
setelah ke empat orang tua itu melihat tubuh Erwin, mereka langsung terkejut.
"ke-kenapa tubuhmu penuh luka seperti itu?" tanya ayah Rimo yang terkejut sambil menunjuk tubuh Erwin yang memiliki banyak goresan bekas luka.
"ini semua adalah perbuatan anak kalian." ucap Erwin dengan nada suara yang dingin.
"aku hanya berusaha menjadi kuat untuk bisa membalas perbuatan mereka!" timpal Erwin dengan lantang.
"ya-yang benar saja." ucap ayah Sedi yang tampak tidak percaya.
"seperti apa pun aku menjelaskan pada kalian, aku yakin kalian tetap tidak akan percaya padaku!" balas Erwin sambil memakai kembali baju-nya. "meskipun aku menunjuk-kan tubuhku ini pada kalian, aku yakin kalian tetap akan membela anak kalian!"
setelah memakai baju-nya, Erwin pun beranjak dari tempat itu dan meninggal-kan ke-empat orang tua itu dalam keadaan yang masih setengah penasaran.
******
saat ini Erwin sedang berada di sebuah taman.
hari mulai malam, kegelapan mulai menguasai kota, namun itu tak berlangsung lama karena lampu-lampu kini memancarkan kilauan cahaya-nya.
Erwin kini sedang duduk dengan posisi wajah dan setengah badan yang mengarah ke tanah.
saat ini Erwin sedang tenggelam dalam benak-nya. ia sedang mengingat semua yang telah di lakukan oleh Rimo terhadap diri-nya.
perlakuan kejam Rimo itu tentu-nya hanya di ketahui oleh Erwin serta Rimo dan kawan-kawannya. bahkan Santi pun tak mengetahui bagaimana kejam-nya Rimo memperlakukan Erwin.
jika saja Santi tahu, sudah jelas santi-lah satu-satunya wanita yang akan langsung membela Erwin.
selama ini, sejak Erwin masuk SMA, satu-satunya gadis yang paling peduli dengan Erwin adalah Santi. hal itu pula-lah yang membuat Santi dan Erwin bisa berpacaran di masa depan.
namun kini semua itu sirna sudah, Erwin yang sekarang tidak sama dengan Erwin yang lemah dan selalu baik di depan Santi.
__ADS_1
note: saat ini Erwin sudah kelas dua. sedangkan Erwin sudah jadi korban buli sejak masih kelas satu.
saat Erwin sedang tenggelam dalam pikiran-nya, tiba-tiba seorang gadis cantik datang dan duduk di samping Erwin.
gadis itu menggunakan seragam sekolah yang sama dengan Erwin. gadis itu memiliki rambut hitam panjang yang terurai dan membuat diri-nya tampak semakin menawan.
gadis itu tidak lain adalah Lisa yang sedari tadi mengikuti Erwin.
saat ini Lisa sedang duduk di samping Erwin, dan kemudian ia langsung menepuk bahu Erwin dengan pelan.
Erwin yang merasakan sentuhan di bahu-nya itu langsung menegak-kan tubuh-nya. ia kemudian menoleh ke samping dan tiba-tiba wajahnya langsung berpapasan dengan wajah Lisa yang cukup dekat dengan wajah-nya.
tatapan mata mereka langsung saling bertemu. Lisa pun akhir-nya langsung melempar senyum manis-nya ke arah Erwin.
Erwin hanya bisa terdiam melihat senyuman itu, ia sama sekali tak bisa membalas senyuman dari Lisa karena saat ini hati-nya sedang di penuhi dengan beban yang berat bagi-nya.
"tidak baik jika kau terus-terusan larut dalam kesedihan." ujar Lisa yang menatap Erwin dengan prihatin. lalu ia perlahan mengangkat tangan kanan-nya dan mengelus kepala Erwin dengan lembut.
"kau memang benar. aku memang tak sepenuh-nya tahu bagaimana sakit yang kau rasakan, akan tetapi bukan berarti aku tak tahu apa yang sudah kau alami selama ini." ucap Lisa sambil tersenyum manis pada Erwin.
