
Saat Airin melihat tatapan Erwin makin aneh, Airin pun makin panik dan jantung-nya mulai berdegup kencang.
sekali lagi ia menelan ludah-nya dengan kasar.
Melihat reaksi Airin saat ini, Erwin jadi makin melebarkan senyum-nya, dan kemudian ia mendekatkan wajah-nya ke wajah Airin.
Airin yang melihat wajah Erwin yang makin mendekat langsung memejamkan mata-nya dengan cepat dan tampak sedikit ketakutan.
Kini wajah Erwin sudah sangat dekat dengan wajah Airin sampai-sampai mereka bisa saling merasakan hembusan nafas dari hidung masing-masing.
Airin yang merasakan hembusan nafas dari hidung Erwin kini makin berdebar-debar. di sisi lain, diri-nya yang sadar bahwa ia tak bisa lari lagi hanya bisa pasrah dengan apapun yang akan Erwin lakukan pada diri-nya.
"kenapa keperawanan-ku harus di rebut dengan cara seperti ini? bahkan oleh pria ini?" batin Airin yang hanya bisa pasrah meski diri-nya merasa kesal.
Sesaat kemudian, Erwin langsung menjilat* telinga Airin dan langsung membuat Airin makin berdebar dengan rasa khawatir di hati-nya.
"mikirin apa hayo....?" tanya Erwin sambil berbisik di telinga Airin dengan nada usil.
lalu dengan cepat Erwin langsung menarik wajah-nya menjauh dari wajah Airin. lanjut-nya, "tenang saja, aku tidak akan memperk*sa-mu atau semacam-nya."
Airin yang mendengar ucapan Erwin itu langsung terkejut dengan mata yang terbelalak.
ia menatap Erwin dengan ekspresi bingung, namun dalam hati-nya ia merasa lega karena tampak-nya Erwin tidak jadi menc*buli diri-nya.
"a-aku tak memikirkan apa-apa." ucap Airin cepat sambil memalingkan wajah-nya yang memerah karena tiba-tiba merasa malu karena sudah memikirkan hal cabul tentang Erwin.
Erwin yang melihat reaksi Airin itu tentu-nya langsung tersenyum manis karena terpesona dengan wajah manis Airin yang sedang malu itu.
"hei, anak kecil tak boleh memikirkan hal-hal yang berbau 18+." ucap Erwin dengan senyuman di wajah-nya yang di tunjuk-kan untuk mengejek Airin.
__ADS_1
"a-anak kecil kata-mu?" ucap Airin yang langsung menoleh pada Erwin dengan ekspresi yang tampak sedikit kesal. lanjut-nya, "apa kau tak melihat pertumbuhan dada-ku dengan benar ha?!" ucap Airin yang tampak sedikit tersinggung.
Lalu Erwin langsung melirik dada Airin sekali lagi dan langsung tertawa kecil.
"kau menyebut benda kecil ini sebagai dada? kau me-lawak ya?" ucap Erwin sambil mengangkat satu alis-nya.
"memang-nya kenapa kalau kecil? ini kan masih bisa bertumbuh!.... lagi pula yang besar belum tentu alami, bisa jadi karena mantan!" tegas Airin dengan ekspresi yang tampak tidak mau kalah pendapat.
"hah...." Erwin menghela nafas panjang sambil memutar bola mata-nya dengan malas. lanjut-nya, "gaya pacaran jaman sekarang miris ya...." ucap Erwin yang kemudian kembali memandang wajah Airin.
"sudah cukup basa-basi-nya, sekarang cepat beritahu syarat-mu itu!" ucap Airin memerintah.
"baiklah." ucap Erwin sambil mengangguk dan langsung menimpali-nya. "syarat dari-ku cukup sederhana. tadi saat masuk ke kamar ini aku melihat komputer rakitan-mu itu di penuhi dengan bahasa program." ucap Erwin sambil menatap komputer yang saat ini masih menampilkan bahasa program di monitor-nya.
"lalu?" tanya Airin singkat.
"berdasarkan pengamatan-ku, saat ini kau sedang meng'hack' sistem bank yang ada di luar negri. itu-lah salah satu cara-mu memperoleh uang tanpa harus bekerja di luar rumah." jelas Erwin dengan santai namun tetap menekan tangan Airin di atas kasur. lanjut-nya, "dan syarat dari-ku adalah kau harus membantu keuangan-ku melalui bank yang kau 'hack' itu. tapi jika kau menolak maka aku akan melaporkan diri-mu pada polisi." ucap Erwin menjelaskan.
