Restart: Mafia Second Chance

Restart: Mafia Second Chance
Santi Di Culik


__ADS_3

PERINGATAN!!


Episode kali ini sedikit mengandung adegan


18+


"baiklah, aku akan mengatakan apa alasanku merekrut-nya dan mengangkat-nya menjadi salah satu pengurus cabang penjualan senjata ilegal kita." ucap Lepi memulai pembahasan. lanjut-nya, "alasan-ku adalah, karena dia memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin!!.... baik dari segi kemampuan bertarung, sampai dengan kemampuan berpikir serta strategi di lapangan." jelas Lepi yang tampak serius.


"jadi menurut anda dia sudah setara dengan kami?" tanya Johan dengan ekspresi serius.


Mendengar pertanyaan Johan, Lepi hanya menggeleng kepala-nya pelan dengan ekspresi datar.


"kau salah Johan." ucap Lepi menyangkal ucapan Johan. "yang benar itu, dia sudah berada satu atau dua tingkat di atas kalian." jawab Lepi.


Mendengar jawaban Lepi itu, semua pengurus cabang yang berada di tempat itu langsung terbelalak kaget kecuali Rogo.


"yang benar saja?" tanya Ritman meyakinkan.


"ya itu benar!" jawab Rogo menyela sambil melipat kedua tangan-nya di depan dada.


"hei jangan bercanda seperti itu..... haha." ujar Johan sambil tertawa hambar dengan ekspresi kurang percaya namun bimbang karena Rogo juga sependapat dengan pimpinan mereka.


"apa kau pikir pembahasan kita ini hanyalah sebuah permainan sampai-sampai di jadikan candaan?!" ucap Rogo bertanya sambil melirik tajam pada Johan.


Melihat tatapan Rogo itu membuat tawa hambar Johan kini terhenti dan berganti ekspresi menjadi seperti orang yang plonga-plongo.


Sementara itu, Jonathan yang sedari tadi melihat situasi yang mana Rogo dan Dopi tampak sependapat dengan pimpinan mereka kini mulai menerima keputusan yang sudah di ambil oleh pimpinan mereka.


Lalu Jonathan pun mulai membuka mulut-nya dan mengeluarkan argumen.


"sebaik-nya kita terima keputusan tuan Lepi, karena aku yakin kita di kumpulkan di tempat ini karena tuan Lepi ingin membicarakan tentang apa yang harus kita lakukan terhadap bocah itu." jelas Jonathan.


Mendengar ucapan Jonathan, kini Johan dan Ritman langsung fokus dan kembali mengarahkan pandangan-nya pada tuan Lepi.


"kau benar Jonathan, hari ini kalian ku kumpulkan agar kita bisa membahas bagaimana kita harus memanfaatkan Erwin agar ia bisa kita kendalikan sepenuh-nya!" jelas Lepi sambil tersenyum licik dan menyilang kan jari-jari tangan-nya di depan wajah-nya.

__ADS_1


*******


Saat ini, di salah satu selasar sekolah tampak Petra dan Santi sedang berjalan.


saat ini suasana di sekolah sudah sunyi karena jam pulang sudah lama berlalu.


Sementara itu, Petra dan Santi saat ini pulang lebih lambat dari yang lain-nya karena mereka mendapatkan tugas dari wali kelas mereka.


Kedua-nya berjalan bersebelahan, namun tak satu pun dari mereka yang memulai percakapan. kedua-nya diam tak bersuara dan tampak seperti enggan untuk saling menegur.


Sesaat kemudian Petra pun mulai bosan dan akhir-nya mulai membuka percakapan.


"apa kau tak merasa jenuh dengan kesunyian seperti ini?" tanya Petra sambil menoleh pada Santi.


"sedikit.... memang-nya kenapa?" jawab Santi yang kemudian bertanya tanpa menoleh pada Petra.


"bukan apa-apa kok....." jawab Petra. lanjut-nya, "hari ini kau terlihat murung lagi, apa ada masalah?" tanya Petra.


"apa pun masalah-ku itu tidak ada kaitan-nya dengan-mu." ucap Santi yang terlihat malas meladeni Petra.


