Restart: Mafia Second Chance

Restart: Mafia Second Chance
Meresahkan


__ADS_3

Saat ini di kelas XI IPA 2 tampak Santi sedang keluar dari kelas dengan ekspresi yang tidak bersemangat.


saat ini adalah jam pulang sekolah, dan ia langsung keluar bersama dengan ketiga teman-nya.


"hei Santi, kenapa kau makin hari terlihat makin tidak bersemangat saja?" tanya Seli sambil menyikut Santi dengan pelan.


Santi yang mendengar pertanyaan itu hanya menoleh sekali pada Seli dan kemudian langsung menghela nafas panjang dengan ekspresi-nya yang tidak bersemangat itu.


"dia sudah seperti itu sejak Erwin di skors." ucap Mia dengan suara pelan.


"iya aku tahu, tapi ini terlihat lebih buruk, sebelum-nya tidak separah ini." ucap Seli sambil berbisik pada Mia.


"sudah-lah, yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah membantu-nya agar tetap ceria." jelas Dian yang tiba-tiba menyela pembicaraan Seli dan Mia.


"Santi, mau jalan-jalan ke kafe dulu?" tanya Dian sambil berjalan mendekati Santi dari belakang.


"uhm." gumam Santi sambil mengangguk. "jika kalian mau ke kafe aku akan ikut." ucap-nya.


*****


Saat ini Lisa terlihat sedang menghentikan mobil yang ia kendarai di depan rumah Airin.


sesudah itu ia membuka kaca mobil-nya dan melihat ke arah rumah itu sambil menelepon Airin.


"halo." ucap Lisa saat panggilan-nya terhubung.


[ya, halo Lisa.] balas Airin melalui telepon.


"sekarang aku ada di depan rumah-mu, bisakah kau buka gerbang rumah-mu untuk-ku?" tanya Lisa.


[ehm.... soal itu.... ahh.... tu.... Erwin!....]


Mendengar suara aneh melalui telepon itu membuat Lisa bingung sambil memiringkan kepala-nya.


"apa yang terjadi? tadi ku dengar kau menyebut nama Erwin. apa dia bersama-mu?" tanya Lisa yang tampak kebingungan.


[ya, halo Lisa.] ucap Erwin menyapa Lisa melalui telepon.


"oh, ternyata benar, bisa kau buka gerbang rumah untuk-ku?" tanya Lisa lagi sambil mengeluarkan kepala-nya dari mobil.


[maaf saja, tapi saat ini aku dan Airin sedang sibuk berjalan-jalan di suatu tempat.] ucap Erwin tanpa berbasa-basi.


"ap-apa?" ucap Lisa yang tampak tidak percaya. "yang benar saja, Airin itu bukan tipe orang yang akan mau kau ajak keluar begitu saja." ucap Lisa sambil tertawa hambar.


[jika kau tidak percaya biar ku kirimkan foto kami saat ini.] ucap Erwin yang terdengar santai.

__ADS_1


"ehh? baiklah, coba kirim sekarang! aku yakin kau sedang berbohong!" ucap Lisa dengan penuh percaya diri.


[Ting]


Notifikasi di ponsel Lisa berbunyi, hal itu menandakan bahwa Erwin benar-benar mengirim foto mereka.


"dia benar-benar mengirim-nya!" batin Lisa dengan ekspresi yang terlihat sedikit gugup untuk melihat foto itu.


Setelah itu Lisa pun langsung membuka kiriman foto itu dan foto itu benar-benar menunjuk-kan wajah Erwin dan Airin serta sebuah pemandangan di belakang mereka.


Di foto itu terlihat Erwin sedang merangkul Airin dengan mesra, sementara Airin terlihat malu-malu dan membuat wajah-nya terlihat makin menggemaskan.


Melihat foto itu membuat Lisa langsung terkejut, ia langsung menganalisa foto itu.


saat ini mereka berdua terlihat sedang berfoto di tempat yang tinggi, bisa jadi itu adalah sebuah perbukitan, atau semacam-nya.


Dari foto itu Lisa pun langsung menyimpulkan.


"kalian sedang kencan!?" teriak Lisa dengan suara yang sedikit histeris.


[entah.... coba pikirkan sendiri.] ucap Erwin yang kemudian tertawa kecil.


"bagaimana mungkin! bisa jelaskan lebih detail padak...."


~tut tut tut tut~


"hah....." Lisa menghela nafas panjang sambil menahan ekspresi-nya agar tetap terlihat tenang. "Airin sudah mendahului-ku ya." ucap Lisa yang kemudian langsung menyalakan mobil-nya dan langsung pergi dari tempat itu.