"jika kau menutupi semua jejak itu, maka rekaman yang kulakukan saat ini akan sangat berguna ke depan-nya." ucap Erwin sambil membalas senyuman percaya diri Airin.
Airin yang mendengar hal itu langsung terkejut dan melebarkan mata-nya.
"a-apa maksud-mu?" tanya Airin yang tak percaya.
"sebenar-nya saat masuk ke mari dan melihat rahasia-mu, aku langsung terpikir untuk mengekang-mu menggunakan cara ini, jadi aku pun langsung mulai merekam semua kejadian ini menggunakan ponsel-ku dan berencana memancing percakapan dengan-mu saat kembali ke ruang tamu..... namun aku sangat beruntung karena kau datang dengan sendiri-nya dan memberi-ku kesempatan yang lebih leluasa untuk melancarkan rencana." jelas Erwin panjang lebar.
Airin yang mendengar penjelasan itu jadi semakin terkejut. ia sama sekali tidak menyangka bahwa dari tadi semua kejadian ini sudah dalam perencanaan Erwin.
"bukankah itu berarti sedari tadi aku hanya menari di atas telapak tangan-nya." batin Airin sambil menunjuk-kan ekspresi terkejut-nya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat terkejut, diri-nya langsung menepis keterkejutan-nya itu karena Erwin yang langsung bertanya pada-nya.
"jadi bagaimana? apa kau setuju dengan persyaratan-ku?" tanya Erwin sambil tersenyum tipis.
"berapa uang yang kau butuhkan?" balas Airin bertanya.
"tidak begitu banyak, aku hanya membutuhkan uang untuk kebutuhan hidup saja, jadi aku akan meminta-nya jika aku butuh." jawab Erwin.
"baiklah kalau begitu..... aku setuju dengan syarat-mu itu.... jadi bisakah kau melepas-ku sekarang?" balas Airin sambil pasang wajah yang muram.
"hmm." gumam Erwin sambil mengangguk-kan kepala-nya.
setelah itu Erwin pun langsung melepaskan tangan Airin sambil melompat jauh ke belakang sebagai bentuk waspada jika ternyata Airin ingin menyerang-nya secara mendadak.
Saat Erwin sudah melompat ke belakang dan tak menindih tubuh Airin lagi, kini Airin langsung membuang pisau kecil di tangan-nya dan dengan segera ia menarik selimut-nya untuk menutupi tubuh-nya yang hanya memakai bra* itu.
"bisa tolong ambilkan baju-ku?" ucap Airin dengan suara lembut dan langsung menunjuk-kan ekspresi malu-malu.
Erwin yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala-nya dengan pelan sambil menikmati wajah manis Airin saat sedang malu-malu.
"sekarang sifat-nya yang sebelum-nya sudah kembali." ucap Erwin dalam hati saat melihat tingkah Airin sama seperti saat diri-nya pertama kali mengenal Airin.
Lalu Erwin pun langsung membawakan baju Airin dan memberikan baju itu pada Airin.
saat Airin meraih baju itu dari tangan Erwin, Erwin langsung bertanya pada Airin.
"dari mana kau belajar membunuh dengan tenang?" tanya Erwin saat mengingat Airin yang saat pertama kali masuk ke kamar dan langsung menunjuk-kan ekspresi yang sangat natural sampai-sampai Erwin tak bisa merasakan niat membunuh dari Airin.
"kebanyakan orang yang ku temui sebelum-nya mereka semua tak bisa menyembunyikan niat membunuh-nya, dan aku selalu bisa merasakan niat membunuh mereka.... namun gadis ini justru sangat berbakat menyembunyikan niat membunuh-nya." ucap Erwin dalam hati dengan rasa kagum.
__ADS_1
"bisakah kau keluar dari sini? aku ingin memakai baju-ku." ucap Airin yang enggan untuk menjawab pertanyaan Erwin sebelum-nya.
Erwin yang melihat Airin yang mulai menyingkirkan selimut dari tubuh-nya langsung tersentak, dan kemudian ia pun langsung keluar dari kamar itu karena diri-nya menyadari bahwa Airin tampak tidak ingin menjawab pertanyaan itu.