Restart: Mafia Second Chance

Restart: Mafia Second Chance
Penyelidikan Petra


__ADS_3

Mendengar ucapan Airin itu membuat Erwin berusaha mencerna pikiran-nya.


"apa kau ingin membodohi-ku?" tanya Erwin mendadak sambil pasang ekspresi wajah yang tampak serius.


"maksud-mu?" tanya Airin dengan singkat.


"maksud-ku, seharus-nya pengobatan kakek-ku sudah membuat-mu jadi lebih baik.... jadi bagi-ku saat ini kau hanya sedang mencari-cari alasan untuk bisa tidur di sini." jelas Erwin dengan serius dan terus menatap Airin.


Airin pun hanya diam dan membalas tatapan Erwin dengan serius. hingga beberapa saat kemudian Airin langsung menutup mata-nya secara perlahan.


"seperti-nya aku tak perlu menyembunyikan alasan-ku yang sebenar-nya." balas Airin sambil tersenyum manis.


"sudah ku duga!" batin Erwin sambil menghela nafas.


Melihat reaksi Erwin yang tampak menghela nafas itu, Airin pun langsung memeluk tubuh Erwin dengan erat sehingga tubuh mereka saling merapat.


"aku mencintai-mu!" ujar Airin yang kemudian perlahan memejamkan mata-nya sambil sedikit membuka mulut-nya seperti sedang menunggu Erwin untuk mencium-nya.


Melihat tindakan Airin itu pun membuat Erwin terkejut dan wajah-nya mulai memerah.


pikiran Erwin yang sebelum-nya tenang kini makin kemana-mana dan tidak jelas. hingga akhir-nya muncul sebuah ingatan masa lalu di mana kakek Erwin bercerita kepada Erwin.


Flashback on


"ingat hal ini baik-baik Erwin!" ujar kakek Erwin sambil menepuk bahu Erwin. lanjut-nya sambil menoleh pada Erwin yang berdiri di samping-nya. "seorang wanita akan kehilangan rasa gengsi-nya saat sedang mabuk, hal itu tentu akan membuat seorang wanita tidak akan ragu lagi untuk menunjuk-kan perasaan-nya yang sebenar-nya pada-mu." jelas kakek Erwin.


"ehh....? dari mana datang-nya teori aneh itu.?" balas Erwin dengan ekspresi bingung dan merasa aneh.


"ini bukan sekedar teori! tapi ini adalah realita! karena memang seperti itulah cara-ku bisa mendapatkan nenek-mu saat masih muda!" jelas kakek Erwin yang kemudian tertawa puas.


Flashback off


"kakek sial@n!! kenapa kau mengajari-ku hal aneh seperti itu!... parah-nya lagi kenapa malah hal itu yang tiba-tiba muncul di kepala-ku!!" batin Erwin.


Setelah beberapa saat kemudian, Erwin pun akhir-nya menjatuhkan tubuh-nya ke sebelah kiri Airin sambil membalas pelukan Airin dengan lembut.


kemudian ia perlahan menarik kepala Airin ke pundak-nya dan setelah itu ia mulai mengelus kepala Airin dengan lembut.

__ADS_1


"aku yang membawa-mu ke tempat ini.... itu arti-nya kau adalah tanggung jawab-ku.... jadi tolong jangan membuat-ku menjadi pria yang tidak bertanggung jawab." ucap Erwin dengan suara yang terdengar lembut.


"hah...." Airin menghela nafas. "begitu ya...." ucap Airin sambil meletak-kan kedua tangan-nya di dada Erwin.


******


Di malam yang sama di daerah ibu kota Kalimantan, tepat-nya di pinggiran kota.


Saat ini tampak Petra sedang berjalan di sebuah daerah yang sangat sunyi karena tidak ada satupun penduduk yang tinggal di daerah itu.


"pergerakan Elang Hitam di pulau ini benar-benar semakin mencurigakan! aku yakin mereka pasti sudah banyak melakukan hal-hal yang ilegal!" batin Petra.


Setelah itu Petra pun mulai menyisir lokasi yang ada di tempat itu. hingga akhir-nya Petra pun menemukan sebuah gedung tua yang terlihat sudah tak layak pakai lagi.


