
beberapa menit sebelum-nya.
saat ini Erwin memikirkan trik untuk memancing Nirmala agar mengatakan informasi yang ia butuhkan tanpa membuat Nirmala mencurigai diri-nya.
sesaat Erwin langsung membuka handphone-nya dan langsung mengatur alarm di ponsel-nya itu tanpa di perhatikan oleh Nirmala.
"siapa sebenar-nya orang yang berani cari masalah dengan kelompok Elang Hitam?" ucap Erwin sambil pasang raut wajah bingung dan seolah sedang berpikir.
"tidak ada yang tahu, tapi yang jelas-nya orang itu benar-benar tidak sayang nyawa." ucap Nirmala sambil meminum kopi yang juga di sediakan untuk-nya di meja.
"kau benar, aku yakin kelompok Elang Hitam tidak akan tinggal diam! mereka pasti akan segera mencari orang itu." ucap Erwin dengan wajah seolah kesal dengan pelaku pembunuhan lima anggota Elang Hitam.
"kau benar! sore tadi aku dan ayahku sempat berbicara dengan salah satu anggota yang memimpin pencarian, kata-nya mereka mengerahkan dua tim yang beranggotakan 18 orang di tiap tim itu." jelas Nirmala tanpa sadar seolah terbawa alur percakapan.
Erwin yang melihat Nirmala yang makin terpancing langsung melanjutkan pembicaraan dan tak membiarkan Nirmala menyadari tindakan-nya.
"wah itu bagus, aku yakin pelakunya akan segera mati di tangan kelompok Elang Hitam. apa lagi kelompok Elang Hitam itu semua-nya menggunakan senjata api!" ujar Erwin dengan ekspresi yang bersemangat.
"kau benar! pelaku-nya pasti akan mati. meskipun begitu, sebenar-nya tidak semua anggota Elang Hitam menggunakan senjata api, hanya sekitar 10 orang di kedua kelompok itu yang di perbolehkan menggunakan senjata api." jelas Nirmala sambil memainkan jari telunjuk-nya.
"eh, mengapa yang lain tak di perbolehkan?" tanya Erwin.
"itu karena hanya orang kepercayaan saja yang di perbolehkan memakai senjata api." jelas Nirmala lagi.
lalu Nirmala menatap Erwin dengan tatapan yang penuh selidik.
"kau seperti-nya tertarik dengan hal ini." ucap Nirmala menyelidik.
namun perkataan Nirmala itu sudah berada dalam jangkauan Erwin, bahkan bisa di bilang sudah di prediksikan oleh Erwin.
lalu Erwin tersenyum bersemangat menatap Nirmala.
"aku pernah bilang bukan? kalau aku sangat ingin bergabung dengan kelompok Elang Hitam." ujar Erwin dengan ekspresi bersemangat.
Nirmala yang mendengar itu langsung memegang dagu-nya dan mengingat-ingat kembali. akhir-nya Nirmala mengingat-nya setelah beberapa saat berpikir.
__ADS_1
"ya, seperti-nya kau pernah mengatakan-nya." ujar Nirmala meng-iyakan perkataan Erwin.
"nah, jika aku berhasil menangkap atau menemukan persembunyian pelaku, aku yakin mereka akan menerimaku dan menganggap apa yang ku lakukan sebagai bukti bahwa aku bersungguh-sungguh ingin bergabung." jelas Erwin lagi.
mendengar penjelasan Erwin tentu-nya membuat Nirmala jadi sedikit percaya, karena apa yang di katakan Erwin memiliki landasan yang kuat serta tak ada sedikit pun gerak-gerik mencurigakan yang bisa ia lihat dari Erwin.
"kau benar, aku juga berpikir begitu." balas Nirmala yang menyerah mencurigai Erwin dan langsung melempar senyum manis-nya pada Erwin.
setelah itu Erwin mulai berbasa-basi dengan Nirmala sambil menunggu waktu yang tepat. hingga beberapa saat kemudian, tiba-tiba ponsel Erwin berdering, dan Erwin dengan segera mengangkat telepon-nya.
"boleh aku menjawab telepon?" tanya Erwin sambil tersenyum dengan maksud yang tidak enak hati.
"tidak masalah, aku tidak akan terganggu kok." balas Nirmala sambil melambaikan tangan-nya ke samping.
"wanita bod*h! ini hanya alarm, tapi sangat berfungsi sebagai alasan untuk kabur tanpa di curigai." ucap Erwin dalam hati sambil mematikan alarm-nya dan langsung meletak-kan ponsel-nya ke telinga seolah sedang menerima telepon.