"kau tak tahu apa-apa, jadi jangan di perdebatkan lagi." balas Erwin sambil membuang pandangan-nya dari Lisa.
mendengar perkataan itu, Lisa pun langsung memegang bagian bawah baju Erwin dan menarik-nya ke atas sehingga bekas luka yang ada di tubuh Erwin langsung terlihat.
"walau kau menyembunyikan-nya aku tetap akan tahu karena aku selalu memperhatikan-mu." ucap Lisa dengan nada yang bersimpati.
Erwin yang terkejut dengan tindakan Lisa langsung menarik kembali baju-nya ke bawah agar bekas luka-nya itu kembali tertutupi baju.
"jangan asal tarik baju seperti it...."
ucapan Erwin terhenti ketika Lisa yang tiba-tiba langsung memeluk diri-nya.
__ADS_1
"k-kau kenapa?" tanya Erwin yang tampak kaku di peluk oleh Lisa.
"sejak masih kelas satu dulu, kau selalu di jahili oleh Rimo, Sedi, dan Nurdin." ucap Lisa.
"mereka bahkan telah mengancam-mu hingga kau tak bisa berbuat apa-apa." timpal Lisa yang masih memeluk Erwin dan berusaha menyembunyikan wajahnya dari pandangan Erwin.
Erwin yang mendengar ucapan Lisa itu tentu-nya terkejut. kini ekspresi wajah Erwin berubah dan terlihat sedang serius.
"dari mana kau tahu kalau aku pernah di ancam oleh mereka?" tanya Erwin sambil membalas pelukan Lisa dan kemudian membelai rambut Lisa dengan lembut.
"itu karena aku pernah melihat-nya sendiri." ucap Lisa yang kemudian mengangkat wajah-nya dan menatap Erwin. "waktu itu kau...."
Flashback.
di sebuah gang yang sunyi tampak Rimo dan kawan-kawannya sedang berjalan terburu-buru dengan wajah yang tampak penuh amarah.
saat ini, Rimo sedang berjalan sambil menarik kerah baju Erwin dengan kasar-nya, dan saat mereka berada di sudut gang itu, tepatnya di sebuah rumah kosong yang luas-nya tidak seberapa, Rimo pun langsung membawa Erwin Masuk ke rumah kosong itu dan melempar Erwin ke lantai dengan kuat sehingga Erwin tersungkur ke lantai itu.
Erwin berusaha berdiri dan menoleh ke arah Rimo dan kawan-kawannya. namun Rimo langsung melayangkan sebuah tinju ke wajah Erwin sehingga Erwin kembali jatuh terkapar di atas lantai.
"berani-beraninya kau mengadu pada guru!!" bentak Rimo yang kemudian duduk di atas tubuh Erwin sambil terus melayangkan tinju-nya ke wajah Erwin.
saat itu Erwin benar-benar tak berdaya. diri-nya berusaha menangkis pukulan Rimo, namun karena Rimo makin kesal Rimo menyuruh Nurdin dan Sedi memegangi kedua tangan Erwin agar Erwin tak berontak saat di pukuli oleh-nya.
"ini adalah hukuman karena kau sudah mengadu kepada guru! kau pikir dengan mengadu seperti itu kau akan aman?! justru sebalik-nya! kau akan makin ku tindas!" tegas Rimo yang masih menghajar Erwin hingga mulut dan hidung Erwin mengeluarkan darah.
"jika kau mengadu pada guru, di dalam sekolah kau mungkin aman, tapi di luar sekolah kau akan ku teror! dan jika setelah ini kau mengadu pada polisi, maka percayalah aku akan mencari dan membunuh-mu sebelum aku di tangkap oleh polisi!" timpal Rimo yang kemudian berdiri dan mengambil sebuah cambuk dan tali dari tas punggung yang di bawa-nya.
mereka lalu mengikat mulut Erwin agar tak bersuara. kemudian mereka mengikat kedua tangan dan kaki Erwin agar tak banyak berontak. lalu setelah itu mereka mengikat Erwin ke sebuah tiang agar Erwin tak bisa bergerak leluasa.
melihat diri-nya yang kini terikat, Erwin hanya bisa menangis meratapi nasib-nya. sedangkan Rimo tampak berseringai licik sambil mengangkat cambuk-nya tinggi-tinggi.
__ADS_1
"ini hukuman yang akan menjadi peringatan bagimu agar ke depan-nya tidak mengadu lagi!"