
sesampainya di kamar Nirmala, ia langsung menghubungi Nirmala menggunakan ponsel-nya untuk memberi tahu-kan Nirmala bahwa diri-nya sudah ada di depan pintu kamar-nya.
tak lama kemudian Nirmala membuka pintu kamar-nya dan langsung menarik Erwin dengan cepat. hal itu tentu-nya membuat Erwin sangat terkejut. namun keterkejutan-nya berhenti ketika melihat Nirmala masih memakai handuk dan terlihat seperti baru saja keluar dari kamar mandi.
"kalau memang takut di lihat orang setidak-nya pakai dulu bajumu dasar bodoh!" ucap Erwin dalam hati sambil menggelengkan kepala-nya.
"jadi, ada perlu apa kau datang ke rumah-ku?" tanya Nirmala.
"pakai dulu baju-mu! bahas hal itu nanti saja!" ucap Erwin dengan wajah yang memerah sambil memegang handuk Nirmala karena melihat handuk Nirmala yang hampir terluncur ke bawah.
"hei anak muda, kau tak perlu malu-malu seperti itu, lagian kau sudah pernah begituan dengan-ku." ucap Nirmala dengan suara yang menggoda sambil mendekatkan bibir-nya ke telinga Erwin.
Erwin sedikit tersentak dan wajah-nya makin memerah.
"ja-jangan mulai lagi." ucap Erwin dalam hati.
setelah itu Erwin langsung menarik nafas dalam dan menghembuskan-nya secara perlahan sembari menenangkan diri dan pikiran-nya.
"tujuan-ku ke mari untuk mencari informasi." timpal-nya membatin.
setelah sudah cukup tenang, Erwin langsung memegang bahu Nirmala dan sedikit mendorong-nya dengan pelan agar Nirmala sedikit menjauh dari tubuh-nya.
"tenang saja, aku tidak malu-malu kok, karena mungkin itu juga salah satu tujuan-ku menemui-mu." ucap Erwin dengan tenang.
"lagi pula kita sudah punya perjanjian, jadi kau harus memenuhi perjanjian yang kau buat sendiri saat taruhan." lanjut Erwin menimpali perkataan-nya sambil berjalan menuju sofa, dan langsung di ikuti oleh Nirmala.
mendengar perkataan Erwin membuat pipi Nirmala langsung memerah seketika.
"ak-aku tahu kok, aku tidak mungkin tak memenuhi perjanjian yang ku buat sendiri." ucap Nirmala sambil melempar pandangan-nya ke samping agar wajah-nya yang memerah itu tak di sadari oleh Erwin.
setelah sampai di sofa, Erwin langsung duduk dan memperhatikan Nirmala yang sedang berdiri di depan-nya dan tidak langsung duduk.
__ADS_1
"baiklah...." ucap Erwin dengan helaan nafas panjang sambil mengangkat satu kaki-nya dan membuat posisi pangku kaki. lanjut-nya, "aku yakin kau pasti sudah tahu apa yang harus kau lakukan sebagai seorang pelayan." ucap Erwin sambil mengibaskan tangan kanan-nya ke samping dengan pelan secara berkali-kali.
"kau ini makin seenak-nya saja ya." ujar Nirmala yang sedikit terusik dengan ekspresi Erwin yang bertingkah layak-nya raja di rumah-nya.
"tentu saja, lagi pula selama seminggu ini aku adalah tuan-mu." ucap Erwin dengan penuh percaya diri. lanjut-nya sambil mengibaskan tangan-nya ke arah meja yang ada di depan-nya. "harus-nya saat ini kau sudah menyiapkan hidangan untuk-ku...... ah, jangan lupa kopi-nya juga." ucap Erwin dengan ekspresi yang membuat siapa saja yang melihat-nya pasti akan kesal.
"bocah ini benar-benar makin seenak-nya saja!" ujar Nirmala dalam hati sambil pasang ekspresi kesal yang malah membuat-nya terlihat aneh.
meskipun Nirmala memasang ekspresi kesal di depan Erwin, namun sebenar-nya dia tidak benar-benar kesal pada Erwin.
setelah itu, Nirmala pun langsung menyuruh pegawai hotel untuk menyiapkan makanan dan membawa-nya ke kamar Nirmala.
setelah makanan sudah tiba di kamar Nirmala, kini Erwin langsung menyantap-nya dengan lahap.