"ya halo!..... apa! sekarat!..... baiklah aku akan segera ke sana!!" ucap Erwin dengan suara keras sambil pasang ekspresi panik.
Nirmala yang melihat ekspresi dan mendengar perkataan Erwin barusan langsung memandang Erwin dengan ekspresi bingung dan seolah meminta penjelasan.
"maaf Nirmala, aku harus pergi! kakak-ku yang sakit jantung sedang sekarat dan sekarang sudah ada di rumah sakit." ujar Erwin menjelaskan sambil memegang kedua tangan Nirmala.
"aku ikut!" ujar Nirmala dengan wajah gelisah karena terbawa suasana yang di buat Erwin.
"tidak perlu, kita belum sedekat itu, aku belum bisa membawa-mu ke depan keluarga-ku." jelas Erwin meyakinkan.
Nirmala yang mendengar ucapan Erwin itu tentunya langsung tersipu malu. mengapa tidak, saat ini Erwin berbicara seolah diri-nya serius untuk memiliki hubungan dengan Nirmala sampai-sampai akan membawa Nirmala ke hadapan keluarga-nya.
"ba-baiklah." ucap Nirmala dengan lirih sambil menyembunyikan wajah-nya yang tampak memerah.
setelah itu Erwin pun keluar dari kamar Nirmala dan langsung pergi dari tempat itu.
*******
saat ini Erwin sudah tiba di sebuah gang sunyi. ia memarkir motor-nya dan berjalan kaki menuju tempat penjualan senjata ilegal tuan Rogo.
__ADS_1
saat Erwin tiba, ia langsung di sambut dengan tatapan sinis oleh para pegawai yang ada di sana.
"kau bocah yang kata-nya menarik itu kan?" tanya Bosu dengan tatapan serius.
"entahlah." jawab Erwin dengan singkat tanpa menoleh pada Bosu.
hanya dalam sedetik setelah menjawab ucapan Bosu, tiba-tiba sebuah tinju di layangkan ke wajah Erwin. namun Erwin sempat menangkis tinju tersebut, dan pelaku yang melayangkan tinju itu adalah Muru.
"kau pikir aku akan meloloskan-mu?!" ucap Muru dengan lantang sambil melakukan tendangan ke wajah Erwin. namun dengan cepat Erwin melompat ke belakang sehingga tendangan itu tak mengenai diri-nya.
"aku ingin tahu apa yang membuat tuan Rogo bisa tertarik pada-mu." ucap Muru dengan tatapan yang menyeramkan.
Erwin yang melihat tindakan Muru langsung menanyakan hal itu kepada Bosu.
"hei, teman-mu ini kenapa?" tanya Erwin dengan ekspresi yang tampak plonga-plongo.
"ehm..... dia ini memang selalu seperti ini." jawab Bosu dengan tertawaan yang hambar sambil menggaruk-kan kepala-nya yang tidak gatal.
"hei! kenapa kau tidak berpihak pada-ku?!" tanya Muru dengan nada membentak dan ekspresi yang tampak kesal sambil menoleh pada Bosu.
Bosu yang mendapati pertanyaan itu hanya bisa tertawa hambar.
"sudah lah, aku sendiri yang akan menguji anak ini! tidak akan ku biarkan dia mengambil gelar-ku dari tuan Rogo." ucap Muru dengan ekspresi yang tampak bersemangat.
"sumpah, dari tadi kau ini bicara apa?" tanya Erwin yang tampak bingung. lalu menoleh pada Bosu.
Bosu yang mendapati tatapan Erwin langsung mengerti dan menjelaskan situasi-nya pada Erwin.
"ehm, seperti-nya Muru ingin melawan-mu karena Muru adalah orang pertama yang di sebut tuan Rogo sebagai anak yang menarik, jadi dia tidak terima jika ada orang lain yang ingin menggantikan posisi-nya." jelas Bosu.
"ehh...... jadi dia merasa harga diri-nya sudah ku jatuhkan ya? lucu sekali." ujar Erwin dengan ekspresi yang datar.
"tak perlu banyak bicara bocah!" bentak Muru yang langsung berlari ke arah Erwin.
sedangkan Erwin yang mendengar diri-nya di panggil bocah hanya bisa pasang ekspresi aneh karena yang memanggil-nya juga seorang bocah.
__ADS_1