Restart: Mafia Second Chance

Restart: Mafia Second Chance
Hidup Itu Kejam


__ADS_3

saat ini Erwin, Rimo dan kawan-kawannya sudah menjadi pusat perhatian di tempat itu.


banyak siswa yang melihat mereka dengan berbagai komentar yang berbeda-beda. ada yang tidak suka dengan tingkah Rimo, namun ada pula yang malah mengatai Erwin karena Erwin memang di kenal sebagai pecundang di sekolah itu.


namun semua orang langsung terdiam ketika Erwin melompat dan langsung mendaratkan kaki-nya ke wajah Rimo.


~BRAKK!!~


seketika Rimo terlempar cukup jauh dan langsung terkapar di lantai.


tanpa basa-basi, Erwin langsung menghampiri-nya dengan cepat dan langsung menghajar Rimo tanpa ampun.


Erwin menduduki tubuh Rimo, dan kemudian menarik kerah baju Rimo. setelah itu Erwin terus menerus melayangkan tinju-nya ke wajah Rimo.


kedua teman Rimo tentu-nya tidak tinggal diam. mereka berdua berlari ke arah Rimo dan Erwin.


salah satu teman Rimo berusaha menarik Erwin. namun Erwin tak mau melepaskan pegangan-nya pada kerah baju Rimo. hal itupun membuat kedua teman Rimo langsung melayangkan tinju mereka ke wajah Erwin. namun tinju mereka hanya di abaikan oleh Erwin.


Erwin hanya terus fokus menghajar Rimo, ia membiarkan kedua teman Rimo menghajar-nya.


wajah Erwin cukup babak belur, namun wajah Rimo lebih parah lagi dari wajah Erwin.


banyak luka lebam di wajah Rimo. Gigi Rimo ada yang terlepas, dan hidung-nya banyak mengeluarkan darah. pandangan mata Rimo langsung buram dan ia tampak akan kehilangan kesadaran.


melihat hal itu, kedua teman Rimo, yakni Sedi dan Nurdin langsung panik karena mereka berpikir jika Erwin terus lanjut maka Rimo akan mati.


"bocah ini sudah gila!" ucap Nurdin yang langsung melilitkan tangan-nya ke leher Erwin dan berusaha menarik Erwin.


"sial*n!! kau mau membunuh orang hah!?" bentak Sedi sambil menarik tubuh Rimo yang tak berdaya di hajar Erwin.


karena Sedi dan Nurdin berusaha secara terpisah untuk memisahkan Rimo dari Erwin, kini Rimo dan Erwin berhasil mereka pisahkan.


namun nasib Nurdin benar-benar tak beruntung. ketika Erwin terpisah dari Rimo, Erwin langsung mengayun-kan kepala-nya ke belakang dengan sekuat tenaga sehingga kepala-nya langsung menghantam wajah Nurdin.


Nurdin yang mendapatkan serangan itu secara refleks mengendorkan lilitan tangan-nya.

__ADS_1


Erwin yang merasa mendapat kesempatan tentu-nya langsung menyikut perut Nurdin dengan sangat kuat sehingga Nurdin langung terdorong mundur.


ketika Nurdin terdorong mundur, Erwin langsung maju untuk menyerang. namun pergerakan-nya terhenti karena Sedi langsung melilitkan kedua tangan-nya ke bahu Erwin dari arah bawah.


saat ini Nurdin tampak sedang memegangi hidung-nya yang mengucur-kan darah segar karena di hantam kepala Erwin. ia kemudian menatap Erwin dengan penuh kebencian.


sementara itu, Sedi yang masih mengunci pergerakan Erwin langsung berteriak dengan wajah yang sedikit panik untuk memberi aba-aba agar Nurdin langsung menyerang.


melihat aba-aba yang terburu-buru itu, Nurdin pun langsung bergerak. ia mengambil sebuah tong sampah yang tidak jauh dari-nya. lalu ia mengangkat tong sampah itu dan langsung bergerak cepat ke arah Erwin.


ketika Nurdin akan mengayun-kan tong sampah itu ke wajah Erwin.


Erwin langsung mengangkat kedua kaki-nya dan menjatuhkan diri ke lantai.


bobot tubuh Erwin yang berat itu tentu-nya membuat Sedi yang mengunci erwin langsung tertunduk mengikuti jatuh-nya tubuh Erwin ke lantai. hal itupun membuat tong sampah yang di ayun-kan Nurdin dengan dengan sekuat tenaga langsung menghantam kepala Sedi sehingga Sedi langsung jatuh dan mengucurkan banyak darah di lantai.


semua yang menonton perkelahian mereka itu hanya bisa terbelalak dengan rasa penuh kengerian.


para siswa perempuan yang melihat itu ada yang langsung mual dan langsung pergi dari sana, dan ada juga yang masih berdiri dan hanya bisa menutup mulut yang menganga menggunakan kedua tangan.


saat ini ia hanya bisa menatap Sedi dengan ekspresi yang penuh rasa takut.


