
setelah tidak sengaja mendaratkan tinju di wajah Santi, kini Erwin tengah duduk melamun di sebuah bangku taman sambil memandang kosong ke bawah dengan posisi tubuh yang menunduk.
dia depannya saat ini hanya ada serombongan semut yang sedang berbaris membawa makanan ke sarangnya.
"hah....." Erwin menghela nafasnya dengan malas. "sekarang aku membuat Santi semakin marah padaku." ucap Erwin dengan tidak bersemangat.
tak lama Erwin mengatakan hal itu, tiba-tiba ia merasa seperti ada seseorang yang duduk di sampingnya, namun ia mengabaikan hal itu. sampai akhirnya ia merasakan sebuah tangan mungil menyentuh bahunya.
"hei, bisakah kau tidak mengabaikan ku?" ucap Lisa yang datang dan duduk di samping Erwin.
Erwin langsung menoleh setelah mendengar perkataan Lisa. lalu Erwin langsung meluruskan posisi duduknya.
"ah, maaf, aku tak bermaksud begitu." ucap Erwin sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum ramah pada Lisa.
Lisa membalas senyuman itu.
"mulutmu bisa berkata tidak, tapi tingkahmu malah menunjukkan kebalikannya." ujar Lisa yang sedikit kesal namun menyembunyikan ekspresi kesalnya.
"hehe maaf, tolong jangan marah hanya karena hal sepele itu." balas Erwin sambil tersenyum canggung.
"bukan wanita namanya jika tidak marah hanya karena hal sepele." ucap Lisa sambil mengalihkan pandangannya ke depan.
"eh.....? bukankah harusnya itu hanya sering terjadi di antara pria dan wanita yang punya hubungan khusus?" ucap Erwin dengan wajah aneh karena heran mendengar ucapan Lisa barusan.
"kalau memang seperti itu, anggap saja kita sedang punya hubungan khusus!" ucap Lisa sambil menoleh dan menatap Erwin dengan serius.
mendengar hal itu Erwin mendadak canggung dan langsung grogi dengan tatapan yang di arahkan Lisa padanya.
wajah Erwin memerah, dan Lisa yang menyadari hal itu langsung mendekati wajah Erwin dengan perlahan. Erwin langsung membuang pandanganya dari Lisa dan berusaha mengalihkan pikirannya.
"Lisa memang gadis yang cantik, di juga baik hati, dan ramah pada orang lain. tapi aku tak boleh menghianati perasaanku pada Santi." ucap Erwin dalam hati sambil pasang ekspresinya yang tampak sedikit tergoda pada Lisa.
"haha, kau benar-benar lucu ya." ucap Lisa yang kemudian langsung berdiri dari duduknya.
"eh....?" ucap Erwin yang merasa heran karena Lisa langsung menertawakannya.
ia menatap Lisa yang kini sudah berdiri di depannya.
Lisa menyentuh kedua pipi Erwin dengan tangannya sambil menunjukkan senyum manisnya.
__ADS_1
"bukankah kau akan terlihat lebih baik jika tersenyum begini?" ucap Lisa.
Erwin pun langsung melebarkan matanya seolah menyadari sesuatu.
setelah itu Lisa melepaskan tangannya dari pipi Erwin dan langsung berlalu dari tempat itu.
tak lama setelah itu, terdengar bel pertanda jam istirahat telah selesai.
dan suara bel itu menyadarkan Erwin dari lamunannya saat di tinggal sendiri oleh Lisa.
"tidak ku sangka dia hanya datang untuk menghiburku." ucap Erwin dengan suara pelan sambil memegang pipinya.
******
jam masuk, guru sedang mengajar.
saat itu di kelas tampak seorang guru menulis di papan. sementara itu, Erwin terlihat sedang menopang dagunya sambil berpikir.
saat ini, Erwin sedang mencari cara bagaimana ia bisa menghadapi para anggota Elang Hitam nantinya. bahkan ia juga berpikir untuk kembali melakukan penyerangan terhadap kelompok-kelompok kecil dari para mafia itu.
saat ini, informasi yang di miliki Erwin tentang Elang Hitam hanyalah informasi yang masih merupakan rumor-rumor yang beredar di kalangan masyarakat.