"lumayan lah, dengan begini uang konsumsi bulanan-ku bisa sedikit di hemat." ucap Erwin dalam hati sambil terus menikmati makanan-nya.
Nirmala yang melihat Erwin yang begitu lahap hanya bisa menggelengkan kepala-nya pelan.
"apa anak ini belum makan dari siang?" ucap Nirmala dalam hati.
"apa kau sudah puas?" tanya Nirmala yang duduk di sofa yang berhadapan sambil pangku kaki di depan Erwin.
"ya begitulah, aku sudah kenyang." jawab Erwin sambil menyesap kopi-nya.
"aku harus menggali informasi sekarang! tapi aku tidak boleh mengeluarkan kata-kata yang bisa membuat diri-ku di curigai, karena sampai saat ini Nirmala seperti-nya belum mencurigai-ku." timpal Erwin membatin.
"oh iya...." Erwin mulai membuka percakapan. "apa kau melihat berita tadi siang?" tanya Erwin sambil meletak-kan gelas kopi-nya di atas meja.
"berita? tentang apa?" ucap Nirmala yang balik bertanya.
"berita tentang pembunuhan lima pria di wilayah sekitaran perumahan bekas bencana alam." ujar Erwin menjelaskan.
"oh soal itu ya, memang-nya kenapa?" tanya Nirmala dengan tatapan menyelidik.
"apa mereka mempunyai masalah dengan kelompok Elang Hitam?" ucap Erwin sambil terus bersikap senatural mungkin.
__ADS_1
"maksud-mu?" tanya Nirmala lagi dengan singkat.
"ku dengar kelompok Elang Hitam itu banyak yang menggunakan senjata api, dan yang meninggal itu ada bekas tembakan senjata api, jadi aku menyimpulkan mungkin mereka memiliki masalah dengan Elang Hitam dan akhir-nya mereka terbunuh." jelas Erwin.
Nirmala yang mendengar penjelasan itu mulai menghentikan tatapan menyelidik-nya pada Erwin.
"dia mengatakan hal yang cukup masuk akal." itulah kalimat yang muncul di benak Nirmala saat itu.
"sebenar-nya lima pria itu adalah anggota Elang Hitam." balas Nirmala sambil menghela nafas-nya.
"yang benar saja!" ucap Erwin dengan ekspresi terkejut dan sontak berdiri. "siapa yang membunuh mereka?!"
nirmala yang melihat ekspresi dan respon tubuh Erwin yang sangat meyakinkan itu hanya bisa sedikit menunduk-kan kepala-nya sambil memejamkan mata-nya.
"reaksi-nya sangat murni, apa aku terlalu curiga pada-nya?" ucap Nirmala membatin.
"berdasarkan apa yang aku ketahui, kelompok Elang Hitam tidak tahu pasti pelaku-nya, tapi sekarang mereka sudah bergerak untuk mencari pelaku-nya." jelas Nirmala sambil mengangkat wajah-nya dengan perlahan.
Erwin yang mendengar perkataan Nirmala tentu-nya merasa sangat senang seolah sudah merdeka. namun meskipun begitu, ia tetap tidak memperlihatkan ekspresi-nya dan tetap berekting.
"akhir-nya dia mulai buka mulut! sekarang aku hanya perlu menuntun pembicaraan ini secara natural hingga bisa menemukan informasi yang aku butuhkan!" ucap Erwin dalam hati sambil tertawa licik.
note: tertawa licik-nya juga dalam hati.
*******
sementara itu, tiga pria yang sebelum-nya mengunjungi tempat Rogo kini sedang berdiskusi tentang kunjungan mereka ke tempat itu.
tujuan mereka adalah untuk menunggu kedatangan pelaku pembunuhan kelima anggota mereka.
menurut pimpinan ketiga orang itu, mereka memprediksikan bahwa pelaku pembunuhan anggota mereka akan kembali ke tempat Rogo untuk menyuruh Rogo tutup mulut, dan saat itu juga, mereka akan menyerang pelaku secara mendadak dan langsung membunuh si pelaku.
*******
saat ini, Erwin sudah mendapatkan informasi yang ia butuhkan dari Nirmala, dan sekarang ia berencana untuk segera mengakhiri pembicaraan-nya dengan Nirmala agar bisa langsung pergi ke tempat penjualan senjata tuan Rogo.
__ADS_1