Restart: Mafia Second Chance

Restart: Mafia Second Chance
Jeritan Hati


__ADS_3

Setelah beberapa saat Airin dan Erwin berjalan, kini mereka tiba di sebuah rumah yang menjadi tujuan mereka saat ini.


Setelah itu Erwin memberi salam dan langsung memanggil kakek-nya yang tinggal di rumah itu.


tak lama kemudian, kakek Erwin membuka pintu rumah dan mendapati Erwin yang sedang berdiri berhadapan dengan-nya di depan pintu.


"oh..... kau rupa-nya." ucap kakek Erwin sambil tersenyum.


setelah itu kakek Erwin langsung menatap seseorang yang saat ini berdiri di belakang Erwin.


"siapa gadis yang bersama-mu ini?" tanya kakek Erwin.


"oh, dia teman-ku kek." ucap Erwin sambil menoleh pada Airin dan langsung menarik Airin ke samping-nya.


"ha-halo kek." ucap Airin sambil tersenyum hambar.


"apa kau pacar cucu-ku?" tanya kakek Erwin tanpa basa-basi.


"ahahaha.... bukan." jawab Airin sambil tertawa hambar.


"hahaha benar juga.... gadis secantik diri-mu tidak mungkin suka pada cucu-ku yang payah ini." ucap kakek Erwin sambil melirik ke arah Erwin.


sementara Erwin hanya diam dan membiarkan kakek-nya berbicara sesuka-nya.


"baiklah! ayo masuk!" timpal kakek Erwin sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


Setelah di persilahkan masuk, Airin dan Erwin pun langsung masuk ke dalam rumah.


saat mereka tiba di ruang tengah, mereka langsung duduk di sebuah sofa yang ada di situ.


"oh iya kek, sejak kapan ada mobil yang bisa masuk ke desa? setahuku di desa ini tak ada jalan yang bisa di lalui oleh mobil, tapi tadi kami melihat ada mobil yang parkir di depan rumah pak kades." jelas Erwin sambil menanyakan apa yang mereka lihat sebelum-nya.


"oh, sebenar-nya pembangunan jalan untuk di lalui kendaraan ini sudah lama di rencanakan, hanya saja ada beberapa penghalang sehingga rencana-nya tidak bisa di laksanakan." jelas kakek Erwin.


"oh begitu ya...." gumam Erwin sambil mengangguk paham.


"dari yang kakek dengar." lanjut kakek-nya menjelaskan. "sebelum jalan itu di buat, ada seseorang yang terus menahan pendanaan untuk proyek jalan itu.... namun, aku dengar-dengar kata-nya orang itu kini sudah mati sehingga proyek ini berhasil di jalankan sesuai rencana." jelas kakek Erwin.


"begitu ya...." ucap Erwin sambil mengangguk paham dan kemudian menimpali-nya dalam hati.

__ADS_1


"di kehidupan-ku sebelum-nya desa ini sama sekali tidak tersentuh oleh kendaraan, khusus-nya mobil.... tidak ku sangka kini ada yang membangun jalan untuk bisa memasuki desa menggunakan mobil..... meskipun aku melakukan perjalanan waktu, harus-nya alur waktu hanya terus berjalan sama seperti sebelum-nya, dan satu-satunya yang bisa mengubah alur waktu itu hanya lah aku.... orang yang punya ingatan tentang garis waktu yang sebelum-nya." ucap Erwin dalam hati.


"hoi Erwin! bisakah kau mendengarkan pertanyaan-ku dulu sebelum melamun seperti itu?" tanya kakek Erwin yang membuat Erwin tersadar dari lamunan-nya.


"ah maaf, tadi kakek bilang apa?" tanya Erwin cepat.


"aku tanya apa tujuan kau membawa gadis cantik ini ke mari?" tanya kakek Erwin.


Mendengar pertanyaan itu, Erwin langsung menatap mata kakek-nya.


"seperti-nya kakek sudah melihat-nya juga." ucap Erwin dengan wajah serius.


Kakek Erwin yang mendapati perkataan Erwin itu tentu-nya sedikit terkejut dengan pernyataan Erwin barusan.


"juga?" ucap kakek Erwin memastikan sambil mengangkat satu alis-nya.


"ya.... dari ekspresi kakek aku yakin kakek juga sudah melihat bahwa ada mahluk tak kasat mata yang selalu mengikuti Airin." jelas Erwin yang tidak berhasil menangkap konsep pembicaraan kakek-nya.


"bukan itu yang ku pertanya-kan, tapi.... sejak kapan kau juga bisa melihat mahluk halus?" tanya kakek-nya dengan ekspresi penasaran.


hal itu pun membuat Erwin sempat tersentak dan sedikit terkejut.


