
kemudian pria pemilik toko itu mulai membuka mulutnya.
"kau masih terlalu muda untuk mengetahui tentang mereka." ucap pria itu dengan ekspresi yang enggan untuk memberitahu.
"memangnya butuh usia berapa untuk bisa mendapatkan informasi tentang mereka?" tanya Erwin sambil menunjukkan seringai yang penuh makna.
melihat Erwin yang tampak ngotot untuk menggali informasi darinya, pria itu pun langsung mengangkat pistol dari balik jasnya dan langsung menodongkan pistol itu ke kepala Erwin.
"jika kau masih ingin hidup sebaiknya jangan ikut campur urusan orang." ucap pria itu dengan wajah serius karena sejak awal dia memang sedikit mencurigai gerak-gerik Erwin.
siapapun pasti akan terkejut ketakutan ketika melihat sebuah senjata api tepat di depan kepalanya. namun tidak bagi Erwin, saat ini Erwin tetap tenang dan terus menunjukkan senyumnya.
kemudian Erwin perlahan mengangkat kedua tangannya rata dengan kepala, ia memposisikan tangannya seperti orang yang sedang menyerah.
"kenapa kau masih tersenyum seperti itu?" ucap pria pemilik toko itu dengan heran karena Erwin masih terus tersenyum.
"apa kau mau mati bersamaku?" ucap Erwin yang balik bertanya sambil memainkan sebuah alat pematik Bom di tangan kirinya.
mendengar perkataan Erwin, si pria itu langsung mengfokuskan matanya pada tangan kiri Erwin, dan ia pun langsung terkejut ketika menyadari bahwa Erwin sedang memegang alat pematik Bom.
"ap.... apa-apaan kau ini! tidak mungkin ada bom di sekitar sini!!" bentak pria itu sambil menghentakkan pistolnya dan berusaha menyangkal Erwin.
melihat pemilik toko itu tampak panik, Erwin pun langsung berseringai licik dan menatap pria itu dengan tatapan yang penuh mengancam.
"hahaha, kau tidak percaya? bagaimana kalau kau lihat saja langsung." ucap Erwin dengan suara yang dingin namun mengintimidasi.
kemudian Erwin membuka resleting jaketnya menggunakan tangan kanannya, lalu ia menarik salah satu kain jaket itu dan menunjukkan sebuah bom rakitannya sendiri di sembunyikan di balik jaketnya itu.
pria itupun terkejut dan makin panik ketika melihat bahwa benar-benar ada bom di balik jaket itu.
"anak ini benar-benar nekat! dia tidak datang tanpa rencana!!" ucap pria itu dalam hati sambil menunjukkan ekspresi ketakutan.
"haha! kau bisa ketakutan juga rupanya!" ucap Erwin dengan tawa mengejek. "bagaimana kalau kita coba ledakkan bom ini. sebelumnya aku pernah coba, dan ternyata ledakkan nya cukup kuat, tentunya cukup kuat untuk membunuh dua nyawa yang saling berdekatan." jelas Erwin dengan senyuman yang dimaksudkan untuk mengancam.
"anak ini tidak main-main!" ucap pria itu dalam hati dan menunjukkan ekspresi anehnya saat ketakutan.
"ba.... baiklah! jangan ledakkan itu! aku akan memberi tahu kau apa yang aku ketahui!" ucap pria itu memohon.
__ADS_1
"heh, apa kau yakin? apa kau tidak ingin mati saj...."
"hei tu..... tunggu dulu! jangan tekan tombolnya dulu!" ucap pria itu ketika melihat Erwin yang hendak menekan tombol pematik Bom itu. lalu pria itu langsung meletakkan pistolnya di atas meja pembayaran.
"baiklah.... aku sekarang tidak bersenjata. jadi biarkan aku memberikan informasi yang kau butuhkan itu." ujar pria itu.
"sepertinya kau paham juga ya!" balas Erwin sambil berseringai karena memang tujuannya adalah untuk melucuti senjata pria itu.
kemudian Erwin mengambil pistol itu dari atas meja dan langsung mundur serta menodongkan pistol itu dengan jarak yang cukup jauh dari jangkauan pria itu.
pria itu menatap Erwin dengan tatapan aneh karena Erwin yang mendadak mundur.
"ehh?! kenapa kau mundur?" tanya pria itu.
"ini untuk jaga-jaga agar kau tidak macam-macam, karena jika aku menodongmu di jarak yang dekat, kau tentunya bisa menepis pistolku dengan cepat agar aku tak sempat menembak dengan benar." jelas Erwin dengan tenang sambil terus menatap pria itu dengan waspada.
