Restart: Mafia Second Chance

Restart: Mafia Second Chance
Melawan Berandalan


__ADS_3

Erwin yang mendengar jawaban itu tentu-nya terkejut sekaligus merasa bersimpati pada Airin.


"maaf sudah menanyakan hal yang sensitif." ucap Erwin sambil sedikit menunduk-kan kepala-nya.


"uhm...." gumam Airin sambil mengangguk pelan. lanjut-nya, "tidak masalah." ucap-nya pelan.


"apa kematian orang tua-mu itu yang membuat-mu jadi sedikit anti sosial seperti ini?" tanya Erwin lagi dan kemudian langsung menimpali ucapan-nya, "kau tak perlu menjawab jika tidak ingin." ucap Erwin karena merasa bahwa apa yang di tanyakan-nya itu sedikit mengungkit sesuatu yang bisa saja membuat Airin makin bersedih.


"kalau mengenai masalah itu, aku masih belum bisa memberitahukan yang sebenar-nya pada-mu." balas Airin sambil sedikit menunduk-kan kepala-nya dengan ekspresi menyembunyikan sesuatu di benak-nya, dan membuat Erwin pun berhasil membaca ekspresi-nya itu.


"yang jelas-nya, saat ini aku tak mau orang-orang yang dekat dengan-ku dan orang-orang yang ku sayangi terluka." jelas Airin sambil perlahan mengangkat wajah-nya dan menatap Erwin sambil tersenyum.


Erwin yang melihat reaksi Airin itu jadi semakin bingung. ia merasa bahwa ada satu masalah besar yang sedang di sembunyikan dan di pikul oleh Airin seorang diri.


ia yakin bahwa Airin saat ini tidak mau ada orang terdekat-nya terlibat masalah dengan diri-nya.


"apa ini mengenai status-nya sebagai hacker? kurasa bukan!" ucap Erwin dalam hati sambil menduga-duga.


Setelah obrolan yang cukup sensitif itu berlalu, kesunyian pun mengambil alih ruangan itu. suasana jadi begitu sunyi dan hanya suara dentuman jam dinding saja yang terdengar.


detik demi detik berlalu dengan kesunyian, sampai akhir-nya handphone Erwin berdering.


Suara handphone yang berdering itu seketika mengejutkan mereka berdua dan membuat kedua-nya sempat tersentak dan langsung saling menatap satu sama lain.


"ah maaf, aku angkat telepon dulu." ucap Erwin sambil tersenyum hambar.


"uhm...." gumam Airin sambil mengangguk pelan dan kemudian kembali menunduk-kan wajah-nya seperti orang yang sedang malu-malu.


Ketika Erwin mengangkat telepon itu, tampak raut wajah Erwin langsung berubah drastis. wajah yang tadi-nya terlihat sangat ramah kini terlihat kesal.


"Airin, aku harus pulang sekarang." ucap Erwin sambil menatap Airin dengan lembut untuk menyembunyikan rasa kesal-nya saat ini.

__ADS_1


Airin yang mendengar Erwin yang sedang meminta pamit pada-nya langsung mengangkat wajah-nya dan membalas tatapan Erwin.


"baiklah, biar ku antar sampai di dipan." ucap Airin yang langsung berdiri dan berjalan melewati Erwin.


Setelah itu Erwin pun langsung mengikuti Airin dari belakang tanpa berkata apa pun.


******


Saat ini Erwin sedang mengendarai motor-nya dengan sedikit terburu-buru. hal itu di karenakan diri-nya saat ini sedang kesal karena ancaman yang di berikan oleh Toni pada-nya saat mereka berbicara di telepon tadi.


Orang yang menelpon Erwin saat di rumah Airin tadi adalah Petra Arata. namun saat Erwin mengangkat telepon itu, yang berbicara pada-nya bukan-lah Petra Arata, melainkan Toni.


Di telepon itu Toni mengatakan bahwa diri-nya telah menyandera Petra, dan jika Erwin tidak datang ke alamat yang ia berikan, maka Toni akan mereka hajar habis-habisan.


meski begitu, Toni tidak mau membiarkan Petra datang dengan rombongan. dengan kata lain, Petra harus datang seorang diri karena Toni ingin membalas dendam atas perbuatan Erwin sebelum-nya.


note: Erwin dan Petra sempat bertukar nomor saat berada di kafe.


