Restart: Mafia Second Chance

Restart: Mafia Second Chance
Ular, Erwin, Dan Airin


__ADS_3

"seperti dugaan-ku, cara ini bisa memancing pembunuh itu untuk menunjuk-kan diri-nya." ucap Tono sambil menyilangkan jari-jari tangan-nya di depan mulut. lanjut-nya, "tapi tidak ku sangka kali ini dia muncul menggunakan topeng, karena berdasarkan laporan dari tim penyelidik sebelum-nya dia tidak memakai topeng, dan ia tampak masih muda.... dia membuat rencana-ku jadi sedikit kacau dan tidak sesuai dengan ekspektasi-ku!" ucap Tono dengan mimik yang tampak sedikit kesal.


Sebelum melakukan penyerangan, Tono sudah menyiapkan topeng kulit yang menyerupai wajah-nya dan memberikan topeng kulit itu pada anggota-anggota terbaik-nya.


hal itu ia lakukan untuk memancing Erwin keluar dan melawan-nya karena Tono tahu bahwa pergerakan Erwin selalu merujuk pada pimpinan terlebih dahulu.


selain itu, di topeng itu terdapat kamera yang di gunakan untuk memantau, hal itu-lah yang membuat Tono bisa memiliki video pertarungan Erwin dengan anggota-nya yang menyamar saat penyerangan di cabang ke-5.


"sejujur-nya aku sulit untuk mempercayai hal ini, akan tetapi seperti-nya dugaan para penyelidik sebelum-nya benar! kemungkinan pria bertopeng itu masih seorang remaja SMA!" ucap Tono sambil menopang dahi-nya menggunakan dua jari. lanjut-nya, "seperti-nya aku harus mempersempit pencarian lagi setelah ini!"


******


Setelah cukup lama berkendara, kini Erwin sudah tiba di depan rumah Airin.


setelah itu Erwin pun langsung menelpon Airin untuk membuka gerbang rumah-nya itu.


tak lama kemudian Airin langsung muncul di depan pintu dan dengan cepat ia bergegas menghampiri Erwin yang berada di luar gerbang.


Setelah itu Airin langsung membuka gerbang itu, dan Erwin pun langsung masuk serta memarkir motor-nya di depan teras rumah Airin.


Ketika Erwin baru saja selesai turun dari motor dan melepaskan helm-nya, tiba-tiba tangan Erwin langsung di genggam erat oleh Airin, dan dengan terburu-buru Airin langsung menarik Erwin untuk masuk ke dalam rumah.


"ada masalah apa sebenar-nya? kau tampak sangat panik." ucap Erwin yang tampak penasaran dan bingung.


"cepat ikut aku, aku takut mengurusi hal seperti ini!" ucap Airin tanpa menoleh.


mendengar perkataan itu, Erwin hanya bisa diam dan menatap tubuh mungil Airin yang sedang berjalan cepat di depan-nya sambil terus memegangi tangan-nya.


"hah.... baiklah." ucap Erwin sambil menghela nafas dan pasrah mengikuti Airin.


Saat ini Erwin dan Airin sudah melewati ruang tamu. namun Airin terus berjalan dan ia terus menarik Erwin hingga mereka berdua tiba di depan kamar Airin.


"kenapa dia membawaku ke daerah terlarang ini lagi!" ucap Erwin dalam hati saat melihat Airin yang sudah membuka pintu kamar-nya.


Ketika pintu kamar itu sudah terbuka, Airin dengan cepat langsung memutar tubuh-nya dan segera memeluk Erwin dengan ekspresi yang tampak ketakutan.


"hei, apa yang kau...." ucapan Erwin tertahan.

__ADS_1


"aku tak berani masuk ke dalam!" sela Airin dengan cepat dan langsung bersembunyi di belakang Erwin sambil memegangi baju Erwin.


Erwin yang melihat tingkah Airin seperti itu jadi makin penasaran dengan apa yang terjadi di tempat itu.


berbagai spekulasi muncul di kepala Erwin, dan dalam waktu kurang dari 1 detik Erwin sudah memikirkan 5 kemungkinan yang membuat Airin ketakutan.


satu dari lima kemungkinan yang Erwin pikirkan itu tidak meleset dan memang benar.


"apa ada sesuatu di dalam kamar-mu?" tanya Erwin sambil menoleh pada Airin.


"uhm...." gumam Airin sambil menganggukkan kepala-nya. "aku melihat ular yang sangat besar di bawah ranjang-ku saat aku menyapu tadi." ucapan menjelaskan.