*******


Saat ini di sebuah daerah pegunungan tampak Erwin sedang tertawa sambil memegang perut-nya.


ia tertawa karena baru saja ia sudah berhasil menjahili Lisa dengan informasi yang ambigu itu.


"hei Erwin, bukan-kah kau malah membuat Lisa salah sangka?" ucap Airin sambil memegang lengan baju Erwin.


"tenang saja." ucap Erwin menghentikan tawa-nya sambil meletak-kan tangan-nya di atas kepala Airin. lanjut-nya, "jika kita sudah kembali barulah kita cari alasan yang lebih bagus agar ia tak salah paham.... lagi pula tadi kau terlihat bingung mau bilang apa, jadi aku mencoba untuk menggantikan-mu berbicara." ucap Erwin yang kemudian berjalan lagi.


"lagi pula kau ingin merahasiakan masalah ini dari Lisa kan? jadi lebih baik kita akhiri pembicaraan dengan-nya secepat mungkin agar ia tak bertanya-tanya lebih banyak lagi." timpal Erwin sambil berjalan.


"uhm.... kau memang benar sih, tapi...." ucap Airin menggantungkan perkataan-nya dan langsung berhenti berjalan.


"tapi?..." tanya Erwin sambil menoleh.


"bisakah kita istirahat dulu?" ucap Airin sambil tertawa hambar dan langsung duduk. lanjut-nya, "aku tak sanggup lagi menaiki anak tangga ini untuk sekarang, jadi aku mau istirahat dulu.... boleh ya?" ucap-nya sambil memiringkan kepala-nya.

__ADS_1


Erwin yang melihat tingkah Airin itu langsung tersenyum ramah pada Airin.


kemudian ia turun dan langsung mendekati Airin. ia kemudian membungkuk dan menatap Airin dengan ramah.


"mau ku gendong?" tanya Erwin sambil tersenyum.


"ge-gendong?" ucap Airin yang wajah-nya kini memerah secara tiba-tiba.


"ya.... bagaimana? kau mau?" tanya Erwin lagi sambil mengulurkan tangan-nya.


"ba-baiklah, ji-jika kau memaksa." jawab Airin sambil mengulurkan tangan-nya dengan wajah yang tampak malu-malu.


Melihat reaksi Airin, Erwin pun hanya tersenyum manis dan langsung meraih tangan Airin dan membantu Airin untuk berdiri. lalu tanpa basa-basi Erwin langsung mengangkat tubuh Airin dan menggendong-nya dengan gendongan ala tuan Putri.


"yaps.... aku memaksa." ucap Erwin saat ia sudah menggendong Airin.


Saat Erwin menggendong Airin, tiba-tiba detak jantung Airin jadi makin cepat. debaran di dada-nya tidak lagi bisa di kontrol, dan darah-nya terasa mengalir dengan cepat yang membuat wajah-nya terlihat makin memerah.


saat Erwin mulai berjalan, sesekali ia menatap wajah Erwin, dan kemudian kembali menatap ke depan.


"ternyata dia memang lebih kuat dari perkiraan-ku." ucap Airin dalam hati sambil mendaratkan telapak tangan-nya di dada Erwin dan mengelus-nya secara perlahan.


"ada apa?" tanya Erwin sambil menoleh pada Airin saat ia merasakan tangan Airin menyentuh dada-nya.


"tidak ada apa-apa." jawab Airin sambil tertawa hambar.


Setelah beberapa saat berjalan, kini mereka berdua tiba di sebuah desa yang berada di atas gunung itu.


Saat mereka berdua sudah tiba, Erwin pun langsung menurunkan Airin dan kemudian mereka menoleh ke belakang untuk melihat seberapa jauh perjalanan mereka hingga tiba di desa ini.


"huh.... benar-benar perjalanan yang melelahkan." ucap Erwin sambil mengelap keringat-nya.


"maaf, gara-gara aku kau jadi kelelahan." ucap Airin sambil mengeluarkan tisu dan memberikan-nya pada Erwin.


Setelah nafas Erwin sudah sedikit stabil, mereka berdua pun melanjutkan perjalanan menuju rumah kakek Erwin yang ada di desa itu.


dan saat mereka berada di tengah desa, mereka melihat sebuah mobil mewah yang di parkir di depan rumah kepala desa itu.


"wah mobil itu mewah sekali." ucap Erwin yang tampak terkesima.


"ya kau benar, tapi aku jadi bingung.... padahal tadi kita jalan lewat tangga, lantas bagaimana mobil itu bisa sampai di sini?" ucap Airin sambil tertawa hambar.


lalu seketika Airin dan Erwin langsung saling menatap dengan mata yang terbelalak.


"yang benar saja?!!" teriak mereka berdua serentak.

__ADS_1


jangan lupa


Like, Vote, komen, dan faforit


__ADS_2