
Pagi telah tiba, sang Surya mulai menerangi bumi dari arah timur.
Pagi ini terlihat Lisa sedang berdiri di depan pintu rumah Airin. Lisa saat ini terlihat tidak bersemangat karena ia masih belum bisa bertemu Airin karena Airin belum kembali ke Kalimantan.
"huh..." Lisa menghela nafas dengan ekspresi lesu. "apa jalan-jalan mereka masih belum selesai juga?" ucap Lisa.
Sesudah itu Lisa pun langsung melangkah kembali ke mobil-nya, dan setelah itu ia langsung mengendarai mobil itu serta segera berangkat ke sekolah.
Saat ini di sekolah, tampak Santi yang sedang duduk dengan ekspresi wajah yang tidak bersemangat.
sesekali ia menoleh ke arah jendela sambil berpikir.
"kenapa Erwin masih belum masuk sekolah? padahal waktu hukuman-nya sudah selesai." ucap Santi dalam hati.
Tak lama setelah itu, dari pintu masuk tampak Petra baru saja datang dan memasuki kelas. ia kemudian mengedarkan pandangan-nya ke seluruh kelas dan melihat bahwa diri-nya sampai hari ini masih sering di lirik oleh para gadis.
"hah...." Petra menghela nafas dengan lesu. "beginilah nasib jadi orang ganteng." ucap-nya dalam hati sambil tertawa percaya diri.
Setelah berkata seperti itu, kini mata Petra langsung menoleh ke arah Santi yang sedang duduk sambil menatap ke jendela.
"seperti biasa, hanya dia gadis yang mengabaikan-ku di kelas ini." batin Petra sambil berjalan ke kursi-nya.
Di sisi lain, para siswa laki-laki yang ada di kelas itu merasa terusik dengan tingkah Petra.
"apa-apaan dia itu? apa dia pikir dia benar-benar sekeren itu?"
"modal ganteng doang sok keras!"
"padahal aku lebih tampan dari-nya"
"tampan dan berani!"
Berbagai bisik-kan mencela terdengar dari sekelompok laki-laki yang ada di kelas itu.
sementara itu, Petra yang mendengar perkataan mereka hanya diam dan tersenyum tipis menanggapi hal itu.
******
Pagi ini di pulau Sulawesi tengah tepat-nya di kediaman kakek Erwin, tampak Erwin yang sedang terbaring di atas ranjang dengan tubuh yang di perban karena pertarungan-nya melawan kelompok Burung Hantu.
Tak lama setelah itu, Petra mulai membuka mata-nya. kemudian ia mulai mengedarkan pandangan-nya ke segala arah.
__ADS_1
"kepala ku masih sedikit pusing." batin Petra sambil menutupi mata dan dahi-nya dengan telapak tangan.
Setelah merasa sedikit tenang, Petra pun langsung bangun dan turun dari ranjang-nya. ia kemudian langsung berjalan keluar dari kamar dan segera ke kamar mandi untuk mencuci muka.
setelah keluar dari kamar mandi, ia langsung pergi ke ruang tengah dan di sana ia melihat nenek-nya dan Airin sedang duduk sambil menonton berita.
"pagi." seru Erwin menyapa mereka yang sedang serius menonton.
Mendengar seruan Erwin, Airin pun langsung menoleh pada Petra sambil tersenyum dengan perasaan yang bersyukur.
"akhir-nya kau sadar juga!" ucap Airin sambil berjalan cepat menghampiri Erwin.
"ehm.... apa aku membuatmu khawatir?" tanya Erwin sambil tersenyum tipis.
"uhmm...." gumam Airin sambil mengangguk pelan.
Sementara itu, nenek Erwin yang masih di tempat duduk-nya hanya memutar tubuh dan menoleh pada Erwin.
"apa tubuh-mu sudah terasa lebih baik?" tanya nenek Erwin.
"ya, sekarang luka ku terasa sedikit teratasi." jawab Erwin.
"hanya sedikit?" ucap nenek Erwin penuh selidik.
"ah.... maksud-ku sudah teratasi." jawab Erwin yang langsung terlihat seperti mencari alasan.