"hah....." pria itu menghela nafasnya sambil menundukkan kepala. "padahal kau ini masih muda, tapi justru terlihat lebih berpengalaman dalam pertempuran. kau bahkan sampai kepikiran untuk berhati-hati dalam mengarahkan senjata mu! tidak seperti ku yang asal todong tanpa berpikir panjang." ucap pria itu dengan nada lesuh.
"kau ini ingin memberikan informasi atau mau curhat hah?!" bentak Erwin yang langsung menembak lantai yang ada di depan pria itu.
"astaga-naga!! kau ini tak ada sopan santun pada orang tua hah?! bisa bisa aku jantungan karenamu!" bentak pria itu dengan gestur tubuh saat terkejut.
"tentu saja bod*h!!" bentak pria itu.
"sudahlah, langsung jelaskan saja!" balas Erwin yang tidak sabar.
kemudian pria itu pun langsung menjelaskan semua yang ia ketahui tentang kelompok Elang Hitam.
Erwin yang mendengar penjelasan itu terkadang mengangguk, terkadang membantah ucapan pria itu, dan juga terkadang ia mengelus dagunya seolah sedang berpikir.
******
di luar ruang rahasia, tepatnya di kafe sebelum.
"sudah hampir satu jam sejak suara tembakan itu terdengar, apa bos baik-baik saja?" tanya salah satu pegawai yang duduk di kursi pengunjung.
"tidak perlu di pikirkan! tadi aku sudah menghubunginya, katanya dia sedang bertemu dengan bocah yang menarik." jawab pegawai yang duduk menjaga di meja bartender.
__ADS_1
"hah?!! yang benar saja! maksudnya bocah yang tadi itu?" ucap pegawai yang yang di meja itu dengan suara keras dan ekspresi yang heboh.
"berhentilah menyebutnya bocah Muru! kelihatanya kalian itu seumuran! kau harusnya bersekolah! bukan bekerja seperti ini! dasar bocah!" bentak pegawai yang duduk menjaga meja bartender itu dengan ekspresi kesal yang aneh.
"jangan panggil aku bocah paman!! namaku Muru! panggil aku Muru!" tegas Muru.
"jangan panggil aku paman!! namaku Bosu!! panggil aku Bosu!" bentak Bosu dengan ekspresi kesal.
kedua pria itu pun beradu mulut dan saling meneriaki satu sama lain. suara teriakkan dan bentakkan mereka terdengar sampai di luar kafe, dan hal itu membuat dua orang pelanggan yang tadinya ingin mampir kini langsung keluar dan pergi karena merasakan aura bagaikan neraka di dalam kafe tersebut.
setelah beberapa saat mereka bertengkar tiba-tiba terdengar suara yang familiar di telinga mereka.
"DIAAMM!!"
mereka berdua langsung diam dan menoleh ke arah sumber suara tersebut.
"b..... bos?!!" ucap keduanya dengan terkejut.
"sebelumnya sudah ku peringatkan untuk akur, kenapa sekarang mulai panas lagi hah?!" bentak bos mereka dengan wajah emosi.
"maaf bos, tolong jangan memarahi Muru, dia masih anak kecil dan labil, akulah yang salah." ucap Bosu membela Muru.
"iya bos! hukum saja Bosu, dia memang pantas untuk menerima hukuman!" ucap Muru dengan semangat.
"bocah laknat!!" bentak Bosu dengan ekspresi kesal sambil menoleh pada Muru.
"sudahlah, tak usah di perpanjang." ucap bosnya sambil berjalan ke ruangannya.
"oh iya bos, di mana bocah yang membeli senjata tadi?" ucap Bosu bertanya.
"dia sudah keluar, apa kalian tak menyadarinya?" jawab bosnya dengan santai.
"apa!!?" ucap Muru dan Bosu serentak karena terkejut.
"bocah itu, apa dia bisa menyembunyikan hawa keberadaannya?" ucap Muru dengan ekspresi tidak percaya.
"kau benar! aku bahkan benar-benar tidak menyadari kepergiannya, tidak hanya itu, aku juga tidak sadar kalau ia saat itu datang bersama bos dari ruang rahasia." ucap Bosu dengan ekspresi terkejut sekaligus terkagum-kagum.
__ADS_1
"itu karena kalian asik bertengkar bod*h!!" bentak bos mereka lalu masuk ke ruangannya.