"apa aku perlu menelusuri gedung itu?" batin Petra bertanya-tanya.


Setelah berpikir sesaat, akhir-nya Petra pun memutuskan untuk mendatangi gedung tua itu.


ketika Petra memasuki gedung itu, ia tidak sengaja mencium aroma sabu-sabu di sekitar gedung itu.


"seperti-nya ada yang memakai sabu-sabu di gedung ini." batin Petra sambil menutup hidung-nya.


"mulai dari sini aku harus se-waspada mungkin!" batin Petra yang kemudian mulai melangkah lagi.


Setelah beberapa lama berjalan, akhir-nya Petra bertemu dengan sumber aroma sabu-sabu itu.


di tempat itu Petra melihat ada sekitar 6 pria sedang nongkrong di tempat itu sambil menghisap sabu-sabu.


Melihat kedatangan Petra, ke-enam pria itu pun langsung melirik ke arah Petra dengan tatapan sinis dan merasa terusik.


selain itu, saat ini mereka berenam tampak saling berbisik dan bertanya-tanya mengenai kedatangan Petra.


"apa ada yang mengenal orang itu?"


"entahlah.... aku baru pertama melihat-nya!"


"tampak-nya bocah itu salah memilih tempat."

__ADS_1


Setelah memperdebatkan beberapa hal, akhir-nya mereka pun berdiri dari duduk-nya sambil menatap Petra dengan tatapan mengancam.


"apa yang kau inginkan di sini?!" tanya salah satu dari mereka pada Petra.


Mendengar pertanyaan itu, Petra pun langsung tersenyum manis menghadap mereka ber-enam.


"ahahaha...." tawa Petra dengan hambar sambil menggaruk kepala-nya yang tidak gatal. "aku hanya kebetulan lewat saja, jadi aku tak tahu kalau di sini ada orang." ujar Petra.


"oh begitu ya." ucap pria satu sambil maju mendekati Petra. lanjut-nya sambil berseringai. "meski hanya kebetulan, tapi karena kau sudah melihat kami di sini maka kau harus kami beri pelajaran!" ucap pria satu dengan penuh intimidasi.


"ahaha...." Petra sekali lagi tertawa hambar. timpal-nya, "maaf.... tapi aku sudah kenyang dengan pelajaran yang ku dapat di sekolah, jadi kali ini aku menolak pelajaran dari kalian." jawab Petra dengan ekspresi kikuk.


"pelajaran dari kami tidak seperti di sekolah! karena pelajaran dari kami adalah kekerasan!!" ujar pria satu.


"ehh...." ucap Petra sambil berseringai serta memiringkan kepala-nya seolah meremehkan pria satu itu. timpal-nya "apa kau yakin ingin menggunakan cara kasar?" tanya Petra.


"benar sekali!!" bentak pria itu sambil berseringai serta mengayun-kan tangan-nya untuk menghajar Petra.


~BRUAKK~


Pria satu itu tiba-tiba terbanting di atas lantai.


tangan kanan pria itu saat ini sedang di genggam oleh Petra, dan wajah pria itu saat ini sedang di injak oleh Petra.


lalu Petra menatap ke arah lima pria lain-nya yang saat ini sedang menatap pria satu yang di tumbangkan oleh Petra.


"apa kalian semua berniat melawan-ku?" tanya Petra dengan senyum yang penuh makna serta terkesan menakutkan.


Mendengar pertanyaan Petra itu membuat ke lima pria itu langsung gentar. bagaimana tidak, saat ini pria satu yang menjadi pilar mereka telah tumbang hanya dengan sekejap mata.


"kenapa diam saja?! jika ingin bertarung langsung saja!" ucap Petra lagi dengan nada yang sedikit tegas.


"HAJAR DIA!!" teriak pria satu yang ternyata belum hilang kesadaran dengan penuh emosi.


Mendengar teriakkan itu pun membuat semangat dari lima pria lain-nya langsung berkobar-kobar.


dengan serentak ke lima pria itu pun langsung berteriak dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


Jangan lupa


Like, Vote, komen, dan faforit


__ADS_2