"oh, cuma ular rupa-nya, ku kira ada masalah yang lebih mengerikan dari ular." ucap Erwin sambil tersenyum manis menatap Airin.


Lalu Erwin pun langsung memutar tubuh-nya dan menghadap pada Airin. kemudian ia sedikit membungkuk-kan badan-nya agar wajah-nya sejajar dengan Airin.


lalu Erwin langsung mengelus kepala Airin dengan lembut sambil terus tersenyum.


"tenang saja, aku akan membereskan-nya." ucap Erwin dengan suara yang lembut agar Airin bisa tenang dan tidak ketakutan lagi.


Sementara itu, Airin yang saat ini sedang di perlakukan dengan manja oleh Erwin malah jadi terpesona dan tersipu malu melihat cara Erwin yang berusaha untuk menenangkan diri-nya.


akhir-nya Airin hanya bisa mengangguk-kan kepala-nya berkali kali dan membuat wajah-nya yang tersipu malu itu jadi terlihat makin menggemaskan.


Erwin yang melihat reaksi Airin itu kini langsung berhenti mengelus kepala Airin dan langsung meluruskan tubuh-nya.


"baiklah, biar ku berantas ular kecil itu!" ucap Erwin yang tampak bersemangat sambil menoleh ke arah ranjang Airin.


Setelah berkata seperti itu, Erwin langsung mendekati ranjang Airin dengan santai, ia berusaha menunjuk-kan pada Airin bahwa tidak ada yang perlu di takutkan.


"lagi pula aku ini pernah membunuh ketua mafia, jadi mana mungkin ular bisa membuat-ku ketakutan." ucap Erwin dalam hati.


Saat sudah tiba di ranjang Airin, Erwin pun mulai mencoba mengintip ke bawah ranjang itu.


"Erwin, berhati-hati lah." ucap Airin yang tampak khawatir.


"tenang saja." ucap Erwin dengan penuh percaya diri. lanjut-nya, "ular kecil seperti in...."

__ADS_1


~HUUAAAA!!~


Teriak Erwin sambil melompat jauh ke belakang dengan ekspresi yang tampak sangat ketakutan.


~SSSSSTTT~


Seekor piton yang sangat besar tiba-tiba keluar dari bawah ranjang dan langsung mengarah ke arah Erwin dengan kecepatan tinggi.


Erwin yang melihat kedatangan piton itu tentu-nya jadi panik dan langsung berlari mendekati Airin.


lalu dengan cepat Erwin menggenggam tangan Airin dan menarik Airin untuk lari bersama-nya.


"kenapa kau tak bilang kalau ular-nya sebesar itu!" ucap Erwin dengan ekspresi yang tampak panik.


"tadi sudah ku bilang, tapi kau-nya saja yang sok berani!" balas Airin yang jadi ikutan panik.


Sementara itu, ular piton yang besar-nya seukuran lengan orang dewasa itu terus mengejar mereka berdua.


Karena Airin lari-nya lebih lambat, mau tak mau Erwin langsung menarik tubuh Airin dan segera mengangkat Airin dan menggendong-nya dengan gendongan ala tuan Putri.


setelah itu Erwin membawa Airin ke dapur.


"kenapa ular sebesar itu bisa ada di dalam rumah-mu?" tanya Erwin sambil menurunkan Airin di lantai.


"mana ku tahu! tanya author-nya sana!" jawab Airin yang langsung menunduk karena panik.


"tchi, meskipun kita tau dari mana asal ular itu, tetap saja tidak akan mengubah apa-apa!" ucap Erwin yang dengan cepat meraih dua bilah pisau dapur.


Tak lama setelah itu, ular piton itu langsung menemukan mereka berdua, dan kemudian ular itu langsung melihat ke arah Airin.


sementara itu, Erwin yang melihat pandangan ular itu teralihkan tentu-nya tak mau membuang kesempatan.


kemudian Erwin pun langsung melempar pisau-nya itu dengan sangat kuat.


ular piton yang terlambat menyadari hal itu kini tak sempat menghindar, sehingga kepala ular itu langsung terkena pisau itu dengan telak.


Pisau yang di lemparkan Erwin itu membuat piton itu terdorong bersama pisau itu, sehingga pisau itu tertancap pada daun pintu dan membuat piton itu tertahan di pintu itu.

__ADS_1


Hal itu pun membuat piton itu langsung menggeliat dan berusaha untuk kabur.


ekor piton itu berayun ke sana kemari dengan kuat dan membuat benda-benda di sekitar-nya berhamburan.


__ADS_2