"ehm.... kalau begitu aku minta maaf karena sudah bertanya yang tidak perlu." balas Petra sambil menggaruk kepala-nya yang tidak gatal.


Melihat hal itu, Petra pun langsung menghentikan langkah-nya karena diri-nya ingin membiarkan Santi sendiri.


"hah.... padahal dia orang yang mungkin bisa memberikan informasi mengenai Erwin, tapi seperti-nya sangat sulit mendekati-nya, apa mungkin dia itu pacar-nya Erwin?" batin Petra bertanya-tanya.



"akhir-nya dia berhenti mengikuti-ku." batin Santi saat menoleh dan tak melihat Petra di belakang-nya.


Tak lama setelah itu, Santi pun berjalan di salah satu selasar kelas, dan tiba-tiba diri-nya langsung di bius oleh seseorang yang sedang menggunakan topeng kulit sebagai penyamaran.


hal itu pun membuat Santi tak sempat melawan dan langsung hilang kesadaran begitu saja.


__ADS_1


Saat ini, di sebuah kamar, tepat-nya di sebuah ranjang dengan kasur yang empuk, tampak Santi sedang terbaring dengan keadaan terikat.


kedua tangan Santi di ikat dengan tali dan kemudian di rentangkan di atas kasur, sementara itu, kedua kaki Santi juga di ikat dan di tarik ke kedua sisi kasur sehingga pah@ Santi terbuka cukup lebar.


bukan hanya itu saja, mulut Santi pun saat ini di ikat agar ia tak bisa berteriak keras.


Di sisi lain, tepat di samping Santi tampak seorang pria tak di kenal sedang duduk dan menatap Santi dengan tatapan penuh n@fsu.


sesekali pria itu menyentuh perut Santi yang masih mengenakan seragam sekolah lengkap, lalu perlahan ia mengelus-nya dan mulai mer@ba-raba hingga ke bagian kem@luan Santi.


"sudah lama sekali aku ingin bermain-main dengan-mu, tapi kau selalu saja menolak-ku dan tak memberiku kesempatan untuk mendekat." ujar pria itu dengan senyum menjijikan yang penuh akan n@fsu bir@hi.


Setelah beberapa saat kemudian, akhir-nya Santi pun sadar dan mulai membuka mata-nya secara perlahan.


saat diri-nya tersadar, kini ia langsung terkejut bukan main karena tangan, kaki, serta mulut-nya sedang di ikat.


parah-nya lagi, otak-nya langsung menduga hal apa yang akan terjadi pada-nya sekarang setelah menyadari pose dan posisi-nya saat ini.


"apa yang terjadi pada-ku?! kenapa aku di sini!?" batin Santi dengan ekspresi panik.


Sementara itu, pria yang tak di kenal itu kini langsung berdiri dari duduk-nya dan langsung tertawa jahat.


Mendengar tawa itu, Santi pun tersadar bahwa ada seseorang di samping-nya. ia pun langsung menoleh dan mendapati wajah pria yang tak di kenal kini sedang menatap-nya dengan niat yang buruk.


"hunguha hungu!! (lepaskan aku!!)" ucap Santi yang tampak makin panik.


"hah? kau bicara apa?" ucap pria itu sambil mendekatkan wajah-nya ke wajah Santi.


"hungoho! hunguha hungu!" (kumohon! lepaskan aku!)" ucap Santi lagi.


"hahahaha...." tawa pria itu makin jadi. "aku tak mengerti apa yang kau katakan, tapi aku tahu kau sudah tak sabar untuk melakukan-nya." ucap pria itu sambil melebarkan senyum-nya yang tampak m€sum itu.


Kemudian, pria itu pun langsung naik ke atas ranjang. sementara itu Santi tampak berusaha berontak dan berteriak meminta tolong. namun perkataan-nya yang terdengar sangat tidak jelas dan tidak terdengar kuat.


"tidak usah panik sayang, aku akan memulai-nya dengan perlahan." ucap pria itu dengan senyuman m€sum sambil memegang kedua p@ha Santi yang terbuka lebar.

__ADS_1


Jangan lupa


Like, Vote, komen, dan faforit.


__ADS_2