"hah....." Erwin menghela nafas panjang dan mulai berbicara dalam hati. "kalau tidak salah, di masa depan aku pergi ke sebuah toko penjual senjata ilegal yang ada di sebuah wilayah kumuh. apa mungkin tempat itu juga sudah ada di sana tahun ini?"
saat ini, Erwin sudah mempersiapkan dirinya untuk pertarungan yang ada di hadapannya. berbekalkan ingatan masa lalunya tentang masa depan, ia pun mulai membuat rancangan untuk melakukan penyerangan secara bertahap dan tidak bergerak secara asal-asalan seperti yang pernah ia lakukan di masa lalu.
"dulu aku pernah gagal menghancurkan dan mencari informasi rinci mengenai kelompok Elang Hitam, tapi kini aku akan lebih berhati-hati dan bertindak dengan rapi." ucap Erwin sambil berseringai dan menunjukkan tatapan tajamnya yang mengancam.
tiba-tiba sebuah sepatu melayang ke wajah Erwin dan langsung menghantam wajah Erwin yang tengah serius-seriusnya itu.
"dari tadi kau terus tersenyum tidak jelas, mukamu jadi terlihat makin jelek! dan menjijikan!" bentak guru yang melemparnya dengan sepatu.
*****
malam itu, di sebuah wilayah kumuh, tampak seorang pria menggunakan jaket Hoodie hitam dengan celana panjang yang juga berwarna hitam.
pria itu berjalan di sebuah jalanan sepi, lalu ia masuk ke sebuah lorong yang sempit.
setelah itu ia tembus di sebuah gang. di gang itu tampak dua pria yang sedang berbincang mengenai keberhasilan timnya dalam sebuah tugas yang di berikan oleh ketua divisi III Elang Hitam yang ada di kota itu.
__ADS_1
lalu Erwin memelankan langkahnya karena ia ingin mendengar lebih jauh lagi tentang pembicaraan itu.
setelah Erwin sudah cukup jauh berjalan melewati mereka, Erwin sudah mencerna semua informasi yang bisa ia ambil dari pembicaraan kedua pria itu.
dari pembicaraan pria itu, ia dapat menyimpulkan bahwa Elang Hitam memiliki bisnis legal maupun ilegal.
bisnis legal adalah salah satu cara mereka untuk menyembunyikan kegiatan gelap mereka.
saat ini Erwin sudah berada di depan toko senjata api ilegal yang pernah ia kunjungi di masa lalunya.
"rupanya tempat ini memang sudah ada sejak saat ini." ucap Erwin dalam hati dan kemudian berjalan memasuki toko itu.
ketika Erwin sudah berada di dalam toko itu, ia melihat-lihat sebentar.
di dalam sana sangatlah tenang, dan sama sekali tidak menggambarkan sebuah toko senjata.
di ruangan itu hanya ada beberapa meja dan kursi, dan tempat itu hanyalah sebuah kafe murah yang biasa.
namun saat salah satu pegawai di sana menghampiri Erwin, Erwin langsung memberitahukan tujuannya yang sebenarnya.
setelah pegawai itu mengetahui bahwa Erwin ingin membeli senjata, pegawai itu langsung memberitahukan bosnya, dan bosnya sendiri yang langsung mengantar Erwin ke sebuah ruangan rahasia tempat semua senjata di sembunyikan.
sesampainya di ruangan tersembunyi itu, Erwin langsung melihat-lihat beberapa senjata yang ingin di belinya.
dan pada akhirnya ia pun memilih untuk membeli dua buah pistol agar mudah di sembunyikan dan membawanya kemana-mana.
setelah Erwin membayar dua pistol yang di ambilnya itu, ia langsung mulai berbicara pada pemilik toko senjata itu untuk menggali informasi yang mungkin di ketahui oleh pemilik toko itu.
"oh iya, saat ini aku sangat membutuhkan informasi, mungkin kau punya informasi yang ku butuhkan." ucap Erwin sambil menyandarkan tangannya di atas meja pembayaran.
"informasi apa yang kau butuhkan?" tanya pemilik toko tersebut dengan tenang.
"aku butuh informasi tentang kelompok Elang Hitam!" ucap Erwin sembari menatap pemilik toko itu dan menunjukkan senyum yang penuh makna.
sementara itu, pria pemilik toko itu langsung menatap Erwin dengan tatapan serius seolah sedang waspada terhadap Erwin.
jangan lupa like, komen, dan faforit
Kalau ada yang minat baca karya saya yang lainnya bisa cek di profil author ya...
__ADS_1