Setelah beberapa saat berkendara, kini Erwin tiba di sebuah lahan kosong yang sangat sunyi.


"kalau tidak salah, ini adalah salah satu daerah yang sering di kunjungi anggota Elang Hitam. banyak dari anggota elang hitam yang menjadikan tempat ini sebagai tempat untuk transaksi narkoba." ucap Erwin saat memarkir motor-nya.


Setelah itu Erwin pun langsung berjalan dan memasuki gedung tua yang ada di belakang lahan kosong itu.


Saat Erwin berada di depan pintu masuk itu, tiba-tiba dua pria langsung muncul dari kegelapan dan menyerang Erwin.


Erwin yang menyadari serangan mendadak itu langsung refleks untuk menghindar.


Erwin melompat ke belakang sehingga kedua pria yang menyerang-nya itu kini hanya bisa berdiri berhadapan dengan diri-nya.


"apa begini cara kalian menyambut seorang tamu? dasar payah!" ucap Erwin sambil menatap kedua pria itu dengan tatapan yang merendahkan kedua pria itu.

__ADS_1


"ternyata apa yang di katakan oleh Toni itu benar!" ucap pria satu sambil bersiap menyerang.


"ya, kau ternyata benar-benar angkuh seperti yang dia katakan!" ucap pria dua yang langsung berlari dan melayangkan tendangan-nya ke wajah Erwin.


Erwin yang melihat hal itu hanya tersenyum dan langsung menunduk sambil melakukan tendangan ke bawah.


"lemah." ucap Erwin santai dan langsung menendang kaki yang menjadi tumpuan pria dua.


Hal itu pun membuat pria dua langsung terjatuh karena hilang keseimbangan.


Sementara itu, dari samping tiba-tiba sebuah tendangan lurus bagai tombak sedang mengarah ke kepala Erwin.


namun Erwin dengan lincah langsung memutar tubuh-nya ke belakang, dan secara bersamaan ia mengayun kaki-nya sambil memutar. hingga pada akhir-nya kaki yang di ayunkan-nya itu langsung menghantam kemalu*n pria satu yang menendang-nya.


Setelah itu dengan refleks Erwin langsung menendang lagi ke belakang dan tendangan-nya itu langsung mengenai wajah pria dua yang hendak menyerang-nya secara diam-diam.


"ba-bagaimana dia bisa menyadari-ku?" ucap pria dua dalam hati saat diri-nya terkapar di lantai dan langsung hilang kesadaran.


Sementara itu, pria satu yang kemalu*n-nya terkena tendangan Erwin barusan hanya bisa memegangi bagian kemalu*n-nya yang sakit dengan kedua tangan-nya.


diri-nya tak bisa banyak bergerak karena kesakitan. kaki-nya seolah mati rasa saat menahan rasa sakit itu.


"kalau tidak salah, kalian itu teman-teman Toni dari kelas sebelah kan?" ucap Erwin dengan nada bertanya.


"me-memang-nya kenapa?" tanya pria satu dengan terbata-bata.


"apa kau berpikir kau bisa mengalahkan orang yang sudah mengalahkan orang yang lebih kuat dari-mu?" ucap Erwin sambil menatap pria satu dengan tatapan yang menyeramkan.


Pria satu yang mendapati pertanyaan dan tatapan mengerikan itu seketika terpaku dan tak bisa berkata apa-apa.


diri-nya seolah sudah sadar seberapa jauh perbedaan kekuatan diri-nya dan Erwin.

__ADS_1


Tak lama setelah itu, Erwin pun langsung menendang kepala pria satu dan membuat pria satu terkapar di lantai dengan keadaan yang hilang kesadaran.


"seperti-nya masih banyak yang belum yakin dengan kemampuan-ku saat ini!" ucap Erwin dengan ekspresi yang sedikit kesal. lanjut-nya, "padahal aku sudah mengalahkan Rimo yang kata-nya salah satu berandalan terkuat di SMA kami." ucap Erwin yang kemudian berjalan memasuki ruangan itu.


__ADS_2