Tak lama setelah itu, kini perhatian mereka bertiga langsung tertuju pada televisi yang ada di depan mereka. mengapa tidak, saat ini tampak di acara televisi itu sedang menyiarkan berita yang cukup heboh. hal itu di karenakan berita itu adalah sebuah berita yang menunjuk-kan sosok seseorang yang sedang berayun di udara layak-nya spider man dan menggunakan mesin pendorong di punggung-nya yang tampak seperti iron man.
berita itu kini menjadi sangat heboh, dan tempat pengambilan video amatir tentang sosok yang berayun itu di ambil di ibu kota pulau Kalimantan.
note: video amatir itu di rekam oleh seseorang di tengah kota saat Petra sedang dalam perjalanan ke markas-nya.
"wah apa-apaan itu?" ucap Airin yang terlihat sedikit penasaran tentang berita itu
"tidak ku sangka sekarang sudah ada orang yang berhasil merealisasikan teknologi seperti itu." ucap Erwin yang sedikit terkejut.
Sementara itu, nenek Erwin justru terlihat tidak terkejut mengenai berita itu.
"hah...." nenek Erwin menghela nafas. "hal seperti ini sudah wajar terjadi, mengingat perkembangan teknologi hingga saat ini yang terus meningkat dan meningkat." ujar nenek Erwin.
"yah.... apa yang nenek katakan memang benar." balas Erwin.
__ADS_1
"lagi pula saat ini aku sudah melakukan perjalanan waktu, jadi bukan hal aneh lagi jika teknologi itu bisa di realisasikan." lanjut Erwin dalam hati sambil menoleh ke samping.
******
Siang ini, di sebuah rumah yang merupakan markas rahasia penjual senjata ilegal sedang di adakan rapat.
para petinggi yang tersisa dari pertarungan dengan Elang Hitam kini berkumpul dan memulai pembicaraan untuk membahas rencana mereka ke depan-nya dan apa yang harus mereka lakukan untuk menghadapi Elang Hitam.
"apa semua sudah berkumpul?" ucap Lepi yang merupakan pimpinan tertinggi mereka.
"ya semua sudah berkumpul." jawab Rogo.
"hah...." Lepi menghela nafas dengan lesu. "jadi hanya ini yang tersisa ya..." ujar-nya.
"baiklah, kalau begitu kita langsung mulai saja."
Setelah itu, Rogo pun langsung memulai pembahasan.
"baiklah, sekarang kita akan mulai dari strategi penjualan senjata, karena kita sudah hilang koneksi yang baik dengan Elang Hitam, kini kita harus membangun wilayah kita sendiri dan bertindak secara rahasia dan lebih tertutup lagi." jelas Rogo.
Ketika pembahasan itu di buka, mereka semua pun langsung mengungkapkan berbagai gagasan dan pendapat masing-masing. meskipun terjadi pro kontra terhadap pendapat satu sama lain, namun mereka tetap bisa menstabilkan suasana rapat itu.
hingga akhir-nya mereka tiba di pembahasan mengenai Erwin yang bekerjasama dengan mereka.
"baiklah, sekarang kita akan membahas mengenai Erwin yang kini di angkat menjadi salah satu pengurus cabang oleh tuan lepi." ucap Rogo.
"apa?! maksud mu bocah yang baru bergabung itu?" tanya Ritman.
"ya, ini adalah keputusan pribadi-ku." jawab tuan lepi menyela.
"apa maksud-nya ini, dia kan baru bergabung, kenapa langsung naik tingkat seperti itu?!" tegas Jonathan sambil menatap tuan lepi.
"benar! lagi pula kalau dia di angkat menjadi pengurus cabang kenapa dia di biarkan tidak hadir saat ini!?" timpal Johan.
"bisa tenang sebentar? pembahasan mengenai ini baru di mulai, jangan langsung mengeluarkan argumen seenak-nya tanpa mendengar penjelasan lebih lanjut!" tegas Rogo sambil menatap ke tiga pengurus cabang itu.
"apa yang di katakan Rogo itu benar." timpal Dopi yang sedari tadi hanya diam dan mendengarkan.
Jangan lupa
Like, Vote, komen, dan faforit
__ADS_1