
Beberapa saat sebelum-nya.
Saat ini Airin tengah membuat teh untuk di hidangkan.
setelah teh-nya siap, kini Airin sedang beranjak dari dapur karena diri-nya mendadak mengingat sesuatu. lalu Airin pun berjalan menuju kamar-nya.
Saat tiba di depan pintu kamar-nya, Airin terkejut ketika melihat Erwin tengah berdiri sambil menatap monitor komputer-nya.
melihat hal itu, Airin pun langsung pasang raut wajah waspada dan langsung menutup pintu kamar-nya secara perlahan. namun hal itu tetap di sadari oleh Erwin berkat pendengaran dan kemampuan-nya untuk merasakan kehadiran seseorang di dekat-nya.
Setelah itu Erwin pun langsung menoleh ke belakang dan langsung bertemu pandang dengan Airin.
"apa yang kau lakukan di sini?" tanya Airin sambil menyembunyikan ekspresi waspada-nya dengan sempurna.
Sementara itu, Erwin yang mendapati pertanyaan Airin langsung melebarkan senyum-nya dengan licik.
Airin yang melihat hal itu langsung menghela nafas cukup panjang dan langsung berjalan ke arah Erwin sambil melepaskan kancing baju-nya.
"aku mau ganti baju. bisakah kau keluar dari sini?" ucap Airin dengan nada yang halus dan menunjuk-kan ekspresi wajah yang tampak tidak terusik dengan keberadaan Erwin di kamar-nya.
Erwin yang melihat Airin semakin mendekat sambil membuka kancing baju-nya kini berhenti tersenyum dan berusaha mengalihkan pandangan-nya dari Airin karena saat ini Airin sudah hampir melepaskan baju-nya.
"padahal aku sudah mengetahui rahasia-nya, tapi kenapa dia tampak biasa saja seolah tak mempermasalahkan hal itu? selain itu, ia juga tampak tidak terusik dengan keberadaan-ku di sini." ucap Erwin dalam hati.
Karena saat ini Erwin tengah berpikir sambil memalingkan pandangan-nya dari Airin, tiba-tiba sebuah baju putih polos menutupi wajah Erwin dan tentu-nya membuat Erwin sangat terkejut.
lalu dengan cepat Erwin menarik baju itu dari wajah-nya.
ketika baju itu tidak lagi menutupi wajah Erwin, Erwin makin di kejutkan dengan sebuah tangan mungil yang sedang mengayunkan pisau ke leher-nya.
Erwin yang cepat menyadari hal itu langsung menghindar ke samping sehingga serangan itu tidak mengenai diri-nya.
namun Airin yang tak mau membuang waktu, kini langsung menyerang lagi menggunakan pisau-nya ketika melihat Erwin yang berhasil menghindari serangan-nya barusan.
__ADS_1
Sekali lagi Erwin melihat pisau di ayunkan ke arah-nya, dan kini ia bergerak mundur untuk menghindar.
namun Airin tidak tinggal diam, ia dengan cepat langsung mengayunkan pisau-nya lagi dari bawah ke atas.
namun alhasil tangan Airin yang mengayunkan pisau itu berhasil di tangkap oleh Erwin.
Melihat serangan-nya berhasil di tangkap, Airin langsung kesal dan dengan segera mengayunkan tangan kiri-nya untuk meninju ulu hati Erwin.
namun, tinju Airin itu juga berhasil di tangkap oleh Erwin sehingga kedua tangan Airin kini tak dapat memberontak karena di tahan oleh Erwin yang tenaga-nya jauh lebih kuat dari diri-nya.
"apa kau tak malu melepas baju-mu dan hanya menggunakan bra* merah menggoda di depan seorang pria?" tanya Erwin dengan ekspresi yang sedikit panik dan wajah yang tampak sedikit memerah.
"aku tak perlu malu jika tubuh-ku di lihat oleh orang yang akan segera mati!" ucap Airin dengan nada yang tegas dan langsung memberontak.
"jangan berpikir kau bisa membunuh-ku dasar anak kecil!" balas Erwin sambil mengencangkan pegangan-nya.
Airin yang merasakan pegangan Erwin makin erat tentu membuat tangan-nya kesakitan. lalu ia pun langsung bergerak maju dan berniat menjatuhkan Erwin.