"ap-apa aku membunuh-nya?" ucap Nurdin yang langsung tersungkur di lantai.


Erwin yang melihat hal itu langsung berdiri dan menatap Nurdin dengan tatapan dingin.


"dia hanya pingsan."


~PLAAKK!!"~


wajah Erwin langsung terkena tamparan dari seorang siswi cantik yang kini berdiri di depan-nya.


"kau sudah terlalu berlebihan!" bentak Santi yang baru saja menampar Erwin.


kini Erwin hanya terdiam, ia tak tahu harus berkata apa di depan Santi. wajah-nya hanya terus memandang ke samping.

__ADS_1


"a-aku hanya ingin membela diri." ucap Erwin dengan suara yang samar-samar sehingga hanya Santi yang bisa mendengar-nya.


"ini bukan membela diri lagi nama-nya, tapi pembantaian!" bentak Santi dengan wajah yang terlihat sedikit khawatir dan seolah akan menangis.


sedangkan Erwin yang mendengar perkataan Santi langsung melebarkan matanya seolah menyadari bahwa perbuatan-nya memang sudah terlalu berlebihan.


"kau.... kau sudah seperti orang asing di mata-ku!" bentak Santi sambil meneteskan air matan-nya dan langsung berlari serta meninggalkan Erwin yang hanya bisa menatap kepergian-nya.


tak lama setelah itu guru BK datang dan langsung memukuli Erwin dan Nurdin serta membawa Erwin dan Nurdin ke ruangan-nya. sedangkan Rimo dan Sedi yang sedang pingsan langsung di bawa ke ruang UKS untuk mendapatkan pertolongan pertama.


*****


setelah urusan di ruang BK selesai, kini Erwin sedang berjalan keluar dari area sekolah.


note: jam sekolah sudah berakhir cukup lama, jadi semua siswa sudah tidak ada lagi di gedung sekolah.


saat sedang berjalan, tiba-tiba Erwin di tahan oleh seorang dua pria paruh baya dan dua wanita yang tampak seumuran dengan dua pria itu. mereka adalah orang tua Rimo dan Sedi.


ayah Rimo yang tampak sangat kesal itu langsung melayangkan tinju-nya ke wajah Erwin dan membuat Erwin terjatuh ke lantai.


"berani-berani-nya kau memperlakukan putra-ku seperti itu! dasar tukang buli sial*n!!" bentak ayah Rimo dengan penuh amarah.


Erwin yang mendengar perkataan itu hanya terdiam dan sama sekali tidak berniat untuk melawan.


sementara itu, ayah Rimo yang masih tak puas dengan perlakuan-nya pada Erwin langsung menendang wajah Erwin hingga Erwin terkapar di lantai. lalu ia menginjak wajah Erwin berkali-kali. namun Erwin sama sekali tak melawan dan ia hanya bisa menahan air mata-nya dengan ekspresi yang penuh kesedihan.


hal yang membuat Erwin tak melawan karena ia tak ingin melakukan kesalahan yang sama seperti saat bertarung dengan Rimo. sedangkan hal yang membuat Erwin sedih adalah hal yang tidak di ketahui oleh orang lain, yaitu kenyataan bahwa Rimo pernah memperlakukan Erwin dengan lebih buruk dari yang Erwin lakukan pada Rimo hari ini.


tak lama setelah itu, ayah Sedi langsung menghentikan ayah Rimo karena ayah Sedi merasa iba pada Erwin.


setelah ayah Rimo berhenti menginjak-injak wajah-nya, kini Erwin langsung berdiri secara perlahan. lalu Erwin langsung membuka kancing baju-nya serta berdiri membelakangi ke empat orang tua itu.


setelah Erwin membuka baju-nya, ke empat orang tua itu seketika terkejut, dan kedua arang tua yakni ibu Rimo dan ibu Sedi langsung menutup mulutnya yang menganga mengguna-kan kedua tangan. melihat tubuh Erwin membuat kedua ibu itu sontak terkejut dan merasa sedih. hal itu di karenakan sebelum-nya Erwin memberi tahu bahwa diri-nya lah yang lebih dulu mendapat Bulian dari Rimo dan kawan-kawannya. namun hal itu di sangkal oleh Sedi, dan para orang tua itu lebih mempercayai Sedi karena bukti bahwa Erwin bisa menghabisi tiga orang.


"mana mungkin kau bisa di buli jika tiga orang ini tak sanggup melawan-mu!" begitulah pikir mereka saat masih di ruang BK.

__ADS_1


__ADS_2