"hehehe, soal itu.... ehm.... mungkin itu bakat yang tidak sengaja ku bangkitkan." ucap Erwin sambil tertawa hambar dan menggaruk kepala-nya yang tidak gatal.


"ehm.... maaf menyela pembicaraan kalian." ucap Airin dengan sopan sambil sedikit menunduk-kan kepala-nya. lanjut-nya, "bisa beritahu pada-ku apa yang sebenar-nya terjadi pada diri-ku?" ucap Airin.


"bisa ulurkan tangan-mu?" ucap kakek Erwin pada Airin.


Setelah itu Airin pun mengulurkan tangan-nya dan kakek Erwin langsung meraih-nya dan mulai menerawang apa yang sebenar-nya yang sedang mengikuti Airin.


Sesaat kemudian tampak kakek Erwin terlihat sedikit khawatir.


"ini benar-benar sangat parah!" ucap kakek Erwin sambil membuka mata-nya secara perlahan.


Mendengar perkataan kakek Erwin membuat Airin dan Erwin sedikit tersentak.


"separah itu kah?" tanya Erwin dengan ekspresi yang tampak sedikit khawatir.


"ya..... ini adalah roh halus yang di utus oleh seseorang dengan tujuan membunuh!" ucap kakek Erwin dengan tegas sambil menatap pada Airin.

__ADS_1


Airin yang mendapati tatapan itu langsung menunduk-kan kepala-nya dengan ekspresi yang tampak ketakutan.


"sejujur-nya aku tak ingin mengungkit masa lalu-mu, tapi aku harus memberi tahu kan hal ini." ucap kakek Erwin sambil menyilangkan tangan-nya di depan dada. lanjut-nya, "sebenar-nya tujuan dari mahluk halus itu sudah terpenuhi, tapi dia tidak mau meninggalkan-mu karena mahluk itu tertarik pada-mu." ucap kakek Erwin sambil menatap Airin yang masih tertunduk.


Mendengar penjelasan kakek-nya barusan membuat Erwin tampak sangat terkejut.


"tu-tunggu dulu, kalau memang mahluk itu tujuan-nya untuk membunuh, dan sekarang tujuan-nya sudah tercapai, maka itu arti-nya mahluk itu sudah berhasil menggunakan Airin membunuh orang yang menjadi target-nya." ucap Erwin sambil memutar tubuh-nya dan menghadap pada Airin.


"Airin, apa kau ingat siapa yang sudah kau bun...."


Ucapan Erwin terhenti ketika ia melihat bahwa Airin saat ini mulai menangis dan meneteskan air mata.


"Erwin, jangan lanjutkan pertanyaan-mu.... dari reaksi-nya kau harus-nya sudah mengerti dan punya bayangan tentang orang yang menjadi korban dari pembunuhan yang ia lakukan." jelas kakek Erwin.


Sementara itu, Erwin yang sebenar-nya sudah mengerti sejak tadi hanya bisa diam mendengar ucapan kakek-nya.


"aku tahu itu! aku hanya ingin memastikan karena ini benar-benar sangat menyakitkan!" ucap Erwin dalam hati sambil sedikit menunduk-kan kepala-nya.


Melihat situasi yang saat ini terasa sangat canggung, kini kakek Erwin langsung berdiri dan menatap Erwin dan Airin.


"biar kakek buat kan kopi dulu, kalian tenangkan pikiran saja untuk sekarang." ucap kakek Erwin sambil berjalan ke dapur.


Sesaat setelah kakek Erwin beranjak ke dapur, Airin mulai membuka pembicaraan dengan Erwin.


"apa kau benar-benar ingin tahu?" tanya Airin tanpa mengangkat kepala-nya.


"ehm.... kurasa aku sudah tahu secara garis besar-nya." balas Erwin sambil menoleh ke samping untuk menghindari pandangan-nya dari Airin.


"begitu ya...." ucap Airin yang kemudian menghela nafas panjang. lanjut-nya, "meskipun kau sudah tahu garis besar-nya, tapi entah kenapa rasa-nya aku ingin berbagi rahasia ini dengan-mu." ucap Airin yang kemudian mengangkat wajah-nya dan menatap Erwin.


"apa kau yakin untuk mempercayakan rahasia-mu padaku?" tanya Erwin sambil menoleh dan menatap Airin dengan tatapan yang tampak bersimpati.


"aku percaya pada-mu, jadi ku harap kau bisa menjaga rahasia ini...." ucap Airin dan kemudian air mata-nya perlahan mengalir membasahi pipi-nya.


kemudian ia menimpali perkataan-nya. "sebenar-nya aku sendiri lah yang membunuh kedua orang tua-ku." ucap Airin sambil meneteskan air mata-nya.


jangan lupa


Like, Vote, komen, dan faforit

__ADS_1


__ADS_2