Sebelum-nya Airin berpikir bahwa saat terjatuh Erwin akan refleks untuk melepaskan pegangan-nya untuk menahan tubuh-nya saat terjatuh. namun yang terjadi malah sebalik-nya.
kini mereka berdua berada di atas kasur. namun Airin tetap berusaha berontak dan langsung mengarahkan pisau di tangan-nya ke wajah Erwin.
Erwin yang melihat pisau itu sudah dekat dengan wajah-nya langsung menahan tangan Airin dengan cepat.
lalu Airin yang menyadari tenaga-nya tak cukup untuk mendorong pisau itu langsung berusaha menaik-kan seluruh tubuh-nya ke atas tubuh Erwin agar ia bisa mengambil posisi yang paling efektif untuk menekan-kan tenaga-nya.
namun hal itu di sadari oleh Erwin, dan dengan cepat Erwin langsung melilitkan kedua kaki-nya ke pinggul Airin dan langsung mengeratkan lilitan kaki-nya sehingga Airin tak bisa melancarkan rencana-nya dan tak bisa berontak dengan leluasa lagi.
Setelah itu dengan cepat Erwin langsung menarik kedua tangan Airin dan membuat-nya sedikit merentang.
Airin yang gagal melakukan rencana-nya itu tentu langsung kesal dan marah pada Erwin. ia kemudian langsung mendekatkan wajah-nya ke wajah Erwin dan berniat untuk menggigit Erwin agar Erwin melepaskan diri-nya.
Erwin yang menyadari Airin yang ingin menggigit-nya langsung menggeser kepalan-nya sehingga Airin sempat meleset dan hanya menggigit angin.
__ADS_1
"enak gigit angin?" ucap Erwin dalam hati.
lalu dengan cepat Erwin memutar tubuh-nya sambil menjatuhkan tubuh Airin yang masih di lilit menggunakan kaki-nya itu ke samping, dan setelah itu ia langsung duduk di atas tubuh Airin sambil menekan kedua tangan Airin dengan kuat ke kasur sehingga tangan Airin tak dapat di gerak-kan.
Airin yang pergerakan-nya kini terkunci hanya bisa menunjuk-kan wajah kesal dan penuh kemarahan.
"lepaskan aku dasar lelaki mesum!" bentak Airin pada Erwin.
Erwin yang mendapati bentakan itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepala-nya dengan pelan.
"sebaik-nya kau tak mengatai ku seperti itu. lagi pula kau sendiri lah yang melepaskan baju-mu." jawab Erwin dengan tenang.
"itu memang benar! tapi setidak-nya berhenti lah menatap dada-ku seperti itu!" balas Airin dengan nada yang sedikit tinggi.
Erwin yang mendengar perkataan Airin hanya tertawa kecil dan terus menekan tangan Airin dengan kuat.
"kau tahu, mata seorang pria itu memiliki sebuah sistem mutlak! dan nama sistem itu adalah 'auto aim'." ucap Erwin dengan tenang dan kemudian mendekatkan wajah-nya ke wajah Airin. lanjut-nya, "jadi, jika seorang wanita dengan sengaja menggunakan pakaian seksi, maka jangan salah-kan jika mata seorang pria langsung mengarah ke bagian-bagian tubuh yang paling menggoda." ucap Erwin sambil tersenyum licik.
"aku tak peduli dengan 'auto aim' atau apalah itu! pokok-nya cepat lepaskan aku!" ucap Airin yang tetap berusaha memberontak.
"boleh saja! aku akan melepaskan-mu asalkan kau bisa memenuhi satu syarat dari-ku." ucap Erwin sambil berseringai licik.
Airin yang melihat seringai Erwin tentu-nya langsung menunjuk-kan ekspresi panik dan sedikit takut.
ia sempat berpikir untuk berteriak agar di dengar oleh Lisa di ruang tamu. namun ia langsung menepis pikiran itu karena diri-nya tak mau Lisa mengetahui rahasia yang ia sembunyikan selama ini.
kemudian Airin langsung menelan ludah-nya dengan kasar karena diri-nya mau tak mau harus mendengar-kan syarat dari Erwin dan ia pun perlahan membuka mulut-nya untuk berbicara.
"ap-apa yang kau inginkan?" tanya Airin terbata-bata dengan suara yang sedikit bergetar.
Erwin yang mendapati pertanyaan itu langsung berseringai sambil menatap Airin dengan tatapan yang menyeramkan.
jangan lupa like -> komen -> dan faforit
__ADS_1